Sabtu, 03 Juli 2021

SEMAKIN RINDU SEKOLAH



Sejak pemberlakuan pembelajaran daring pada medio Maret 2020, hingga saat ini secara resmi PTM belum dibuka kembali. Bila kita hitung, sudah berjalan limabelas bulan lebih, pembelajaran moda daring bagi siswa. Tentu  semua pihak, baik sekolah, orang tua maupun siswa sudah sangat rindu dengan belajar langsung tatap muka.

Harapan untuk melaksanakan PTM sebenarnya mulai muncul dan optimis bisa terlaksana pada awal tahun pelajaran 2021-2022. Meskipun dengan pembatasan yang ketat, dan protokol kesehatan yang harus dipenuhi. Rencana PTM pada awal tahun pelajaran 2021-2022 disambut dengan gembira. Banyak lembaga pendidikan yang telah menyiapkan segala keperluan dan persyaratan PTM.

Namun, rupanya rencana PTM harus tertunda lagi. Entah kapan akan benar-benar bisa terlaksana. Karena pada hari Kamis tanggal 1 Juli 2021, Presiden RI secara resmi mengumumkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Mikro Darurat 3-20 Juli 2021. Ini merupakan langkah pemerintah dalam menanggulangi kenaikan eksponensial kasus Covid-19 di Tanah Air dalam sebulan belakangan.

Salah satu poin dalam PPKM Mikro mengintruksikan seluruh kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online/daring. Lagi-lagi pembelajaran sistem daring dipilih sebagai ganti PTM. Dan ini adalah pilihan yang sebenarnya relatif berat. Mengingat jalan panjang daring sejak tahun kemarin melahirkan banyak kendala dan problem yang tidak bisa kita anggap sederhana. Dan efektivitas pembelajaran daring juga semakin rendah.

Bagai Makan Buah Simalakama, kita berada dalam kondisi yang serba salah. Pemerintah (seperti) dihadapkan antara dua hal yang yang sulit untuk ditentukan. Memberi kesempatan PTM tentu dinilai membahayakan masyarakat, khususnya anak didik. Sementara menunda PTM dan memberlakukan pembelajaran daring juga menimbulkan banyak masalah sosial. Keinginan untuk belajar kembali di sekolah sepertinya dalam waktu dekat belum bisa terwujud. Dan semua juga idak bisa memastikan, kapan akan bisa terlaksana.  

 

 

Jumat, 02 Juli 2021

BELAJAR DARI KEHIDUPAN


Makna belajar itu tidak harus selalu dengan duduk di dalam kelas, menyimak dan memperhatikan guru atau dosen, maupun teori-teori “rumit” di buku pelajaran yang kita pelajari. Kadangkala kita banyak mengambil pelajaran langsung dari kehidupan nyata kita yang jelas spektrumnya berbeda jauh dengan apa yang kita peroleh secara formal di sekolah.

Sesungguhnya selama kita hidup di sinilah kita terus dan banyak belajar. Dalam setiap rentang waktu kehidupan selalu mengajarkan banyak hal kepada kita. Dan semua itu kita peroleh sepanjang waktu kita beraktivitas, selama kita masih bergaul, dan menjalin hubungan dengan banyak orang.

Terkadang kehidupan mengajarkan kebijaksanaan yang sejati. Sehingga tidak perlu heran bila kita menjumpai orang yang penuh kesalihan padahal sejarah hidupnya tidak pernah diisi dengan pendidikan formal yang tinggi. Dan di sisi lain kita bertemu dengan orang pandai yang tidak memiliki etika dan kesopanan yang sepadan dengan tingginya pendidikan.

Apa yang dilihat, apa yang didengar dan semua yang kita alami adalah pelajaran nyata kehidupan yang sangat berharga. Orang mengatakan pengalaman adalah guru yang berharga. Kalaulah segala pengalaman tidak menjadikan kita lebih “pandai” dengan cara apa lagi bisa mendidik dan membina kebijaksanaan.

Jalan hidup yang dilalui manusia memang tidak akan pernah sama. Namun yang pasti kita memiliki tujuan hidup yang sama. Kebahagiaan di dunia dan selamat di akhirat nanti. Dan, di kehidupan ini Allah telah menunjukkan semuanya. Jalan orang-orang yang mendapat ridha-Nya, dan kisah orang-orang yang mendapat murkanya. Tinggallah kita sendiri yang harus memilih dan meniti jalan yang harus kita tempuh.

 

 

Kamis, 01 Juli 2021

MENCARI HIDUP YANG BERARTI



Memang, ada benarnya juga apa kata banyak orang. Uang (harta) sering menjadikan hidup di dunia menjadi berarti. Dengan banyak harta hidup menjadi serba mudah. Segala apa yang dibutuhkan bisa didapatkan dengan mudah. