Jumat, 27 Januari 2023

Meratapi Kegagalan




Terkadang, kesuksesan itu sudah sangat dekat dengan kita. Seakan tinggal selangkah lagi semua menjadi nyata. Tapi karena sebuah peristiwa atau kesalahan bisa menghancurkan semuanya.

Kegagalan sebenarnya adalah bagian dari kesuksesan itu sendiri. Lihatlah, dalam bidang apapun orang pasti mengalami kegagalan sebelum ia mencapai kesuksesannya. Seperti sebuah ungkapan yang sangat populer di telinga kita; “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”.

Kunci kesuksesan selalu bersama dengan mereka yang punya semangat dan ulet dalam berusaha. Karena itu, tidak perlu kita meratapi sebuah kegagalan. Adakalanya kesuksesan itu letaknya jauh di ujung jalan sana, setelah puluhan kegagalan yang harus dilewati.

Kita bisa mengambil contoh kisah kegagalan dan kesuksesan pada Perdana Menteri Malasyia saat ini. Sebelum menduduki kursi Perdana Menteri, ada kisah panjang perjuangan yang tanpa lelah. Hampir 25 tahun lamanya Dato Anwar Ibrahim jatuh bangun meniti karir politiknya sebagai oposisi. Dan pengapnya ruang penjara ternyata tidak membuat ia mundur dari jalan yang dipilihnya.

Dan masih banyak teladan kesuksesan dalam kehidupan ini. Tinggal mana yang akan kita pilih. Satu kali gagal dan berhenti, atau berkali-kali gagal tapi tetap optimis dan berusaha seperti jalan orang-orang yang telah sukses. Tidak dikatakan gagal bila ia bisa mengambil sebuah pelajaran. Hanya dikatakan kegagalan bila seseorang berhenti untuk menjalani proses.

 

Minggu, 22 Januari 2023

Tidak Harus Hebat, yang Penting Bermanfaat

 



Ada yang berpendapat, bahwa orang-orang yang memiliki jiwa sosial tinggi yang diwujudkan dengan sering membantu orang lain, mereka disebut memiliki kesalehan sosial. Biasanya insting menolongnya kuat sehingga ia selalu peduli dengan kesusahan orang. Sementara orang-orang yang hanya sibuk dengan ibadah pribadinya seperti salat-salat sunah, puasa, zikir maupun membaca Al-Quran disebut memiliki kesalehan pribadi.

Khoirunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Mereka yang asyik menyendiri dengan ibadahnya dalam ruang-ruang khusus dan menjauh dari pergaulan manusia bukanlah hamba terbaik. Karena bisa saja ia melakukan itu karena lari dari tanggung jawab membimbing umat.

Kesalehan tentunya tidak bisa dipisahkan antara ibadah yang khusus dengan "ibadah sosial". Kesalehan hamba ukurannya adalah baik hubungannya dengan Allah dan baik pula hubungannya dengan manusia sekitarnya. Ketika ia telah mampu menjaga hubungan baiknya dengan Allah, di sisi lain ia juga harus menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Tidak hanya sibuk mengurusi keselamatan diri sendiri, sementara banyak orang membutuhkan dia.

Sementara yang selalu berkhidmat kepada orang, seharusnya juga menjaga hubungan dengan Tuhannya. Menolong orang adalah perintah Allah, tapi ibadah salat, puasa, mengkaji Al-Quran juga perintah-Nya yang pantang diabaikan. Kesalehan hamba mencakup dua hal sekaligus, hablumminallah dan hablumminannas. Tidak akan sampai pada kesempurnaan bila hanya baik sebagian sementara buruk pada bagian lainnya.

Memang tidak mudah menjadi sebaik-baik manusia. Ketika kita hidup di tengah masyarakat, sudah pasti kita akan bersinggungan dengan segala permasalahan dunia yang rumit. Mengarungi hidup di masa akhir zaman seperti sekarang ini, teramat sulit menjaga diri dari perbuatan dosa. Namun lari dari dari kehidupan dan menyepi dari gaduhnya masyarakat juga bukan pilihan yang terbaik. Karena sudah pasti hidupnya tidak memberi manfaat bagi sesama.

*****

“Ojo Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa” (jangan merasa bisa tetapi bisa merasa) menjadi peringatan agar kita jauh dari kesombongan dan kebohongan. Sebuah nasihat yang mengajarkan untuk selalu rendah hati. Umumnya banyak orang melakukan segala sesuatu hanya mengandalkan ego secara berlebihan karena merasa diri lebih baik dari orang lain.

