Senin, 08 Agustus 2022

Keteteran Menulis

 



Dalam dua bulan terakhir, saya merasa kewalahan memenuhi target menulis setiap hari. Selalu saja ada “hutang” menulis yang masih harus saya upayakan untuk dilunasi. Entah apa yang menyebabkan keteteran menulis. Padahal sebelumnya saya mampu memenuhi target meskipun dengan tertatih-tatih.

Masalah semangat, kekeringan ide, atau mungkin sudah bosan menulis. Sepertinya bukan semua itu. Semangat menulis masih besar, ide juga masih selalu ada, dan sebenarnya juga tidak bosan untuk terus menulis.

Akan selalu ada dinamika menulis. Sebenarnya tetap saja saya menikmati meski terkadang saya kewalahan menata waktu untuk menulis. Meski sulit sebenarnya usaha untuk tetap istikamah menulis terus diupayakan.

Untuk mengatasi masalah keteteran menulis sebenarnya saya selalu bercermin dari para penulis produktif dan para senior. Mereka mampu bertahan terus menulis meski berbagai macam kesibukan harus dijalani. Tak perlu orang lain memotivasi, karena dalam diri sendiri sudah tumbuh semangat yang kuat.

Dengan kesungguhan, sebenarnya saya masih bisa menulis walau ala kadarnya. Setidaknya ini bisa menjadi penghibur diri dan membuktikan bahwa menulis tetap menjadi pilihan meski banyak hal yang menghambat.

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 07 Agustus 2022

Bazar Buku

 



Tak ada antrian berjubel. Hanya ada lima orang yang tampak serius mengamati judul-judul buku yang tertata rapi dalam ruangan bazar yang lumayan luas. Bazar yang dilaksanakan di gedung Kelurahan Jepun Tulungagung itu ternyata sepi peminat dan sedikit pengunjung. Padahal sebelum bazar dimulai, penyelenggara sudah memasang poster di banyak sudut kota.

Pasti akan beda bila bazar minyak goreng, gula, beras atau bahan pokok yang lain. Pasukan emak-emak akan rela berdesak-desakan untuk mendapatkan barang yang diincarnya.

Memang, siapa yang perlu buku saat ini. Faktanya banyak toko-toko buku yang telah menutup gerainya gegara penjualan yang terus menurun. Buku menjadi barang yang tidak menguntungkan untuk diperdagangkan. Lebih mudah menjual gorengan atau camilan di pinggir-pinggir jalan.

Tak ingin pulang dengan tangan kosong, dua buah buku yang saya minati akhirnya saya angkut. Tuhan Menyapa Kita karya Prof.Dr.Ahmad Syafii Maarif dan Republik Tiongkok, Dari runtuhnya kekaisaran Qing hingga lahirnya salah satu republik terkuat di dunia buah tulisan Michael Wicaksono.

Rendahnya animo membeli buku sepadan dengan rendahnya minat membaca masyarakat kita. Sebenarnya ini juga kritik terhadap diri sendiri. Meski menggemari buku, namun saya sebenarnya juga bagian dari orang-orang yang tidak sering belanja buku. Anggaran untuk membeli buku masih jauh lebih sedikit dibanding sekadar untuk membeli pulsa.

Kapan masyarakat akan menggemari buku dan membaca. Apakah buku akan mampu menarik minat pembacanya di tengah melubernya informasi melalui portal online dan media sosial. Apakah nasib buku nantinya akan sama seperti koran dan majalah yang kini mulai tergusur oleh “dunia digital”.

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 06 Agustus 2022

Beri Kesempatan

 



Jangan pernah mematahkan semangat anak yang sedang berusaha meraih harapannya. Bila kita tidak mampu membantu, setidaknya dorong dengan memberi motivasi. Karena banyak kisah sukses karena hal kecil. Dan banyak cerita kegagalan karena hal yang sepele.

