Jumat, 11 September 2020

MAKNA HIJRAH


Hari ini sudah berada di hari ke-23 bulan Muharram 1442 Hijriyah. Banyak peristiwa besar yang terjadi pada bulan Muharram. Diriwayatkan dalam sejarah, satu diantaranya adalah diselamatkannya Nabi Musa Alaihissalam bersama umatnya kaum Bani Israil dari kejaran Fir'aun di Laut Merah.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam. Sebagaimana kita ketahui Tahun Hiriyah  ditetapkan pertama kali oleh Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Khatab ra khalifah kedua dalam sejarah Islam. Khalifah Umar menetapkan Tahun Hijriyah untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti yang berasal dari tahun Gajah, Kalender Persia, Kalender Romawi dan kalender-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Kholifah Umar memilih peristiwa Hijrahnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah sebagai permulaan kalender karena menilai peristiwa hijrah adalah peristiwa besar dalam sejarah Islam. Peristiwa di mana dakwah Islam mampu berkembang pesat dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Dalam kerangka sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam. Setelah 13 tahun Nabi berdakwah di Makkah mendapat banyak rintangan, teror bahkan rencana pembunuhan, akhirnya Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk hijrah ke Madinah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah  ayat 218: 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pada ayat di atas hakikatnya, hijrah harus dilakukan atas dasar niat karena Allah dan tujuan mengharap rahmat dan keridhaan Allah semata. Sebagai halnya apa yang dilaksanakan Nabi dan para sahabat setia beliau. Hijrah adalah ujian keimanan. Karena hijrah bukanlah amalan yang ringan. Mereka harus meningggalkan tanah kelahiran tercinta kota Makkah menuju Madinah. Meninggalkan harta benda dan hanya membawa bekal untuk perjalanan secukupnya saja. Mereka juga terpaksa berpisah dengan sanak keluarga yang tidak seaqidah.

Bagi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat beliau yang tergolong Assabiqunal awwalin tidak ada yang lebih berharga dari Iman dan tegaknya Agama Allah, agama Islam. keridhaan Allah di atas segalanya. Dan orang-orang beriman yang berhijrah dan berjihad dengan motivasi karena Allah dan tujuan untuk meraih rahmat dan keridhaan Allah, mereka itulah adalah mukmin sejati yang akan memperoleh pengampunan Allah, mendapatkan keberkahan rezeki dan kemenangan yang dijanjikan oleh Allah.

Peristiwa hijrah harus senantiasa kita maknai dengan benar. Hijrah adalah peristiwa besar yang penuh keteladanan yang menjadi salah satu kaidah perjuangan hidup kaum muslimin. Hijrah secara bahasa berarti meninggalkan. Seseorang yang berusaha meninggalkan segala hal yang buruk, maksiat, kondisi yang tidak baik, menuju keadaan yang lebih baik hakikatnya adalah hijrah. Semisal, berusaha meninggalkan sikap pemarah menuju pribadi penyabar, meninggalkan sifat kikir menuju dermawan, meninggalkan persahabatan yang selalu cenderung mengajak maksiat menuju persahabatan yang mengajak taat kepada Allah. Nilai lain yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah adalah, bahwa hijrah dan jihad dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita miliki, harta benda untuk perjuangan di jalan Allah, ilmu pengetahuan atau sesuatu berharga yang diamanatkan Alllah Subhanahu wa ta’ala kepada kita.

 

 “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(Al-Quran Surat An-Nisa ayat 100)

 

Kamis, 10 September 2020

MENULIS DENGAN CARA BERTAHAP


Untuk membuat tulisan lima paragraf sehari atau sekitar 300 kata, sebenarnya bisa dikatakan gampang-gampang susah. Gampang ketika mood menulis sedang baik-baiknya dan ada banyak waktu luang karena pekerjaan sedang tidak banyak. Menulis begitu laju terasa tanpa hambatan yang berarti. Untuk menulis lima paragraf biasanya bisa selesai dalam waktu kurang dari satu jam duduk di depan laptop. Namun ketika semangat menulis sedang turun atau ketika sedang banyak kesibukan, untuk membuat lima paragraf biasanya tidak cukup sekali duduk. Terkadang sampai dua atau tiga kali melototi laptop baru bisa kelar lima paragraf yang direncanakan. Ini berdasar pengalaman pribadi belajar menulis selama ini.

