Sabtu, 27 November 2021

Berhati-hati Menjaga Hati



Untaian petuah mulia dari para cendekia yang mesti kita indahkan. Hati-hati dengan prasangka, hati-hati dengan kata-kata. Semua itu bisa jadi doa. Hilangkan semua prasangka buruk itu dari benak kamu. Itu sakit yang kamu ciptakan sendiri.

Ya, semua bermula dari kita sendiri. Bila menghadapi kehidupan ini dengan harapan yang baik, seolah semua akan berjalan dengan baik pula. Bila kita menganggap semua urusan serba sulit dan ruwet seakan-akan menjadi sulit semuanya. Optimistis adalah berprasangka baik terhadap Allah. Pesimistis adalah berprasangka buruk. Dan Allah menjadikan kehidupan ini sebaik prasangka kita.

Ketika hati sudah “rusak” seringkali dipertemukan dengan hal-hal yang buruk pula, walaupun di tempat yang baik. Sebaliknya niat dan hati yang baik, besar kemungkinan akan dipertemukan dengan yang baik-baik pula meski di tempat yang kurang baik.

Selalu ada sisi baik yang dilihat oleh orang yang hatinya baik. Karena yang menarik perhatiannya tentu hanya perihal yang baik saja. Semua akan kembali pada niat yang tersembunyi rapat dalam hati setiap orang.

Bagai dua orang sahabat yang berada di pantai. Yang satu mendapat dosa karena mengumbar pandangan mata dengan banyaknya aurat yang terbuka. Sementara yang satu mendapat pahala karena menjaga pandangan matanya dari yang hrm. Yang tampak di matanya hanya keagungan Allah berupa hamparan laut biru yang indah.

 

 

 

 

Jumat, 26 November 2021

GURU ABAD 21



Jangan heran bila penampilan guru sekarang banyak yang “stylish”. Guru era industri 4.0 begitu erat dengan teknologi. Hubungan dengan murid juga begitu cair, akrab seakan teman belajar di kelas. Bandingkan dengan guru tempo dulu. Guru masa lalu penampilannya banyak yang terlihat sederhana. Sosoknya berwibawa, tatapan matanya sudah cukup membuat muridnya segan.

Guru abad 21 jauh dari kesan keras. Mungkin lebih tepatnya tidak berani keras terhadap muridnya. Sudah banyak contoh yang tidak mengenakkan yang dialami guru ketika ada tindakan sedikit keras terhadap muridnya. Bukan cuma perlawanan dari orang tua siswa, bahkan sampai masuk ke ranah hukum. Isu HAM seakan menjadikan gerak guru menjadi sangat terbatas.

Sebenarnya metode keras yang diterapkan guru zaman dahulu adalah bagian dari model mendidik anak. Dan guru melakukan hal tersebut dengan terukur tidak berlebihan. Banyak yang menyamakan antara keras dengan kejam, padahal keduanya sangat berbeda.

Generasi sekarang yang menjadi guru adalah didikan guru zaman dulu. Tentu saja bukan cuma guru, politisi, pejabat negara, ilmuwan sampai profesor semuanya produk guru model kuno. Nyatanya banyak yang memiliki kompetensi luar biasa dan berprestasi di bidangnya masing-masing.

Lalu seperti apa hasil didikan guru abad 21?. Kita harus menunggu dua puluh atau tiga puluh tahun lagi. Apakah akan lebih hebat dari anak didik guru tempo dulu atau justru sebaliknya. Tentu saja kita berharap semakin mudah dan lengkapnya sarana belajar, output yang dihasilkan semakin meningkat.

 

Kamis, 25 November 2021

MEMILIH GURU



Kita tidak heran mengapa Ali Bin Abi Thalib begitu alim dan cerdas. Ya, karena beliau adalah murid Rasulullah. Sejak kecil Ali sudah dididik langsung oleh Nabi Muhammad. Ali menjadi sahabat yang terkemuka karena berguru langsung kepada Mahaguru yang sempurna, sebaik-baik manusia.

Guru tidak boleh pelit ilmu dan memilih-milih murid yang akan dia didik. Tapi bagi para pecinta ilmu, memilih guru menjadi syarat penting sebelum ia belajar. Menurut para alim yang pertama harus dilakukan seorang murid sebelum menimba ilmu adalah memilih guru melalui istikharah. Hendaknya seorang murid menimbang dan melakukan istikharah kepada Allah tentang seorang guru yang mau diambil ilmunya.

Memilih guru yang akan kita timba ilmunya itu penting mengingat peran guru yang begitu besar bagi muridnya. Guru harus memiliki akhlak yang baik karena seorang murid akan mendapatkan kebaikan perilaku (akhlak) serta adab dari gurunya. Urusan berguru memang tidak terbatas hanya sampai di dunia ini, namun akan sampai akhirat.

Dalam Islam kita dituntut mempelajari ilmu pada guru yang baik, orang-orang yang saleh. Kriteria guru yang baik bukan hanya ia yang pandai tentang banyak cabang ilmu pengetahuan. Namun guru yang baik ialah yang memiliki sanad bersambung hingga para ulama hingga ke Nabi. Ia telah sempurna mengambil ilmu dari guru-gurunya serta ia telah lama hidup bersama (mulazamah) dengan para guru-gurunya.

Kita mempelajari bagaimana dulu para sahabat Nabi hidup bersama dengan Nabi, mereka mengambil manfaat dari segenap perkataan dan perbuatan Nabi, serta mereka juga mengikuti seluruh ketetapan Nabi dalam setiap keadaan. Dan tradisi para sahabat Nabi diturunkan kepada generasi selanjutnya. Kemudian, para tabi’in juga meneladani tradisi para sahabat bersama Nabi. Sehingga, para tabi’in mampu sampai ke dalam derajat kesempurnaan dalam ilmu. Dan sepertinya saat ini model pendidikan yang ideal seperti itu hanya ada di pesantren.

 

 

 

 

 

Memilih yang Terbaik Hari Ini

  Terkadang dalam hidup ini kita tidak mendapat kesempatan kedua. Maka dari itu, bila ada pilihan untuk membuat keputusan, selalu ingat be...