Konon ceritanya, dulu Thomas Alva Edison kecil ketika sekolah dasar dianggap anak yang bodoh oleh gurunya. Hingga akhirnya dia harus berhenti dari sekolah dan belajar sendiri di rumahnya. Ternyata dugaan guru yang keliru. Thomas bukan anak yang bodoh, tetapi dia anak yang spesial. Hanya karena tidak diberi kesempatan untuk berkembang.

Banyak orang tua atau bahkan pendidik terlalu cepat menilai kemampuan seorang anak. Padahal pendidikan bukan sesuatu yang bisa kita lihat hasilnya secara instan. Semua itu proses yang membutuhkan waktu panjang. Tidak mungkin kita mengambil penilaian hanya dari salah satu indikator.

Beri kesempatan anak untuk terus berkembang dan mengasah kemampuannya. Terkadang kita menanamkan mental pesimis pada anak. Ketika anak memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi, dukung dan kuatkan niatnya.

Tidak ada salahnya ambil bagian dalam kompetisi dan perlombaan. Meski secara matematis akan sulit meraih hasil tertinggi, tapi alam kompetisi akan mendidik spirit dan keberaniannya. Ada pelajaran yang akan diambil olehnya. Bahwa untuk meraih harapan akan selalu ada perjuangan.  Tak akan pernah ada prestasi yang didapat dengan cuma-Cuma.

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 05 Agustus 2022

Berilmu dan Berakhlaq



Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Artinya:”Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun berada, dan ikutilah keburukan (kemaksiyatan) dengan amalan kebaikan maka niscaya kebaikan itu akan menghapus (gelapnya) dosa keburukan, serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang mulia”.HR Ahmad, Tirmidzi dan yang lainnya.

Dari matan Hadits Nabi di atas, seakan – akan ada makna yang berbeda antara taqwa dengan akhlaq mulia, namun setelah kita pelajari ada beberapa makna yang bisa simpulkan;

Pertama:  Rasulullah SAW memberikan penekanan pentingya akhlak mulia serta menjelaskan keutamaannya.

Dan Allah banyak menggunakan metode yang serupa di dalam Al-Qur’an, contohnya:

Artinya:”Jagalah dan Laksanakanlah shalat-shalat dan laksanakan juga shalat ashar”. QS Al-Baqoroh 238.

Dalam ayat ini, Allah -subhanahu wa ta’ala- memisahkan shalat Ashar dengan shalat yang lainnya, tujuannya bukan untuk mengeluarkan shalat Ashar dari shalat yang lainnya, namun untuk menjelaskan urgensi dan kemulian shalat Ashar di bandingkan dengan shalat yang lainnya.

Maka demikian juga dengan tujuan Nabi Muhammad di atas, tujuannya adalah untuk menegaskan kedudukan akhlaq mulia dalam Agama Islam.

Kedua: untuk menjelaskan bahwa agama Islam terdiri dari Hablum Minanallahi dan Hablum Minannas. Hablum minallahi diwakili dengan sabda Rasulullah:

Adapun Hablum minannas diwakili oleh sabda Nabi:

Dua hal ini merupakan sisi yang saling menyempurnakan bagi keislaman seseorang.

Ketiga: banyak dari kalangan kaum muslimin yang berpandangan bahwa ketaqwaan seseorang hanya diukur dari banyaknya ibadahnya kepada Allah –subhanahu wataa’la-, dan melalaikan sisi sosial dengan masyarakat, olehnya betapa banyak kita mendapatkan seseorang yang bagus ibadahnya, dan Nampak “cahaya” keshalihan di wajahnya, namun akhlaknya sangat buruk kepada sesama, lisannya yang tajam senantiasa melukai hati masyarakat, maka hadits ini memupus anggapan tersebut, dan menegaskan bahwa keimanan ketakwaan akan semakin sempurna dengan “harmonisnya” antara banyaknya ibadah kepada Allah dengan indah akhlak seorang muslim dalam berinteraksi, bukankah Rasulullah bersabda:

Artinya:”Orang yang paling sempurna imannya, adalah yang paling mulia Akhlaqnya”.HR Ahmad dan yang lainnya.