Keingininan menulis yang kuat sesekali waktu terkendala dengan kemampuan menjabarkan ide-ide dalam bahasa tulisan. Sudah beberapa kali mengalami sendiri, ternyata untuk melatih menulis rutin lima paragraf sehari belum bisa terlaksana. Tulisan “mandeg” ketika masih dapat satu atau dua paragraf. Walau sebenarnya ini masih lumayan, setidaknya sudah mulai terbiasa menulis setiap hari meskipun belum mampu mencapai hasil yang ideal.Tentu setiap penulis memiliki cara yang berbeda ketika dalam kebuntuan mengungkapkan ide. Dalam situasi ini sebenarnya kita bisa menyiasatinya dengan menulis secara bertahap. Tidak perlu dipaksakan selesai dalam satu kali usaha, namun bisa dalam beberapa kesempatan menulis.

Lazimnya ketika hendak menulis sebuah judul essay atau artikel kita pasti sudah punya satu tema yang akan disajikan. Di pagi hari, kita mulai saja dengan mencatat dulu kerangka tulisan berupa draf. Mulai ketik saja semua apa yang ada di angan-angan. Biasanya dalam tahap ini saya mengabaikan keruntutan kalimat inti dengan kalimat-kalimat pembahasannya. Pokoknya menulis semua yang terlintas dalam pikiran. Yang diperlukan mengetik dengan lancar tanpa banyak membuat pertimbangan. Sering ejaan masih belum benar dan banyak kesalahan-kesalahan ketik, tapi biarkan semua itu terjadi karena masih berupa konsep dasar. Tidak perlu lama-lama menulis draf tulisan biasanya cukup dua puluh menit, kita sudah bunya gambaran apa yang harus diselesaikan nantinya.

Kita tinggalkan saja dulu tulisan yang sama sekali belum sempurna untuk dikatakan sebagai hasil karya. Karena masih berupa catatan-catatan yang belum bisa dipahami dengan jelas. Beralih saja ke aktivitas sehari-hari sebagaimana layaknya. Namun ingat, ada yang masih belum tuntas tulisan kita pagi ini. Ternyata otak kita terus bekerja untuk merampungkan ide yang belum kelar tadi. Biasanya dalam beraktivitas akan muncul lintasan-lintasan pikiran yang melengkapi gagasan kita yang belum tuntas itu. Catat semuanya dalam ketas ataupun memanfaatkan smartphone kita. Nanti bila ada kesempatan membuka laptop atau PC lagi, tinggal masukkan semua catatan tadi. Dan kini tulisan kita sudah setengah jadi meskipun belum terartur dan belum ada kesesuaian antara poin-poin yang kita catat tadi.

Langkah berikutnya kita sunting dengan membaca dengan saksama dan meresapi kalimat demi kalimat yang sudah tertulis. Biasanya kita akan segera menemukan kalimat-kalimat mana yang tidak sinkron di antara ketikan yang belum teratur tadi. Tinggal memilih kesesuainnya, proses “cuting” kalimat kemudian memindah dari satu paragraf ke paragraf lain ketika dirasa belum serasi. Terus, dibaca ulang lagi dengan mendalam. Dalam tahapan ini sering kita harus membuang kalimat yang dianggap tidak sesuai dan menggantinya dengan kalimat baru. Begitu proses editing ini kita lakukan sampai selesai. Bisa jadi proses menulis sampai di sini sudah selesai dan menjadi artikel lengkap jika merasa puas dengan hasil editing yang kita lakukan. Tapi bila masih merasa ada yang kurang, tidak masalah tinggalkan lagi laptop kemudian kembali ke aktivitas yang lain. Hasil tulisan tadi masih kita endapkan, ibarat air keruh dibiarkan sebentar, nanti akan mengendap kotorannya dan akan terlihat kejernihan airnya.

Selanjutnya, adalah langkah terakhir. Membaca kembali dan meyakinkan semua kalimat sudah sesuai dan maksud atau gagasan telah disampaikan secara utuh menyeluruh. Tinggal proses mengecek kesalahan ketik, kesalahan ejaan, tanda-tanda baca maupun kesalahan kecil lainnya. Kalau sudah semua dirasa tidak ada lagi kesalahan tinggal dipublish di blog, selesai. Yang saya uraikan di atas itu adalah sedikit pengetahuan dan pengalaman pribadi belajar menulis sampai sejauh ini. Sekadar menerapkan metode dari pembimbing kita (Dr.Ngainun Naim).

