Jumat, 05 Agustus 2022

Berilmu dan Berakhlaq



Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Artinya:”Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun berada, dan ikutilah keburukan (kemaksiyatan) dengan amalan kebaikan maka niscaya kebaikan itu akan menghapus (gelapnya) dosa keburukan, serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang mulia”.HR Ahmad, Tirmidzi dan yang lainnya.

Dari matan Hadits Nabi di atas, seakan – akan ada makna yang berbeda antara taqwa dengan akhlaq mulia, namun setelah kita pelajari ada beberapa makna yang bisa simpulkan;

Pertama:  Rasulullah SAW memberikan penekanan pentingya akhlak mulia serta menjelaskan keutamaannya.

Dan Allah banyak menggunakan metode yang serupa di dalam Al-Qur’an, contohnya:

Artinya:”Jagalah dan Laksanakanlah shalat-shalat dan laksanakan juga shalat ashar”. QS Al-Baqoroh 238.

Dalam ayat ini, Allah -subhanahu wa ta’ala- memisahkan shalat Ashar dengan shalat yang lainnya, tujuannya bukan untuk mengeluarkan shalat Ashar dari shalat yang lainnya, namun untuk menjelaskan urgensi dan kemulian shalat Ashar di bandingkan dengan shalat yang lainnya.

Maka demikian juga dengan tujuan Nabi Muhammad di atas, tujuannya adalah untuk menegaskan kedudukan akhlaq mulia dalam Agama Islam.

Kedua: untuk menjelaskan bahwa agama Islam terdiri dari Hablum Minanallahi dan Hablum Minannas. Hablum minallahi diwakili dengan sabda Rasulullah:

Adapun Hablum minannas diwakili oleh sabda Nabi:

Dua hal ini merupakan sisi yang saling menyempurnakan bagi keislaman seseorang.

Ketiga: banyak dari kalangan kaum muslimin yang berpandangan bahwa ketaqwaan seseorang hanya diukur dari banyaknya ibadahnya kepada Allah –subhanahu wataa’la-, dan melalaikan sisi sosial dengan masyarakat, olehnya betapa banyak kita mendapatkan seseorang yang bagus ibadahnya, dan Nampak “cahaya” keshalihan di wajahnya, namun akhlaknya sangat buruk kepada sesama, lisannya yang tajam senantiasa melukai hati masyarakat, maka hadits ini memupus anggapan tersebut, dan menegaskan bahwa keimanan ketakwaan akan semakin sempurna dengan “harmonisnya” antara banyaknya ibadah kepada Allah dengan indah akhlak seorang muslim dalam berinteraksi, bukankah Rasulullah bersabda:

Artinya:”Orang yang paling sempurna imannya, adalah yang paling mulia Akhlaqnya”.HR Ahmad dan yang lainnya.

Orang yang mulia dan terbaik adalah yang baik akhlaqnya, Rasulullah bersabda:

Artinya:”Orang ayang paling mulia adalah orang paling baik akhlaknya”. HR Ahmad dan yang lainnya.

Hadits ini menunjukkan kedudukan yang tinggi bagi akhlak yang mulia, yang mana banyaknya ibadah seseorang dan indahnya akhlaknya bagaikan dua sisi mata uang.

Dan bukankah Rasulullah diutus ke umatnya membawa misi menyempurnakan akhlaq mulia, Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Dalam Al-Quran ada beberapa ayat yang memuji ketinggian dan kemuliaan Rasulullah SAW, diantaranya Q.S Al Qolam Ayat ke-4;

Artinya:”Dan sesungguhnya engkau berakhlak mulia”. QS Al-Qolam 4.

Kemudian dalam banyak hadits Nabi, begitu menekankan pentingnya berakhlaq mulia, sebagaimana pentingnya mengerjakan ibadah-ibadah maghdhoh, seperti sholat, zakat puasa maupun haji. Bahkan seseorang yang memiliki adab, perilkaku yang baik, berakhlaq mulia bisa lebih tinggi derajatnya dari orang yang rajin beribadah namun tidak memiliki akhlaq yang mulia dengan sesamanya.

