Senin, 08 Juli 2024

Tinta Sang Kiai: Memaknai Hidup Melalui Menulis

 



Seorang Kiai yang ramah dan menyenangkan, begitu kesan pertama yang saya rasakan ketika bertemu dengan beliau. Di saat memasuki rumah sederhana yang rapi kami disambut dengan senyuman yang hangat sambil menyapa dengan akrab seolah kami sudah lama saling mengenal. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Istiqomah Bondowoso, KH.Masruri Abdul Muhit, L.c.

Acara Kopdar Sahabat Pena Kita (SPK) ke-11 yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Istiqomah Bondowoso Sabtu 6 Juli 2024, diawali dengan ramah tamah di kediaman pengasuh pondok yakni KH.Masruri Abdul Muhit, L.c.. Sebenarnya pontren telah menyiapkan sarana penginapan berupa asrama yang mirip kamar hotel. Tapi kami tidak sempat memakai istirahat karena rombongan dari Tulungagung tiba sesaat menjelang azan Subuh.

Meski kondisi masih kelelahan, suasana akrab dan sambutan yang luar biasa dari tuan rumah menjadikan kami sangat nyaman. Kedekatan dan suasana kekeluargaan semakin terasa ketika kami dijamu sarapan sembari berbincang-bincang ringan. Tanpa terlihat canggung Bapak Kiai Masruri menemani kami sarapan sambil sesekali bercerita ihwal kegiatan pesantren yang beliau pimpin.

Dari perbincangan momen sarapan dan ngopi bersama beliau saya sedikit tahu tentang sejarah Pondok Darul Istiqomah Bondowoso. Pondok DARIS (Darul Istiqomah) berdiri pada tahun 1994 dengan santri awal 7 anak. Prinsip awal mula mendirikan pesantren adalah mengaji yang menyenangkan. Untuk menarik masyarakat, pesantren menyediakan lapangan sepak bola guna bermain. Bukan hanya santri, masyarakat sekitar pondok juga banyak yang main sepak bola di lapangan yang siapkan pesantren.

Saat ini pondok DARIS telah jauh berkembang. Aset tanah yang dimiliki kini sudah mencapai 10 hektar. Dari lahan seluas itu baru 4 hektar yang digunakan untuk fasilitas bangunan pesantren. Jumlah santri putra dan putri saat ini sudah mencapai 700 anak. Untuk melengkapi jenjang pendidikan di pesantren saat ini Kiai Masruri sedang mendesain untuk berdirinya perguruan tinggi di lingkungan pondok.

Sudah pasti, sebagai pengasuh pondok pesanteren Kiai Masruri sangat sibuk. Namun beliau tetap rajin menulis. Beliau mengaku bukan penulis yang baik, karena kebanyakan karyanya hanya sekedar cerita tentang pengalaman hidup. Tapi tekad beliau menulis terus terjaga karena beliau meyakini setiap tulisan pasti ada pembacanya. Meski mengaku bukan penulis yang baik nyatanya beliau adalah penulis yang menghasilkan milyaran rupiah. Menurut cerita beliau, pernah ada orang yang wakaf tanah satu hektar gegara tersentuh membaca buku yang beliau tulis.

Pertemuan dengan pengasuh pontren DARIS, KH.Masruri Abdul Muhit, L.c membuat saya terkesan dan merenung panjang. Sosok beliau yang bersahaja membuat saya kagum. Sebagai pengasuh pondok sebesar itu sebenarnya beliau bisa tampil serba mewah, namun justru sebaliknya. Kecintaan beliau pada dunia literasi menginspirasi kita semua, bahwa menulis adalah salah jalan agar hidup kita lebih bermakna.

Jumat, 05 Juli 2024

Kawula "Pas-pasan"

 



Tahun baru Islam 1 Muharam 1446 Hijriyah akan segera tiba. Memang tidak ada perayaan dalam menyambut tahun baru Hijriyah. Tentu sangat berbeda ketika tahun baru masehi yang berganti. Masyarakat seantero nusantara menyambut gembira datangnya tahun baru masehi sembari membuat pesta, acara konser musik, atau setidaknya bakar-bakar ayam dan ikan.

