Minggu, 16 Mei 2021

Menulis, Melawan Sunyi



Terkadang aktivitas menulis saya rasakan sebagai sebuah “pelarian”. Di saat denyut kehidupan terasa sunyi, menulis menjadi pilihan di antara pilihan-pilihan yang baik. Manusia memang makhluk sosial, tak bisa hidup tanpa orang lain, tapi terkadang kesendirian itu perlu, perlu untuk menyendiri. Kita sesekali perlu “dialog” dengan diri sendiri di dalam suasana yang sepi. Dan dialog itu dengan cara menulis.

Entah mengapa hati terkadang diliputi kesepian yang mencekam. Tidak selamanya bersama dengan banyak orang menjadikan kesepian itu hilang. Terkadang rasa sunyi semakin menjadi walau secara fisik di dalam keramaian.

Menulis melawan sepi. Dengan menulis terkikis rasa sunyi dalam hati ini. Menulis bagai obat yang menghilangkan rasa perih dan pedihnya luka. Menulislah, dan rasakan semua menjadi lebih baik. Segala kegundahan dan datang menghimpit perasaan akan segera menghilang.

Menulis menguatkan hati yang rapuh dan rentan karena kegetiran sunyi. Jangan biarkan hati tersiksa dalam kegelisahan. Lupakan semua itu dengan menggerakkan jari-jemari dalam susunan kata dan bahasa. Dan biarkan semua mengalir bagai arus sungai yang mengalir dengan deras.

 

 

Sabtu, 15 Mei 2021

BERLOMBA MENGUMBAR AIB



Media sosial kian hari semakin menjadi. Begitu kejam kata-kata terucap, seperti tidak pernah dipikir sebelumnya. Padahal semua akan kita pertanggungjawabkan. Saling menghujat dan merendahkan, menjadikan kita ngeri melihat dunia medsos yang begitu “brutal”. Jari-jari seakan “berbicara” tanpa perasaan dan simpati, benar-benar kejam.

Belum lama ini seorang tokoh agama (ulama) yang cukup terkenal meninggal dunia. Reaksi dunia media sosial riuhrendah. Ada banyak kalangan yang merasa ikut berduka cita dengan kepergian sang tokoh. Namun yang mengherankan, masih ada saja kelompok yang tidak punya hati dengan “menyerang” sang tokoh yang telah meninggal dunia. Kemana akhlaq para pengguna media sosial tersebut?.

Ketika seseorang telah meninggal dunia kita dilarang membuka aib atau kesalahan-kesalahannya. Apalagi sekadar klaim kesalahan yang sebenarnya belum terbukti kebenarannya. Apakah bangsa kita sedemikian tega dengan sesama anak bangsa sendiri, bahkan terhadap saudara yang seiman.

Bukankah Rasulullah telah bersabda: Dari Abu Rafi' raḍiyallāhu 'anhu secara marfu', “Siapa yang memandikan mayat lalu ia menyembunyikan (aib)nya maka Allah akan mengampuninya sebanyak 40 kali. Orang yang melihat kekurangan pada mayat itu ada dua macam. Pertama, yang berkaitan dengan kondisinya. Misalnya jika ia melihat perubahan wajah yang menghitam dan menjadi jelek pada mayat, maka ini bisa jadi merupakan tanda su’ul khatimah kita mohon kepada Allah keselamatan darinya. Kedua, yang berkaitan dengan tubuhnya, seperti jika ia melihat cacat di tubuh mayat yang selama hidupnya ia tutupi dari orang lain. Maka orang yang menutupinya (saat kematiannya) mendapatkan pahala ampunan yang besar sebanyak 40 kali.

Betapa kita dituntut memiliki adab terhadap saudara kita. Jangankan terhadap yang masih hidup, terhadap jenazah pun kita wajib memiliki akhlaq terhadapnya. Dan hari ini kita menyaksikan, dunia medsos kita sudah sangat terlalu. Kalaulah terhadap orang yang sudah meninggal saja tetap tega mengumbar aibnya, apalagi terhadap pengguna medsos yag lain.

 

 

 

 

Jumat, 14 Mei 2021

Menulis Itu Menabung



Menulis itu aktivitas yang menyenangkan. Kalau ada orang yang punya kebiasaan minum kopi pagi hari, kemudian pagi iti dia sibuk sehingga tidak punya kesempatan untuk minum kopi, pasti dia akan merasa tidak nyaman. Ada sesuatu hal “penting” yang terlewatkan. Begitu pula menulis. Bila kita sudah membiasakan menulis kemudian karena ada udzur sehingga kita tidak bisa menulis, sudah pasti kita akan berusaha menutup kekosongan yang kita tinggalkan.

Membangun kebiasaan tidak cukup dalam seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan. Tapi membina kebiasaan perlu rentang waktu yang lebih lama dari itu. Di saat sebuah kebiasaan sudah melekat menyatu dalam diri kita, semua menjadi lebih mengalir dan mudah.

Janganlah berpikir yang rumit dalam menulis. Pada intinya kita hanya perlu menulis tidak perlu memaksakan menulis yang kita anggap bagus atau bermutu. Mungkin apa yang kita tulis benar-benar sesuatu yang tidak penting, tapi tetap saja akan membawa sebuah nilai yang kelak ada manfaatnya.

Anggap saja kita menulis sebagai bentuk filosofi menabung. Menabung faktanya, banyak yang hanya mengumpulkan pecahan kecil yang dia miliki. Tapi yang kecil itu akan menjadi kumpulan nominal yang besar. Tentu syaratnya satu, semua dilakukan dengan sistem yang berkesinambungan. Begitulah saya menganggap aktivitas menulis.

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...