Senin, 16 November 2020

PERJUANGAN DAN PENGORBANAN

 

Setiap perjuangan pastilah membutuhkan pengorbanan. Perjuangan adalah jalan terjal, bukan jalur datar yang penuh bunga di kanan dan kirinya. Dalam perjuangan pasti ada air mata, rasa sakit dan beban berat. Dan semakin tinggi apa yang akan dicapai semakin besar pula pengorbanan yang haru diberikan. Buktinya adalah para pahlawan bangsa kita. Untuk sebuah kemerdekaan, harta benda, kepentingan pribadi bahkan jiwa dan raga pun siap dikorbankan.

“Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara. Bisa jadi kamu rasakan dalam semenit, sejam, sehari, atau setahun. Namun jika menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya.” Begitu menurut Lance Amstrong. Nama aslinya Lance Edward Gunderson lahir di Plano, Texas, Amerika Serikat, 18 September 1971, adalah pembalap sepeda profesional Amerika Serikat yang terkenal karena berhasil menjuarai Tour de France sebanyak tujuh kali berturut-turut dari 1999 hingga tahun 2005. (Data dari Wikipedia)

Tour de France adalah kejuaraan balap sepeda paling bergengsi di dunia. Kejuaraan ini merupakan balapan jalanan jarak jauh untuk pembalap sepeda profesional yang biasanya diadakan sepanjang tiga minggu pada bulan Juli di Prancis. Tour de France diadakan setiap tahun sejak tahun 1903. Tour de France diselenggarakan sepanjang 21 etape, menempuh jarak total 3.470 km. Luar biasa, Itu sama halnya dengan tiga kali panjang pulau Jawa.

Bisa kita bayangkan beratnya usaha yang harus dilakukan oleh para juara. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan fisik dan mental melebihi kebanyakan manusia normal lain. Pada dasarnya semua insan terlahir sama. Namun dalam perjalanan hidupnya, dikarenakan tempaan hidup semua akan berbeda. Bagaimana ia belajar, bagaimana ia berlatih dan bagaimana dia berpikir dan bergaul menjadikan manusia berbeda dengan yang lainnya. Akan terlihat seseorang melebihi yang lain.

Figur Lance Amstrong menjadi pelajaran bagi kita. Baginya, lebih baik berjuang dengan sekuat tenaga meski harus merasakan sakit yang mendera, mengalami luka dan pedihnya latihan yang keras. Semua itu harus diabaikan. Karena bila kita takut dengan sakitnya perjuangan, maka kita akan menjadi pesakitan selamanya.

 

Minggu, 15 November 2020

BUKU LITERASI DIRI


Literasi Diri, begitu judulnya. Sebuah buku pemberian (hadiah) dari Prof.Naim minggu lalu. Saya anggap itu salah satu barokahnya silaturrahim ke kantor beliau. Buku yang sebenarnya bukan tulisan beliau sendiri. Namun kumpulan dari beberapa penulis hebat yang dihimpun dalam buku cantik berisi 155 halaman.

Buku ini adalah kumpulan pendapat atau kesan tentang Dr.Ngainun Naim dari para penulis. Dan bukan Prof.Naim kalau tidak kreatif, semua pasti bisa menjadi buku. Dan saya sangat yakin semua testimoni dalam buku ini adalah lahir dari sebuah kejujuran. Pendapat para penulis bukan hanya sebuah pujian yang menjadi pemanis bibir semata. Sudah menjadi kebiasaan alamiah kita, selalu mengolah apa yang kita lihat, kita dengar dan kita alami dalam alam pikiran kita. Informasi-informasi yang kita input tadi akan menjadi sebuah pengetahuan baru dan begitu seterusnya.

Buku ini adalah bukti buah ketulusan dari Prof.Naim. Perjuangan dan dedikasinya di dunia literasi mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Memang ini bukan tujuan utama dari kegigihan usaha panjang menulis. Namun bagaimanapun apresiasi harus kita hargai. Ibarat petani, Prof.Naim mulai melihat bahwa apa yang ditanam dan dijaga selama ini telah berbuah manis. Proses panjang puluhan tahun telah tampak hasilnya, meski ini hanya sisi yang tampak saja. Ada yang lebih besar yang tidak terlihat oleh kita semua, kepuasan batin, kebahagiaan dan harapan ganjaran pahala dari Allah.

Ini adalah cermin bagi kita, bagi saya pribadi. Tidak ada yang instan, semua membutuhkan upaya dan kesabaran yang panjang. Jangan berharap apa yang kau usahakan kemarin, bulan lalu, hari ini sudah kau petik hasilnya. Hidup ini bukan mitos dunia dongeng yang menyajikan berbagai keajaiban. Menggosok lampu gaib, kemudian tinggal menyebutkan tiga permintaan, dan semua akan terwujud dalam hitungan detik saja. Pergulatan dan kesetiaan Prof.Naim dalam menulis adalah inspirasi nyata yang harus kita ambil sebagai pelajaran kehidupan.