Dengan bergantinya tahun artinya semakin bertambah lagi usia kita. Meski pada hakikatnya pergantian tahun menjadikan jatah usia kita semakin berkurang. Ini harus kita sadari dan menjadi bahan renungan setiap kali menyambut tahun baru.

Setiap momen bergantinya tahun setiap itu pula saya menyadari terlalu banyak hal yang harus diperbaiki dalam hidup ini. Kualitas ibadah, sillaturrahim, membaca dan menulis maupun target-target amal lain yang belum bisa jangkau. Rasanya, meski sudah berganti tahun silih berganti tetap seperti itu-itu saja, tidak banyak peningkatan.

Memang beginilah kawula (orang biasa) yang kesalehannya hanya “Pas-pasan”. Setiap awal tahun banyak hal yang akan diperbuat ke depannya. Perencanaan bagus ini dan itu selalu diniatkan untuk dicapai. Tapi kenyataannya, banyak yang meleset dari rencana semula, tak banyak perubahan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Semoga tahun baru yang akan datang menjadi pancang peralihan. Ada perubahan yang berarti untuk layak disebut sebagai sebuah peningkatan. Meningkat naik kelas, menjadi pribadi yang lebih baik. Selamat menyongsong Tahun Baru 1446 Hijriyah.

Jumat, 28 Juni 2024

Tradisi, Persaudaraan dan Kekeluargaan

 



Bulan Dzulhijjah atau bulan Besar dalam hitungan kalender Jawa menjadi bulan yang paling sibuk bagi keluarga yang punya hajat hendak menikahkan anaknya. Tradisi mantu pada bulan Besar atau Dzulhijjah sudah berjalan sejak lampau, dan hanya masyarakat di tanah Jawa yang menggunakan pertimbangan bulan, hari atau weton ketika hendak melaksanakan pernikahan.

Ada bulan-bulan tertentu yang dianggap masyarakat Jawa paling tepat dan bagus ketika hendak menikahkan anak-anaknya, demikian pula ada bulan yang selalu dihindari. Misalnya, hingga saat kita tidak pernah melihat orang Jawa mantu pada bulan Muharam atau Sura.

Dalam masyarakat kita (Jawa) budaya tolong-menolong sudah sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula ketika ada saudara atau tetangga yang punya hajat mantu anaknya. Bukan hanya tenaga, lazimnya sanak keluarga, tetangga maupun kenalan akan memberikan sumbangan uang yang istilahnya disebut mbecek atau buwoh.

Tradisi buwoh sebenarnya bermaksud meringankan beban yang ditanggung oleh keluarga yang sedang punya hajat, namun tidak bisa dihindari pada akhirnya juga akan menjadi hal yang membebani. Buwoh bukan murni sumbangan. Kebiasaannya, semua buwoh dan bantuan tercatat dan pada waktunya harus dikembalikan.

Buwoh memang bukan hutang yang harus dibayar. Tapi masyarakat kita sudah terbiasa akan mengembalikan semua pemberian tersebut dengan nominal yang sama. Terlepas dari sisi kurangnya, buwoh juga membawa banyak manfaat. Buwoh adalah lambang persaudaraan dan mengeratkan hubungan kekeluargaan. Buwoh bisa menjadi sarana berkumpulnya keluarga besar dan menjalin sillaturrahim.

 

Rabu, 19 Juni 2024

SPK Tulungagung Semakin “Menyala”

 



Apa khabarnya para penulis Sahabat Pena Kita Tulungagung?. Dalam beberapa bulan ini aktivitas menulis di grup WhatsApp SPK semakin menurun. Wajar saja dalam selorohnya Prof.Naim menyentil dengan berkomentar ringkas, semakin “Menyala”. Semua tahu, itu bukan ungkapan pujian melainkan sebuah motivasi agar tetap menulis.

Bila dalam sebulan anggota grup tidak mengirim tulisan, maka dia akan mendapat “hadiah” tanda pentol merah. Semakin banyak tanda merah artinya semakin banyak hutang tulisan yang harus disetor. Dan ternyata, kini semakin banyak yang mengoleksi tanda merah. Hanya sebagian kecil saja teman-teman yang bersih dari warna menyala itu.

