Selasa, 03 Agustus 2021

CATATAN OLIMPIADE TOKYO 2020 #2



Prestasi olah raga dalam event internasional seperti olimpiade sudah pasti akan meningkatkan martabat bangsa. Kesuksesan meraih medali tertinggi akan membawa nama baik bangsa Indonesia di kancah dunia. Untuk itu guna meningkatkan prestasi di bidang olah raga di level yang lebih tinggi mesti direncanakan dengan program panjang dan tidak instan.

Sebenarnya prestasi olah raga kita rendah bukan karena minimnya bibit potensial tapi lebih karena sistem pembinaan. Di negara-negara yang maju olah raganya seperti China, USA maupun Jepang pembinaan olah raga sangat bagus dan berjenjang dari usia dini. Sekolah-sekolah dasar di sana sudah memiliki sarana olah raga yang memadai. Bandingkan dengan sekolah di negeri kita, tentu sangat jauh berbeda. Hampir seluruh sekolah dasar kita tidak memiliki fasilitas olah raga. Bagaimana mungkin bisa melahirkan atlet yang handal dan berprestasi.

Lalu mengapa cabang bulu tangkis masih mampu bersaing di level tertinggi dunia seperti olimpiade kali ini. Yang pasti itu juga bukan semata program pembinaan pemerintah yang berhasil. Atlet bulu tangkis berprestasi lahir dari klub badminton yang jumlahnya lumayan banyak di negeri kita. Bukan "tangan" pemerintah yang menemukan bibit atlet dan melakukan pembinaan sedari awal. Pemerintah tinggal memoles bahan yang hampir jadi dengan sistem pelatnas.

Pada dasarnya olah raga seharusnya bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Bukan hanya kalangan tertentu yang mampu menyewa fasilitas latihan yang tidak murah. Namun faktanya kita sangat sulit mengakses fasilitas olah raga. Inilah yang mengakibatkan prestasi kita tidak pernaik naik, bahkan cenderung terus menurun. Dan bila kita mengharap prestasi akan meroket sementara tidak ada perubahan yang radikal dalam sistem pembinaan, rasanya mustahil bisa terwujud.

 

 

Senin, 02 Agustus 2021

CATATAN OLIMPIADE TOKYO 2020 #1



Rasanya bangga sekali ketika menyaksikan Apriyani Rahayu bersama Greysia Polii baru saja menyabet medali emas di cabang olahraga bulu tangkis Olimpiade Tokyo. Prestasi itu diraih Greysia Polii/Apriyani setelah mengalahkan Chen Qing Chen/Jia Yi Fan di final ganda putri badminton Olimpiade Tokyo, Senin siang tadi. Ini menjadi catatan sejarah medali emas pertama dari sektor ganda putri.

Saya yakin semua warga Indonesia juga bangga. Bahkan sesaat setelah berhasil meraih medali emas, presiden RI langsung menyampaikan ucapan selamat melalui video call. Tentu ekspresi dan perhatian dari presiden layak diapresiasi.

Setelah meraih tambahan satu emas, Indonesia dalam daftar negara peraih medali olimpiade peringkatnya naik drastis ke posisi 35 yang sebelumnya di kisaran 60-an. Untuk sementara kita bisa tersenyum bangga, karena setidaknya lebih baik dari negeri Asia Tenggara lainnya seperti; Thailand, Malasyia, Philipina maupun Vietnam.

Selamat buat Apriyani Rahayu dan Greysia Polii yang telah mempertahankan tradisi emas sejak olimpiade Barcelona 1992. Namun sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk peringkat empat dunia kita seharusnya tidak boleh puas dan bangga hanya dengan satu emas. Seharusnya dengan SDM yang berlimpah kita bisa berada di peringkat yang lebih tinggi.

Kita lihat hari ini. China begitu dominan dalam prestasi olimpiade. Untuk sementara China ada diposisi pertama dengan jumlah medali emas 29. Disusul dengan Amerika dengan raihan 22 medali emas. Bila kita melihat prestasi olimpiade saat ini, seharusnya memiliki korelasi dengan jumlah penduduk. Buktinya China memiliki jumlah penduduk terbanyak sekaligus peraih medali terbanyak. Amerika pun demikian, jumlah penduduknya terbanyak ketiga, prestasi Olimpiade juga bagus.

Lalu apa yang salah dengan Indonesia?. Kita peringkat keempat terbesar penduduknya, tapi prestasi olah raga kita jauh tertinggal. Bahkan Jepang yang jumlah penduduknya tidak lebih dari separuh penduduk Indonesia, ada di peringkat ketiga pada olimpiade kali ini.

Bersambung….

 

 

Minggu, 01 Agustus 2021

KEMULIAAN HAKIKI #2



Dalam sebuah riwayat Imam al-Ghazali menyampaikan enam nasihat. Pertama, jika berjumpa dengan anak-anak, anggaplah bahwa anak-anak tersebut lebih mulia daripada kita karena mereka belum banyak melakukan dosa. Kedua, apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah ia lebih mulia daripada kita karena dia sudah lama beribadah. Ini selaras dengan hadits Nabi; “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. at-Tirmidzi)

Ketiga, jika berjumpa dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia daripada kita karena mereka telah mempelajari dan mengetahui banyak ilmu. Keempat, jika melihat orang bodoh, anggaplah mereka lebih mulia daripada kita karena mereka melakukan dosa dalam kebodohan, sedangkan kita melakukan dosa dalam keadaan mengetahui.

Kelima, apabila melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia karena mungkin suatu hari nanti dia akan bertobat atas kesalahannya. Keenam, apabila bertemu dengan orang kafir, katakan di dalam hati bahwa mungkin suatu hari nanti mereka akan mendapatkan hidayah dan memeluk Islam sehingga segala dosa mereka akan diampuni oleh Allah.

Tidak ada peluang dalam diri kita untuk merasa baik atau lebih baik dari orang. Karena hakikat kemuliaan cuma Allah yang mengetahui. Ibarat sesama anak sekolah, kita tidak mungkin memberi rapot kepada teman kita. Karena tentu itu perbuatan yang nyata keliru.

Intropeksi diri dan selalu merasa memiliki banyak kekurangan akan menyelamatkan kita dari menganggap orang lain hina. Dan yang pasti dengan selalu meneliti kekurangan diri sendiri, kita tidak memiliki waktu lagi untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain.

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...