Sabtu, 06 Maret 2021

MENEPATI JANJI #2



Jangan mengira menulis itu sesuatu hal berat yang menjadi beban. Aktivitas menulis ya dijalani saja. Selama ini menulis masih syik-asyik saja. Mungkin karena yang ditulis bukan tema berat yang menguras pikiran. Makanya ketika teman Blogger ada yang bertanya bagaimana mengatur waktu untuk bisa menulis setiap hari?. Jawabannya sederhana, mengalokasikan waktu khusus untuk menulis. Sama halnya penikmat kopi yang selalu menyediakan waktu untuk ngopi. Anggap saja waktu untuk menulis lima paragraf itu sepadan dengan waktu menghabiskan secangkir kopi dan dua batang sigaret.

Lalu apa gunanya menulis yang remeh-temeh seperti ini?. Bagi sebagian orang mungkin tidak ada pentingnya. Tapi bagi saya ini adalah proses membiasakan diri, dan itu penting. Setidaknya lebih bagus daripada duduk melamun menghayal yang bukan-bukan. Atau melototi acara televisi yang acaranya semakin tidak jelas.

Menulis hanya bagian dari menepati  janji terhadap diri sendiri. Seperti kata seorang penulis mashur, bila hari ini aku tidak menulis maka tidak ada yang aku tinggalkan. Dan sejauh ini, beginilah yang saya mampu. Menulis dengan tema ringan yang mungkin akan dianggap kurang berguna. Tentu tidak mungkin menulis karya ilmiah, karena itu bukan kapasitas saya.

Menulis setiap hari sebenarnya adalah latihan “artikulasi” gagasan, melatih memaparkan ide-ide. Kita memerlukan latihan panjang dalam hal ini. Berkaca dari para penulis produktif, Cak Nun misalnya. Beberapa orang terdekat Cak Nun, panggilan akrab Emha Ainun Nadjib, pernah bercerita bahwa dalam menulis, beliau tidak pernah sekalipun menekan tombol Delete. Tulisannya mengalir deras dan tanpa salah ketik.

Kemampuan menulis seperti itu pasti diperoleh dari proses berlatih yang panjang. Bukan cuma hitungan bulan atau setahun dua tahun, dan sudah pasti telah kenyang makan asam garamnya dunia menulis. Dengan belajar terus dan praktik menulis setiap hari sebenarnya kita sedang berusaha meraih sebuah mimpi. Pada waktunya kita terus tumbuh berkembang. Dan buah usaha keras itu bukan hanya kita yang menikmati, tapi juga orang lain.

Jumat, 05 Maret 2021

MENIRU CARNEGIE



Sudah pernah “kenal” Andrew Carnegie?. Mungkin belum terlalu banyak yang mengenal Andrew Carnegie. Namanya masih kalah populer dengan Bill Gates. Padahal Andrew Carnegie adalah idola Bill Gates sejak masih muda dulu. Andrew Carnegie lahir di Dunfermline, Skotlandia. Saat usianya menginjak umur 13 tahun, tepatnya pada tahun 1848, Andrew Carnegie datang ke Amerika Serikat bersama keluarganya. Mereka menetap di Allegheny, Pennsylvania, dan saat itu Andrew Carnegie bekerja di sebuah pabrik. Meskipun Andrew Carnegie hanya merasakan sedikit pendidikan secara formal, ia dibesarkan di sebuah keluarga yang percaya akan pentingnya membaca buku dan sebuah pembelajaran.

Kisah perjalanan hidup Andrew Carnegie menginspirasi banyak orang. Kegigihannya dalam belajar patut untuk ditiru. Dan itu menjadi salah satu jalan keberhasilannya dalam bisnis dan menjadikan dia orang yang kaya raya (miliarder). Perilaku yang menarik lain adalah besarnya perhatian Carnegie pada masalah-masalah sosial. Dia adalah bagian dari kaum filantropi, orang-orang yang banyak menolong dan menyumbang kaum lemah secara ekonomi.

“Anda tidak bisa mendorong siapa pun naik tangga kecuali ia bersedia mendaki sedikit.” Itu adalah salah satu quote Andrew Carnegie. Pada dasarnya, menurutnya setiap orang memiliki jalan tersendiri yang dia pilih. Setiap orang memiliki kehendak atau kecenderungan masing-masing. Sebagaimana cerita banyak orang sukses, mereka rela meninggalkan banyak hal demi untuk menekuni hobinya. Misalnya Bill Gates yang rela meninggalkan kuliahnya untuk menekuni belajar komputer.

Bagian terpenting meraih sebuah cita-cita adalah kehendak yang kuat. Motivasi dari luar (orang lain) sebenarnya hanyalah sekadar pelengkap. Yang utama tetaplah motivasi dari diri sendiri. Sebagai pendidik sering saya menjumpai siswa yang memiliki prestasi rendah. Bila diamati dan diteliti semua terjadi karena memang belum ada kemauan belajar. Secara kemampuan dia sejajar dengan teman-teman sekelasnya. Namun dari sisi kesungguhan belajar dia jauh tertinggal.

