Diriwayatkan dari Sahabat Anas Radhiyallahu
anhu ia berkata: ada beberapa sahabat Nabi yang ingin meningkatkan ibadah
dengan cara yang “ekstrem”. Yakni dengan cara berlebih-lebihan. Masing-masing
dari mereka bertekad ada yang ingin puasa terus menerus, ada yang ingin ibadah
di sepanjang malam setiap hari, ada juga ada yang ingin tidak menikah sama
sekali.
Di lain hari, mereka bertemu dengan
Rasulullah yang mana beliau sudah mengetahui tekad sahabat tersebut. Kemudian Rasulullah
bersabda: “Kalian mau beribadah seperti itu?.
Demi Allah! Aku adalah orang yang paling
takut kepada Allah dan paling bertaqwa, namun ada hari di mana aku berpuasa dan
ada hari yang aku tidak berpuasa, aku shalat dan aku juga memiliki waktu tidur,
dan aku juga menikahi perempuan, siapa yang tidak senang dengan sunnahku, maka
dia bukan golonganku.”
Sebaik-baik teladan adalah pribadi Rasulullah.
Sedangkan beliau mencontohkan, bagaimana beribadah namun tidak meninggalkan
umatnya. Beliau tetap berada di tengah masyarakat dan melakukan aktivitas
layaknya orang pada umumnya. Rasulullah memberi keteladanan terhadap masalah
keduniaan pada para pengikutnya, seperti pergi ke pasar, berumah tangga, dan
bergaul dengan masyarakat.
Keinginan beberapa sahabat yang ingin
mengkhususkan hidupnya hanya beribadah dan mengabaikan urusan duniawi ternyata
tidak mendapat restu dari Rasulullah. Beribadah dengan cara meninggalkan
kehidupan sosialnya sama halnya dengan orang yang individualis. Seolah-olah ia
ingin mencari selamat sendiri dan mengabaikan kewajibannya terhadap saudara
seiman yang lain. Dalam hadits lain Nabi bersabda:
Dari Jabir, Ia berkata:
”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,’Orang beriman itu bersikap
ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan
sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).
Konsep menjadi manusia terbaik, diukur dari
seberapa besar perannya memberi kemanfaatan bagi kehidupan orang lain. Maknanya
kita tidak meninggalkan masyarakat demi mengejar capaian ibadah yang bersifat
pribadi. Apakah bisa dikatakan mukmin yang baik, yang salatnya khusyu’ tapi
tidak peduli dengan saudara seiman yang membutuhkan bantuannya. Tentu yang
sempurna ialah mereka yang memenuhi kewajiban pribadinya, dan di sisi yang lain
ia juga berkhidmah pada masyarakat.
Menjadi bermanfaat bagi orang lain hanya
bisa dilakukan ketika kita hidup berdampingan dengan orang lain. Bertetangga
dengan baik artinya memberi manfaat bagi orang-orang yang tinggal di
sekitarnya. Demikian pula berkarya sesuai bidang dan keahliannya diniatkan
dengan ibadah dan memberi kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Kemampuan
yang ada dalam dirinya, baik itu ilmu, tenaga maupun harta senantiasa digunakan
untuk mendukung terciptanya kehidupan dalam masyarakat yang lebih baik.
Dan infakkanlah (hartamu) di jalan
Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan
tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik. Al-Baqoroh 195