Rasulullah bersabda:

Artinya:”Sesungguhnya seseorang dengan akhlak yang mulia dapat mencapai derajat orang yang banyak puasanya dan shalatnya”. HR. Ahmad dan yang lainnya.

Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, akhlaq mulia orang-orang shalih. Imam Abu Hanifah berkata,

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.”

Dengan data dan dalil yang telah kita paparkan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa berakhlak mulia merupakan amalan yang wajib hukumnya, bahkan ia merupakan bagian kesempurnaan iman seseorang.

 

Kamis, 04 Agustus 2022

Kemuliaan Bekerja



Marilah di kesempatan yang mulia ini, kita senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Karena hanya dengan taqwalah kita akan memperoleh kebahagiaan yang sejati baik di kehidupan dunia maupun di akhirat kelak.

Bekerja mencari rizki guna menopang ibadah hukumnya adalah wajib. Sebagaimana hukum ibadah itu sendiri. Hal ini telah disepakati oleh ulama. Karena bekerja merupakan salah satu cara memenuhi kebutuhan. Lebih-lebih bagi mereka yang telah berkeluarga, mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban memberi nafkah terhadap anak dan istri. Sedangkan nafkah bisa didapat oleh seseorang yang mau bekerja. Selain itu dengan bekerja seseorang dapat terhindar dari thama’, menggantungkan diri pada orang lain dan juga menghindar dari meminta-minta yang mana semua itu termasuk barang larangan agama. Dalam al-Jumu’ah ayat 10 Allah berfiman

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 

Begitu pentingnya bekerja dan berusaha bagi seorang muslim. Karena sesungguhnya al-barakatu ma’al harakah bahwa keberkahan itu akan hadir bersama dengan pergerakan. Dimana ada kemauan untuk berusaha disitu Allah telah menyediakan keberkahan. Dengan kata lain Islam sangat membenci orang yang berpangku tangan, mengharapkan dan meminta-minta.

Bahkan, tidak ada satu cerita pun dari hadits Rasulullah yang menerangkan larangan beliau kepada para sahabatnya untuk berhenti bekerja demi menjalankan dakwah agama, padahal waktu itu berdakwah sangat membutuhkan perhatian mengingat kondisi Islam masih sangat lemah baik secara sosial dan politik. Justru di kala itu Rasulullah saw tetap memerintahkan Abu Bakar untuk terus berdagang dan kepada sahabat lainnya untuk tetap menekuni keahliannya. Malahan ada sebuah hadits yang seolah menyinggung para sahabat saat itu yang berbunyi:

Nabi Daud as tidak pernah makan kecuali dari hasil pekerjaan tangannya sendiri (HR.Bukhari)

Meski demikian, bekerja tidaklah cukup asal bekerja. Hendaknya bekerja harus dilakukan dengan penuh kejujuran. Kejujuran dalam bekerja wajib pula hukumnya. Karena pekerjaan yang dilakukan dengan jujur akan sangat mempengaruhi pola beribadah dan perilaku keseharian seorang hamba. Mengapa demikian, karena sesuatu yang halal merupakan buah dari kejujuran. Dan mengkonsumsi yang halal akan mempermudah seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah swt. Maka yang menjadi pertimbangan di sini adalah proses bekerjanya bukan hasil dari pekerjaan itu sendiri.

Hasil yang tidak maksimal tetapi diproses secara sempurna akan menghasilkan keberkahan walaupun kecil kwantitasnya. Namun hasil yang maksimal dengan proses yang cacat (tidak jujur) akan berdampak pada kesakitan moral pelakunya meskipun secara kwantitas lebih unggul. Lihatlah mereka yang bekerja dengan cara menipu ataupun berbohong pasti akan meraih sukses dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat. Tetapi tidak lama pasti akan menjadi bahan gunjingan. Bukankah begitu nasib orang curang, penipu dan juga pembohong. Sesungguhnya yang demikian itu sangat dibenci oleh Rasululah saw.

Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw pernah berjalan-jalan di pasar melewati setumpuk bahan makanan. Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan itu. Ternyata pada bagian dalamnya basah. Kemudian beliau bertanya kepada si penjual “apakah ini?” si penjual menjawab “Ya Rasul, makanan ini terkena hujan”. Rasulullah saw pun bertanya kembali “mengapa makanan yang basah ini tidak kamu taruh di atas sehingga para pembeli bisa melihatnya?” kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya (barang siapa menipu umatku, niscaya dia bukan termasuk golonganku).

