Sabtu, 16 Januari 2021

MAKNA HIJRAH



Hari ini kita sudah melewati separuh bulan Januari Tahun Masehi 2021. Kalender Masehi sampai hari ini lebih dikenal masyarakat kita dibandingkan dengan kalender Hijriyah. Bahkan awal tahun baru masehi sering disambut dan dirayakan. Ironis memang, karena sebagai umat Islam seharusnya kita lebih mengenal kalender kita sendiri, kalender Hijriyah.

Sebagaimana kita ketahui Tahun Hijriyah ditetapkan pertama kali oleh Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Khatab ra Khalifah kedua dalam sejarah Islam. Khalifah Umar menetapkan Tahun Hijriyah untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti yang berasal dari tahun Gajah, Kalender Persia, Kalender Romawi dan kalender-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Kholifah Umar memilih peristiwa Hijrahnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah sebagai permulaan kalender karena menilai peristiwa hijrah adalah peristiwa besar dalam sejarah Islam. Peristiwa di mana dakwah Islam mampu berkembang pesat dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Dalam kerangka sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam. Setelah 13 tahun Nabi berdakwah di Makkah mendapat banyak rintangan, teror bahkan rencana pembunuhan, akhirnya Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk hijrah ke Madinah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah  ayat

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pada ayat di atas hakikatnya, hijrah harus dilakukan atas dasar niat karena Allah dan tujuan mengharap rahmat dan keridhaan Allah semata. Sebagai halnya apa yang dilaksanakan Nabi dan para sahabat setia beliau. Hijrah adalah ujian keimanan. Karena hijrah bukanlah amalan yang ringan. Mereka harus meningggalkan tanah kelahiran tercinta kota Makkah menuju Madinah. Meninggalkan harta benda dan hanya membawa bekal untuk perjalanan secukupnya saja. Mereka juga terpaksa berpisah dengan sanak keluarga yang tidak seaqidah.

Peristiwa hijrah harus senantiasa kita maknai dengan benar. Hijrah adalah peristiwa besar yang penuh keteladanan yang menjadi salah satu kaidah perjuangan hidup kaum muslimin. Hijrah secara bahasa berarti meninggalkan. Seseorang yang berusaha meninggalkan segala hal yang buruk, maksiat, kondisi yang tidak baik, menuju keadaan yang lebih baik hakikatnya adalah hijrah. Semisal, berusaha meninggalkan sikap pemarah menuju pribadi penyabar, meninggalkan sifat kikir menuju dermawan, meninggalkan persahabatan yang selalu cenderung mengajak maksiat menuju persahabatan yang mengajak taat kepada Allah. Nilai lain yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah adalah, bahwa hijrah dan jihad dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita miliki, harta benda untuk perjuangan di jalan Allah, ilmu pengetahuan atau sesuatu berharga yang diamanatkan Alllah Subhanahu wa ta’ala kepada kita.

 

 

 

Jumat, 15 Januari 2021

MENCARI KEBENARAN



Seorang guru masuk dalam kelas membawa sebuah gelas yang berisi air bening. Sesaat kemudian dia bertanya pada murud-muridnya. “Coba menurut pendapat kalian, yang saya pegang ini apa?”. 


“Menurut saya, itu adalah gelas yang berisi air setengahnya”. Kata salah satu muridnya.

“Itu adalah gelas yang berisi air dan telah berkurang separuhnya” Murid yang lain menjawab.

“Pak Guru, kalau menurut saya Bapak sedang memegang gelas yang berisi air tidak penuh”. Murid berikutnya menjawab.

Mungkin, ilustrasi di atas bisa menggambarkan kepada kita, cara pandang seseorang terhadap sebuah masalah. Bahwa dalam memandang suatu peristiwa antara individu satu dengan yang lainnya sering terjadi perbedaan. Perbedaan ini sering terjadi karena cara pandang yang berbeda. Dalam kehidupan dunia ini perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan. Sangat mungkin pendapat kita berbeda dengan pendapat orang lain. Meskipun kita boleh menganggap pendapat kita benar, tapi sangat mungkin pendapat orang lain lebih benar dari pendapat kita.

