Rabu, 23 Februari 2022

Tepa Selira

 



Tepa Selira berasal dari istilah bahasa jawa “teposeliro”, yang memiliki arti tenggang rasa. Salah satu nilai leluhur yang dipegang teguh oleh masyarakat Jawa ini mengajarkan bahwasanya di dalam hidup, seyogianya menghargai keberagaman dan perbedaan yang ada, juga peka terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

Di dalam kebebasan kita ada hak orang lain. Kita tidak hidup di ruang yang hampa, tapi hidup berdampingan dengan banyak orang. Tentu saja dari sekian banyak orang yang berada di sekitar kita memiliki beragam watak atau karakter. Apa yang kita sukai belum tentu orang lain suka. Oleh karenanya, dalam hidup kita senatiasa menimbang dan mengukur dengan hati yang lapang.

Konflik yang kerap terjadi dalam masyarakat biasanya terjadi karena kurangnya tepa slira. Ada individu-individu dalam masyarakat yang kebiasaannya memaksakan kehendak. Mereka merasa paling benar dan tidak bisa menghargai orang lain. Atau bila mereka memiliki sebuah kelompok atau organisasi, akan memiliki kebanggaan yang berlebihan dan cenderung eksklusif.

Ada ruang dialog yang harus selalu kita buka lebar-lebar. Jangan mudah menggunakan kekerasan verbal atau fisik. Karena banyak hal yang terlihat rumit namun menjadi sederhana dan dapat diselesaikan karena dibicarakan dengan mengedepankan solusi.

Hargai orang lain bila engkau ingin dihargai. Jagalah kata-kata, karena terluka oleh perkataan sering lebih sakit daripada luka di tubuh. Bila kita punya hak, orang lain pun punya hak yang setara. Tidak ada sesuatu yang menjadikan kita lebih mulia dari orang lain, selain memiliki ketaqwaan dan ahklaq yang terpuji.


 

Selasa, 22 Februari 2022

KISAH NEGERI “LOH JINAWI”



Di saat kelangkaan minyak goreng di masyarakat belum teratasi, kini disusul dengan harga kedelai yang naik drastis. Apa lagi setelah ini. Negeri yang katanya “Loh Jinawi” Subur makmur berlimpah-limpah, kini rakyatnya repot untuk mendapatkan minyak goreng dan kedelai.

Kata orang negeri kita tanahnya subur, apapun bisa ditanam. Dari sayur mayur higga bermacam buah-buahan semua bisa tumbuh. Tapi mengapa saat untuk mencukupi kebutuhan sendiri kita sering kewalahan. Ya, bagai peribahasa ayam mati di lumbung padi. Kita kesulitan memenuhi kebutuhan padahal kita hidup di tengah alam yang kaya.

Jika krisis minyak, kedelai atau bahan makan lainnya terjadi di salah satu negeri Afrika yang tandus, kita tidak heran. Air yang sulit dan tanah yang kurang subur menjadikan beberapa negara Afrika sering kekurangan pangan. Tapi bila krisis pangan terjadi di negeri kita, itu menjadi cerita yang ironi.

Kurang apa Tuhan menciptakan tanah air kita. Buminya hijau lautnya penuh kekayaan. Lalu mengapa bisa terjadi kita kekurangan minyak goreng dan kedelai. Jawabannya memang tidak sederhana. Selama ini kita bergantung dari impor. Mungkin kita menjadi bangsa yang “malas” mengolah tanah sendiri. Apa-apa serba produk luar negeri. Atau karena “sistem” yang membuat kita tidak bisa mandiri memenuhi kebutuhan sendiri.

Dulu katanya kita bangsa agraris. Sebutan untuk negara yang memiliki mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, atau bekerja di sektor pertanian. Tapi apakah saat ini masih relevan sebutan itu. Di saat bangsa lain yang tidak memiliki lahan pertanian yang luas bisa ekspor produk pangan, justru kita kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan warga sendiri.

 

 

 

Senin, 21 Februari 2022

“Ojo Dumeh”


“Ojo Dumeh” adalah falsafah lama yang berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti jangan mentang-mentang. Tentu yang menjadi sasaran dari falsafah ini adalah mereka yang memiliki kelebihan dari orang lain. Bisa jadi karena memiliki kepandaian, harta benda ataupun kedudukan yang tinggi.

Orang-orang yang dilebihkan oleh Allah dari yang lain akan memiliki godaan hati untuk pamer dan bangga dengan apa yang dipunya. Bila hasrat itu tidak terkendali yang pasti akan terjadi adalah lahirnya orang-orang sombong yang merasa memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang lainnya.

Kelebihan dan kekurangan sudah menjadi "kehendak-Nya" sejak kita belum diciptakan. Karena ada kelebihan dan kekurangan, sistem kehidupan ini bisa berjalan dengan baik. Ada hubungan saling membutuhkan dan kerja sama. Kelebihan tidak sepantasnya menjadi alasan orang merasa lebih tinggi dari orang lain. Karena hakikat kemuliaan hanya Allah yang Mahatahu.

Ojo dumeh, jangan mentang-mentang karena apa yang melekat pada diri kita hanyalah titipan semata. Tak satupun yang dianggap milik kita benar-benar menjadi milik kita. Bagaimana mungkin kita menyombongkan sesuatu yang bukan milik kita sesungguhnya.

Apabila nilai-nilai falsafah yang sederhana ini dimanfaatkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari maka akan mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa karena nilai-nilai ini adalah ini nilai-nilai lama bangsa Indonesia, khususnya masyarakat jawa yang tidak pernah pudar.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...