Hadits tersebut sangatlah jelas dan mudah dipahami. Tidak ada kata-kata samar di dalamnya. Bahwa siapapun yang berlaku curang dalam pekerjaannya maka dia telah tersesat dan tidak termasuk golongan (umat) Rasulullah saw. Ini artinya kecurangan dan kebohongan sangatlah dicela dalam Islam.

Meskipun konteks dan pelaku dalam hadits tersebut adalah pedagang, tetapi tidak berarti pedagang saja yang dianjurkan berlaku jujur. Namun semua macam usaha dan pekerjaan hendaknya dilakukan dengan jujur, akrena kecurangan dapat menyeret seseorang keluar dari golongan Rasulullah saw. Tidak terkecuali para politisi, investor, pejabat dan atupun kuli. Sayanganya kecurangan dan kebohongan itu kini seolah dibenarkan bahkan dipelajari lengkap dengan metode dan terorinya dengan kedok manajemen pencitraan. Apakah pencitraan itu sebuah kejujuran? Silahkan dipertimbangkan sendiri.

Imam Abu Hasan As-Syadzili pernah berpendapat bahwa seseorang yang bekerja dengan jujur berarti dia telah berjuang melawan hawa nafsunya yang selalu condong pada kebohongan. Sehingga mereka yang jujur pantaslah mendapatkan apresiasi sebagaimana para mujahid yang berhasil membunuh musuh-musuhnya. Dalam sebuah taushiyah dia berkata:

Barang siapa bekerja dan teguh menjalankan perintah-perintah Allah, maka benar-benar sempurna perjuangannya dalam melawan hawa nafsu”  

Setelah kejujuran dalam bekerja kita raih, hendaklah kita melangkah lagi satu tingkat agar kehidupan ini lebih bermakna. Yaitu mengisi pekerjaan yang jujur dengan nuansa ibadah. Abu Abbas al-Mursi berkata:

Bekerjalah kamu dan jadikanlah alat tenunmu (bila engkau penenun) sebagai tasbih. Menjadikan kampak (bila bekerja sebagai tukang kayu) sebagai tasbih dan menjadikan jarum (bila sebagai penjahit) sebagai tasbih, dan menjadikan kepergiannya (bila berdagang) sebagai tasbih.

Karena itu apapun bentuk keahlian dan dimanapun pekerjaan itu bukanlah sekedar sumber penghasilan semata tetapi juga sumber ibadah.

Demikianlah khotbah singkat kali ini, semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan yang mendalam, bagi kita semua amin.

 

 

Rabu, 03 Agustus 2022

Rekening Akhirat

 



Banyak orang menjadi cemas ketika uang yang dimilikinya tinggal sedikit. Khawatir, karena banyak hal tidak bisa dilakukan bila tidak memiliki uang. Yang terbayang semua akan serba sulit bila nominal dalam simpanannya menipis. Hidup seakan hanya urusan seputar uang. Bila banyak uang hati senang, sedikit uang hati menjadi tidak tenang.

Karena merasa pentingnya memiliki uang yang banyak, akhirnya yang ada dalam pikiran banyak orang hanya uang dan uang. Bekerja keras tujuannya demi mengumpulkan pundi uang sebanyak-banyaknya. Sebisa mungkin mendapat penghasilan yang besar, dan sekuat mungkin mengatur sekecil-kecilnya pengeluaran. Tujuannya tentu agar simpanan hartanya semakin berlimpah supaya hidupnya tidak susah.

Maunya hidup di dunia senang terus, kesulitan dan kesusahan menjadi hal yang sangat dihindari. Bekerja bila mendapat upah, membantu bila mendapat imbalan dan menolong bila mendapat profit. Seakan semua yang dikerjakan harus dapat dikapitalisasi menjadi keuntungan materi dan kesenangan.

