Sabtu, 09 Januari 2021

DUA KARYA INSPIRATIF



Ini hari yang menyenangkan. Bertambah dua buku baru karya dari teman-teman di Grup Ma’arif Menulis. Dua karya hebat yang pasti menambah semangat menulis saya. “Melukis Mimpi di Masa Pandemi, Pengalaman Hidup, Gagasan, Refleksi dan Nasihat Diri” karya Bapak Nur Hadi dan “Membangun Pembelajaran INSPIRATIF” buah karya Bapak Muhammad Ansorie. Secara personal saya memang belum begitu mengenal dekat beliau berdua (penulis), hanya lebih sering berkomunikasi melalui "udara". Namun tulisan mereka sudah sangat saya kenal. Bisa dikatakan hampir setiap mereka mengaploud tulisan di blog, saya selalu berkesempatan untuk membacanya.

Pasti ada kerja serius dibalik terbitnya sebuah buku. Ada usaha yang menguras tenaga, pikiran bahkan sampai kerja keras melebihi batas waktu. Tapi semua akan terbayar dengan lahirnya karya tulis ini. Kelegaan hati dan kebahagiaan yang tentunya tidak ternilai. Meskipun saya belum membaca dua buku keren ini, saya tidak ragu untuk mengatakan bila isinya pasti bagus dan menginspirasi.

Tentu satu tahun yang lalu semua belum pernah berpikir akan mampu membuat karya sebuah buku. Tapi hari ini mimpi itu telah terwujud. Sebuah pencapaian yang patut disyukuri. Semua berangkat dari keberanian menulis. Dan yang jelas, selalu ada "tangan dingin" dibalik karya-karya yang lahir dari rahim "Ma'arif Menulis". Siapa lagi kalau bukan pembimbing kami Doktor Ngainun Naim. Motivasi beliau sejauh ini mampu memberi suntikan spirit kami dalam menulis. Sudah beberapa karya antologi maupun mandiri terbit karena peran beliau.

Selamat Pak Nur, Pak Ansorie... saya ikut bangga dengan karya yang telah terbit. Dan, yakin ini baru langkah awal dari rangkaian karya berikutnya. Karya yang akan semakin mendorong untuk terus menulis dan menulis lagi. Karena akan ada semangat yang lebih besar ketika sudah mampu melahirkan karya tulis.

 

Jumat, 08 Januari 2021

JEDA MENULIS


Semua membutuhkan istirahat. Jangankan kita manusia, mesin yang merupakan benda mati pun membutuhkan istirahat. Dengan jeda sebentar, energi akan kembali segar, akan pulih kembali semangat yang surut. Dengan mengambil istirahat yang cukup akan tetap terjaga kesehatan fisik dan jiwa seseorang. Hidup itu begitu singkat, begitu indah. Jangan terlalu serius dengan pekerjaan. Nikmatilah hidup Anda, begitu kata Jack Ma.

Aktivitas menulis juga membutuhkan jeda. Rutinitas yang terus-menerus pasti akan mengalami kejenuhan juga. Tentu bila sudah dalam keadaan jenuh, ide yang akan disusun akan sedikit terhambat. Pilihan jeda sebentar dapat memicu munculnya pikiran dan ide kreatif kembali. Dalam jeda kita mengumpulkan tenaga, untuk kembali membuat lompatan  yang lebih jauh. Dengan memilih jeda pikiran kita kembali jernih sehingga dapat lebih teliti untuk memperbaiki tulisan, termasuk dapat memunculkan inspirasi baru bagi tulisan Anda

Hidup tidak selamanya tentang menulis, atau perihal pekerjaan kita sehari-hari. Ada waktunya juga kita melakukan hal-hal remeh yang menyenangkan hati. Dan jikalau mau mengambil jeda menulis idealnya memang dengan membaca. Membaca seakan mengisi kembali gelas yang kita minum. Memulihkan dan menyegarkan kembali pikiran yang penat. Rasakan betapa spirit terisi penuh lagi dan produktifitas menulis akan lebih meningkat.

Jeda menulis sangat penting tapi tetap seperlunya. Mengambil jeda yang terlalu panjang justru tidak efektif. Semangat menulis sebaiknya dijaga dengan jeda sebentar kemudian menulis lagi. Ritme menulis yang mulai teratur harus dikawal terus secara sinambung.

Dalam jeda menulis manfaat terbesar yang didapat adalah kesempatan refleksi. Melihat kembali tulisan-tulisan kita yang berserak-serak. Perenungan diri atas apa yang telah ditulis selama ini, tafakur tentang semua hal yang kita anggap baik maupun tidak.

 

 

 

Kamis, 07 Januari 2021

RESOLUSI HIDUP BAHAGIA



Kalau tahun lalu ada yang menyebut sebagai tahun musibah, tahun kesedihan atau tahun bencana, mungkin saja ada sisi benarnya. Faktanya pandemi telah menginfeksi jutaan manusia dan korban jiwa yang begitu banyak. Menurut sebuah perhitungan, jumlah orang yang meninggal karena Covid-19 setara dengan korban perang dunia pertama dan kedua. Secara dampak sosial, pandemi juga menyebar ke seluruh pelosok dunia, lebih luas dari dampak perang dunia.

Kalau direnungkan, tidak pernah Allah menciptakan segala sesuatu sia-sia belaka. Selalu ada pelajaran dan hikmah dari suatu peristiwa. Pandemi telah mengajarkan kita tentang kesetaraan. Antara orang kaya dengan yang miskin tidak memiliki perbedaan, sama-sama memiliki risiko terinfeksi. Begitu pula antara yang memiliki jabatan tinggi dengan rakyat jelata, sama-sama tidak aman dari tertular virus.

Pandemi mengajarkan kita pula untuk selalu dekat dengan sang pencipta. Karena tidak ada tempat berlindung yang paling aman selain perlindungan-Nya. Semua tahu bila Corona mampu menembus gedung-gedung bertingkat yang kokoh. Mampu masuk dalam lingkungan mewah yang paling aman sekalipun. Bahkan dia bisa menyelinap masuk ke istana megah tanpa satupun penjaga yang bisa mencegahnya.

Percuma saja kita takut, meski kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Dia (Corona) adalah makhluk biasa ciptaan Allah juga. Contoh kecil yang menjadi bukti, bahwa kepandaian manusia tidak berdaya menghadapinya. Harusnya manusia segera sadar akan semua kesombongan dan keserakahan selama ini.

Tahun ini kita harus punya resolusi, “resolusi hidup bahagia”. Berusaha menjaga nikmat kesehatan dengan banyak bersyukur, olahraga, memilih makan yang halal dan baik, dan lebih peduli dengan penderitaan saudara kita. Bukankah salah satu hikmah dari musibah adalah mengingatkan kita untuk segera kembali ke jalan-Nya. Musibah menjadikan yang selama ini lupa ingat kembali. Membuat yang tinggi hati segera sujud kembali. Sujud yang dalam seraya berserah diri murni hanya kepada Dzat yang menguasai hidup kita.

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...