Orang yang mulia dan terbaik adalah yang baik akhlaqnya, Rasulullah bersabda:

Artinya:”Orang ayang paling mulia adalah orang paling baik akhlaknya”. HR Ahmad dan yang lainnya.

Hadits ini menunjukkan kedudukan yang tinggi bagi akhlak yang mulia, yang mana banyaknya ibadah seseorang dan indahnya akhlaknya bagaikan dua sisi mata uang.

Dan bukankah Rasulullah diutus ke umatnya membawa misi menyempurnakan akhlaq mulia, Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Dalam Al-Quran ada beberapa ayat yang memuji ketinggian dan kemuliaan Rasulullah SAW, diantaranya Q.S Al Qolam Ayat ke-4;

Artinya:”Dan sesungguhnya engkau berakhlak mulia”. QS Al-Qolam 4.

Kemudian dalam banyak hadits Nabi, begitu menekankan pentingnya berakhlaq mulia, sebagaimana pentingnya mengerjakan ibadah-ibadah maghdhoh, seperti sholat, zakat puasa maupun haji. Bahkan seseorang yang memiliki adab, perilkaku yang baik, berakhlaq mulia bisa lebih tinggi derajatnya dari orang yang rajin beribadah namun tidak memiliki akhlaq yang mulia dengan sesamanya.

Rasulullah bersabda:

Artinya:”Sesungguhnya seseorang dengan akhlak yang mulia dapat mencapai derajat orang yang banyak puasanya dan shalatnya”. HR. Ahmad dan yang lainnya.

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, akhlaq mulia orang-orang shalih. Imam Abu Hanifah berkata,

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.”

Dengan data dan dalil yang telah kita paparkan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa berakhlak mulia merupakan amalan yang wajib hukumnya, bahkan ia merupakan bagian kesempurnaan iman seseorang.

 

Kamis, 04 Agustus 2022

Kemuliaan Bekerja



Marilah di kesempatan yang mulia ini, kita senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Karena hanya dengan taqwalah kita akan memperoleh kebahagiaan yang sejati baik di kehidupan dunia maupun di akhirat kelak.

Bekerja mencari rizki guna menopang ibadah hukumnya adalah wajib. Sebagaimana hukum ibadah itu sendiri. Hal ini telah disepakati oleh ulama. Karena bekerja merupakan salah satu cara memenuhi kebutuhan. Lebih-lebih bagi mereka yang telah berkeluarga, mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban memberi nafkah terhadap anak dan istri. Sedangkan nafkah bisa didapat oleh seseorang yang mau bekerja. Selain itu dengan bekerja seseorang dapat terhindar dari thama’, menggantungkan diri pada orang lain dan juga menghindar dari meminta-minta yang mana semua itu termasuk barang larangan agama. Dalam al-Jumu’ah ayat 10 Allah berfiman

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 

Begitu pentingnya bekerja dan berusaha bagi seorang muslim. Karena sesungguhnya al-barakatu ma’al harakah bahwa keberkahan itu akan hadir bersama dengan pergerakan. Dimana ada kemauan untuk berusaha disitu Allah telah menyediakan keberkahan. Dengan kata lain Islam sangat membenci orang yang berpangku tangan, mengharapkan dan meminta-minta.

Bahkan, tidak ada satu cerita pun dari hadits Rasulullah yang menerangkan larangan beliau kepada para sahabatnya untuk berhenti bekerja demi menjalankan dakwah agama, padahal waktu itu berdakwah sangat membutuhkan perhatian mengingat kondisi Islam masih sangat lemah baik secara sosial dan politik. Justru di kala itu Rasulullah saw tetap memerintahkan Abu Bakar untuk terus berdagang dan kepada sahabat lainnya untuk tetap menekuni keahliannya. Malahan ada sebuah hadits yang seolah menyinggung para sahabat saat itu yang berbunyi:

Nabi Daud as tidak pernah makan kecuali dari hasil pekerjaan tangannya sendiri (HR.Bukhari)