Begitu semangatnya kita mengisi tabungan dunia, hingga banyak yang lupa untuk mengisi rekening akhirat. Banyak yang habis waktunya demi mengurus kepentingannya sendiri sehingga tak ada lagi waktu untuk berbuat baik kepada orang-orang di sekitarnya. Yang dipikirkan hanya seputar urusan pribadi, atau paling jauh hanya lingkup keluarganya sendiri.

Kawan, ada saatnya kita harus memikirkan rekening akhirat. Melakukan kebaikan untuk orang lain meski itu hanya amal kecil yang sederhana. Menyempatkan diri untuk sekadar duduk sebentar dan bertegur sapa dengan tetangga. Bersama kerja bhakti membersihkan lingkungan. Atau hal-hal lain yang membuktikan kita adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan memberi kemanfaatan. Bukan orang egois yang hanya mementingkan urusannya sendiri.

 

 

 

 

 

Selasa, 02 Agustus 2022

Cukup Dengan Diam



Memang nyata benar apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad. Diam itu lebih baik daripada berkata-kata yang buruk. Setidaknya dengan diam seseorang bisa selamat dari “keseleo” lidah. Terlebih ketika dalam keadaan marah, seseorang akan mudah mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak beradab.

Diam menjadi solusi terbaik ketika sedang marah. Dengan diam seseorang mampu mengekang lidahnya yang sedang liar. Ada waktu hati untuk merenungkan dengan jernih tatkala seseorang memilih diam daripada mengumbar marahnya dengan kata-kata yang tajam.

Hati yang panas hanya bisa mengeluarkan kata-kata yang panas pula. Makanya, sudah pasti pemarah tidak akan mengeluarkan kata yang halus ketika mengekspresikan marahnya. Dan kondisi marah akan semakin menjadi ketika seseorang merasa mendapat perlawanan dari orang yang dimarahinya.

Cukup dengan diam dan semua akan selesai. Biarkan hati bergejolak dan amarah meluap-luap. Kita hanya perlu waktu sehari atau dua hari untuk menenangkan hati. Setelah semua mereda, kita akan melihat dengan pandangan yang presisi bahwa marah kita memang tidak layak diturutkan.

Dengan diam dan menahan diri pasti tidak ada penyesalan. Sebaliknya bila marah dilampiaskan pastinya akan adanya rasa penyesalan di kemudian hari. Karena marah yang diumbar akibatnya akan merugikan diri sendiri juga orang lain.

 

Senin, 01 Agustus 2022

Orang Kecil

 



Rakyat kecil,

Pasti kecil orangnya,

Karena kurang gizi,

Pasti kecil dapat duitnya,

Pasti kecil tempat tinggalnya,

Pasti kecil keinginannya,

Pasti kecil bohongnya,

Pasti besar imannya,

Dan besar di mata Tuhan,

Beda dengan Pembesar,

Pasti besar orangnya,

Pasti besar dapat duitnya,

Pasti besar rumahnya,

Pasti besar keinginannya,

Pasti besar kantong bajunya,

Pasti besar bohongnya,

Pasti kecil imannya

dan kecil di mata Tuhan

Dan aku lapar sekali…

 

Puisi di atas, karya Nurjanah anak sekolah dasar yang saya kutip dari buku karya Prof.Syafi’i Maarif. Puisi yang menggambarkan jeritan orang kecil. Orang-orang yang termarjinalkan oleh mereka yang rakus kekayaan dan jabatan. Pedihnya hidup karena tidak mendapat keadilan, dan bahkan hak-haknya juga sering dirampas.

Anak sekecil itu sudah bisa “membaca” dengan lugas apa yang dilihatnya. Mampu memahami situasi yang timpang yang sedang terjadi dalam masyarakat. Kesenjangan antara nasib rakyat kecil dengan para penguasa.

Ada keputusasaan di sana. Jangan harap orang kecil menemukan keadilan di dunia. Karena itu hal yang sulit ditemukan. Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Keadilan hanya untuk mereka yang memiliki kekuasaan, atau bagi mereka yang memiliki kantong tebal.

Tapi juga ada harapan di sana. Kelak semua orang akan menuai apa yang ditanam di dunia. Menanam kebaikan akan mendapat balasan, dan begitu pula mereka yang selalu berbuat zalim akan merasakan beratnya siksa.

