Senin, 13 Desember 2021

BENCANA DAN KEPEDULIAN SOSIAL



Bencana erupsi Semeru menjadi kisah pilu di akhir tahun 2021. Bencana yang meluluhlantakkan ribuan rumah, puluhan jiwa meninggal dan ribuan orang mengungsi. Ada kisah sedih karena kehilangan keluarga. Hancurnya harta benda, dan kerugian material yang tak terhitung lagi jumlahnya. Bencana menyadarkan kita bahwa kita ini lemah. Tidak ada daya dan kekuatan untuk melawan kehendak Allah yang Mahakuasa.

Terselip kisah mengharukan dalam petaka erupsi Mahameru yang menjadi viral. Adalah Rumini (28 tahun) ditemukan meninggal dunia berpelukan dengan sang ibu, Salamah (71 tahun) yang sudah renta dan tak sanggup berjalan. Pilihan berat bagi Rumini, antara lari menyelamatkan diri atau meninggalkan sang ibu yang tak sanggup berjalan. Rupanya Rumini memilih untuk mendekap sang ibu berjuang hadapi terjangan erupsi Semeru. Jasad keduanya ditemukan di dapur rumah mereka.

Masih ada kisah “Rumini-Rumini” lain yang mungkin tidak diketahui orang banyak. Bencana selalu membawa duka bagi mereka yang tertimpa. Luka yang akan menjadi trauma sepanjang hidup mereka. Dan inilah pentingnya kita peduli dan tanggap akan derita saudara yang sedang mendapat ujian (musibah).

Kepedulian dari kita akan sedikit menghibur hati. Meyakinkan diri mereka bahwa mereka tidak sendiri menghadapi kesulitan besar ini. Ada saudara mereka yang jauh tempat tinggalnya namun memiliki kepedulian. Mengggalang bantuan dan mendoakan agar Allah senantiasa memberi kekuatan dan kesabaran.

Bantuan dari kita tak akan menjadikan semua pulih kembali. Tidak akan mengembalikan yang telah hilang dari mereka, keluarga tercinta dan semua harta benda yang mereka miliki. Namun perhatian kita akan mengembalikan semangat dan harapan mereka. Akan sedikit meringankan segala beban berat yang menindih jiwa raga mereka yang tentu sangat berat.

 

Minggu, 12 Desember 2021

GARUDAKU, SAATNYA KAU TERBANG TINGGI

 



Piala AFF edisi ke-13 tengah berlangsung di Singapura. Kompetisi yang sempat tertunda gegara pandemi akhirnya berjalan dengan format yang berbeda. Tidak ada lagi home and away. Padahal keseruan piala AFF karena ada sistem tandang dan kandang. Negara-negara asia tenggara meski bukan tergolong negara besar sepak bola tapi memiliki fanatisme yang luar biasa.

Rivalitas Malasyia dan Indonesia akan begitu terasa ketika bertandang di kandang masing-masing. Ada intrik dan ketegangan yang semakin memeriahkan pertandingan. Tapi sudahlah, memang edisi kali ini kita menjalani gelaran AFF dengan cara yang tidak normal.

Dari setiap edisi turnamen AFF timnas kita selalu menargetkan juara. Begitu pula tahun ini kita memasang target tinggi yakni merengkuh tropi tertinggi di asia tenggara. Sebenarnya target juara di piala AFF bukanlah target yang muluk-muluk. Indonesia di level asia tenggara kualitasnya bisa disejajarkan dengan Malasyia, Thailand dan Vietnam. Dan buktinya kita sudah lima kali masuk ke partai puncak piala AFF meski semua berakhir dengan kekalahan.

Harapan juara tahun ini bukan mustahil meski di atas kertas tidak realistis. Bila kita lihat kiprah saingan timnas seperti Thailand, Malasyia, Singapura dan Vietnam sepertinya untuk meraih juara masih berat. Misalnya saja Vietnam. Sepertinya mereka saat ini berada di level yang beda dengan negara-negara asia tenggara. Permainan mereka begitu padu dan solid. Malasyia dalam pertandingan kemarin dihajar tiga gol tanpa balas.

Pada pertandinga terakhir dengan Vietnam di penyisihan piala dunia 2022 Indonesia juga mengalami kekalahan telak 4-0. Dan itu baru beberapa bulan kemarin. Apakah di piala AFF kali ini kita bisa membuat kejutan. Semua mungkin terjadi karena bola itu bulat. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Maju dan kepakkan sayapmu Garudaku, saatnya engkau membelah angkasa. Saatnya mengukir juara.

 

Sabtu, 11 Desember 2021

BEKAL PERJALANAN PANJANG



Usianya sudah cukup renta. Kini fisik tidak sekuat orang-orang pada umumnya. Untuk berjalan ke masjid saja kini harus menggunkan tongkat. Hari-harinya habis antara rumah dan masjid. Sudah beberapa tahun beliau tidak pernah lagi pergi selain untuk sholat berjama’ah di masjid. Di usianya yang tua dia harus tinggal sendirian di rumah besarnya. Anak-anaknya telah membuat rumah sendiri, bahkan ada yang tinggal nun jauh di sana, di pulau Sulawesi.

Dia memang bukan siapa-siapa. Beliau tetanggaku yang jarang bicara, bila jalan hanya menunduk dan kadang beliau hanya tersenyum bila disapa. Kakek yang banyak memberi pelajaran penting dalam hidup. Kerendahan hatinya, ketekunan ibadahnya, istiqomahnya sholat di masjid dan juga kedermawanannya dalam menafkahkan harta di jalan Allah.