Sebenarnya ini fakta yang biasa. Di grup WA menulis yang lain kondisinya juga tidak jauh berbeda. Pada awalnya pasti banyak anggota yang semangat menulis. Lalu kemudian satu-persatu akan berhenti dan tidak pernah muncul lagi. Dan kita tidak pernah tahu apa penyebab utamanya.

Umumnya, mungkin teman-teman sudah mengalami kejenuhan. Atau kemungkinan lain, karena banyaknya kegiatan sehingga tidak sempat lagi menulis. Menulis memang memerlukan jeda. Harus ada waktu kita untuk membaca dan meresapi berbagai peristiwa. Tapi jeda jangan sampai terlalu lama, karena bila terlalu lama akan susah untuk memulai kembali.

Sebagai wadah para pecinta literasi sebenarnya SPK Tulungagung cukup serius mengembangkan potensi menulis anggotanya. Bukan hanya bimbingan via grup WA, namun sering juga ada agenda temu muka, Kopdar misalnya. Untuk agenda Kopdar pusat SPK selalu menghadirkan para penulis-penulis hebat untuk berbagi pengalaman dalam kreativitas menulis.

 

 

Sabtu, 15 Juni 2024

Ngaji, Diskusi dan Ngopi #2

 



Tidak semua orang mampu mengerjakan amal kebaikan secara istiqamah. Shalat malam dan puasa sunah misalnya, kadang dikerjakan dan kadang dalam waktu lama ditinggalkan. Demikian pula menulis, mengaji maupun ke masjid untuk shalat berjama'ah tepat waktu, dan lain-lain, bagi banyak orang masih dianggap berat.

Mungkin karena kesibukan kerja, jenuh, tidak bersemangat, dan terasa berat itulah sebenarnya yang menjadikan seseorang meninggalkan aktivitas yang dianggap baik tadi. Sekali dua kali mungkin masih terasa berat hati, tapi lama-kelamaan orang akan mudah saja meninggalkan sesuatu amal baik. Dikhawatirkan ketika sudah terbiasa, tidak ada lagi rasa menyesal meninggalkan kebiasaan baik yang telah lama diamalkan.

Sebaik-baik amal kebaikan memang yang istiqamah dikerjakan. Ini yang yang harus menjadi motivasi kita dalam beramal. Jadi meski ada rintangan maupun godaan, sekuat mungkin harus diusahakan tetap melaksanakan apa yang sudah menjadi wiridnya (kebiasaan).

Ngaji Bareng Masjid al-Ittihad malam Jumat kemarin menjadi bukti bahwa selama ada niat, amal kebaikan akan tetap dapat dilaksanakan meski ada penghalangnya. Secara mendadak listrik padam menjelang ngaji dibuka. Prof.Mujamil Qomar yang kebetulan menjadi narasumber dengan santai berujar, “Niatnya datang ke masjid kan mengaji, jadi ya harus tetap mengaji”.

Meski hanya dengan penerangan lilin ngaji bareng tetap berjalan. Tidak ada pengeras suara tidak menjadikan jamaah hilang antusias dan khidmahnya. Selama hampir dua jam ngaji berjalan “gayeng” diselingi humor khas Profesor Mujamil. Tepat sesaat kajian selesai, listrik hidup kembali. Seandainya saja malam itu kajian diliburkan dengan alasan listrik padam, mungkin lain kali akan banyak alasan untuk tidak mengaji lagi.

 

Senin, 03 Juni 2024

Bersih Desa

 



Salah satu khazanah budaya Jawa yang hingga saat ini masih dipertahankan di masyarakat pedesaan adalah upacara bersih desa. Pada mulanya sebelum agama Islam masuk, bersih desa merupakan slametan atau upacara adat masyarakat Jawa untuk memberikan sesaji yang berasal dari kewajiban setiap keluarga kepada danyang desa. 

Bersih desa dilakukan oleh masyarakat desa yang bertujuan untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu. Maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa. Dengan demikian, upacara bersih desa diadakan di makam danyang. Bersih desa juga dimaknai sebagai ungkapan syukur atas panen padi, maka upacaranya dilakukan setelah panen padi berakhir.