Silakan mencoba..

 

 

 

Rabu, 09 September 2020

MEMBANGUN KEBIASAAN MENULIS

MEMBANGUN KEBIASAAN MENULIS

 

Kita sadari bila semua perbuatan baik berawal dari pikiran yang baik. Setiap hari kita akan selalu berusaha mengulang perbuatan baik pada hari-hari sebelumnya. Jati diri kita adalah kumpulan perilaku yang terus diulang-ulang. Perilaku yang kita sebut sebagai kebiasaan. Misalnya, bagi orang yang sudah biasa mengerjakan salat sunah akan terasa berat untuk meninggalkannya, meskipun sebenarnya tidak berdosa baginya kalau tidak bisa mengerjakan. Atau kebiasaan seseorang yang ringan, minum kopi, pasti akan terasa ada yang kurang ketika belum menikmati kopi kesukaannya. Bagi penggemar musik klasik akan merasa tidak nyaman ketika mendengar musik rock yang menghentak-hentak, simpel saja karena dia tidak terbiasa mendengar musik rock.

Kebiasaan bisa terbentuk karena naluri yang cenderung suka sejak awal. Ada ketertarikan yang natural terhadap suatu aktivitas tertentu. Olahragawan secara “passion” memang suka berolahraga. Tidak perlu mengajak dia menyukai kegiatan olah raga, dengan senang hati dia akan melakukannya. Namun ada  juga kebiasaan yang dihasilkan dari sebuah kesadaran diri bukan karena minat atau ketertarikannya. Salah satunya adalah kebiasaan menulis. Karena menulis kita anggap sebuah aktifitas yang sangat bernilai, maka kita dengan penuh kesadaran berusaha untuk melakukannya dan menjadikan sebuah kebiasaan. Proses ini tentu tidak akan mudah untuk menjadi sebuah kebiasaan. Ada latihan panjang untuk menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan.

Seperti yang disarankan mentor kita (Dr.Ngainun Naim), menulis harus setiap hari berapa pun hasilnya. Satu paragraf, dua paragraf, atau sampai di target lima paragraf. Menulis harus dilakukan berulang kali, terus-menerus sampai menjadi sebuah kebiasaan. Ketika kita sudah mampu menjalaninya rutin dalam tiga bulan, sepertinya menulis sudah menjadi hobi baru. Tidak perlu ada paksaan lagi, karena sudah bisa memetik manfaat yang bisa langsung dirasakan. Dan mungkin tak perlu banyak dorongan lagi, ajakan atau motivasi dari para motivator. Sudah tumbuh motivasi dari dalam dirinya sendiri. Selanjutnya tinggal menjaga kelangsungan kebiasaan baru ini terus berjalan. Miliki keteguhan hati yang kuat dan selalu bersikap konsisten. Satu hal yang perlu diingat, dalam kondisi sibuk dan banyak tugas aktivitas menulis tetap diusakahan berjalan. Karena ketika kita berhenti satu hari saja, itu akan berdampak munculnya kembali rasa malas menulis.

Mengapa harus setiap hari menulis?. Kita ambil analogi seorang pemain sepak bola misalnya, akan terus latihan secara rutin untuk mengasah keahlian yang mereka harapkan. Mereka sangat senang dan antusias melakukannya. Begitu juga dengan kebiasaan menulis ini, perlu metode dan sistem agar proses latihannya bisa berjalan dengan baik dan membuatnya semakin terampil. Kita hanya perlu melakukan secara santai saja tanpa ada tekanan atau tuntutan sesuatu. Seolah-olah sudah menjadi seperti sebuah kebutuhan. Begitu sudah menjadi kebiasaan maka jika tidak menulis dalam sehari saja rasanya di hati ada yang kurang.

Bagaimana dengan ide menulis? Ketika menulis setiap hari apa kita tidak akan kehabisan ide. Sepertinya tidak, ide akan tetap ada di sekitar kita, ide itu tidak terbatas. Kita bisa melibatkan kehidupan dunia nyata dalam catatan-catatan. Tinggal bagaimana kita mengepak sebuah ide menjadi karya tulis. Jangan pernah menganggap remeh gagasan sederhana yang dianggap terlalu biasa.

