Rabu, 21 Oktober 2020

GANDRUNG CERITA MISTERI



Mengenang kampung kami di tahun 90-an masih belum ada jaringan listrik. Umumnya rumah-rumah penduduk desa hanya mengandalkan penerangan lampu minyak tanah. Lampu ublik begitu kami menyebutnya dulu. Sebagian menggunakan lampu petromak, lampu minyak yang menggunakam sistem pumpa tangan. Suasana akan terasa sunyi ketika malam hari. Rumah banyak ditutup pintunnya, umumnya jarang menerima tamu pada malam hari. Jalan kampung begitu sepi. Terlebih ketika musim hujan. Malam hari terasa semakin sunyi. Yang terdengar hanyalah suara katak di sawah dan kolam bersahutan menyusun simponi.

Cerita tentang hantu pada waktu itu sangat banyak macam ragamnya. Dari gendruwo yang kata orang tinggal di pohon yang besar, tubuhnya berbulu hitam dan tinggi. Atau cerita sundel bolong wanita cantik berbaju putih rambut panjang dan bagian belakang tubuhnya berlubang. Tuyul yang katanya seperti anak kecil gundul dengan taring dan matanya yang merah yang pekerjaannya mencuri uang. Masih ada lagi, setan glundung... hantu yang katanya cuma kepala saja tidak ada badannya. Lengkap sudah, suasana mencekam dengan cerita hantu yang seram. Cerita hantu memang sangat sulit dibuktikan. Banyak cerita namun sangat sulit mencari orang yang benar-benar melihatnya. Semua akan menjadi misteri yang sulit dinyatakan.

Zaman telah banyak berubah. Kampung kami sudah sangat beda denga tahun 90-an. Namun cerita hantu sepertinya masih menjadi topik “menarik” di kalangan anak-anak kampung sampai saat ini. Aneh, cerita hantu ternyata masih eksis di era digital. Film misteri di Indonesia masih menjadi film paling digemari. Bahkan, di platform You Tube sangat banyak Youtuber yang "menjual" konten hantu. Berburu hantu di tempat-tempat yang katanya keramat. Live streaming di kuburan, rumah kosong atau tempat seram justru memiliki viewer yang banyak.

Kasihan nasib hantu di negeri ini. Mereka sering dijadikan “bintang film” maupun sinetron tapi tidak mendapat royalti.... Hantu adalah sosok yang ditakuti tapi paling dicari. Kemunculannya yang sekilas yang konon penampakan hantu yang berhasil direkam menjadi viral dan perbincangan yang luas di masyarakat. Begitu populernya mereka di dunia manusia. Laksana selebriti, kemunculannya banyak yang menanti. Entahlah, apakah kita juga populer di dunia hantu..?

Sebenarnya cerita hantu tidak hanya di negeri kita. Orang Amerika juga punya cerita Drakula makhluk astral penghisap darah manusia. Atau cerita hantu vampir dari China, yang digambarkan jalannya loncat dengan dua tangan menjulur ke depan. Di jepang sangat populer cerita Sadako hantu perempuan yang menyeramkan. Namun tidak sebanyak cerita hantu di negeri  kita. Dan kenyataannya kemajuan peradaban tidak menjadikan kisah hantu menjadi usang. Bahkan semakin subur. Masyarakat masih gandrung dengan cerita misteri yang sebagian besarnya hanyalah mitos belaka.

 

Selasa, 20 Oktober 2020

JANJI ADALAH JANJI



“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (An-Nahl: 91)

Begitulah perintah Allah Subhanahu wa ta’ala kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji kepada sesama manusia, dan janji atas dirinya sendiri seperti sumpah (nadzar).

Dalam kehidupan manusia pasti ada hubungan dan pergaulan dengan orang lain. Ini adalah sebuah keniscayaan. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang tidak mungkin hidup sendiri. Nilai kemuliaan seseorang dalam hubungan dengan sesama salah satunya adalah kebenaran ucapan dengan tindakannya. Dan di antara akhlak terpuji yang utama adalah menepati janji.

Bagai ungkapan, lidah tidak bertulang. Amat mudah mengucapkan janji. Dan janji memang ringan diucapkan namun kadang berat untuk ditunaikan. Betapa banyak orang yang dengan mudahnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun mengingkari perjanjiannya.