Dunia ini adalah medan perjuangan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Dunia adalah ladang akhirat. Tempat menanam kebaikan yang mungkin saja hasilnya sedikit diperlihatkan di dunia ini, namun yang pasti tidak ada yang terlewatkan dari pengawasan-Nya. Kebaikan yang manisnya sudah terasa hari ini adalah hadiah kecil dari Allah sebagai karunia semata. Namun imbalan besar masih menjadi simpanan sampai masanya tiba kehidupan yang abadi nanti.

 

 

 

 

Sabtu, 14 November 2020

KAPAN HARUS SEDEKAH ?



 

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Surat Ali Imran.14)

 

Secara naluri, semua manusia memiliki kesenangan terhadap harta benda yang meliputi perhiasan, kendaraan yang bagus, hewan ternak, sawah atau ladang dan jenis kekayaan duniawi yang lainnya. Ini adalah fitrah yang dianugerahkan oleh Allah. Kecintaan terhadap keindahan dan perhiasan duniawi bukan suatu hal yang tercela, karena memang Allah menjadikan semua itu adalah bagian dari nikmat kehidupan manusia di dunia. Namun akan menjadi hina apabila kecintaan terhadap harta dunia menjadikan manusia lupa diri, serakah dan bakhil. Harta dunia hanyalah salah satu sarana mencapai kebahagiaan yang kekal di akhirat nanti.

Kita diingatkan dalam dalam salah satu ayat-Nya, Sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Karunia Allah berupa harta benda yang melimpah merupakan ujian keimanan seorang hamba. Apakah dengan harta yang dimilikinya ia menjadi lebih mendekatkan diri kepada Allah atau justru menjadikan semakin jauh. Ada kewajiban dalam harta benda titipan Allah yang kita cintai ini, yaitu mendermakan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.  Dan diantara orang-orang yang harus diperhatikan kebutuhan nafkahnya adalah, ibu bapak kita, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang sedang dalam perjalanan.

Menafkahkan harta salah satunya adalah dalam bentuk sedekah. Sedekah memiliki banyak manfaat bagi yang melakukannya. Buah sedekah akan dirasa manisnya bukan hanya dunia, namun kelak di akhirat akan menjadi simpanan kebaikan yang besar. Sedekah menyucikan diri, dengan menyedekahkan harta yang dimiliki, dosa-dosa orang yang bersedekah akan dihapuskan. Pahala menjadi berlipat ganda, terhindar dari marabahaya, memberi ketenangan hati, dan  orang-orang yang bersedekah merupakan orang yang masuk ke dalam golongan yang akan mendapatkan naungan di hari akhir. Orang yang rajin bersedekah dengan ikhlas sepanjang hidupnya akan berada di bawah naungan Allah subhanahu wa ta’ala yang menyejukkan.

Sedekah sebenarnya bukan hanya bagi yang diberi kelonggaran harta. Karena sedekah adalah amalan yang semestinya didawamkan dalam kehidupan kita. Ketika sedekah dalam kondisi keluasan harta menjadi hal biasa dan bukan suatu istimewa. Namun ketika orang mampu bersedekah sementara dia sendiri dalam keadaan sempit (kekurangan) harta itu menjadi tanda kemuliaan akhlaq seseorang. Menjadi indikasi hamba tersebut memiliki ketaqwaan yang sejati. Cintanya kepada Allah melebihi kecintaannya terhadap harta duniawi.

Kehidupan dunia tidak sepanjang angan-angan dan harapan manusia. Ada masanya kita meninggalkan semuanya. Meninggalkan harta benda yang kita kumpulkan sepanjang hidup. Harta benda yang kadang hanya kita hitung-hitung setiap waktu dan menjadi kebanggan semata. Meninggalkan semua yang kita cintai yang sebenarnya tidak ada yang abadi. Semampang masih ada kesempatan, semoga mampu mendermakan harta yang diamanahkan oleh Allah pada kita. Semoga kita tidak digolongkan orang yang menyesal karena jarang bersedekan selama hidup di dunia.

Bersedekah tidak menjadikan manusia miskin, sebaliknya hartanya akan bertambah terus dan menjadi berkah. Kebakhilan, kekikiran, pelit tidak menjadikan manusia menjadi kaya, justru itu sifat tercela yang dibenci Allah. Kebakhilan juga menjadikan manusia hina dalam pandangan sesamanya.

 


Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...