Bersih desa merupakan adat desa yang sudah lama dilestarikan. Bersih desa biasanya diadakan pada bulan Sela yaitu bulan ke-11 Kalender Jawa. Seluruh makanan yang ada dalam upacara bersih desa merupakan hasil sumbangan keluarga-keluarga di desa. Di berapa daerah upacara bersih desa juga dilengkapi dengan pertunjukan wayang semalam suntuk.

Pada saat ini acara bersih desa sudah mengalami beberapa perubahan karena pengaruh ajaran agama Islam. Beberapa tempat melaksanakan upacara bersih desa di masjid tidak lagi di pendopo kelurahan/desa. Adapun isinya adalah doa-doa dalam dalam ajaran agama Islam dan bacaan ayat-ayat al-Quran. Istilah bersih desa masih dipertahankan meski pada intinya adalah doa bersama pemimpin desa (Kades) beserta perangkatnya yang menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat dan sebagian warga desa.

Hari Ahad tanggal 1 Juni 2024 kemarin desa kami (Sumberdadi-Sumbergempol) menyelenggarakan bersih desa. Dalam sambutannya Kepala Desa menyampaikan bahwa kegiatan bersih desa bertujuan mendapat rahmat Allah dan dijauhkan dari segala bala musibah. Sudah menjadi agenda rutin tiap tahun desa kami mengadakan acara bersih desa. Sama halnya dengan desa yang lain, juga mengadakan acara yang sama meski caranya berbeda-beda.

Ada satu hal unik yang masih dipertahankan dalam tradisi bersih desa di tempat kami, yaitu hajatan dalam Basa Jawa. Hajatan sebenarnya menguraikan (moco ambengan). Ambengan yang telah disiapkan satu persatu disebut oleh seorang sesepuh yang bertugas kemudian makna dibalik semua (makanan) itu dijelaskan dengan Basa Jawa yang luwes. Sebuah tradisi luhur yang semestinya terus dipertahankan oleh masyarakat desa.

 

 

 

 

Jumat, 31 Mei 2024

Menjadi yang Paling Waras

 



Hidup di zaman edan
gelap jiwa bingung pikiran
turut edan hati tak tahan
jika tidak turut
batin merana dan penasaran
tertindas dan kelaparan
tapi janji Tuhan sudah pasti
seuntung apapun orang yang lupa daratan
lebih selamat orang yang menjaga kesadaran

R.Ng. Ronggowarsito (1802-1873)

Pitutur atau nasihat Ronggowarsito dalan untaian bait syair di atas sepertinya sangat cocok dengan kondisi zaman saat ini. Zaman di mana banyak manusia hidup edan atau gila. Sehat badannya, cerdas akal budinya tapi mati hati nuraninya. Itulah definisi orang sakit jiwa sesungguhnya. Orang sakit jiwa yang akan menimbulkan kerusakan tatanan kehidupan.

Banyak orang gila tapi tidak merasa gila dan tidak mau disebut gila. Padahal, banyak manusia di zaman ini sebenarnya gila. Bukan gila dalam artian sakit jiwa atau istilah sekarang disebut ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).

Betapa banyak orang yang gila harta, gila jabatan, gila penghormatan dan gila-gila yang sejenis itu. Mereka benar-benar gila, karena untuk mencapai apa yang diinginkan mampu berbuat apa saja. Ya, untuk menggapai apa yang diimpikan mereka tega mengambil hak orang, menindas yang lemah, bahkan menghancurkan kehidupan manusia yang lain.

Kehidupan dunia ini tak sepanjang angan-angan manusia. Biarlah yang gila mendapatkan apa maunya. Masih beruntung orang waras yang masih menjaga kesucian hatinya. Mereka yang tidak takut lapar dan kekurangan dalam hidupnya dan hanya percaya pada janji Tuhan-Nya serta menunggu datangnya masa kehidupan bahagia yang abadi.

Kamis, 23 Mei 2024

Kalah di Waktu yang Salah

 



Final Liga Europa musim kompetisi 2023/2024 akan menjadi kenangan teramat pahit bagi klub Jerman Bayer Leverkusen. Partai puncak kompetisi antartim eropa kasta kedua itu berakhir dengan skor 3:0 untuk kemenangan Atalanta. Tiga gol Atalanta ke gawang Leverkusen semuanya disarangkan oleh Ademola Lookman. Winger 26 tahun Nigeria itu mencetak hattrick di menit 12, 26, dan 75.

