Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda:
Artinya:”Bertaqwalah
engkau kepada Allah dimanapun berada, dan ikutilah keburukan (kemaksiyatan)
dengan amalan kebaikan maka niscaya kebaikan itu akan menghapus (gelapnya) dosa
keburukan, serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang mulia”.HR
Ahmad, Tirmidzi dan yang lainnya.
Dari matan Hadits Nabi di atas, seakan –
akan ada makna yang berbeda antara taqwa dengan akhlaq mulia, namun setelah
kita pelajari ada beberapa makna yang bisa simpulkan;
Pertama: Rasulullah SAW memberikan penekanan pentingya
akhlak mulia serta menjelaskan keutamaannya.
Dan Allah banyak menggunakan metode yang
serupa di dalam Al-Qur’an, contohnya:
Artinya:”Jagalah dan Laksanakanlah
shalat-shalat dan laksanakan juga shalat ashar”. QS Al-Baqoroh 238.
Dalam ayat ini, Allah -subhanahu wa ta’ala-
memisahkan shalat Ashar dengan shalat yang lainnya, tujuannya bukan untuk
mengeluarkan shalat Ashar dari shalat yang lainnya, namun untuk menjelaskan
urgensi dan kemulian shalat Ashar di bandingkan dengan shalat yang lainnya.
Maka demikian juga dengan tujuan Nabi
Muhammad di atas, tujuannya adalah untuk menegaskan kedudukan akhlaq mulia
dalam Agama Islam.
Kedua: untuk menjelaskan
bahwa agama Islam terdiri dari Hablum Minanallahi dan Hablum Minannas. Hablum
minallahi diwakili dengan sabda Rasulullah:
Adapun Hablum minannas diwakili oleh sabda
Nabi:
Dua hal ini merupakan sisi yang saling
menyempurnakan bagi keislaman seseorang.
Ketiga: banyak dari
kalangan kaum muslimin yang berpandangan bahwa ketaqwaan seseorang hanya diukur
dari banyaknya ibadahnya kepada Allah –subhanahu wataa’la-, dan melalaikan sisi
sosial dengan masyarakat, olehnya betapa banyak kita mendapatkan seseorang yang
bagus ibadahnya, dan Nampak “cahaya” keshalihan di wajahnya, namun akhlaknya
sangat buruk kepada sesama, lisannya yang tajam senantiasa melukai hati
masyarakat, maka hadits ini memupus anggapan tersebut, dan menegaskan bahwa
keimanan ketakwaan akan semakin sempurna dengan “harmonisnya” antara banyaknya
ibadah kepada Allah dengan indah akhlak seorang muslim dalam berinteraksi,
bukankah Rasulullah bersabda:
Artinya:”Orang yang paling sempurna imannya,
adalah yang paling mulia Akhlaqnya”.HR Ahmad dan yang lainnya.
Orang yang mulia dan terbaik adalah yang
baik akhlaqnya, Rasulullah bersabda:
Artinya:”Orang
ayang paling mulia adalah orang paling baik akhlaknya”. HR Ahmad dan yang
lainnya.
Hadits ini menunjukkan kedudukan yang tinggi
bagi akhlak yang mulia, yang mana banyaknya ibadah seseorang dan indahnya
akhlaknya bagaikan dua sisi mata uang.
Dan bukankah Rasulullah diutus ke umatnya
membawa misi menyempurnakan akhlaq mulia, Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus
hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).
Dalam
Al-Quran ada beberapa ayat yang memuji ketinggian dan kemuliaan Rasulullah SAW,
diantaranya Q.S Al Qolam Ayat ke-4;
Artinya:”Dan sesungguhnya engkau berakhlak
mulia”. QS Al-Qolam 4.
Kemudian dalam banyak hadits Nabi, begitu
menekankan pentingnya berakhlaq mulia, sebagaimana pentingnya mengerjakan
ibadah-ibadah maghdhoh, seperti sholat, zakat puasa maupun haji. Bahkan
seseorang yang memiliki adab, perilkaku yang baik, berakhlaq mulia bisa lebih
tinggi derajatnya dari orang yang rajin beribadah namun tidak memiliki akhlaq
yang mulia dengan sesamanya.
Rasulullah bersabda:
Artinya:”Sesungguhnya seseorang dengan
akhlak yang mulia dapat mencapai derajat orang yang banyak puasanya dan
shalatnya”. HR. Ahmad dan yang lainnya.
Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari
kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau
banyak mempelajari adab, akhlaq mulia orang-orang shalih. Imam Abu Hanifah
berkata,
“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama
mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam
kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.”
Dengan data dan dalil yang telah kita
paparkan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa berakhlak mulia merupakan amalan
yang wajib hukumnya, bahkan ia merupakan bagian kesempurnaan iman seseorang.