Kamis, 03 Maret 2022

PAMER BERUJUNG BUI?



Beberapa waktu yang lalu, kita banyak melihat orang-orang pamer kekayaan di media sosial. Dengan percaya dirinya mereka menyebut sebagai sultan atau crazy rich. Konten Youtube, Instagram maupun Tiktok isinya hanya pamer kekayaan. Mobil sport mewah, rumah megah, hingga aksesoris mahal yang dimiliki semua tak luput diekspos.

Dulu banyak orang heran, mengapa mereka pamer kekayaan. Umumnya orang kaya akan lebih senang menyembunyikan hartanya. Kaitannya tentu dengan pajak yang harus dibayarnya atau ancaman kejahatan. Tapi, mengapa para “sultan” muda ini justru selalu pamer kekayaan. Rupanya ada niat jahat dibalik semua tindakan mereka.

Hari ini kita menyaksikan salah satu dari mereka harus berurusan dengan polisi. Ada dugaan profesi yang dijalani selama ini berkaitan dengan “bisnis” yang illegal. Mereka pamer harta tujuannya agar banyak orang tertarik dengan “kesuksesan” yang telah dicapai. Padahal kesuksesan mereka hanya kesuksesan semu. Mereka hanyalah para affiliator Binary option yang dianggap illegal di Indonesia.

Affiliator sendiri merupakan sebutan bagi orang yang mempromosikan suatu produk kepada orang lain. Umumnya seorang affiliator akan melakukan promosi dengan cara mempertontonkan keuntungan dari hasil trading untuk menarik target konsumennya.  Binary option merupakan instrumen trading online dari Amerika Serikat (AS) yang cara kerjanya dianggap hampir sama dengan perjudian.

Tentu kita bersyukur pihak berwajib sudah turun tangan dan mengusut para affiliator yang sering mencari target dengan pamer harta. Karena kenyataannya, sudah banyak kalangan yang mengalami kerugian besar karena tergiur dengan kesuksesan palsu para sultan atau crazy rich ini.

 

 

Rabu, 02 Maret 2022

Menanti Perdamaian Dunia yang Absurd



… … …

Banyak yang cinta damai, Tapi perang makin ramai

Wahai kau anak manusia, Ingin aman dan sentosa
Tapi kau buat senjata, Biaya berjuta-juta
Banyak gedung kau dirikan, Kemudian kau hancurkan

Bingung bingung ku memikirnya…

 

Penggalan lirik lagu lawas Nasida Ria di atas, seakan menjadi kisah nyata yang sedang terjadi saat ini. Lagu yang populer di tahun 80-an itu, mungkin menggambarkan situasi pada waktu di mana sedang terjadi perang Irak dan Iran.

Dunia sebenarnya belum benar-benar pulih pasca perang duni kedua, namun perang baru sudah muncul lagi. Kini, setelah empat puluh tahun perang kembali terjadi. Invasi Rusia ke Ukraina menjadi perhatian dunia karena akan berdampak besar bagi cita-cita perdamaian dunia.

Sebenarnya bisa dikatakan perang tidak pernah benar-benar berhenti di dunia sejak dahulu. Konflik Palestina dan Israel, perang di Kuwait, Afganistan, Syuriah, Libya dan beberapa negara yang lainnya. Atau bila kita mundur ke periode sebelum perang dunia kesatu, sejarah sudah mencatat banyak terjadi peperangan besar.

Perdamaian dunia seakan menjadi lamunan yang absurd. Meski menjadi cita-cita bersama, tapi seakan mustahil untuk diwujudkan. Siapa yang suka perang, korban nyawa, harta benda yang tidak sedikit dan rusaknya semua fasilitas umum. Meski demikian nyatanya perang tetap sering berlangsung.

Perang akan membawa duka dan trauma yang berat. Yang menang menjadi arang, yang kalah menjadi abu. Peradaban yang dibangun anak manusia akan luluh-lantak oleh perang. Tapi, lagi-lagi perang akan terus berulang. Entahlah, bingung bingung ku memikirnya…

 

 

 

 

Selasa, 01 Maret 2022

RISIKO KRISIS PANGAN



Para ahli memperkirakan krisis pangan bisa terjadi akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Namun tidak hanya itu saja, bencana bisa memperparah itu. Di awal tahun ini, beberapa wilayah Indonesia sudah mengalami bencana, mulai dari gempa bumi hingga banjir. Hal ini menimbulkan keresahan mengenai ketahanan pangan, ada potensi sektor pertanian yang sudah berjalan menuju panen akhirnya malah gagal.

Gejala permasalahan pangan sebenarnya sudah mulai kita lihat. Dalam beberapa pekan kita ribut dengan kurangnya persediaan minyak goreng. Belum selesai urusan minyak, komoditas kedelai mengalami kenaikan yang tajam. Kini, giliran daging sapi “hilang” dari pasaran. Tentu semua terjadi karena naiknya harga dan sedikitnya stok yang menyebabkan para pedagang kesulitan untuk mendapatkannya.

Tidak heran bila kita tidak memiliki ketahanan di bidang pangan karena sudah terbiasa menjadi negara pengimpor. Apa-apa serba impor. Dampak negatifnya ketika negara pengekspor menahan produk pangannya untuk stok kebutuhan mereka sendiri, kita yang pasti kesulitan memenuhi keperluan dalam negeri.

Pandemi yang berdampak pada kebutuhan pangan diperparah dengan konflik  besar invasi Rusia ke Ukraina. Meski secara geografis medan perangnya jauh dari negeri kita, bukan berarti dampaknya tidak sampai ke negara kita. Pengaruh itu disebabkan karena kedua negara, baik Rusia maupun Ukraina, memiliki hubungan dagang dengan Indonesia.

Di sisi lain Rusia adalah negara besar pengekspor minyak bumi. Konflik yang terjadi pastinya akan menjadikan harga minyak bumi melambung naik. Di saat minyak naik, yang terjadi adalah semua akan terkena imbasnya termasuk kenaikan seluruh harga kebutuhan pangan. Bila melihat situasi yang terjadi saat ini, risiko krisis pangan tidak mustahil akan terjadi secara global.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...