Bisa dibenarkan bila orang sering berkata, nasibmu ada dalam genggaman tanganmu sendiri dan dalam kehendak tuhanmu. Ada sisi usaha yang harus ditempuh dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, meski itu bukan satu-satunya faktor. Karena ada satu faktor lagi yaitu ketetapan dari Yang Mahakuasa. Kiranya untuk bab semangat belajar dan berusaha kita bisa belajar dari Carnegie….

 

 

 

Kamis, 04 Maret 2021

MENEPATI JANJI



 

Jarum jam menunjukkan pukul 22.07 ketika sampai di rumah. Kegiatan hari ini lumayan melelahkan, dan begitu semua selesai maunya segera istirahat. Tapi, rupanya masih ada hutang yang harus segera dibayar. Hutang komitmen pada diri sendiri untuk berusaha menulis setiap hari. Sebenarnya bisa saja mengabaikan komitmen yang telah dibangun, tak akan ada yang protes dengan semua itu, tak akan ada yang akan peduli.

Promise is promise. Janji mestinnya harus ditepati, meski itu hanyalah janji terhadap diri sendiri. Menukil sebuah nasihat, hari esok ada karena apa yang kamu lakukan hari ini. Manfaatkanlah hari ini dengan sebaik mungkin. Jika kamu menunda apa yang bisa dilakukan hari ini, kamu juga menunda apapun yang sebenarnya bisa kamu raih di masa depan. Jangan tinggalkan tugasmu hari ini dengan berpikir bahwa kamu pasti akan menyelesaikannya besok.

Kesempatan dalam hidup sering tidak akan datang dua kali. Bila hari ini kita masih sempat melakukan banyak hal, rasanya tidak perlu menunggu untuk melakukannya besok. Seandainya besok kta masih diberi waktu, tentu kita akan mencoba melakukan kebaikan yang baru lagi.

Kemauan yang besar sering mengalahkan segala yang merintanginya. Dan, saat ini saya sedang menguji diri sendiri, seberapa besar kemauan itu. Apakah mampu mengalahkan rasa lelah dan bisa menumbuhkan semangat. Dan seterusnya saya akan tetap mengujinya.

Setidaknya hari ini saya masih bisa menunaikan janji. Janji yang sebenarnya tidak akan pernah dituntut bila saya langgar. Tak akan pernah ada yang saya rugikan bila saya ingkari. Tapi janji itu sudah terlanjur menjadi sebuah komitmen diri. Jadi, tak perlu lari....

 

Rabu, 03 Maret 2021

SIKLUS MENULIS



Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Begitu kata Wijaya Kusumah dalam bukunya.  Apa yang akan terjadi bila menulis setiap hari?. Mungkin setiap penulis akan memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Bukankah hidup ini memang unik. Aktivitas yang sama bisa melahirkan pengalaman yang beda bagi pelakunya. Demikian pula menulis. Bisa saja apa yang saya rasakan beda dengan Anda.

Seorang penulis buku produktif mengaku dalam sehari pernah membuat sampai dua puluh artikel. Tentu tidak setiap hari mampu membuat sebanyak itu. Dan aktivitas menulisnya itu sudah dilakukannya selama puluhan tahun. Bagi dia menulis setiap hari tidak menjadikan kehabisan bahan. Karena dia sudah melalui siklus menulis yang mapan.

Filosofi menulisnya seperti hujan. Hujan itu turun dalam kadar yang tepat. Bukan gumpalan air atau jatuh seketika. Tapi dalam rintik-rintik dan tetesan, butiran air yang proporsional. Begitulah bila sudah tenggelam dalam menulis. Ada waktu yang selalu ia luangkan untuk menulis. Kalaupun dalam kondisi di tengah kesibukan, ia tetap mampu menulis. Memiliki waktu sepuluh menit pun bisa digunakan untuk menulis. Bahkan ketika hendak makan, mandi atau kegiatan ringan yang lain dia masih sempat untuk menulis.

Siklus hujan dimulai dari pancaran matahari yang mengakibatkan penguapan air yang berada di bumi seperti laut dan sungai. Sinar matahari yang panas menyebabkan adanya proses evaporasi. Hasil uap tersebut naik dan mengalami proses kondensasi. Dalam proses tersebut, uap air berubah menjadi embun dan singkatnya menjadi hujan. Dan seterusnya berjalan seperti itu. Begitu pula kita menulis. Apa yang kita baca, kita dengar, atau segala yang kita alami bagai pancaran matahari yang menghimpun uap air. Semua tadi selanjutnya diproses dalam perenungan yang akhirnya menjadi gagasan yang matang. Menjadi sebuah karya.

Kita sedang berproses membuat siklus menulis yang teratur. Dan kelak bila semua sudah bisa berjalan, semua akan bergerak dengan alamiah. Menulis menjadi bagian tak terpisah lagi dari aktivitas sehari-hari. Sama halnya dengan kegiatan rutin yang lain, akan merasa belum “plong” bila belum menulis. Semoga…[..]

 

 

Ujian Kelayakan Sang Garuda di Piala AFF

  Malam ini, perhatian publik sepak bola tanah air kembali tertuju pada laga krusial antara tim nasional Indonesia melawan Vietnam dalam a...