Selasa, 27 Mei 2025

Multifungsi Kedai Kopi

 



Sudah menjadi hal yang jamak, anak-anak muda di Tulungagung suka santai duduk di kedai atau warung kopi. Terkadang untuk menghabiskan secangkir kopi para anak muda bisa duduk asyik “ngobrol” dengan komunitas mereka selama berjam-jam. Tentunya kebanyakan juga dilengkapi dengan kepulan asap rokok.

Meski kedai atau warung kopi di mana-mana ada, namun di Tulungagung warung kopi memang memiliki perbedaan dengan tempat lain. Selain jumlahnya yang banyak, warung kopi di Tulungagung memiliki fungsi yang bermacam-macam.

Secara umum, warung kopi dapat dilihat sebagai tempat untuk besosialisasi. Zaman dulu kakek dan nenek kita selalu menyempatkan diri mengunjungi saudara maupun tetangga. Meski tidak ada keperluan yang penting, biasanya mereka akan rutin datang untuk sekadar bercakap-cakap sambil minum kopi.

Pergeseran budaya memang akan selalu terjadi dan terus terjadi. Saat ini tidak ada lagi budaya ngopi dengan tetangga atau kerabat. Yang lazim minum kopi ya di warung kopi. Warung kopi memberi kesempatan kepada anggota-anggota sosial untuk berkumpul, berbicara, atau menghabiskan waktu, baik secara individu atau dalam kelompok kecil.

Sebenarnya bagi komunitas pecinta literasi bisa juga menjadikan warung kopi sebagai tempat berkreasi. Menulis, membaca, dan mencari inspirasi sangat mungkin dilakukan di warung kopi. Terlebih saat ini, hampir semua warung kopi sudah menyedikan fasilitas wifi gratis. Jadi, kapan para pegiat literasi kumpul-kumpul di warung kopi?

Kamis, 22 Mei 2025

Liga Europa, Tropi Penghapus Dahaga Si "Lili Putih"

 



Sejarah baru tercipta di Stadion San Mames kandang Athletik Bilbao, Kamis dini hari tadi (pukul 02.00 WIB). Tottenham Hotspur sukses meraih gelar Liga Europa 2024/2025 setelah menundukkan “Setan Merah” Manchester United 1-0 dalam laga final yang emosional.

Laga final Liga Europa  kali ini memang sedikit “aneh”. Kedua tim merupakan wakil Inggris yang nasibnya hampir sama. Keduanya berada di papan bawah klasemen liga Inggris. MU berada di peringkat 16, sementara Tottenham Hotspur berada di peringkat 17.

Tottenham datang sebagai tim yang haus gelar, sementara Manchester United membawa nama besar dan rekor impresif sepanjang turnamen Liga Europa. Rupanya keberuntungan berpihak pada Si Lili Putih. Akhirnya Tottenham Hotspur meraih gelar Eropa pertama sejak 1984.

Gol tunggal kemenangan Tottenham Hotspur dicetak oleh Brennan Johnson pada pengujung babak pertama. Impian Manchester United untuk mengangkat trofi Liga Europa musim 2024/2025 harus pupus. Musim ini MU benar-benar babak belur di EPL (English Premier League) dan menelan pil pahit di final Liga Europa.

Secara permainan MU sebenarnya lebih impresif dibanding sang lawan. MU melepas shots (16) jika dibanding Tottenham yang hanya (3). Manchester United juga mendominasi jalannya laga dengan 73 persen penguasaan bola. Namun strategi bertahan yang diterapkan manajer Tottenham, Ange Postecoglou, terbukti sangat rapi dan kokoh.

Manchester United harus terus berbenah. Musim depan klub kebanggan kota Manchester itu harus menepi dari kompetisi Eropa. Jatah main di UCL (Uefa Champions League) dari jalur juara Liga Europa sah menjadi milik Tottenham Hotspur. Ayo bangkit “Setan Merah”!!

Kamis, 15 Mei 2025

Syukur Atau Kufur?

 



“Hidup itu indah dan berbahagia, biarpun banyak juga gelapnya. Dan bukankah gelap itu ada, ialah supaya teranglah tampak yang bercahaya itu?”. Kalimat indah penuh makna tersebut adalah kutipan dari surat RA.Kartini kepada Nyonya Abendanon pada tanggal 13 Agustus 1900.

