Rabu, 18 November 2020

SULITNYA MEMULAI



Kalau ada yang mengatakan, memulai sesuatu itu kadang sulit. Sepertinya hal ini memang benar. Ada beberapa teman mengeluh kelebihan berat badannya, namun setiap mendapat saran untuk mengatur pola makan dia selalu mengatakan sulit. Sulit untuk mencoba memulainya. Begitu sudah ada niat “diet” datang ajakan makan bareng yang sulit untuk diabaikan. Tentu amat sulit menghindar dari godaan yang nikmat seperti itu. Sebenarnya ini adalah masalah banyak orang. Saya sendiri juga sering mengalami hal yang serupa.

Banyak orang yang mengetahui bahwa olah raga itu penting. Olah raga bukan semata mencari prestasi, namun olah raga adalah kebutuhan setiap orang. Bukan terbatas untuk orang yang usianya masih muda, namun olah raga penting juga bagi orang yang sudah tua. Tentu jenis olah raga bisa menyesuaikan dengan kemampuan fisik dan usia. Namun, berapa banyak orang yang belum bisa memulai olah raga. Akan muncul daftar panjang alasan yang membatalkan niat memulai olah raga. Entahlah, ada saja seribu alasan. Karena belum punya sepatu olah raga, menanti ada temannya, masih menunggu hari libur, cuaca sedang tidak bagus dan bermacam dalih lainnya. Padahal di luar sana, orang bisa olah raga dengan fasilitas seadanya dan “enjoy” tanpa harus mencari orang yang menemaninya.

Dalam hal menulis pun demikian realitanya. Seperti tema dalam Ngaji Literasi hari ini. Banyak orang sebenarnya ingin bisa menulis yang bagus. Mampu menerbitkan karya yang bermutu seperti penulis terkenal. Ingin punya buku best seller seperti Habiburrahman sang novelis kondang. Namun semua masih terbatas dalam keinginan. Masalah sebenarnya bukan karena tidak mampu menulis, namun belum memulai menulis saja. Sekalinya mencoba menulis, ada saja “seabrek” alasan yang sudah mengantri. Dari mulai, masih banyak tugas, nanti bakalan menulis kalau pas libur, atau nanti akan menulis kalau sudah menemukan ide yang hebat.

Pekerjaan kecil dan sederhana yang selesai dilakukan, jelas lebih baik daripada rencana-rencana besar yang masih dalam gagasan. Memulai sesuatu memang sulit. Namun bila kita sudah mampu melewatinya, semua akan berjalan pada jalurya. Sesuatu yang terulang terus menerus menjadi sebuah kebiasaan ada kalanya awalnya juga sulit untuk memulai.

Istiqamah itu lebih baik dari seribu karomah. istiqamah tidak saja berlaku pada tataran ubudiyah semata. Istiqamah berlaku dalam konteks akhlak, ilmu, dan segala perbuatan baik. Bukankah segala aktivitas yang kita niatkan dalam kebaikan adalah bagian dari ibadah. Dan tentu semua harus dilakukan dengan istiqamah. Menulis menjadi salah satu bagian dari media penyebaran ilmu.  Sehingga tidak salah bila kita istiqamah di ranah ini. Kuncinya harus segera memulai berkarya. Ada yang mengatakan, kita bisa terus menunda sesuatu, namun waktu tidak pernah menunggu kita.

 

 

Selasa, 17 November 2020

MENCINTAI PEKERJAAN


"Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan luar biasa adalah dengan mencintai apa yang Anda lakukan. Jika Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan puas." Begitu pesan luar biasa dari Steve Jobs. Dia adalah seorang raja bisnis, desainer industri, investor, dan pemilik media Amerika. Dia adalah ketua, Chief Executive Officer (CEO), bersama dengan salah satu pendiri Apple Inc. Jobs dikenal luas sebagai pelopor revolusi komputer pribadi pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Pekerjaan apapun yang kita lakukan bila tidak didasari cinta dan passion maka akan menghasilkan sesuatu yang biasa saja. Seorang pelukis, akan menciptakan lukisan indah karena dia melukis dengan sepenuh kemampuan dan rasa. Penulis pun demikian. Apa yang dia tulis akan menjadi “sesuatu”, meginspirasi dan memberikan pencerahan bila dia menulis dengan landasan cinta. Aktivitas yang merupakan gerak tubuh harus selaras dengan jiwa. Bila gerak tubuh seiring dengan semangat yang menjiwainya, pertanda ada hal istimewa yang kelak akan diraihnya.

Kira-kira mana yang lebih dahulu, mencintai pekerjaan tertentu kemudian kita melakukannya. Atau melakukan pekerjaan kemudian lama-kelamaan kita mencintainya. Sepertinya tidak menjadi hal penting untuk dibahas, yang penting melakukan aktivitas harus dilandasi rasa suka yang mendalam. Seperti apa kata orang, bukankah cinta bisa tumbuh karena sebuah kebiasaan. Witing tresno jalaran songko kulino. Sesuatu yang tidak kita sukai bisa menjadi hal yang kita cintai bila kita sering mengerjakannya. Menulis misalnya, pada awalnya kita tidak suka. Tetapi karena sudah terbiasa, menulis menjadi aktivitas yang kita cintai dan kita kerjakan terus setiap hari.

Ada yang dicinta giat bekerja, Entah apa, entah siapa. Karena cinta jiwa gairah, tanpa cinta hidup pun hampa. Ternyata amat utama adanya cinta, Hai, begitulah kata para pujangga. Kalau ini kata Bang Haji Rhoma Irama. Cinta menjadi faktor utama dalam kehidupan manusia, katanya. Dengan mencintai sesuatu kita menjadi giat bekerja. Hidup menjadi penuh gairah dan bermakna.

