Senin, 24 Mei 2021

SYAWAL, MOMENTUM PENINGKATAN AMAL


Kini kita tengah berada di hari ke-13 bulan Syawal tahun 1442 Hijriyah. Serasa belum lama Ramadhan meninggalkan kita, tanpa adanya kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa lagi, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya. Hanya sebuah doa dan harapan yang selalu kita sampaikan kepada Allah, semoga amal ibadah kita diterima di sisi-Nya dan kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa lagi dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang.

Bulan Syawal seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan amal ibadah kita, atau setidaknya mempertahankan ibadah, amalan-amalan di Bulan suci Ramadhan kemarin. Walau dalam kenyataannya Syawal lebih sering menjadi bulan penurunan ibadah kita, juga penurunan kualitas diri. Di antara tandanya yang sangat jelas adalah perayaan idulfitri seakan-akan menjadi suasana kebebasan setelah selama sebulan penuh kita menahan diri. Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu.

Fakta itu sesungguhnya juga menunjukkan kepada kita, bahwa puasa kita yang demikian masih harus diperbaiki terus-menerus. Puasa belum mampu mengantarkan seseorang meraih derajat taqwa, atau mendekatinya. Kita juga bisa menggunakan hadits Nabi sebagai kaidah yang seharusnya kita perhatikan sebaik-baiknya: “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia.”

Bulan Syawal menjadi ukuran sampai di mana kita bisa istiqomah, bukankah ketika Ramadhan kita ringan melaksanakan qiyamul lail sholat tarawih, tilawah Al-Qur’an kita yang setiap hari, bangun tengah malam untuk tahajjud dan makan sahur, bersedekah memberi makan orang yang puasa, dan sudah seharusnya amalan-amalan tersebut mampu kita pertahankan di bulan Syawal ini.

Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud: 112)

Bentuk sikap istiqamah ini dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara berkesinambungan, terus-menerus.

Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat ditempa selama bulan Ramadhan. kita tak takut lapar dan sakit karena kita bergantung pada Allah semata. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah. Kita juga dibiasakan berlaku ikhlas dalam puasa tanpa perlu mengumumkan puasa kita pada siapapun. Nilai keimanan yang meliputi keyakinan, maiyatullah, keikhlasan, dan lainnya ini hendaknya tetap ada dalam bulan Syawal dan semakin meningkat. Bukan menipis tiba-tiba lalu hilang tidak berbekas.

Memang tidak banyak amal khusus di bulan Syawal dibandingkan bulan-bulan lainnya. Akan tetapi, Allah telah memberikan kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini berupa puasa Syawal. Ini juga bisa dimaknai sebagai sarana dalam rangka meningkatkan ibadah dan kualitas diri kita di bulan Syawal ini. Dan keistimewaan puasa sunnah ini adalah, kita akan diganjar dengan pahala satu tahun jika kita mengerjakan puasa enam hari di bulan ini setelah sebulan penuh kita berpuasa Ramadhan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun. (HR. Muslim)

 

Pada dasarnya pelaksanaan puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Namun menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Ini artinya, masih ada kesempatan bagi kita yang berniat melaksanakan puasa Syawal.

Semoga semua ibadah kita bulan Ramadhan kemarin semakin meningkatkan derajat ketaqwaan kita. Dan Allah menghapus semua dosa-dosa kita yang telah lalu.

 

 

Minggu, 23 Mei 2021

RAHASIA REZEKI MANUSIA



Pasti setiap orang beriman selalu berharap dan berdoa agar senantiasa mendapat rezeki yang halal dan melimpah. Namun, tak ada yang bisa mengetahui kepastian mengenai rezeki. Rezeki urusan sang pencipta. Soal kapan, di mana, dan jumlah rezeki yang akan diperoleh berada di luar batas kemampuan akal dan rasio manusia. Allah subhanahu wa ta’ala mutlak yang menjadi pengendali dan pembagi rezeki bagi umat manusia.

 

Upaya manusia untuk mengais rezeki pun sangat beragam. Sebagian orang dengan “mudah” mendapat rezeki berupa harta benda yang melimpah. Sementara yang lain begitu sulit untuk mendapat sekadar kebutuhan makan sehari-hari. Bila ukuran rezeki yang didapat berdasarkan usaha seseorang, tentu mereka yang bekerja mengandalkan tenaga entah itu kuli atau pekerja kasar akan menjadi orang yang paling banyak rezeki (harta)nya.

 

Rezeki sering tidak bisa dinalar. Seseorang yang bekerja di tempat yang sama dengan posisi yang sama bahkan dengan besar gaji yang sama akan mendapat rezeki yang berbeda. Rezeki tidak bisa dihitung dari gaji dan pendapatan. Karena rezeki sering datang tanpa bisa diduga sebelumnya, baik besarnya maupun sumbernya. Rezeki kita bisa datang dari seluruh penjuru dunia.

 

Memang orang cenderung menyempitkan rezeki terbatas pada uang atau kekayaan saja. Padahal rezeki bukan urusan materi (harta) semata. Ilmu, kesehatan, keluarga juga rezeki yang dikaruniakan pada kita. Jadi bisa saja orang yang sedikit hartanya, tapi melimpah rezekinya. Karena harta adalah satu bagian dari sekian banyak cabang rezeki.

 

 

Sabtu, 22 Mei 2021

Setiap Doa Akan Terkabul



Allah akan mengabulkan setiap doa hamba-Nya. Terkadang Allah mengabulkan segera doa tersebut sesuai dengan harapan dan permohonan (doa) mereka. Namun adakalanya Allah menunda pengabulan doa hamba-Nya sesuai dengan harapan dan permohonan mereka karena ada hikmah tertentu. Terkadang juga Allah mengabulkan doa hamba-Nya dengan bentuk yang berbeda dari harapan dan permohonan mereka karena permintaan dan permohonan mereka tidak mengandung kemaslahatan yang bersifat kontan. Sedangkan pada gantinya terdapat kemaslahatan yang bersifat kontan. Dan bisa jadi juga Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya dengan bentuk yang lain dari permintaan mereka karena apa yang mereka minta memang terdapat kemaslahatan.

“Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).

Kita sebagai hamba yang tiada memiliki daya dan kekuatan, sudah seharusnya selalu bergantung dan meminta (berdoa) kepada Allah. Dengan keyakinan sepenuhnya bahwa Allah pasti mengabulkan doa-doa kita selama kita tidak membatalkan doa kita.

Bagaimana seorang hamba bisa membatalkan doa-doanya?. Jawabannya adalah, bila dia beroda kemudian dalam hatinya ada keraguan akan doanya. Ragu apakah doanya akan terjawab dan dikabulkan. Tidak yakin bahwa permintaannya akan dipenuhi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bukankah ini menyangsikan sifat Allah yang maha pemurah dan pemberi.

Berdoa adalah inti dari ibadah. Doa adalah jalninan hubungan hamba dengan penciptanya. Doa adalah lambang kepasrahan dan penyerahan mutlak kepada pemberi kehidupan kita. Maka dari itu, tetaplah berdoa…[].

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...