Mungkin maksudnya, hidup ini adalah anugerah besar dari sang pencipta. Kita mesti bersyukur karena diberi nikmat kehidupan. Memang benar, dalam hidup ini akan banyak cobaan, kesedihan dan penderitaan, tapi semua itu akan menjadikan kita semakin bersyukur. Karena seluruh ujian yang kita terima tidak sebanding dengan nikmat yang telah diberikan Allah.

Hidup ini pilihan, apakah kita memilih selalu bersyukur atau terus berkeluh kesah. Apabila kita memilih syukur, niscaya semua pemberian Allah akan kita gunakan hanya untuk mengabdi, beribadah. Hidupnya kan bahagia meski secara ukuran duniawi serba kekurangan. Dan janji Allah, jika bersyukur nikmat-Nya akan selalu ditambah.

Sementara orang yang senantiasa mengeluh bisa berakibat kufur nikmat. Hidupnya bermuram durja. Dia lupa, bukankah nikmat Allah itu hakikatnya tidak pernah bisa kita hitung banyaknya, namun seakan dia tidak pernah mengecap sedikit pun nikmat Allah.

Semoga kita menjadi hamba yang pandai bersyukur. Orang yang bersyukur kelak akan mendapatkan kenikmatan yang lebih besar. Sementara orang yang kufur akan meratapi hidupnya di dunia dahulu. Padahal semuanya tidak akan pernah bisa lagi diulang. Andaikata roda kehidupan bisa diputar, “Oh, seandainya saja aku menjadi tanah.” (Surat an-Naba 40)

 


Jumat, 09 Mei 2025

Allianz Arena, Panggung Juara Baru Liga Champions?

 



Inter Milan menjalani musim kompetisi yang fantastis. Klub kota Milan tersebut sukses melaju ke final Liga Champions 2024/2025 tahun ini dan akan menghadapi Paris Saint Germain (PSG). Laga keras tersebut akan dimainkan pada tanggal 31 Mei 2025 mendatang di Allianz Arena.

Sebelum melaju ke babak puncak Liga Champions 2024/2025, kedua finalis menjalani pertandingan semifinal yang luar biasa. Terlebih Inter Milan, dua pertandingan melawan Barcelona berjalan sangat sengit. Bermain 3:3 saat di kandang Barca, akhirnya Inter Milan sukses menang di leg 2 pada masa perpanjangan waktu dengan skor tipis 4:3.

Dua kontestan finalis Liga Champions memang layak menapaki panggung tertinggi kompetisi klub elit benua biru. PSG yang sebelumnya tidak terlalu diunggulkan, ternyata mampu menyingkirkan tim-tim besar Inggris. Liverpool, Aston Villa, hingga Arsenal menjadi korban permainan indah PSG.

Final melawan Inter Milan pada akhir Mei nanti adalah pertemuan pertama kedua klub di kompetisi resmi. PSG memang belum pernah meraih gelar Liga Champions. Namun sejarah mencatat, setiap final Liga Champions di kandang Bayer Munchen, selalu muncul juara baru.

Akankah sejarah terulang kembali?. Kita tunggu apakah permainan cantik nan menyerang ala PSG mampu menumbangkan Inter Milan yang datang sebagai kampiun Serie A, tim yang disiplin, matang, dan berpengalaman. Sangat menarik dan layak untuk dinantikan.

 

 

Kamis, 08 Mei 2025

Berserah Diri Kepada Allah

 



Adakalanya di saat menghadapi sebuah permasalahan kita selalu berusaha menyelesaikan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Semua kemampuan sudah dikerahkan, akan tetapi kekalutan permasalahan yang kita hadapi bukannya terselesaikan justru semakin rumit, bagai benang yang kusut.

Tidak keliru memang bila kita sealu berusaha, namun terkadang ada yang kita lupakan. Kita sering lupa memohon petunjuk dan bimbingan Allah. Apa yang diusahakan hanya berdasarkan kemampuan akal pikiran dan tenaga semata.

Kita wajib berupaya dan berusaha, tetapi semua itu harus dibingkai dengan tawakkal. Tawakal merupakan sikap seorang yang berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha seoptimal mungkin. Dia memiliki keyakinan bahwa Allah yang menentukan hasil dari setiap usaha manusia

Berserah diri kepada Allah tidak sama dengan fatalisme, paham yang meyakini bahwa manusia dikuasai oleh nasib. Apa saja yang terjadi padanya sudah garis nasibnya. Mungkin seperti analog wayang kulit yang hanya bisa diam digerakkan oleh sang dalang. Tidak seperti itu.

