Di dalam kehidupan ini sudah pasti kita akan
mengalami banyak ujian yang harus dihadapi. Tidak ada satu pun orang beriman
terlepas dari ujian keimanannya. Memang akan berbeda-beda bentuk ujian yang
diberikan Allah subhanahu wa ta’ala pada
hamba-Nya. Ujian terberat adalah ujian yang diberikan kepada para Nabi,
sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan terus sampai umat manusia yang terakhir.
Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 214:
“Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa
oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam
cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:
"Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya
pertolongan Allah itu Amat dekat.
Ketika para Rasul menjalankan tugas
dakwahnya, niscaya akan banyak ujian dan tantangan yang harus dihadapinya. Tak
satu pun Rasul yang jalan dakwahnya mulus tanpa hambatan dan beratnya cobaan
yang menghalanginya. Jalan dakwah bukan jalan indah penuh bunga warna-warni,
akan tetapi jalan terjal yang penuh onak duri. Mereka mendapat ujian dan
tantangan yang berat dalam misi dakwahnya. Bahkan kadang ujian datang dari
orang-orang lingkar terdekat para Rasul;
Nabi Nuh ujiannya adalah anak dan istrinya,
Nabi Ibrahim ujiannya adalah ayahnya,
Nabi Yusuf ujiannya adalah saudara-saudaranya,
Nabi Musa dan Isa ujiannya adalah umatnya Bani
Israel,
Nabi Muhammad ujiannya adalah pamannya,
Lantas kita sebagai umat akhir zaman, bagaimana
sikap kita ketika menerima dan menghadapi ujian kehidupan...? Allah sudah
memberi jawaban untuk menghadapi semua itu:
“Hai
orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu,
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqoroh 153).
Ibarat anak sekolah ketika hendak menghadapi
ujian, sebenarnya oleh gurunya sudah diberi tahu kisi-kisi soal dan pembahasan materinya.
Kira-kira bagaimana hasilnya? Tentu bagi murid yang taat belajar serta
mengikuti bimbingan dan petunjuk gurunya akan lulus dengan nilai yang baik.
Mungkin seperti itulah tamsil dalam kehidupan,
kita diuji dengan berbagai kesulitan hidup yang menghimpit kita, baik itu
masalah keluarga, kebutuhan hidup, suami, istri, anak, penyakit atau masalah
lainnya. Namun Allah telah memberikan konsep menghadapi ujian-Nya. Bukankah
seharusnya kita akan lulus dari semua cobaan yang ditimpakan. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menunjukkan kunci jawaban dari
semua persoalan yang diberikan-Nya, yakni senantiasa sabar dan mendirikan salat
sebagai tumpuhan meminta pertolongan-Nya.
Namun kita adalah makhluk lemah yang sering
mengeluh, sedikit bersyukur dan selalu melihat orang lain seakan lebih beruntung
dari kita. Ketika hujan kita sering mengeluh, mengapa hujan terus-menerus kapan
berhenti. Begitu panas datang kita akan mengeluh lagi, kenapa panas
berkepanjangan kapan turun hujan?
Sebuah
ilustrasi kehidupan, seorang pengusaha sukses yang sangat dikenal masyarakat.
Bisnisnya banyak dan perusahaannya ada di mana-mana. Entah berapa jumlah
karyawannya, karena dia sendiri juga tidak tahu persisnya. Anaknya ada empat dan
semua sudah menjadi orang sukses. Anak pertama dosen di sebuah universitas
ternama dengan posisi jabatan yang tinggi di kampusnya. Anak kedua seorang
dokter spesialis yang memiliki klinik terkenal. Anak ketiga seorang pengusaha
yang memiliki usaha tambang nikel di Malasyia. Yang terakhir si bungsu adalah
penerus semua usahanya, tinggal melanjutkan kesuksesan yang sudah dirintis
puluhan tahun lamanya. Dalam pandangan banyak orang pengusaha tadi adalah orang
yang sangat bahagia, tidak ada lagi cela dalam hidupnya, semua sudah sempurna
tak ada yang kurang lagi.
Namun
ternyata di masa tuanya dia hidup dalam penyesalan panjang. Masa mudanya telah
dihabiskan untuk bekerja keras mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya demi
mencapai kebahagiaan hidup. Ketika semua sudah terkumpul ternyata tidak ada
kebahagiaan yang dia rasakan. Ketika tubuh tuanya sudah mulai digerogoti berbagai
macam penyakit, anak-anaknya tidak ada yang sudi menemani, semua disibukkan
dengan urusan sendiri-sendiri. Bahkan di momen hari raya Idulfitri yang dinanti,
hanya satu anaknya yang bisa mengunjunginya. Pendidikan kerja keras yang dia
tanamkan ke anak-anaknya ketika masih kecil telah berhasil mengantarkan keempat
anaknya menjadi orang mapan dalam bidang ekonomi namun jauh dari ketaatan
beragama.
Dalam
kesepian hidup masa tua, pengusaha tadi sering melihat tetangganya yang hidup
sederhana. Ada hal yang membuat ia sangat iri dengan tetangganya tadi. Walaupun
menjalani hidup serba pas-pasan namun memiliki anak yang sholeh dan sholihah.
Anak-anak yang taat menjalankan ajaran agama. Sangat lembut tutur kata dan
perilaku semua anaknya ketika berbicara kepada orang tua, begitu patuh terhadap
kedua orang tuanya. Dalam hati pengusaha tadi mengkhayal, seandainya kehidupan
yang dia jalani bisa ditukar dengan kehidupan tetangganya yang sederhana tadi
alangkah bahagianya….
Begitulah
potret kehidupan, kita sering menilai orang lain lebih bahagia dari kita, lebih
sempurna hidupnya. Dalam masalah dunia kita sering melihat orang yang lebih
dari kiita. Namun pada hakikatnya bukankah semua memiliki sisi kelebihan dan
kekurangan masing-masing. Allah subhanahu wa
ta’ala melebihkan
dalam hal tertentu pada seorang hamba, namun bidang lain menjadi titik
kekurangannya. Memang selayaknya menumbuhkan keyakinan dan kesadaran hati,
bahwa apa yang dikaruniakan kepada kita bisa jadi lebih baik dari yang kita minta.
Semua sudah berjalan sesuai ketentuan dan keadilan-Nya. Ketika ujian mendera
menghantam dalam kehidupan, kita yakin semua sudah sesuai kadarnya. Dan sebagai
hamba yang sudah berikrar iman kepada-Nya, pastilah akan mendapat ujian hidup.