Kebenaran versi manusia sering bersifat nisbi (tidak mutlak). Kebenaran menurut kita hanyalah berdasarkan ilmu dan kemampuan analisis data yang terbatas. Kebenaran menurut kita kadang hanya kebenaran yang tidak utuh. Benar sebagian namun sebagian yang lain keliru. Analoginya seperti cerita orang memegang ekor gajah menganggap bahwa gajah itu bentuknya bulat kecil dan panjang. Kemudian yang lain menyimpulkan gajah itu lebar dan tipis, karena yang bisa ia pegang adalah telinganya saja.  

Hakikat kebenaran itu mutlak milik Allah. Kebenaran yang kita miliki hanya karena ilmu dan petunjuk Allah. Kepandaian seseorang tidak akan menjamin dia selalu dalam garis hidup yang benar. Kemampuan berpikir tidak memastikan manusia selalu mendapatkan kebenaran yang dia cari. Bukankah setiap waktu kita (dalam shalat) diperintahkan selalu memohon petunjuk Allah,  Tunjukilah Kami jalan yang lurus…

 

 

 

 

Kamis, 14 Januari 2021

POKOK NULIS…

 



Senang hati dan tersenyum sendiri membaca kalimat “Mbuh manfaat opo ora, sing penting nulis”. Begitu pesan Prof.Naim dalam percakapan di grup “Ma’aif Menulis” kemarin malam. Sejak kemarin saya sudah tertarik menjadikan “quote” itu sebagai bahan menulis hari ini.

Bila dipikirkan dengan saksama, pesan mentor kita intinya adalah “menulis saja”. Jangan banyak menimbang sehingga yang terjadi adalah niat yang batal dikerjakan. Tidak perlu banyak berpikir apakah tulisan yang akan kita buat penting, berguna atau bagus, yang terpenting menulis. Karena dengan menulis sebenarnya sudah pasti lebih baik dari pada tidak menulis. Sudahlah, seandainya anggap saja kita menulis tidak ada manfaatnya bagi orang lain, tapi setidaknya masih memberi faedah bagi diri sendiri. Dan itu fakta yang tidak terbantahkan.

Ungkapan yang sekilas terkesan sepele tapi memiliki makna yang mendalam, membangun sikap optimis. Jangan takut, harus berani memulai menulis. Dan saya yakin semua pernah terjangkit perasaan takut yang tidak beralasan seperti itu, termasuk saya. Dan sampai hari ini pun, sering kali setelah selesai menulis sebuah artikel, dalam angan-angan akan terlintas banyak pertanyaan. Mengapa harus menulis tema itu, apa pentingnya bagi yang membaca, kira-kira ada manfaatnya tidak. Dan banyak keraguan yang sering menjadikan semangat menulis turun.

Quote itu telah membesarkan hati dan menjadikan lebih percaya diri lagi. Itu yang saya rasakan setelah meresapi dengan mendalam. Semaksimal apapun usaha untuk membuat karya tulis yang baik, tetap saja merasa masih banyak kekuranganya. Namun karena prinsipnya yang penting menulis, jalan saja terus. Sambil berusaha belajar mencari pola menulis yang baik, di saat yang bersamaan terus membuat karya.

Abaikan ragu itu, begitu yang selalu saya katakan pada diri sendiri. Selamanya kita tidak akan pernah memiliki keyakinan bisa menulis bila belum memulainya. Itu adalah inti sari dari kalimat “Mbuh..” . Pasti akan sulit melangkah bila dalam bayangan kita takut akan jatuh terperosok. Dan pastinya sulit terus membuat karya, bila dalam hati kita takut ada celanya. Terus semangat menulis sahabatku,  dan tidak perlu pedulikan apa yang didapat dari menulis, Wis Mbuh….

 

Rabu, 13 Januari 2021

LANGKAH KE-200

 


Bila diibaratkan dengan langkah-langkah kaki, hari ini adalah langkah yang ke-dua ratus. Aktivitas menulis di blog saat ini sudah sampai di angka dua ratus judul. Sejauh ini aktivitas nge-blog memiliki peran penting dalam belajar dan membiasakan menulis. Menulis di blog adalah sarana berbagi pengetahuan yang menarik. Bukan hanya sarana menyalurkan ide, namun kita juga bisa membaca berbagai karya teman yang memiliki pandangan, wawasan dan cerita yang berbeda-beda.