Berserah diri kepada Allah, berarti menyerahkan segala urusan dan hasil usaha yang dilakukannya kepada Allah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah adalah yang terbaik dalam mengatur segala sesuatu.  Yang terbaik dari Allah, bukan pilihannya sendiri.

 

Sabtu, 03 Mei 2025

Menulis di Tengah Riuh: Sunyi yang Diciptakan

 



Menulis merupakan aktivitas yang membutuhkan kesabaran. Seorang penulis harus rela meluangkan banyak waktunya untuk bertafakur demi menemukan diksi yang tepat untuk membentuk rangkaian kata hingga menjadi sebuah gugus kalimat yang mudah dimengerti oleh pembacanya.

Dunia menulis adalah dunia penuh makna. Tak semua orang bisa memahami keseruan dan keunikannya. Hanya mereka para penulis yang sadar betul dengan apa yang dikerjakannya. Meski di mata banyak orang seakan-akan semua itu percuma.

Menulis bukan bagian dari perlombaan yang ada akhirnya. Bukan pula semacam olah raga yang ada batasan waktunya. Menulis adalah proses yang tiada ujungnya. Menulis adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Selama masih ada kehidupan, selama itu pula penulis akan berkarya.

Menulis bukan urusan menang atau kalah. Bukan pula penilaian baik atau buruknya tulisan. Tapi menulis memiliki makna lebih luas dari hal semacam itu. Karena menulis adalah jati diri seseorang untuk mencari arti dari hidupnya. Apakah rentang hidup yang tidak terlalu lama yang dimilikinya akan membuahkan faedah.

Kalau menulis adalah proses yang ada ujungnya, maka tak akan ada karya besar yang memberi pengaruh luas dalam kehidupan kita. Jika menulis memiliki batas akhirnya, tak akan ada ribuan mutiara kata yang menyentuh jiwa.

Banyak penulis yang memilih suasana sunyi ketika hendak menuangkan ide-idenya. Begitu pula saya. Meski saya bisa menulis di mana saja, baik kondisi yang riuh maupun sepi, akan tetapi menulis di waktu sunyi terasa lebih nyaman dan bisa menemukan kepuasaan hati.

Tidak mudah bagi kita menemukan suasana sunyi di rumah.  waktu sunyi di rumah hanya tengah malam hingga subuh. Di saat hanya detak jarum jam dinding yang terdengar, di kala hanya serangga malam yang bersuara, di waktu itulah ide kita bisa mengalir deras.

Selamilah dan temukan makna menulis, maka engkau akan mampu mencerna hakikat makna yang sebenarnya. Tak cukup sekali dua kali, atau sebulan dua bulan mencoba menulis. Karena itu terlalu dangkal untuk mengukur kedalaman yang sebenarnya.

 

 

 

Jumat, 02 Mei 2025

Sakinah, Ketenangan Sejati

 



Hakikatnya yang dicari manusia dalam kehidupan dunia ini adalah ketenangan, kedamaian dan ketentraman. Harta paling diburu di dunia ini bukanlah emas, intan permata, atau tumpukan uang, tapi sakinah.

Uang dan segala rupa harta benda hanyalah sarana mendapatkan ketenangan dan kedamaian hati. Lihatlah apa yang dilakukan oleh mereka yang telah bergelimang harta. Mereka naik gunung tertinggi dunia, berkeliling dunia dengan kapal pesiar yang mewah dan menghamburkan uangnya hanya demi mendapatkan ketenangan hati.

Tidak cukup sampai disitu, mereka harus melupakan semua masalah hidup dengan mengkonsumsi segala jenis minuman keras bermerk yang mahal. Ketika kaki seakan tidak menginjak bumi lagi, baru mereka bisa tertawa lepas. Hidup katanya ringan tanpa beban lagi.

Lalu apa mereka mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan?, sepertinya tidak. Yang mereka peroleh hanya ketenangan semu. Ya, mereka bersenang-senang tapi hatinya gersang. Itu bukan kebahagiaan, bukan ketenangan, kedamaian dan ketentraman sejati karena sifatnya hanya sementara. Kita tahu itu sebenarnya bukan bahagia, tapi gila.