Minggu, 31 Juli 2022

Orang Keras

 



Karakternya memang seperti itu, keras dan terkesan kasar. Sejak saya mengenal beliau memang sudah seperti itu orangnya. Tidak sedikit orang yang merasa tidak nyaman berinteraksi dengan tetangga kami yang satu ini. Dan sebenarnya saya juga pernah punya pengalaman yang tidak mengenakkan di hati sela bergaul dengan beliau ini.

Yang membedakan dengan orang lain, saya tidak terlalu serius menanggapi orang yang berkarakter keras seperti itu. Paling saya anggap angin lalu dan tidak pernah saya masukkan di hati. Karena bila dimasukkan hati tentu akan membuat telinga merah dan emosi. Tersenyum saja dan ditinggal pergi.

Sebenarnya semua orang bisa berubah, asalkan yang bersangkutan mau berubah. Tapi bagaimana berubah bila dia sendiri tidak menyadari kesalahan yang sering dilakukannya. Pasti akan tetap saja seperti itu, keras dan kaku.

Saya sebenarnya juga kasihan melihat orang yang sifatnya kaku seperti itu. Banyak yang menghindar dan tidak mau mendekat. Tetangga-tetangga terdekat juga tidak nyaman berdekatan. Bahkan saudaranya sendiri juga enggan berhubungan, terlebih orang lain.

Orang memang memiliki pembawaan sendiri-sendiri, tetapi pembawaan keras seperti  itu sudah pasti hanya merugikan diri sendiri juga orang lain. Diingatkan juga tidak bisa, justru menimbulkan perdebatan dan pertentangan. Jadi, nikmati saja sendiri kekerasan dan sifat kakumu.

Sabtu, 30 Juli 2022

Menghindari Penyakit Riya’



Saat ini kita dihadapkan pada suatu masa, ketika harta, kedudukan, serta pujian manusia menjadi ukuran kemuliaan dan ketinggian seseorang di hadapan yang lain. Pola pandang keduniawian yang hanya melihat materi sebagai ukuran. Bahwa orang hebat adalah yang terkenal dan namanya sering disebut di mana-mana, orang sukses adalah orang yang punya kedudukan serta jabatan tinggi. Orang besar adalah mereka yang selalu bekecukupan harta dan hidup tanpa kesusahan, serta banyak indikator-indikator ‘palsu’ dimunculkan untuk merusak pemahaman manusia tentang makna kesuksesan dan kemuliaan. Supaya manusia tertipu dan lupa pada hakikat ketinggian dan kemuliaan yang sebenarnya, yakni ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah.

Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa (kepada Allah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Mahateliti”. (QS al-Hujurat: 13)

Pola pandang keduniawian salah satunya adalah dampak dari kemajuan di bidang tehnologi. Kemajuan tehnologi di bidang komunikasi telah banyak memberi manfaat bagi umat manusia, namun di sisi lain banyak pula memberi mudharat bagi kita. Kita sadari atau tidak ada pergeseran nilai dalam masyarakat yang cenderung menjadi hedonis, sifat yang mengagungkan dan mengutamakan kenikmatan dunia.

Kemajuan tehnologi menjadikan kita tidak tersekat lagi dengan jarak yang jauh, dan dengan media sosial kita mampu berinteraksi dengan cepat dengan kolega kita di manapun berada.

Namun, banyak masyarakat kurang bijak dalam menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, menyebarkan berita bohong, memfitnah orang atau golongan tertentu bahkan menebar kebencian dan permusuhan.

Ada hal yang mungkin kita sering lakukan, media sosial kita gunakan untuk publikasi kegiatan sehari-hari kita, aktifitas kerja, aktifitas keluarga bahkan ibadah kita. Meskipun hal itu tidaklah terlarang, namun ada bahaya yang sedang mengancam kita, yakni kita cenderung terjangkit penyakit riya’.

Akibatnya, banyak orang yang akhirnya beramal hanya demi mencari pujian dan kerelaan manusia, tanpa peduli lagi pada pahala dan balasan dari Allah. Asal pekerjaan itu disenangi dan dikagumi serta mulia di mata manusia. Akhirnya, muncullah golongan manusia yang beramal supaya dilihat dan dipuji oleh orang lain, atau beramal karena riya’. Mereka berebut agar bisa menjadi objek pujian dan perhatian manusia dalam setiap amal yang mereka kerjakan. Karena mereka menganggapnya sebagai upaya ‘mengejar kesuksesan’.