Merasa diri memiliki kelebihan dari orang lain cenderung akan menganggap orang lain lebih rendah. Dan ini bila dibiarkan akan menjadi benih kesombongan yang akan semakin membesar. Dan bila sudah membesar akan sulit untuk dihilangkan.

Menyadari sejak awal embrio “rumangsa bisa” dalam diri akan menghindarkan kita terjerumus dalam jurang kesombongan. Apalah yang kita miliki, apa pula kelebihan yang bisa dibanggakan. Semua hanya ilusi dan bayang-bayang semu belaka. Karena pada hakikatnya tidak ada kemampuan yang bisa dibanggakan, tidak ada orang yang benar-benar hebat di muka bumi ini.

Semua yang dikatakan milik kita adalah anugerah dan karunia-Nya. Bila kita bisa berbuat baik semata karena mendapat pertolongan Allah, lalu mengapa harus bangga dan besar kepala. Harusnya selalu menjadi pribadi yang “bisa rumangsa”.

 

Selasa, 17 Januari 2023

Bersyukur, dan Temukan Keindahannya

 



Seandainya ditanyakan kepada deretan orang-orang yang terkaya di dunia. Apakah mereka sudah merasa puas dan cukup apa yang telah dimilikinya, pasti jawabannya belum. Buktinya semakin kaya maka semakin banyak keinginannya. Semakin bertumpuk hartanya maka semakin cinta dengan dunia.

Kekayaan dunia yang melimpah sebenarnya tidak akan pernah membuat orang puas. Sudah tabiat manusia selalu ingin lebih. Seandainya dia sudah memiliki satu, maka ia menginginkan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Memang benar, tidak kenyang perut manusia dari harta benda hingga mulutnya tersumpal oleh tanah.

Kecintaan terhadap harta benda yang berlebihan sebenarnya merusak. Ini seperti yang disabdakan Rasulullah. Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.”

Harta yang banyak tak akan pernah membuat hati manusia puas bila ia tidak pernah bersyukur. Jadi yang penting bukan banyaknya tapi kemauannya untuk bersyukur. Bila bersyukur, yang sedikitpun akan terasa cukup dan memuaskan hatinya.

Orang kaya yang sejati adalah mereka yang sedikit keinginannya. Hidupnya sudah merasa serba cukup. Nikmat dari Allah selalu ia syukuri, sehingga ia lupa meminta nikmat yang lainnya. Semakin bersyukur, maka akan semakin lapang hatinya. Dalam syukur ada kedamaian dan keindahan hidup.

*****

Ketika kecil saya teringat pernah mendapat cerita tentang seorang penggali batu. Alkisah, seorang penggali batu setiap hari mencari batu di kaki gunung dengan peralatan yang sederhana. Pekerjaan menggali batu bukan pekerjaan yang mudah, tapi karena memang sudah tidak ada pilihan lain tetap saja ia kerjakan.

Suatu hari ketika cuaca panas terik dia sedang menggali dan memecah batu-batu gunung yang keras. Karena panasnya matahari begitu menyengat, dalam hati dia mengeluh. Tidak enak rasanya jadi penggali batu, setiap hari kepanasan hingga kulit legam laksana terbakar. Andai saja aku bukan manusia, dulu Tuhan menciptakan aku sebagai matahari, alangkah senangnya. Matahari ciptaan Tuhan yang hebat, besar, panas dan tidak akan terkalahkan oleh ciptaan yang lain.

Tak berselang lama mendadak cuaca redup. Matahari tertutup oleh mendung tebal hingga sinarnya tak lagi sampai ke bumi. Si penggali batu menatap ke langit seraya bergumam. Tuhan, ternyata matahari bukan makhluk-Mu yang terkuat. Lebih hebat kumpulan mendung tebal yang berarak itu. Seandainya engkau menciptakan aku sebagai mendung Tuhan, tentu akau lebih senang.

Lagi-lagi cuaca berubah terang. Kumpulan mendung hitam tersapu angin yang bertiup kencang. Si penggali batu pun terkesima. Oh, rupanya angin lebih kuat dari mendung yang tebal. Sekali berhembus, lipatan mendung yang menutup matahari kini telah sirna. Tuhan… seandainya aku adalah angin, maka aku akan menjadi ciptaan-Mu yang terkuat.