Malam Dublin menjadi malam yang fenomenal bagi Lookman dan bukan malamnya Bayer Leverkusen. Lookman tampil sensasional untuk mengakhiri catatan tak terkalahkan Leverkusen serta membawa Atalanta meraih gelar Eropa perdana mereka.

Sebelum laga final, Leverkusen sebenarnya sangat difavoritkan untuk memenangkan pertandingan. Pasalnya, Bayer Leverkusen musim ini tampil sangat perkasa. Juara baru Bundesliga itu belum sekali pun tersentuh kekalahan. Final di Dublin semalam adalah kekalahan pertama mereka.

Mengutip data dari laman berita sepak bola. Dalam 51 pertandingan di semua kompetisi, anak-anak asuh Xabi Alonso menang 42 kali dan seri sembilan kali (M42 S9 K0). Mereka juga telah mencetak total 143 gol dan hanya kebobolan 39 kali. Sebuah rekor yang fantastis dan menobatkan mereka sebagai klub terlama yang tak terkalahkan di eropa.

Bayer Leverkusen kalah di waktu yang salah. Dalam satu musim kompetisi sudah wajar apabila sebuah klub mengalami kekalahan. Manchester City, Real Madrid maupun Intermilan juga menderita kekalahan meski di akhir kompetisi mereka tetap juara. Yang patut disesalkan kekalahan Bayer Leverkusen terjadi di partai final, akibatnya gelar juara Liga Europa harus melayang jatuh di pelukan Atalanta. #Selamat Atalanta

 

Minggu, 19 Mei 2024

Ngaji, Diskusi dan Ngopi

 



Setiap orang pasti membutuhkan waktu menyegarkan diri dari padatnya kegiatan sehari-hari, karena hidup kita tentu saja tidak melulu tentang urusan pekerjaan. Ada hal-hal sederhana namun penting untuk dikerjakan. Sesibuk apa pun kita harus ada waktu untuk bertegur sapa dengan tetangga, berbincang seperlunya karena kita selama ini hidup berdampingan.

Manusia membutuhkan berkumpul dan berinteraksi. Namun bila sekadar kumpul-kumpul dan ngobrol tak tentu arahnya itu jelas membuang-buang waktu. Ini yang mendasari warga mengadakan ngaji rutin di masjid di lingkungan kami. Masjid dijadikan wadah sillaturrahmi antarwarga sekaligus tempat mencari ilmu.

Kegiatan ngaji kami laksanakan setiap malam Jumat dimulai pukul 20.00 hingga pukul 22.00 WIB. Namun demikian tidak jarang tanya jawab dan diskusi berlangsung hingga larut malam. Beberapa dosen senior UIN SATU menjadi narasumber tetap. Ada Prof.Dede Nurohman, Prof.Mujamil Qomar, Dr.Muhammad Ridho dan Prof.Abad Badruzaman (Wakil Rektor I UIN SATU Tulungagung).

Pada mulanya kajian hanya sebatas tafsir qur'an, kemudian berkembang ke tema tasawuf dan isu-isu keagamaan secara umum. Konsep mengaji di masjid lingkungan RT kami memang dibuat rileks, ngaji sambil ngopi. Bahkan tidak hanya wedang kopi, ibu-ibu tidak lupa selalu menyiapkan makanan ringan sebagai pelengkapnya. Idenya memang ngaji santai tapi tetap serius.

Sudah hampir satu tahun kegiatan kajian Islam yang kami sebut sebagai Ngaji Bareng berjalan di masjid al-Ittihad Sumberdadi-Sumbergempol. Meski jamah yang hadir tidak lebih dari dua puluhan orang namun sejauh ini bisa berjalan istiqamah. Tidak keliru bila banyak teman-teman menganggap ngaji malam Jumat bakda Isya di masjid al-Ittihad sebagai sarana refresing.  Karena kami menikmati suasana mengaji yang nyaman dan dapat menjalin silaturahim yang erat dengan para tetangga.