Sepertinya kita harus mengambil pilihan yang tegas. Melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Bila melakukan aktivitas tertentu mesti dengan sepenuh hati dan tumpuan cinta. Atau kita tinggalkan sama sekali. Karena bila melakukan sesuatu dengan tanggung, tidak total, ada kemungkinan semua menjadi hal yang mengecewakan.

 

 

Senin, 16 November 2020

PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

 

Setiap perjuangan pastilah membutuhkan pengorbanan. Perjuangan adalah jalan terjal, bukan jalur datar yang penuh bunga di kanan dan kirinya. Dalam perjuangan pasti ada air mata, rasa sakit dan beban berat. Dan semakin tinggi apa yang akan dicapai semakin besar pula pengorbanan yang haru diberikan. Buktinya adalah para pahlawan bangsa kita. Untuk sebuah kemerdekaan, harta benda, kepentingan pribadi bahkan jiwa dan raga pun siap dikorbankan.

“Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara. Bisa jadi kamu rasakan dalam semenit, sejam, sehari, atau setahun. Namun jika menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya.” Begitu menurut Lance Amstrong. Nama aslinya Lance Edward Gunderson lahir di Plano, Texas, Amerika Serikat, 18 September 1971, adalah pembalap sepeda profesional Amerika Serikat yang terkenal karena berhasil menjuarai Tour de France sebanyak tujuh kali berturut-turut dari 1999 hingga tahun 2005. (Data dari Wikipedia)

Tour de France adalah kejuaraan balap sepeda paling bergengsi di dunia. Kejuaraan ini merupakan balapan jalanan jarak jauh untuk pembalap sepeda profesional yang biasanya diadakan sepanjang tiga minggu pada bulan Juli di Prancis. Tour de France diadakan setiap tahun sejak tahun 1903. Tour de France diselenggarakan sepanjang 21 etape, menempuh jarak total 3.470 km. Luar biasa, Itu sama halnya dengan tiga kali panjang pulau Jawa.

Bisa kita bayangkan beratnya usaha yang harus dilakukan oleh para juara. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan fisik dan mental melebihi kebanyakan manusia normal lain. Pada dasarnya semua insan terlahir sama. Namun dalam perjalanan hidupnya, dikarenakan tempaan hidup semua akan berbeda. Bagaimana ia belajar, bagaimana ia berlatih dan bagaimana dia berpikir dan bergaul menjadikan manusia berbeda dengan yang lainnya. Akan terlihat seseorang melebihi yang lain.

Figur Lance Amstrong menjadi pelajaran bagi kita. Baginya, lebih baik berjuang dengan sekuat tenaga meski harus merasakan sakit yang mendera, mengalami luka dan pedihnya latihan yang keras. Semua itu harus diabaikan. Karena bila kita takut dengan sakitnya perjuangan, maka kita akan menjadi pesakitan selamanya.

 

Minggu, 15 November 2020

BUKU LITERASI DIRI


Literasi Diri, begitu judulnya. Sebuah buku pemberian (hadiah) dari Prof.Naim minggu lalu. Saya anggap itu salah satu barokahnya silaturrahim ke kantor beliau. Buku yang sebenarnya bukan tulisan beliau sendiri. Namun kumpulan dari beberapa penulis hebat yang dihimpun dalam buku cantik berisi 155 halaman.

Buku ini adalah kumpulan pendapat atau kesan tentang Dr.Ngainun Naim dari para penulis. Dan bukan Prof.Naim kalau tidak kreatif, semua pasti bisa menjadi buku. Dan saya sangat yakin semua testimoni dalam buku ini adalah lahir dari sebuah kejujuran. Pendapat para penulis bukan hanya sebuah pujian yang menjadi pemanis bibir semata. Sudah menjadi kebiasaan alamiah kita, selalu mengolah apa yang kita lihat, kita dengar dan kita alami dalam alam pikiran kita. Informasi-informasi yang kita input tadi akan menjadi sebuah pengetahuan baru dan begitu seterusnya.

Buku ini adalah bukti buah ketulusan dari Prof.Naim. Perjuangan dan dedikasinya di dunia literasi mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Memang ini bukan tujuan utama dari kegigihan usaha panjang menulis. Namun bagaimanapun apresiasi harus kita hargai. Ibarat petani, Prof.Naim mulai melihat bahwa apa yang ditanam dan dijaga selama ini telah berbuah manis. Proses panjang puluhan tahun telah tampak hasilnya, meski ini hanya sisi yang tampak saja. Ada yang lebih besar yang tidak terlihat oleh kita semua, kepuasan batin, kebahagiaan dan harapan ganjaran pahala dari Allah.

Ini adalah cermin bagi kita, bagi saya pribadi. Tidak ada yang instan, semua membutuhkan upaya dan kesabaran yang panjang. Jangan berharap apa yang kau usahakan kemarin, bulan lalu, hari ini sudah kau petik hasilnya. Hidup ini bukan mitos dunia dongeng yang menyajikan berbagai keajaiban. Menggosok lampu gaib, kemudian tinggal menyebutkan tiga permintaan, dan semua akan terwujud dalam hitungan detik saja. Pergulatan dan kesetiaan Prof.Naim dalam menulis adalah inspirasi nyata yang harus kita ambil sebagai pelajaran kehidupan.

Dunia ini adalah medan perjuangan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Dunia adalah ladang akhirat. Tempat menanam kebaikan yang mungkin saja hasilnya sedikit diperlihatkan di dunia ini, namun yang pasti tidak ada yang terlewatkan dari pengawasan-Nya. Kebaikan yang manisnya sudah terasa hari ini adalah hadiah kecil dari Allah sebagai karunia semata. Namun imbalan besar masih menjadi simpanan sampai masanya tiba kehidupan yang abadi nanti.

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...