Jumat, 01 April 2022

Bermain Air Basah, Bermain Api Hangus

 

 


Setiap pekerjaan atau usaha pasti ada tantangannya. Tidak ada satupun pekerjaan yang dilakukan oleh oleh seseorang yang tidak mengandung risiko. Seorang petani berisiko hasil tanamannya tidak bisa panen. Sama halnya dengan seorang pedagang yang membawa barang dagangannya ke pasar, ia punya risiko untuk tidak laku terjual dagangannya.

Tantangan bukan sesuatu yang harus ditakuti tapi harus ditundukkan. Seandainya setiap menghadapi tantangan kita takut dan mundur, sudah pasti kita tidak akan pernah meraih hasil apa-apa. Sama seperti seorang anak yang takut jatuh ketika belajar naik sepeda, ia selamnya tidak akan pernah bisa naik sepeda dengan baik.

Benar, peribahasa “Bermain Air Basah, Bermain Api Hangus”, kita dituntut selalu siap menerima akibat dari apa yang kita pilih. Sering seseorang terlihat banyak salah dalam pandangan manusia. Sebenarnya bukan berarti ia tidak mahir di bidangnya, tapi karena kesalahan memang pasti akan terjadi dan tidak mungkin dihindari.

Orang yang sering jatuh dari motor adalah orang yang sering naik motor. Orang yang sering salah tulis, karena ia memang seorang penulis. Begitu pula orang yang salah kata karena profesinya adalah seorang penceramah atau narasumber di bidang keilmuan tertentu.

Tidak berarti orang yang sering “salah” itu menunjukkan dia kurang kompeten di bidangnya. Karena tentu tidak bisa membandingkan dua hal yang berbeda. Apa kita akan menilai seseorang kurang terampil hanya karena satu atau dua kesalahan. Sementara kita sendiri bukan orang yang ahli di bidangnya. Pada intinya, kesalahan tidak bisa dijadikan alasan kita tidak berbuat sesuatu. Hanya orang yang tidak pernah berbuat apa-apa yang tidak pernah bersalah.

 

 

 

Kamis, 31 Maret 2022

SUKSESI “PEMIMPIN KECIL”



 

Pada hari Rabu tanggal 31 Maret 2022 kami melaksanakan musyawarah warga Rukun Tetangga untuk memilih pengurus RT yang baru. Kepengurusan (RT 1 RW 2 Dusun Gempol Desa Sumberdadi) yang lama sudah berakhir setelah melaksanakan tugas selama lima tahun terhitung sejak Maret tahun 2017.

Sejak awal saya sudah menduga banyak yang menolak ketika diajukan untuk menjadi ketua RT. Dan ternyata dugaan saya benar. Pemilihan berjalan dengan singkat karena sebagian besar warga tetap menghendaki kepengurusan RT yang lama dilanjutkan kembali.

Saya tidak bisa menolak hasil musyawarah warga yang kembali “memaksa” saya menjadi ketua RT untuk kedua kalinya. Bagi saya proses yang berlangsung adalah bagian dari demokrasi meski itu hanya elemen dari kelompok kecil dalam lingkup masyarakat yang paling bawah.

Ketua RT adalah jabatan sosial yang banyak dihindari oleh orang. Tentu beda dengan posisi Kepala Desa, Bupati atau bahkan Presiden. Jabatan-jabatan tersebut menjadi rebutan banyak orang. Dengan senang hati mereka akan mencalonkan dirinya sendiri. Memasang gambar berukuran besar di pinggir-pinggir jalan agar dikenal masyarakat. Bahkan meski harus mengeluarkan banyak biaya mereka tidak akan mundur.

Bagi saya sekecil apapun peran seorang ketua RT dalam masyarakat tetaplah penting. Memang dia hanya memimpin kurang dari empat puluh kepala keluarga. Tapi pepimpin tetaplah pemimpin. Dia harus bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya. Kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun an ra'iyyatihi

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...