Seakan Tuhan sedang menggiring rasio si Penggali batu. Tiupan angin yang kencang yang menerpa gunung berbalik. Sekuat apapun angin yang bertiup tentu tak akan mampu menggeser gunung walau sejengkal. Kini penggali batu berubah pikiran lagi. Ia membayangkan menjadi gunung. Alangkah kuatnya gunung, karena ia tidak akan goyah walaupun diterpa angin besar.

Nalarnya terus berputar. Kali ini dia sadar, bahwa gunung bukan ciptaan terkuat. Buktinya selama ini dia bekerja mencari batu gunung. Setiap hari gunung yang dianggap kokoh dikikis oleh gancu dan palu besar yang dia bawa. Digali dan diambil batunya tanpa sedikitpun bisa melawan. Oh Tuhan, rupanya makhluk terkuat yang telah Engkau ciptakan adalah manusia. Aku tak sepantasnya mengeluh, karena serendah-rendahnya aku tetaplah lebih mulia dari ciptaan yang lain.

 

Rabu, 11 Januari 2023

Hargai, Jangan Timpakan Kesalahan Pada Mereka



Langkah timnas Indonesia di pentas Piala AFF harus terhenti di babak semifinal. Hasil ini tentu mengecewakan banyak pihak, terutama suporter setia merah putih. Setelah bermain imbang 0:0 di Jakarta, Indoneia harus mengakui keunggulan Vietnam setelah kita kalah 0:2 di kandang mereka.

Pelatih dan seluruh tim official tidak bisa disalahkan. Para pemain juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk meraih hasil yang terbaik. Hargai, jangan timpakan kesalahan pada mereka. Tidak ada yang menginginkan kekalahan, tapi kalah dan menang adalah bagian dari sebuah pertandingan yang mesti bisa diterima.

Kalau ada yang menyalahkan para pemain, silahkan mencoba turun ke lapangan dan mencoba melawan mereka. Apa benar kaki dan kepala para pengkritik sehebat mulutnya. Kalaupun tidak demikian adanya, tutup mulut dan jangan banyak bicara.

Semua punya harapan yang sama, timnas kebanggaan kita meraih gelar juara. Namun kita juga menyadari semua ada waktunya. Juara tidak bisa diraih dengan jalan pintas. Vietnam dan Thailand sudah melalui jalan panjang pembinaan sepak bola yang berkesinambungan. Dan hari ini mereka ada di level yang berbeda dengan kita.

Tak perlu meratapi kekalahan. Berbenah adalah solusi dari sebuah kegagalan. Jika masih saja kita mencari pihak yang pantas disalahkan, selamanya prestasi timnas kita hanya begini-begini saja.

 

 

Kamis, 05 Januari 2023

Sekarang, Atau Menunggu Lagi



Piala AFF Tahun 2022 telah memasuki babak semifinal. Indonesia, Vietnam, Malasyia dan Thailand akan bersaing demi meraih tropi sepak bola tertinggi di level Asia Tenggara. Dari keempat semifinalis, hanya Indonesia yang belum merasakan manisnya juara. Thailand sudah enam kali juara, Vietnam dua kali dan Malasyia satu kali juara.

Piala AFF meruakan even sepak bola negara-negara Asia Tenggara yang dimulai sejak tahun 1998. Indonesia menjadi negara yang paling banyak mengoleksi gelar runner up atau juara kedua. Sudah enam kali Indonesia lolos ke babak final, namun tak sekali pun mampu merengkuh juara.

Selalu ada yang pertama dalam hidup ini. Dan syarat untuk menjadi juara sebenarnya sudah dimiliki oleh timnas kita. Apakah tahun ini akan menjadi tahun keberuntungan timnas Garuda kita, mari kita dukung dengan penuh semangat agar mimpi menjadi juara akan menjadi kenyataan.

Bila dilihat dari skill pemain, kita tidak kalah dengan Thailand, Vietnam ataupun Malasyia. Hanya yang menjadi sorotan adalah kerja sama tim dan karakter pemain kita yang terkadang terlihat masih individual.

Dari sudut pandang pelatih, kita juga patut bangga memiliki Sin Tae Yong (STY). Pengalaman pelatih Korea tersebut bisa dikatakan sangat mumpuni karena pernah menjadi pelatih Korea Selatan di pentas piala dunia tahun 2018.