Senin, 13 Mei 2024

Menyongsong Peringatan Hari Buku Nasional

 



Hari Buku Nasional diperingati setiap tanggal 17 Mei tiap tahunnya. Peringatan Hari Buku Nasional pertama kali dirayakan pada tahun 2002. Ditetapkannya tanggal 17 Mei karena pada 17 Mei 1980 merupakan tanggal berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Latar belakang Peringatan Hari Buku Nasional bermula dari sebuah keprihatinan di mana minat baca di Indonesia masih tergolong rendah. Merujuk pada situs resmi Kemendikbud, hasil survei yang dilakukan dalam Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa peringkat nilai kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lainnya.

Berdasarkan data yang didapat dari situs resmi Perpustakaan UNHAN RI, UNESCO juga menyatakan bahwa minat baca Indonesia hanya 0,001%. Artinya, hanya ada 1 dari 1000 orang yang rutin membaca. Jelas, ini sangat rendah. Keprihatinan soal ini yang kemudian membuat Abdul Malik Fadjar selaku Menteri Pendidikan RI kala itu untuk menetapkan Hari Buku Nasional.

Setelah dua puluh tahun lebih kita memperingati hari Buku Nasional, tanda-tanda peningkatan minat baca di negeri kita belum juga menampakkan peningkatan yang berarti. Justru gejala semakin menurunnya minat baca tampak semakin jelas. Fenomena banyaknya toko buku yang ditutup terus berlanjut. Sepinya pembeli mengharuskan pemilik toko mengambil keputusan pahit, demi menghindari banyaknya kerugian.

Meski berat sebenarnya bukan mustahil untuk meningkatkan minat baca. Kita bersama-sama harus tetap optimis mampu melakukan pekerjaan besar ini. Masih ada komunitas-komunitas yang menekuni dunia literasi masih peduli dengan usaha meningkatkan minat baca. Gerakan ini tetap bertahan di tengah gencarnya arus media sosial yang menjauhkan orang dari buku. Tetap semangat membaca, selamat memperingati Hari Buku Nasional.

 

Sabtu, 11 Mei 2024

Kopdar SPK Tulungagung, Temu Muka Pegiat Literasi

 



Pada hari Ahad 5 Mei 2024 yang lalu, komunitas pecinta literasi SPK Tulungagung mengadakan kopdar untuk ke sekian kalinya. Bertempat di rumah Prof.Ngainun Naim, Perum BMW Madani Kavling 16 Bago Tulungagung, temu muka para pegiat literasi itu berjalan dalam suasana hangat penuh tawa.

Meski kebetulan ada acara di tempat lain yang tidak bisa saya tinggalkan, saya masih bisa menyempatkan diri untuk hadir walau sebentar. Beruntung lokasi pertemuan tidak jauh dari tempat tinggal kami, sehingga dua kegiatan penting tetap bisa saya ikuti.

Ada pengalaman unik yang saya rasakan setiap kali berkumpul dengan teman-teman SPK. Motivasi menulis akan muncul kembali. Bagai tanaman kering yang disiram air hujan kemudian kembali tumbuh segar, bersemi. Terlebih ketika mendengar pesan-pesan dari Prof.Naim, semangat untuk menekuni dunia literasi seakan menyala kembali. Atau, saya pinjam istilah dari Mas Roni, setelah jagong menjadi kobong.

Prof.Naim memang sumber inspirasi teman-teman yang cinta dunia literasi. Kata Mas Woko beliau adalah pusat Wifi yang sinyalnya sangat kuat. Dan, kami harus selalu mendekat agar tidak terputus koneksi. Ada-ada saja teman-teman SPK membuat istilah. Tapi memang semuanya tidak ada yang keliru, memang itu realitasnya.

Hanya sekitar satu jam saya bisa ngobrol santai penuh gagasan dengan komunitas SPK Tulungagung. Dengan berat hati saya harus undur diri terlebih dahulu, tidak bisa mengikuti acara sampai dengan selesai. Meski sebentar namun banyak inspirasi yang dapat saya tangkap. Satu hal yang akan selalu saya ingat, “Jangan pedulikan pendapat orang tentang apa yang kau tulis, tetaplah menulis”.

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...