Siang itu selepas sholat jemaah zuhur di musholla,
Kiai Sholeh berbaring istirahat di ruang tengah rumahnya. Belum sempat
memejamkan mata terdengar suara keras dari depan rumahnya.
"Assalamualaikum...." suara lantang
sembari mengetuk pintu rumah. Rupanya sudah menunggu Paimo di depan
rumah Kiai Sholeh. Orang sering memanggilnya Paimo padahal nama sebenarnya
adalah Budiman. Orang kampung menganggap Paimo adalah orang yang tidak waras. Semua
bermula ketika ia menjadi TKI di Malasyia, menurut cerita dia ditipu temannya
sehingga hasil kerjanya bertahun-tahun habis semua dibawa kabur teman dekatnya.
Peristiwa yang menggoncangkan jiwanya sehingga menjadikan dia depresi yang
sulit disembuhkan.
Kiai Sholeh bangkit mengenakan baju kokonya
kembali, menyisir rambut di depan cermin dan memakai kopyahnya kemudian
bergegas ke ruang tamu. Sudah biasa setiap menerima tamu, kiai Sholeh akan
menyambut dengan baik. Siapa pun tamu yang datang tidak akan dibedakan. Kiai Sholeh
tak akan menemui tamunya sebelum merapikan baju yang dipakainya dan menyisir
rambutnya yang sudah separuh memutih. Pernah Bu Sholeh protes tentang kebiasaan
“dandan” yang dilakukan suaminya setiap hendak menemui tamunya.
"Menghormati tamu itu wajib bu, kedatangan
tamu membawa kebaikan bagi tuan rumah" begitu alasan Kiai Sholeh. “Kita
tidak bisa memberi hidangan dan tempat yang layak, setidaknya bisa menerima
dengan sambutan yang baik”. Sejak mendapat penjelasan dari suaminya Bu Sholeh
bisa memahami alasan kebiasaan Kiai Sholeh selama ini.
Seperti
itu prinsip Kiai Sholeh, Ajining diri saka lathi; kehormatan diri atau harga
diri terlihat dari tutur kata. Sikap luhur terbentuk karena pribadi yang selalu
berhati-hati dalam berkata. Seseorang yang perkataannya baik akan memiliki
kehormatan dalam pandangan orang, sebaliknya tutur kata yang jelek akan menjadikan
orang kurang mendapat respek. Ajining raga saka busana; Kehormatan badan kita
terletak dari pakaian yang kita kenakan. Penampilan yang baik adalah bentuk penghargaan
terhadap diri sendiri. Tampilan fisik yang bersih dan rapi secara umum adalah gambaran
kepribadian yang baik.
Konon ulama terkenal Buya Hamka juga orang yang senantiasa
berpenampilan rapi. Bahkan ketika menjelang akhir hayat beliau, ketika sakit
keras dan diantar ke rumah sakit, beliau sempat bertanya pada anaknya, “Bagaimana
kopyah ayah sudah rapi…?, bertemu el-maut pun saya harus tampak garang”.
*****
“Wa’alaikum
salam…silakan masuk...” Dengan khas keramahannya Kiai Sholeh mempersilakan tamu
“spesialnya” masuk. “Ohh…kowe to Mo” (Ohh.. kamu to Mo). Cengar-cengir Paimo
masuk dan mencium tangan Kiai Sholeh.
“Begini Pak Yai, saya mau minta fatwanya”. Tanpa
basa-basi Paimo langsung menyampaikan maksud kedatanganya. “Fatwa opo..?”
sambil duduk di kursi Kiai Kampung yang dikenal sosok penyabar ini bertanya
kepada Paimo. “Saya ini waras tidak Pak Yai?”. Kiai Sholeh tersenyum mendapat
pertanyaan aneh dari tamunya ini. “Memang kenapa Mo?”. Paimo memulai
menceritakan ihwalnya. “Kemarin saya minta surat keterangan sehat di PUSKESMAS
tapi tidak diberi, katanya saya tidak sehat”. Sambil manggut-manggut Kiai
Sholeh mendengar cerita Paimo. “Terus untuk keperluan apa Mo, kamu membuat
surat keterangan sehat?”. Kiai Sholeh melanjutkan pertanyaannya. “Begini Pak Yai,
saya akan mencalonkan diri menjadi anggota DPR”. Sedikit kaget mendengar
jawaban Paimo yang spontan itu. Sambil geleng-geleng dan tersenyum Kiai Sholeh
menyahut. “Lho…nanti kalau kamu jadi anggota DPR siapa yang bantu saya
bersih-bersih langgar, mengganti genteng yang bocor”. Tampak mimik Paimo serius
mendengarkan perkataan Kiai Sholeh. “Tidak usah ikut-ikut mencalonkan diri jadi
anggota DPR, sudah biar itu diurusi orang lain”. Paimo termenung sejenak,
sepertinya dia sedang berpikir. “Tapi sebagai warga negara saya juga punya hak Pak
Yai”. Paimo tampak masih belum puas dengan jawaban Kiai Sholeh. “Tapi kamu
tidak cocok Mo jadi anggota DPR, wis… saya tidak merestui niatmu itu”. Kali ini
Paimo terdiam, tidak berani membantah lagi. Satu-satunya orang yang disegani di
kampung cuma Kiai Sholeh. Biasanya dia akan selalu menuruti nasihat Kiai
sederhana ini. “Kalau begitu saya tidak jadi pak Yai”. Paimo bangkit dari
duduk, tampak raut wajahnya kusut. Buru-buru dia mencium tangan Kiai Sholeh dan
bergegas keluar rumah.
Tidak sekali dua kali Paimo membuat gaduh. Namun
kebesaran hati Kiai Sholeh tampak dari sikapnya yang tetap baik meskipun
terhadap orang yang disebut orang tidak waras.