Jadi, sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk meraih gelar perdana. Sudah cukup lama kita merindukan timnas sukses mengangkat tropi kebanggaan, Piala AFF. Dan di tahun-tahun yang akan datang, mimpi kita harus lebih tinggi lagi. Menggebrak asia dan mentas di piala dunia.

 

Sabtu, 31 Desember 2022

Lembar Terakhir 2022

 



Tahun 2022 akan segera berakhir. Besok pagi kita akan menatap mentari baru 2023 dengan harapan dan impian yang akan dicapai. Tetap optimis meski banyak analis yang memprediksi tahun 2023 adalah tahun resesi ekonomi.

Akhir tahun merupakan waktu  yang tepat untuk melakukan refleksi. Apakah di tahun 2022 yang sebentar lagi berlalu, semua perencanaan telah berjalan sesuai target yang ditetapkan. Atau kita memang tidak pernah merencanakan semuanya. Kata orang hidup itu bagai air yang mengalir.

Tahun 2022 harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dan tahun 2023 yang akan segera datang harus lebih baik dari tahun 2022. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, begitu rumus hidup yang mesti kita pegang. Bila semua stagnan, artinya kita termasuk kelompok orang-orang yang rugi.

Tidak ada salahnya bila kita membuat “daftar mimpi” di tahun 2023. Mungkin saja apa yang direncanakan belum tercapai, tapi setidaknya kita telah memiliki sebuah target. Katanya, barang siapa yang tidak memiliki perencanaan, sama halnya dia telah merencanakan kegagalannya.

Semoga Allah memudahkan segala urusan kita. Tahun 2023 akan menjadi tahun terbaik dalam fase perjalanan hidup kita. Sambut pergantian tahun dengan harapan terbaik. Bukan sekadar euforia semata. Karena sebenarnya tidak ada yang layak kita rayakan dari proses pergantian masa.

 

Rabu, 28 Desember 2022

Dari Wuhan ke Wuhan Lagi

 



Masih segar dalam ingatan kita semua, di akhir tahun 2019 Virus Covid muncul pertama kali dari salah satu provinsi di China yakni Wuhan. Setelah sekian lama tidak ada khabar, kini nama Wuhan kembali menjadi sorotan.

Ya, Wuhan asal mula dari pandemi virus corona telah melaporkan lebih dari selusin kasus virus corona baru minggu ini, hal ini mendorong pihak berwenang setempat untuk mengambil tindakan serius guna pencegahan situasi yang lebih gawat.

Sementara dari sebuah sumber media pemerintah dilaporkan; di sebuah Rumah Sakit Chaoyang Beijing, sebagian besar pasien baru-baru ini adalah orang lanjut usia dan sakit kritis dengan penyakit yang mendasarinya. Jumlah pasien yang menerima perawatan darurat meningkat menjadi 450-550 per hari, dari sekitar 100 sebelumnya.

Perawat dan dokter diminta untuk bekerja sementara pekerja medis yang sakit dan pensiunan di komunitas pedesaan dipekerjakan kembali untuk membantu. Beberapa kota telah berjuang dengan kekurangan obat.

Apakah ini berita serius yang merupakan sinyal bahaya yang akan mengancam dunia kembali. Benarkah Virus Covid masih bisa merajalela, sedangkan program vaksin sudah masif dilaksanakan di seluruh dunia.

Kita sulit membayangkan bila Covid benar-benar bangkit lagi dan menyerang dunia dengan varian barunya. Semua pasti sudah kehabisan energi untuk menjalani hari-hari berat terkekang dan hidup dalam batasan yang ketat. Semoga saja situasi tidak segawat yang diberitakan.

Minggu, 25 Desember 2022

Diam Bukan Berarti Intoleran

 



Hampir setiap menjelang perayaan hari raya Natal kita selalu disuguhkan sebuah perdebatan yang terus berulang. Bagaimana hukum mengucapkan selamat Natal kepada kaum nasrani yang merayakannya.

Sebagian ulama telah berpendapat bahwa mengucapkan selamat natal itu dilarang. Dasarnya sudah sangat jelas dan tidak perlu ada penafsiran. Namun sebagaian yang lain membolehkan sebagai bentuk toleransi dalam masyarakat yang majemuk.