Ketenangan sejati hanya dimiliki oleh orang-orang mukmin. Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana (Surat al-Fath ayat 4)

 

 

Rabu, 30 April 2025

Menenun Kata, Menggubah Cerita

 



Menurut JK Rowling, cara menjadi penulis itu sederhana; "Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri",. Sederhana dan mudah sepertinya, tetapi ternyata kenyataan tidak segampang yang dikatakan itu. Setidaknya itu pengalaman saya praktik menulis selama ini.

Menulis pengalaman sendiri seharusnya memang mudah, karena kita tinggal bercerita sesuatu yang nyata dan dialami sendiri. Menggambarkan peristiwa dengan kata-kata dan menjelaskan sebuah pengalaman. Tapi, lagi-lagi harus kita akui semua itu tetaplah bukan pekerjaan yang mudah.

Orang akan lebih mudah bercerita daripada menulis. Ketika bercerita, seolah bahan mendongeng yang disampaikan tidak pernah ada habisnya. Coba, andai saja kebiasaan kita bercerita bila ditulis akan menjadi buku yang berjilid-jilid.

Alasan yang mungkin mendasari mengapa tidak mudah menulis pengalaman adalah kurang percaya diri. Sering kita malu dengan apa yang kita tulis sendiri. Malu setelah membabacanya, mungkin dirasa bahasanya tidak bagus. Malu, ternyata pengalaman yang diceritakan ternyata bukan pengalaman yang luar biasa, hanya hal-hal sepele yang mungkin tidak penting sama sekali diketahui oleh pembaca.

Sudahlah, tak perlu malu lagi. Seharusnya rasa malu untuk memulai menulis dibuang jauh-jauh. Memiliki rasa malu itu bagus tapi harus diletakkan pada proporsi yang sebenarnya. Menulis saja meski kita menganggap tulisan kita biasa saja, belum bagus.

Kita mulai dengan menulis apa saja. Menenun kata demi kata sehingga menjadi gubahan cerita. Biarlah proses panjang yang menjawab nanti, apakah manfaat dari semua goresan pena kita. Tapi saya yakin, semua karya kita berguna pada waktunya.

Jumat, 25 April 2025

Amal yang Dicintai

 



Kini kita tengah berada di Jum’at terakhir bulan Syawal tahun 1446 Hijriyah. Ramadan telah berlalu meninggalkan kita, tanpa adanya kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa lagi, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya.

Hanya sebuah doa dan harapan yang selalu kita sampaikan kepada Allah, semoga amal ibadah kita diterima di sisi-Nya dan kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa lagi dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.

Bulan Syawal seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan amal ibadah kita, atau setidaknya mempertahankan ibadah di Bulan suci Ramadan kemarin. Walau dalam kenyataannya Syawal lebih sering menjadi bulan penurunan ibadah kita, juga penurunan kualitas diri. Di antara tandanya yang sangat jelas adalah perayaan idulfitri seakan-akan menjadi suasana kebebasan setelah selama sebulan penuh dikekang dan harus menahan diri.

Syawal adalah ujian istiqomah kita. Istiqomah maknanya adalah sikap teguh dan terus-menerus dalam melakukan kebaikan, menjalankan perintah Allah SWT, dan menjauhi larangan-Nya. Bentuk sikap istiqamah ini dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda;

“Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menjadi alasan, kita harus terus-menerus memperbaiki ibadah khususnya puasa. Karena puasa seharusnya mampu mengantarkan seseorang meraih derajat taqwa, atau paling tidak mendekatinya.

Bulan Syawal menjadi ukuran sampai di mana kita bisa istiqomah, bukankah ketika Ramadan kita ringan melaksanakan qiyamul lail sholat tarawih, tilawah Al-Qur’an setiap hari, bangun tengah malam untuk tahajjud dan makan sahur, bersedekah memberi makan orang yang puasa, dan sudah seharusnya amalan-amalan tersebut mampu kita pertahankan di bulan Syawal ini, atau setidaknya tidak diabaikan semuanya.

Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat ditempa selama bulan Ramadan. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah.