Sering kita mendapat pelajaran berharga dari orang di sekitar kita. Dan kadang pelajaran itu datang dari orang yang kelihatannya biasa saja, seperti kakek tetangga saya tadi. Saya menyebut beliau dermawan karena kemarin baru saja memberikan uang jariyah ke masjid dan madrasah dalam jumlah yang besar, hampir 400 juta.

Uang dengan nominal sebesar itu tidak didapat dari pekerjaannya. Dan beliau sudah tidak mampu lagi bekerja dengan fisik setua itu. Uang itu didapat dari menjual sebidang tanah yang beliau miliki. Beliau benar-benar contoh orang yang cerdas. Masa depan di kehidupan yang abadi (akhirat) harus dipikirkan selagi kita masih diberi kesempatan hidup di dunia. Dan beliau melakukan persiapan dengan sangat baik.

Sedekah dengan nilai ratusan juta tentu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang hatinya pemurah. Nyatanya kita jarang menemukan orang-orang berharta yang mampu melakukan seperti beliau. Beliau sadar dengan sepenuhnya, bahwa bekal perjalanan panjang harus disiapkan. Dan sebaik-baik bekal adalah sodaqoh jariyah, karena pahalanya alan tetap mengalir sampai hari kiamat.

 

 

Jumat, 10 Desember 2021

PANDEMI TELAH BERAKHIR?

 



Sudah beberapa bulan berita tentang pandemi virus Corona tidak terdengar lagi. Media masa baik televisi maupun portal online sudah jarang memberitakan khabar pandemi. Aneh memang, seakan Covid hilang begitu saja. Dan yang lebih mengherankan situasi ini bukan hanya di negeri kita, secara global pandemi memang sudah tidak menjadi berita besar lagi.

Kita lihat saja di masyarakat sekitar kita. Protokol kesehatan sudah tidak lagi dijalankan dengan ketat. Andaipun diterapkan, biasanya hanya di forum-forum resmi. Ini hanya formalitas untuk menghindari teguran dari aparat dan tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19. Banyak yang memakai masker hanya karena sungkan dengan mereka yang masih disiplin menerapkan aturan.

Ada yang mengatakan fenomena ini terjadi karena program vaksin telah berjalan dengan baik di berbagai negara. Telah terbentuk “Herd Immunity” yang mengakibatkan tidak ada lagi penularan virus. Kalaupun ada penularan di masyarakat jumlahnya sangat kecil. Mungkin saja teori ini benar, mengingat program vaksin berjalan dengan masif dan menyeluruh.

Bagi kalangan yang masih percaya dengan teori konspirasi tentu memiliki pandangan yang berbeda. Pandemi seakan bisa dikendalikan oleh mereka yang memiliki “kekuatan” jaringan global. Pandemi hanyalah “tool” yang bisa digunakan sesuai kebutuhan mereka. Ketika apa yang menjadi terget mereka telah terpenuhi, maka pandemi dengan suka-suka mereka hentikan.

Seandainya pandemi memang benar-benar telah hilang tentu ini berita gembira bagi kita semua. Telah lama kita hidup dalam “teror” yang mencekam. Saatnya kembali menata langkah untuk bangkit dan memasuki era baru. Banyak hal yang harus kita benahi, karena banyak tatanan yang telah dirusak oleh pandemi.

Kamis, 09 Desember 2021

KRITIK, SARANA MEMPERBAIKI DIRI



Orang yang sering mengkritikmu sebenarnya kemungkinannya ada dua, dia menyukaimu atau memang sentimen terhadapmu. Kritik, saran dan teguran tidak selalu diartikan dengan rasa tidak suka. Sangat mungkin terjadi orang yang sering mengkritik kita sebenarnya justru memiliki perhatian. Dia tidak rela kita berbuat kesalahan, makanya dia akan segera meluruskan dengan caranya.

Memang terkadang bahasa kritik bisa tajam dan menyakitkan. Kritik dengan cara ini pasti sering membuat kita merasa tidak nyaman. Padahal kritik itu bagus untuk dijadikan sarana memeperbaiki diri. Dari sudut pandang ini, kritik sebenarnya dalam banyak hal bertujuan baik. Hanya membutuhkan kebesaran hati untuk menerimanya.

Kita membuat sebuah ilustrasi. Seseorang yang diingatkan dengan keras oleh orang karena ada sesuatu yang membahayakannya pasti ia senang karena ada yang mau mengingatkan. Akan aneh bila dia tersinggung dengan cara orang mengingatkan dia dan mengabaikan tujuan utamanya.

Harus disadari, tidak mungkin kita selalu benar dan tepat dalam mengambil langkah. Bila tidak ada orang yang mau mengkritik atau memberi saran bila kita keliru, tentu kesalahan kita akan terus berulang. Maknya tidak berlebihan bila kita harus banyak berterimakasih kepada orang yang sudi memberi saran dan kritiknya.

Kritik itu pahit tapi akibatnya bisa manis. Sebaliknya pujian itu manis tapi sering berakibat pahit pada akhirnya. Orang yang sering dikritik akan intropeksi dan banyak berbenah, tapi orang yang dipuji acapkali terlena dan merasa sudah tidak memiliki kekurangan.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...