Berbeda dalam sebuah permasalahan itu adalah hal yang biasa dan lumrah terjadi. Namun semuanya harus dibingkai dalam keindahan, tetap saling menghargai dan tidak menyalahkan kelompok yang berbeda dengan pendapatnya.

Yang merasa bahwa mengucapkan selamat natal itu boleh dilakukan, ya silakan saja. Tidak perlu menghujat kelompok yang berpendapat sebaliknya. Karena toleransi tidak mesti dibuktikan dengan sekadar ucapan selamat.

Aneh memang. Umat Nasrani yang merayakan hari besarnya, tapi justru sebagian kita yang ribut saling mengkritik. Jangan-jangan mereka tidak pernah mempermasalahkan ucapan selamat “basa-basi” itu.

Setiap umat beragama berhak menjalankan ibadahnya dengan merdeka. Hak tersebut dijamin oleh undang-undang dasar negara kita. Toleransi maknanya membiarkan dan tidak mengganggu. Jadi jangan menganggap orang yang diam tidak mengucapkan selamat natal sebagai kelompok yang intoleran.

Jumat, 23 Desember 2022

Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak

 



Tantangan yang dihadapi anak-anak zaman sekarang sudah pasti berbeda dengan masa lalu. Konsep hidup tolong-menolong, gotong-royong dan kepedulian sosial menjadi sesuatu yang “asing” bagi anak. Anak sudah terbiasa hidup di alam individualis di mana orang cenderung acuh dengan masyarakat sekelilingnya.

Sebagai pendidik, sangat perlu kita menumbuhkan kepedulian sosial pada anak sejak dini. Bahwa kita hidup tidak sendirian dan bukan di ruang hampa yang bisa bebas berbuat apapun. Ada orang lain yang berdampingan dengan kita yang mesti kita perhatikan.

Dalam rangka Hari Amal Bhakti ke-77 Kementerian Agama RI Tahun 2023, kami melaksanakan Jumat Berkah berupa kerja bhakti dan pemberian santunan (paket sembako) kepada warga sekitar madrasah yang kurang mampu.

Sengaja kami melibatkan siswa-siswi dalam pemberian santunan. Tentu tujuan kami adalah bentuk pembelajaran. Ini adalah bentuk pengamalan empati yang tepat bagi semua siswa untuk saling membantu dan belajar lebih peduli dengan sesama, bukan terbatas pada kata-kata atau teori saja, tapi lebih ke sikap dan tindakan dimana kalian ikut terlibat meringankan beban sesama.

Sistem bermasyarakat kita akan tetap berjalan dengan baik bila masing-masing orang masih memiliki kepedulian dengan yang lain. Dan bila tidak ada lagi kepedulian terhadap sesama, maka tidak akan pernah lagi ada harmoni dalam kehidupan masyarakat.

Selasa, 20 Desember 2022

Dari Qatar Pindah ke Panggung Asia Tenggara

 



Piala Dunia 2022 di Qatar kini telah usai. Gegap-gempita pesta sepak bola sejagad yang dilaksanakan pertama kali di negara Arab tersebut berjalan sukses. Pada akhirnya, Argentina menjadi negara yang berhak membawa pulang tropi bergengsi even empat tahunan FIFA.

Harus menunggu empat tahun lagi untuk bisa menyaksikan kembali aksi-aksi bintang sepak bola dunia bersaing guna meraih gelar tertinggi dalam dunia sepak bola. Tapi bagi para suporter sejati timnas Indonesia, persaingan sebenarnya baru di mulai sore hari ini.

Ya, Piala AFF tahun 2022 memulai pertandingannya hari ini Selasa 20 Desember 2022 hingga berakhir pada 16 Januari 2023. Memang ini kompetisi yang levelnya sangat jauh bila dibanding dengan piala dunia. Namun demikian, antusias penggemar sepak bola tanah air pada Piala AFF cukup tinggi.

Piala AFF adalah arena yang realistis bagi timnas kita. Di panggung Piala AFF inilah kita memiliki peluang untuk berprestasi menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Timnas kita masih bisa bersaing dengan Thailand, Vietnam maupun Malasyia.

Harapan kita tentu tahun ini Piala AFF berhasil kita bawa ke Indonesia. Sudah enam kali timnas Indonesia nyaris menjadi juara. Sudah waktunya langganan menjadi runner up Piala AFF naik menjadi sang jawara. Dan sepertinya syarat untuk menjadi yang terbaik sudah terpenuhi saat ini. Semoga…***

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...