Selasa, 06 Oktober 2026

Lolos dari Lubang Jarum: Drama Timnas Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026

 



Timnas Indonesia akhirnya sukses meraih trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan tim gajah Perang Thailand pada partai final. Gelar tersebut menjadi trofi yang sangat ditunggu, mengingat Indonesia cukup lama menanti kesuksesan di level senior. Data terakhir timnas senior meraih juara ASEAN pada tahun 1991, even Sea Games.

Bermain di Stadion kebanggan Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026), Indonesia dan Thailand bermain 2-2 hingga babak tambahan waktu. Skuad Garuda akhirnya menang 4-2 melalui adu penalti untuk memastikan gelar juara edisi perdana FIFA ASEAN Cup.

Ada yang menarik bila kita tengok perjalanan timnas kita sebelum merengkuh jura. Tiga kali timnas mengalami situasi yang kritis, tapi tiga kali pula timnas bisa keluar dari situasi kritis tersebut.

Yang pertama, ketika bermain dengan Malasyia. Timnas bermain dengan sepuluh orang karena Tom Haye mendapat kartu merah sebelum babak pertama berakhir, sekitar menit ke-36. Hampir-hampir timnas kalah melawan Malasyia. Namun keberuntungan masih memihak kita. Meski diserang lawan bertubi-tubi, tak satu pun gol mampu Malasyia lesakkan.

Situasi yang kedua ketika melawan Banglades. Ketika poin Indonesia dan Malasyia sama, maka tim yang masuk final harus ditentukan dari selisih banyak gol. Indonesia membutuhkan gol sebanyak-banyaknya ketika melawan Banglades. Di saat waktu tambahan babak kedua, timnas masih membutuhkan dua gol lagi. Dan, lagi-lagi Indonesia membuat “drama” mengejutkan, membuat dua gol pada penghujung laga.

Situasi kritis ketiga saat partai final semalam. Disaat babak perpanjangan waktu hanya menyisakan sepuluh menit, Indonesia justru tertinggal 2:1. Rupanya takdir juara memang milik kita. Di saat waktu pertandingan hampir habis, Baggot membuat gol penyama kedudukan. Dan kita semua tahu, saat babak adu pinalti timnas tampil elegan dan menutup pertandingan dengan status juara ASEAN. Selamat Timnas…

 

Senin, 05 Oktober 2026

Kembali Membaca, Kembali Berjaya

 



Membaca adalah perwujudan perilaku belajar. Siapa yang membaca maka ia akan mendapatkan berbagai informasi. Obyek yang dibaca tentu sesuai dengan zamannya. Bila dahulu sebatas membaca buku, kini banyak yang bisa kita berupa dokumen digital. Tapi intinya, membaca tetap salah satu jalan memeperoleh berbagai informasi dan pengetahuan.

Membaca adalah perwujudan insan terpelajar. Setiap kemampuan membaca tentu didapat dari proses panjang belajar. Sanggup atau punya kemampuan membaca bukan bawaan lahir manusia. Kebiasaan membaca merupakan salah satu ciri bila dia seorang terpelajar. Dan memang faktanya, orang yang bisa membaca tidak serta menjadi gemar membaca.

Bila kita kaitkan dengan agama, membaca merupakan perintah pertama dalam kitab suci kita. Iqro’: bacalah. Memang tidak setiap perintah dalam Quran menjadi wajib hukumnya. Tapi tentunya setiap perintah mengandung hikmah besar di baliknya. Sudah pasti, membaca memiliki manfaat yang besar bagi umat Islam, dari dahulu hingga zaman sekarang ini.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, Islam pernah mengalami masa kejayaan di bidang ilmu pengetahuan. Pada rentang tahun antara 650 –1250 M, terutama puncak Dinasti Abbasiyah dan Umayyah Andalusia. Di saat Barat belum mengenal berbagai macam pengetahuan, para ilmuwan kita telah memiliki karya-karya besar di bidang sains, filsafat, dan peradaban.

Kalau saat ini umat Islam dianggap tertinggal sangat mungkin faktornya utamanya karena kita sudah meninggalkan kebiasaan membaca. Memang kesannya sederhana, tapi bila kita kaji semua ada korelasinya. Di saat para peneliti barat sibuk dengan membaca, belajar dan terus meneliti kita umat Islam justru terlena. Dan hasilnya, pelan tapi pasti kejayaan di bidang ilmu pengetahuan bergeser ke barat. Mari kita renungkan,…

Lolos dari Lubang Jarum: Drama Timnas Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026

  Timnas Indonesia akhirnya sukses meraih trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan tim gajah Perang Thailand pada partai final. Gelar...