Allah memerintahkan kepada kita untuk istiqomah. Bila pada bulan Ramadan kemarin kita ringan dan mudah melaksanakan ibadah, jangan sampai sesudah Ramadan kita enggan melaksanakan ibadah. Dalam surat al-Ahqaf ayat 13 Allah juga berfirman;

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”

Tanda istiqomah adalah ibadah yang semakin bagus. Apabila dia tergelincir dalam dosa segera dia meminta ampunan Allah SWT. Orang-orang istiqomah tidak memiliki kekawatitan dan sedih hati tentang kehidupannya karena sudah tawakkal dengan yang Allah karuniakan kepadanya.



 

Selasa, 22 April 2025

Rumah, Menulis, dan Buku

 



Rasanya seperti baru sadar dari kesambet. Ya, pagi ini ada yang benar-benar beda dalam perasaan saya. Ada semangat untuk berbuat lebih baik dari hari–hari kemarin. Saatnya mencoba seefektif mungkin menggunakan waktu yang diberikan oleh Allah, agar hidup ini benar-benar penuh manfaat.

Saya menyadari selama ini masih banyak membuang waktu. Tentu saya dan juga Anda berharap menjadi manusia yang beruntung. Adapun salah satu ciri orang yang beruntung adalah mereka yang menghindari perbuatan sia-sia. "Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna." (al-Mukminun ayat 3).

Meski tidak mudah mengurangi interaksi dengan ponsel, namun saya harus mencobanya. Dan salah satu kegiatan yang bisa mencegah dari scroll ponsel sambil duduk santai adalah menulis. Harapannya bisa aktif menulis seperti dulu lagi. Beberapa tahun yang lalu hampir setiap hari bisa menulis, tapi akhir-akhir ini mungkin seminggu hanya bisa sekali mengisi blog.

Kembali dengan motivasi baru. Setelah sekian belas bulan draf buku ke-7 yang tersimpan rapi di folder laptop, hari ini dibongkar-bongkar kembali. Kalau sedang tidak ke mana-mana sebisanya rumah menjadi tempat menulis yang nyaman. Biar pelan yang penting tetap berjalan. Karena hanya demikian itu, angan-angan untuk kembali menerbitkan buku bisa terwujud.

Sepertinya tidak perlu menunggu nasihat dari motivator untuk bisa berubah. Karena motivasi yang tumbuh dari diri kita sendiri akan menjadi energi yang lebih kuat. Kalau besok semangat itu turun lagi, yang kita butuhkan hanyalah menenun semangat kembali. Yakin bisa, kita pasti bisa.

Senin, 21 April 2025

Menanti Terang Setelah Gelap

 



Refleksi peringatan Hari Kartini.

Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan judul buku yang isinya adalah kumpulan surat yang ditulis oleh R.A Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht, sedangkan penerjemahannya dari versi bahasa Belanda ke bahasa Melayu pertama kali dilakukan pada 1922. (Wikipedia)

Sekian dasawarsa tahun setelah era R.A Kartini, kini istilah gelap kembali menjadi perbincangan masyarakat kita. Beberapa waktu yang lalu viral tagar Indonesia Gelap. Gerakan 'Indonesia Gelap' ini merupakan bentuk kritik mereka kepada Pemerintahan yang membuat efisiensi anggaran tanpa mempertimbangkan kebijakan dan kepentingan masyarakat umum.

Di era demokrasi seperti saat ini, kritik akan selalu muncul. Siapa pun yang memimpin negeri ini sudah pasti harus siap dikritik, didemo bahkan dihujat. Akan selalu ada kelompok yang pemikirannya berseberangan dengan pemerintah, itu sebuah keniscayaan. Jadi tidak mungkin suara-suara sumbang itu dibungkam.

Apa benar Indonesia sedang gelap?. Tentu jawabannya akan sesuai persepsi masing-masing individu. Namun secara umum kita harus mengakui bila masih banyak sisi gelap di negeri kita. Lihat saja kasus-kasus korupsi yang terkuak, nilainya sungguh di luar nalar akal sehat kita. Bila yang terungkap begitu banyak, bagaimana dengan yang lolos dan tidak diproses.

Sebagai rakyat biasa saya cuma bisa berharap. Terang segera terbit mengikis pekatnya gelap. Keadilan bisa tegak dan meruntuhkan semua kezaliman dan kejahatan orang-orang yang  tidak memiliki nurani. Mereka tega korupsi demi memeperkaya diri di tengah kesulitan masyarakat. Semoga terang akan segera menjelang…#

 


Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...