Menulis di blog, benar-benar saya rasakan manfaatnya menjadi tabungan menulis yang efektif. Satu persatu judul yang telah diupload akan menjadi kumpulan file yang sewaktu-waktu bisa disunting menjadi sebuah buku. Akan sulit tentunya bila kita akan meyusun buku dalam ratusan halaman bila tidak dengan pola bertahap. Dan sekali lagi nge-blog adalah solusi yang tepat.

Ngeblog juga wadah mengasah kemampuan menulis. Bahkan lebih dari itu, menulis di blog juga melatih kepercayaan diri. Gagasan yang kita tulis tentunya akan mendapat respon dari pembaca. Entah tanggapan yang positif atau sebaliknya. pembaca bisa tidak sependapat dengan apa yang kita tulis. Dan itu hal yang pasti akan terjadi. Karena orang lain juga punya kebebasan berpendapat. Seperti tradisi ulama zaman dulu. Ketika tidak sependapat dengan sebuah karya, maka dia akan menulis karya sebagai koreksi. Sebuah perdebatan ilmiah yang elegan. Dinamika ini akan membangun budaya belajar dan berpikir umat.  

Terus menulis di blog telah membawa energi positif dalam aktivitas sehari-hari. Lebih dekat dengan dunia membaca. Lebih banyak berpikir dan menganalisa suatu masalah. Bahkan dalam diam kita terus merangsang ide-ide yang akan kita tuangkan dalam sebuah karya tulis. Proses dalam upaya menemukan ide, mewujudkan dalam karya sampai publikasi adalah proses yang menyenangkan. Dan semua akan terbayar lunas dengan kelegaan hati.

Menulis dan selanjutnya dipublikasi di blog telah menjadi rutinitas yang mengasyikkan. Kini saya sadari mulai bisa menikmati belajar menulis dengan terus nge-blog. Seandainya harus membuat target yang akan dicapai, sederhana saja. Bagaimana rutinitas nge-blog terus bisa berjalan, setiap hari mampu menulis meskipun hanya lima paragraf. Semoga…

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 12 Januari 2021

TERUS MENULIS, MENULIS TERUS



Bila menulis terasa berat, berhentilah sebentar. Renungkanlah, hari ini kita diberi kesempatan, apakah kesempatan untuk menulis kita gunakan, atau kita abaikan saja. Harus sering kita ingatkan pada diri sendiri, ada dua nikmat yang diberikan Allah yang kebanyakan manusia lalai. Yaitu nikmat kesehatan dan kesempatan (waktu luang).

Sudah sering kita mengisi nikmat waktu luang dengan hal remeh namun banyak menghabiskan waktu kita. Tentu ini berdasar dari pengalaman pribadi saya sendiri. Apakah benar tidak ada sedikit waktu untuk mencoba mengisinya dengan aktivitas menulis. Satu paragraf hari ini kelak akan menjadi puluhan atau bahkan ratusan halaman, bila terus menulis.

Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, setiap saat asyik bermain dengan mainannya tersebut. Mungkin itulah gambaran yang saya rasakan saat ini. Menulis menjadi aktivitas yang sangat saya sukai, sayang bila ditinggalkan. Semua tidak tahu, apakah suatu saat nanti saya akan masih suka dengan menulis. Tapi yang pasti hari ini mumpung hasrat menulis itu ada, akan saya salurkan dengan terus menulis, menulis terus. Bila di hari esok kesempatan dan kesehatan tidak lagi memungkinkan untuk menulis lagi, setidaknya saya sudah berbuat hari ini.

Menulis adalah ekspresi diri. Menulis merupakan penyaluran gagasan yang bebas. Pikiran merdeka kita tidak bisa dikekang, sebagaimana burung yang bebas terbang ke manapun dia suka. Inilah sisi menariknya menulis versi saya. Dengan menulis apa yang dirasakan, dipikirkan dan dicitakan semua tumpah-ruah dalam rakitan kata-kata.

Sebagaimana fisik yang membutuhkan gerak dan latihan otak pun memerlukan aktivitas. Ketika fisik jarang melakukan olahraga maka yang akan terjadi adalah, otot akan melemah dan tentu berpengaruh pada kemampuan dan kekuatan organ tubuh secara keseluruhan. Mungkin seperti itulah salah satu manfaat menulis. Menulis menjadikan otak kita terbiasa selalu berpikir. Ini menjadikan kesegaran dan ketenangan pikiran.

Tidak percaya? Mari coba menulis setiap hari.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...