Jumat, 14 Mei 2021

Menulis Itu Menabung



Menulis itu aktivitas yang menyenangkan. Kalau ada orang yang punya kebiasaan minum kopi pagi hari, kemudian pagi iti dia sibuk sehingga tidak punya kesempatan untuk minum kopi, pasti dia akan merasa tidak nyaman. Ada sesuatu hal “penting” yang terlewatkan. Begitu pula menulis. Bila kita sudah membiasakan menulis kemudian karena ada udzur sehingga kita tidak bisa menulis, sudah pasti kita akan berusaha menutup kekosongan yang kita tinggalkan.

Membangun kebiasaan tidak cukup dalam seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan. Tapi membina kebiasaan perlu rentang waktu yang lebih lama dari itu. Di saat sebuah kebiasaan sudah melekat menyatu dalam diri kita, semua menjadi lebih mengalir dan mudah.

Janganlah berpikir yang rumit dalam menulis. Pada intinya kita hanya perlu menulis tidak perlu memaksakan menulis yang kita anggap bagus atau bermutu. Mungkin apa yang kita tulis benar-benar sesuatu yang tidak penting, tapi tetap saja akan membawa sebuah nilai yang kelak ada manfaatnya.

Anggap saja kita menulis sebagai bentuk filosofi menabung. Menabung faktanya, banyak yang hanya mengumpulkan pecahan kecil yang dia miliki. Tapi yang kecil itu akan menjadi kumpulan nominal yang besar. Tentu syaratnya satu, semua dilakukan dengan sistem yang berkesinambungan. Begitulah saya menganggap aktivitas menulis.

Kamis, 13 Mei 2021

Merayakan Apa?



Idulfitri bagi umat Islam adalah hari raya atau hari besar. Maknanya hari yang dirayakan untuk memperingati sesuatu yang penting. Lazimnya kita merayakan Idulfitri dengan ucapan memberi selamat. Dan pasti ada tambahan mohon maaf lahir dan batin.

Bila kita renungkan sebenarnya apa yang layak kita rayakan setiap menyambut Idulfitri. Apakah merayakan karena telah selesai menjalankan ibadah puasa?. Atau merayakan telah habis kewajiban berat yang harus kita kerjakan?. Biasanya kita sering mendengar ungkapan, menang melawan hawa nafsu. Apakah itu yang dirayakan?

Dalam sebuah hadits disebutkan. (Seperti diceritakan Aisyah): Abu Bakar masuk setelah aku dan ada dua gadis Ansar bersamaku sedang bernyanyi tentang Hari Bu'ath. Aisyah berkata, "Mereka bukan penyanyi." Abu Bakar kemudian berkata, "Ada alat setan di rumah Rasulullah SAW?" Saat itu adalah Idulfitri dan Rasulullah SAW berkata, "Ya Abu Bakar, tiap orang punya festival dan ini adalah perayaan kita." (HR Ibnu Majah).

Hadits tersebut menjelaskan kepada kita, bahwa merayakan Idulfitri sebenarnya boleh bila dirayakan dalam kadar dan cara yang tidak berlebihan. Seperti apa yang ditradisikan masyarakat kita dalam merayakan Idulfitri. Merias atau merapikan rumah, membeli baju baru dan menyiapkan hidangan untuk tamu yang akan berkunjung.

Yang mungkin tidak relevan adalah merayakan Idulfitri dengan cara hura-hura dan berlebihan. Kita ambil contoh, merayakan Idulfitri dengan pesta kembang api atau main petasan. Jelas dua hal itu adalah perbuatan mubadzir yang tidak memiliki manfaat sedikitpun.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...