Kini
kita tengah berada di hari ke-13 bulan Syawal tahun 1442 Hijriyah. Serasa belum
lama Ramadhan meninggalkan kita, tanpa adanya kepastian apakah di tahun
mendatang kita masih bisa berjumpa lagi, menggapai keutamaan-keutamaannya,
memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya. Hanya sebuah doa dan harapan yang selalu
kita sampaikan kepada Allah, semoga amal ibadah kita diterima di sisi-Nya dan
kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa lagi dengan Ramadhan di tahun-tahun
mendatang.
Bulan
Syawal seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan amal ibadah kita, atau
setidaknya mempertahankan ibadah, amalan-amalan di Bulan suci Ramadhan kemarin.
Walau dalam kenyataannya Syawal lebih sering menjadi bulan penurunan ibadah
kita, juga penurunan kualitas diri. Di antara tandanya yang sangat jelas adalah
perayaan idulfitri seakan-akan menjadi suasana kebebasan setelah selama sebulan
penuh kita menahan diri. Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari
jamaah shalat lima waktu.
Fakta
itu sesungguhnya juga menunjukkan kepada kita, bahwa puasa kita yang demikian masih
harus diperbaiki terus-menerus. Puasa belum mampu mengantarkan seseorang meraih
derajat taqwa, atau mendekatinya. Kita juga bisa menggunakan hadits Nabi
sebagai kaidah yang seharusnya kita perhatikan sebaik-baiknya: “Barangsiapa
yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia.”
Bulan
Syawal menjadi ukuran sampai di mana kita bisa istiqomah, bukankah ketika
Ramadhan kita ringan melaksanakan qiyamul lail sholat tarawih, tilawah Al-Qur’an
kita yang setiap hari, bangun tengah malam untuk tahajjud dan makan sahur,
bersedekah memberi makan orang yang puasa, dan sudah seharusnya amalan-amalan
tersebut mampu kita pertahankan di bulan Syawal ini.
Maka istiqamahlah kamu,
sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat
beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud: 112)
Bentuk sikap istiqamah ini
dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara berkesinambungan, terus-menerus.
Sesungguhnya amal yang
paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun
sedikit (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian
pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat ditempa selama bulan Ramadhan. kita
tak takut lapar dan sakit karena kita bergantung pada Allah semata. Kita tidak
memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa
adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah. Kita juga
dibiasakan berlaku ikhlas dalam puasa tanpa perlu mengumumkan puasa kita pada
siapapun. Nilai keimanan yang meliputi keyakinan, maiyatullah, keikhlasan, dan
lainnya ini hendaknya tetap ada dalam bulan Syawal dan semakin meningkat. Bukan
menipis tiba-tiba lalu hilang tidak berbekas.
Memang
tidak banyak amal khusus di bulan Syawal dibandingkan bulan-bulan lainnya. Akan
tetapi, Allah telah memberikan kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini
berupa puasa Syawal. Ini juga bisa dimaknai sebagai sarana dalam
rangka meningkatkan ibadah dan kualitas diri kita di bulan Syawal ini. Dan
keistimewaan puasa sunnah ini adalah, kita akan diganjar dengan pahala satu
tahun jika kita mengerjakan puasa enam hari di bulan ini setelah sebulan penuh
kita berpuasa Ramadhan.
Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan,
kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti
berpuasa setahun. (HR. Muslim)
Pada
dasarnya pelaksanaan puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula
tidak berurutan. Namun menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, puasa Syawal lebih
utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Ini
artinya, masih ada kesempatan bagi kita yang berniat melaksanakan puasa Syawal.
Semoga
semua ibadah kita bulan Ramadhan kemarin semakin meningkatkan derajat ketaqwaan
kita. Dan Allah menghapus semua dosa-dosa kita yang telah lalu.