Meski demikian, bekerja tidaklah cukup asal bekerja. Hendaknya bekerja harus dilakukan dengan penuh kejujuran. Kejujuran dalam bekerja wajib pula hukumnya. Karena pekerjaan yang dilakukan dengan jujur akan sangat mempengaruhi pola beribadah dan perilaku keseharian seorang hamba. Mengapa demikian, karena sesuatu yang halal merupakan buah dari kejujuran. Dan mengkonsumsi yang halal akan mempermudah seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah swt. Maka yang menjadi pertimbangan di sini adalah proses bekerjanya bukan hasil dari pekerjaan itu sendiri.

Hasil yang tidak maksimal tetapi diproses secara sempurna akan menghasilkan keberkahan walaupun kecil kwantitasnya. Namun hasil yang maksimal dengan proses yang cacat (tidak jujur) akan berdampak pada kesakitan moral pelakunya meskipun secara kwantitas lebih unggul. Lihatlah mereka yang bekerja dengan cara menipu ataupun berbohong pasti akan meraih sukses dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat. Tetapi tidak lama pasti akan menjadi bahan gunjingan. Bukankah begitu nasib orang curang, penipu dan juga pembohong. Sesungguhnya yang demikian itu sangat dibenci oleh Rasululah saw.

Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw pernah berjalan-jalan di pasar melewati setumpuk bahan makanan. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan itu. Ternyata pada bagian dalamnya basah. Kemudian beliau bertanya kepada si penjual “apakah ini?” si penjual menjawab “Ya Rasul, makanan ini terkena hujan”. Rasulullah saw pun bertanya kembali “mengapa makanan yang basah ini tidak kamu taruh di atas sehingga para pembeli bisa melihatnya?” kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya (barang siapa menipu umatku, niscaya dia bukan termasuk golonganku).

Hadits tersebut sangatlah jelas dan mudah dipahami. Tidak ada kata-kata samar di dalamnya. Bahwa siapapun yang berlaku curang dalam pekerjaannya maka dia telah tersesat dan tidak termasuk golongan (umat) Rasulullah saw. Ini artinya kecurangan dan kebohongan sangatlah dicela dalam Islam.

Meskipun konteks dan pelaku dalam hadits tersebut adalah pedagang, tetapi tidak berarti pedagang saja yang dianjurkan berlaku jujur. Namun semua macam usaha dan pekerjaan hendaknya dilakukan dengan jujur, akrena kecurangan dapat menyeret seseorang keluar dari golongan Rasulullah saw. Tidak terkecuali para politisi, investor, pejabat dan atupun kuli. Sayanganya kecurangan dan kebohongan itu kini seolah dibenarkan bahkan dipelajari lengkap dengan metode dan terorinya dengan kedok manajemen pencitraan. Apakah pencitraan itu sebuah kejujuran? Silahkan dipertimbangkan sendiri.

Imam Abu Hasan As-Syadzili pernah berpendapat bahwa seseorang yang bekerja dengan jujur berarti dia telah berjuang melawan hawa nafsunya yang selalu condong pada kebohongan. Sehingga mereka yang jujur pantaslah mendapatkan apresiasi sebagaimana para mujahid yang berhasil membunuh musuh-musuhnya. Dalam sebuah taushiyah dia berkata:

Barang siapa bekerja dan teguh menjalankan perintah-perintah Allah, maka benar-benar sempurna perjuangannya dalam melawan hawa nafsu”  

Setelah kejujuran dalam bekerja kita raih, hendaklah kita melangkah lagi satu tingkat agar kehidupan ini lebih bermakna. Yaitu mengisi pekerjaan yang jujur dengan nuansa ibadah. Abu Abbas al-Mursi berkata:

Bekerjalah kamu dan jadikanlah alat tenunmu (bila engkau penenun) sebagai tasbih. Menjadikan kampak (bila bekerja sebagai tukang kayu) sebagai tasbih dan menjadikan jarum (bila sebagai penjahit) sebagai tasbih, dan menjadikan kepergiannya (bila berdagang) sebagai tasbih.