Dalam masyarakat kita sangat umum ketika berjanji mengucap kata “Isya’Allah”. Seakan-akan ketika mengucap kata tersebut janji yang diucapkan tidak harus dilaksanakan. Kata Insya’Allah seolah menempatkan janji berada di antara dua pilihan, bisa memenuhi atau membatalkannya. Padahal kata Insya’Allah adalah sebuah kesadaran bahwa semua bergantung pada kehendak Allah. Sesuatu yang hendak kita kerjakan bila Allah tidak menghendaki maka semua akan tidak bisa terjadi. Dengan kesadaran itu kita tidak bisa memastikan semua akan terwujud tanpa izin-Nya. Kata Insya’Allah bukan kata yang membolehkan kita mengabaikan janji dan bukan sekadar kata basa-basi dalam sebuah janji.

Janganlah mudah berjanji bila dalam hati tidak bermaksud menunaikannya. Karena janji adalah janji yang akan tetap wajib dipenuhi. Bahkan janji orang tua terhadap anak kecilnya sekalipun. Sekali orang tua berjanji kemudian tidak memenuhinya, akan tertanam dalam sanubari anak bahwa orang tuanya suka berbohong. Bahkan bila ini sering terulang, dikhawatirkan akan tumbuh subur sifat buruk dalam karakternya. Sifat mengingkari janji.

 

Senin, 19 Oktober 2020

BELAJAR DARI PENULIS BESAR


"Saya menulis cerita Harry Potter sebenarnya tidak khusus kutujukan untuk konsumsi anak-anak, namun saya menulis absolutely for my self (benar benar untuk diriku sendiri).  Itu adalah pengakuan jujur Penulis besar dari Inggris J.K Rowling. Bahkan awalnya dia tidak akan pernah berpikir karyanya akan mendunia. Bukunya dicetak jutaan eksemplar dalam bebagai bahasa di dunia. Obsesi penulis besar seperti J.K Rowling ternyata sesederhana itu. Dia menulis untuk kesenangan dirinya sendiri, tidak membuat target yang tinggi. Baginya, menulis sebagai hiburan untuk diri sendiri agar tidak kehilangan momentum menulis.

Bila menulis dengan senang dan bahagia, karya tulis mungkin akan lebih diterima oleh pembaca. Jangan menulis kalau menulis membuatmu tidak nyaman, membuat tertekan, atau membuat hati tidak senang. Menulis harus bisa menyenangkan hati dan membuat perasaan gembira. Menulis menjadi hiburan. Menulis membuat beban hati menjadi berkurang, dan mampu melegakan perasaan yang kalut.

Mereka adalah penulis yang sebenarnya. Mampu menulis dengan sepenuh rasa. Contoh Penulis besar. Dikatakan sebagai Penulis besar parameternya tentu karyanya yang diterima oleh banyak pembaca. Ya, ternyata menulis tak semudah yang kita kerjakan selama ini. Menulis bukan hanya soal bisa tidaknya seseorang mencurahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Tapi impian menulis adalah membawa keceriaan dan menggerakkan hati. Bagi saya penulis pemula, menulis terkadang belum bisa senatural itu. Mungkin lebih tepatnya belum layak disebut sebagai penulis. Masih terus belajar menjadi penulis. Menulis masih angin-anginan. Terbawa suasana hati, masih berharap mendapat apresiasi dari pembaca. Dan, adakalanya merasa menulis itu penting. Namun terkadang juga kehilangan energi menulis. 

Sebelum sebuah karya dipublikasikan, terlebih dulu diyakinkan bahwa kita bisa menikmati apa yang kita tulis. Bagaimana mungkin kita mengharap orang lain menikmati apa yang kita tulis, sementara kita sendiri yang menulis tidak bisa menikmati proses menulis. Lebih-lebih menikmati apa yang kita tulis. Penulis harus meraih kepuasan dari apa yang ditulisnya, dan pembaca meraih kesenangan dari apa yang dibacanya. Masing-masing pihak mendapat apa yang dicari dari aktivitas menulis dan membaca.

Menulis sepenuh rasa adalah tantangan bagi penulis pemula. Hanya menulis dengan penjiwaan inilah, maka kita mampu untuk menciptakan tulisan yang menyentuh pembacanya. Namun, itu tidak mudah. Banyak penulis pemula yang ingin menjadi seorang penulis karena ‘tergiur’ dengan berbagai tujuan. Menulis memiliki cita-cita yang terlalu ideal. Hal seperti inilah yang kadang membuat kita lalai melibatkan rasa kita agar dapat membuat sebuah tulisan yang menyentuh hati pembacanya.

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...