Tanpa disadari, sebenarnya mereka sedang mengejar kesia-siaan. Mereka lupa, bahwa hidup bukan hanya sekedar untuk mencari pujian dan kebanggaan palsu. Dan lupa, bahwa esensi dari penciptaan mereka di dunia ini adalah untuk beribadah ikhlas hanya kepada-Nya. Semua perbuatan kita, baik atau buruk, besar atau kecil pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Bagi mereka yang beramal karena Allah, Allah sendirilah yang telah menjamin pahala dan balasannya.

Rasulullah ï·º bersabda, “Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah meskipun ia memperoleh kebencian dari manusia, maka Allah akan mencukupkan dia dari ketergantungan kepada manusia. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkanya kepada manusia.” (HR Tirmidzi).

Yang menyedihkan, penyakit haus pujian atau riya’ ini ternyata tidak hanya menyerang kalangan awam saja. Bahkan banyak pengidapnya justru orang-orang yang faham akan bahaya riya’ itu sendiri. Mereka yang ahli ibadah, para da’i dan mubaligh, thalibul ilmi, justru lebih berpotensi besar terjangkiti virus ini. Kuantitas amal shalih yang mereka kerjakan, ternyata membuat setan tergiur untuk mengggelincirkan kelompok ini, agar keikhlasan mereka pudar, dan ganti beramal untuk manusia, pujian, serta kedudukan

Sebagian Ulama’ menjelaskan ta’rif (pengertia) dari riya’, “Riya’ adalah ibadahnya seseorang kepada Allah, akan tetapi ia melakukan dan membaguskannya supaya di lihat dan dipuji oleh orang lain, seperti dikatakan sebagai ahli ibadah, orang yang khusyu’ shalatnya, yang banyak berinfaq dan sebagainya.” Intinya dia ingin agar apa yang dikerjakan mendapat pujian dan keridhoan manusia. Rasulullah menyebut riya’ dengan “syirik kecil”, karena sejatinya pelaku riya’ tidak mutlak menjadikan amalan tersebut sebagai bentuk ibadah kepada manusia, serta sarana taqarrub kepadanya. Meskipun begitu, bahayanya tak bisa dianggap sebelah mata.

Jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah SWT

Jauh-jauh hari Rasulullah sudah memperingatkan kita tentang betapa bahayanya “syirik kecil” ini. Beliau bersabda,

Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Riya’, Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat semua manusia diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihatkan amalmu kepada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?” (HR Ahmad)

 

Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin, dalam bab Tahriimur Riya’ (pengharaman riya’) menyebutkan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah. Dalam hadist tersebut Rasulullah bersabda tentang tiga orang yang pertama kali di hisab pada hari kiamat. Mereka adalah orang yang mati syahid dalam pertempuran, seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, serta orang yang selalu berinfaq di jalan Allah. Setelah mereka dipanggil, maka ditunjukkan kepada mereka kenikmatan dan pahala yang banyak karena amal shalih yang telah mereka kerjakan. Namun ternyata pahala mereka musnah, dan ketiganya justru menjadi penghuni neraka, karena ternyata amal kebaikan yang mereka kerjakan di dunia hanya bertujuan mendapatkan pengakuan dan pujian dari manusia. Mereka menjual pahala dan kenikmatan akhirat demi manisnya ucapan dan indahnya pandangan orang lain. Na’udzu billahi min dzalik.

Bagaimana cara kita menjauhi virus yang satu ini? Solusinya adalah dengan berusaha untuk ikhlas di setiap amal yang kita kerjakan, dan selalu berupaya protektif menjaganya. Karena setan tak akan pernah menyerah untuk memberikan bisikan-bisikannya demi menggoyahkan dan merusak keikhlasan seseorang. Agar manusia menjadi budak sesamanya, beramal untuk kepuasan semu, serta mencampuradukkan tujuan hakiki amal shalih dengan tujuan bathil.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...