Karena itu apapun bentuk keahlian dan dimanapun pekerjaan itu bukanlah sekedar sumber penghasilan semata tetapi juga sumber ibadah.

Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua amin.

 

 

Rabu, 03 Agustus 2022

Rekening Akhirat

 



Banyak orang menjadi cemas ketika uang yang dimilikinya tinggal sedikit. Khawatir, karena banyak hal tidak bisa dilakukan bila tidak memiliki uang. Yang terbayang semua akan serba sulit bila nominal dalam simpanannya menipis. Hidup seakan hanya urusan seputar uang. Bila banyak uang hati senang, sedikit uang hati menjadi tidak tenang.

Karena merasa pentingnya memiliki uang yang banyak, akhirnya yang ada dalam pikiran banyak orang hanya uang dan uang. Bekerja keras tujuannya demi mengumpulkan pundi uang sebanyak-banyaknya. Sebisa mungkin mendapat penghasilan yang besar, dan sekuat mungkin mengatur sekecil-kecilnya pengeluaran. Tujuannya tentu agar simpanan hartanya semakin berlimpah supaya hidupnya tidak susah.

Maunya hidup di dunia senang terus, kesulitan dan kesusahan menjadi hal yang sangat dihindari. Bekerja bila mendapat upah, membantu bila mendapat imbalan dan menolong bila mendapat profit. Seakan semua yang dikerjakan harus dapat dikapitalisasi menjadi keuntungan materi dan kesenangan.

Begitu semangatnya kita mengisi tabungan dunia, hingga banyak yang lupa untuk mengisi rekening akhirat. Banyak yang habis waktunya demi mengurus kepentingannya sendiri sehingga tak ada lagi waktu untuk berbuat baik kepada orang-orang di sekitarnya. Yang dipikirkan hanya seputar urusan pribadi, atau paling jauh hanya lingkup keluarganya sendiri.

Kawan, ada saatnya kita harus memikirkan rekening akhirat. Melakukan kebaikan untuk orang lain meski itu hanya amal kecil yang sederhana. Menyempatkan diri untuk sekadar duduk sebentar dan bertegur sapa dengan tetangga. Bersama kerja bhakti membersihkan lingkungan. Atau hal-hal lain yang membuktikan kita adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan memberi kemanfaatan. Bukan orang egois yang hanya mementingkan urusannya sendiri.

 

 

 

 

 

Selasa, 02 Agustus 2022

Cukup Dengan Diam



Memang nyata benar apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Diam itu lebih baik daripada berkata-kata yang buruk. Setidaknya dengan diam seseorang bisa selamat dari “keseleo” lidah. Terlebih ketika dalam keadaan marah, seseorang akan mudah mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak beradab.

Diam menjadi solusi terbaik ketika sedang marah. Dengan diam seseorang mampu mengekang lidahnya yang sedang liar. Ada waktu hati untuk merenungkan dengan jernih tatkala seseorang memilih diam daripada mengumbar marahnya dengan kata-kata yang tajam.

Hati yang panas hanya bisa mengeluarkan kata-kata yang panas pula. Makanya, sudah pasti pemarah tidak akan mengeluarkan kata yang halus ketika mengekspresikan marahnya. Dan kondisi marah akan semakin menjadi ketika seseorang merasa mendapat perlawanan dari orang yang dimarahinya.

Cukup dengan diam dan semua akan selesai. Biarkan hati bergejolak dan amarah meluap-luap. Kita hanya perlu waktu sehari atau dua hari untuk menenangkan hati. Setelah semua mereda, kita akan melihat dengan pandangan yang presisi bahwa marah kita memang tidak layak diturutkan.

Dengan diam dan menahan diri pasti tidak ada penyesalan. Sebaliknya bila marah dilampiaskan pastinya akan adanya rasa penyesalan di kemudian hari. Karena marah yang diumbar akibatnya akan merugikan diri sendiri juga orang lain.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...