Menurut para penulis yang sudah matang ada beberapa ikhtiar untuk menjaga kebiasaan menulis kita. Diantaranya, meluangkan waktu untuk membaca sangat membantu metode belajar menulis, karena dengan banyak membaca spontan akan menambah perbendaharaan kata. Semakin banyak kita membaca maka semakin luas pemahaman yang kita miliki. Sehingga kemampuan menulis juga akan ikut berkembang. Dan masih ada cara membiasakan menulis, bawa buku catatan ke mana-mana atau memanfaatkan ponsel untuk membuat coretan (konsep tulisan). Mungkin tidak harus detail, hanya kerangka ide yang yang bisa dikembangkan menjadi artikel yang utuh. Pada akhirnya kita akan sadar, bahwa menulis telah menjadi “kebiasaan”.

 

 

 

Selasa, 08 September 2020

BERSYUKUR DENGAN MENULIS


dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

(QS. Ibrahim:7)

Dalam sebuah kesempatan saya mendapat undangan untuk menghadiri acara wisuda siswa diploma Lembaga Kursus dan Pelatihan Bahasa Inggris Genta di Pare jawa Timur. (tanggal dan tahunnya lupa). Dalam sesi sambutan, direktur (Pimpinan) Lembaga Kursus dan Pelatihan menyampaikan sebuah hal yang menarik. Bahwa, salah satu metode pembelajaran di lembaganya adalah metode pembiasaan dan membangun karakter siswa (Character Building).

Salah satu kebiasaan khusus yang dilaksanakan dalam lembaga tersebut adalah membentuk pribadi yang bisa dan biasa bersyukur. Dalam prakteknya, setiap siswa diwajibkan memiliki “Buku Syukur”. Buku yang setiap hari harus diisi siswa dengan menyebutkan nikmat apa yang telah diperoleh setiap harinya. Apapun itu harus ditulis. Dan setiap hari juga buku tadi dikumpulkan, dibaca dan ditandatangani oleh pengasuh mereka. Ini adalah salah satu bentuk menulis ekspresif. Menulis ekspresif bisa macam-macam bentuknya, salah satunya adalah dengan menuliskan ungkapan rasa syukur terhadap apa pun yang terjadi di hidup ini.

Memang, kita tidak mungkin menghitung nikmat Allah dalam bentuk tulisan. Dan tidak mungkin mampu menulis nikmat-Nya yang begitu berlimpah. Namun terkadang kita lupa bahwa banyak nikmat yang kita dapatkan setiap hari. Dengan menulis setidaknya menjadi ingat, bahwa setiap hari kita selalu dikaruniai nikmat yang tak terhingga. Dengan menulis nikmat setidaknya telah membangun kesadaran bersyukur. Mendidik selalu ingat nikmat dan menghindari kufur nikmat.

Idealnya, kita harus menjadikan aktivitas menulis sebagai bentuk syukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita. Nikmat ilmu, waktu yang diberikan (umur) dan kesehatan jiwa dan raga. Niat menulis dengan kesadaran penuh untuk syukur kepada-Nya. Karena dengan menulis semua nikmat yang dititipkan akan lebih bermakna bagi kehidupan. Terkadang terbesit dalam hati yang dalam, saya ingin menulis sampai saya merasa lelah, sampai tidak mampu lagi untuk menulis, berjuang terus menulis, karena menulis itu salah satu pengejawantahan bersyukur kepada-Nya.

Setiap syukur menjadikan nikmat bertambah. Yang jelas menulis akan menambah nikmat kekayaan sahabat, kekayaan pengetahuan, kekayaan hati, meningkatkan daya ingat dan melegakan perasaan. Kegiatan menulis adalah kendaraan untuk menemukan sesuatu, dalam makna dapat mengangkat gagasan dan informasi yang ada di alam bawah sadar pemikiran kita. Menulis dapat melatih kemampuan berpikir dan menjernihkan berbagai persepsi yang kita miliki. Bersyukur yang diwujudkan dengan terus menulis akan melahirkan konsep baru yang lebih baik.

 

 

 

 

Memilih yang Terbaik Hari Ini

  Terkadang dalam hidup ini kita tidak mendapat kesempatan kedua. Maka dari itu, bila ada pilihan untuk membuat keputusan, selalu ingat be...