Rabu, 16 Februari 2022

“ROLLER COASTER” PANDEMI #2

 


Gelombang pandemi ketiga yang melanda berimbas hingga timnas Indonesia U-23. Tim yang disiapkan untuk melakoni kompetisi piala AFF U-23 batal diberangkatkan. Ada tujuh punggawa timnas yang dinyatakan positif, situasi yang memaksa timnas batal berangkat ke Kamboja.

Alasan kemanusiaan menjadi dasar PSSI membatalkan keikutsertaan timnas kita. Kesehatan dan keselamatan pemain tentu lebih diutamakan dari sekadar memburu prestasi. Tidak peduli meski dalam gelaran sebelumnya timnas Indonesia adalah juara. Sepak bola hanya sebuah “permainan” yang tidak boleh lebih dipentingkan daripada masalah kemanusiaan.

Sebenarnya situasi turun naiknya pandemi tidak hanya terjadi di negeri kita saja. Kita juga menyaksikan di negara-negara lain juga mengalami situasi yang tidak jauh beda. Bedanya, banyak negara yang sudah siap “berdamai’ dengan pandemi. Beberapa negara eropa sudah mengumumkan bebas masker. Hal ini bukan berarti mereka sudah benar-benar lepas dari pandemi, tetapi sudah mampu hidup bersama dengan pandemi.

Terkadang pemberitaan di media masa lebih “besar” daripada keadaan yang sebenarnya. Berita sering menjadi penyebab pandemi sulit terselesaikan. Karena berita sering menjadikan masyarakat menanggapi dengan berlebihan. Ada kepanikan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Ini seharusnya menjadi perhatian dari pihak terkait yang memiliki kewenangan. Ada langkah-langkah konkrit untuk mencegah meluasnya berita hoaks terkait pandemi.

 

 

 

 

 

Selasa, 15 Februari 2022

“ROLLER COASTER” PANDEMI



Bila kita mengamati dengan saksama, situasi yang sedang terjadi saat ini (pandemi) mirip roller coaster. Roller coaster adalah wahana permainan berupa kereta yang dipacu dengan kecepatan tinggi pada jalur rel khusus yang memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Rel ini ditopang oleh rangka baja yang disusun sedemikian rupa.

Mengapa mirip roal coaster?. Karena terkadang naik tinggi, beberapa waktu kemudian turun drastis. Kata para pakar kesehatan apa yang terjadi saat ini sudah memasuki gelombang serangan yang ketiga. Entah sampai berapa kali gelombang pandemi yang akan menyerang, kita orang awam tidak akan tahu.

Dunia pendidikan juga mengalami imbas “roller coaster” pandemi. Pada bulan september tahun kemarin Pembelajaran Tatap Muka (PTM) resmi dibukaa meski dengan format terbatas. Sebuah langkah penting yang disambut suka-cita oleh seluruh kalangan masyarakat dan aktivis pendidikan. Keputusan yang dinilai sangat tepat mengingat pembelajaran dalam jaringan dirasa banyak mengalami permasalahan.

Kini, PTM harus dihentikaan kembali. Sudah pasti banyak suara sumbang menanggapi keputusan yang kembali memberlakukan PJJ kembali. Situasi anak yang mulai kembali menemukan ritme belajar, mendadak harus “dipaksa” belajar jarak jauh dengan mode yang monoton dan kering kreativitas. Hasilnya, hampir pasti menurunkan minat dan semangat belajar anak.

Kita semua tentu berharap PJJ kali ini berlangsung tidak lama. Tidak seperti pembelajaran daring pada periode sebelumnya yang berlangsung selama 18 bulan lebih. Untuk selanjutnya pandemi akan melandai, tidak ada lagi lonjakan dan akhirnya benar-benar selesai.

 

 

 

Senin, 14 Februari 2022

SAATNYA BANGKIT



Sakit adalah kondisi umum yang pasti akan dirasakan oleh setiap manusia. Tubuh yang sakit memang hanya akrab dengan tempat tidur dan selimut. Hilang sudah segala kesenangan ketika waktu sehat. Dan yang pasti banyak kegiatan penting yang sudah direncanakan harus rela ditinggalkan.

Tidak mudah untuk memulai rutinitas kembali setelah istirahat yang lumayan panjang. Selama hampir satu minggu ini menjadi kaum “rebahan”, kini saatnya harus bangkit dan memulai kembali. Ketika sakit mulai pergi dari badan, saatnya melawan malas yang masih menempel erat dalam angan-angan.

Aktivitas menulis menjadi bagian dari rutinitas yang harus segera dimulai kembali. Sudah puluhan artikel diunggah teman-teman di grup, sementara saya hanya bisa menyaksikan semua itu. Menulis menjadi sarana hiburan dan menumbuhkan semangat diri yang rapuh karena fisik yang sakit.

Badan memang belum pulih seperti semula, tapi semangat harus segera bangkit. Karena hanya dengan semangat kita mampu melakukan banyak hal penting dalam hidup ini. Yang pasti tidak perlu mengeluh tentang semua keadaan hari ini, menyibukkan diri dengan pekerjaan yang baru rasanya lebih menyenangkan.

Sakit yang diderita sebenarnya menjadikan kita banyak waktu untuk merenung. Ada ketajaman dan kedalaman berpikir. Sakit harusnya menjadi jalan seseorang menemukan pencerahan diri yang baru. Di saat ia mulai pulih dari sakitnya, di saat itu pula dia harusnya menemukan jati diri yang baru.

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...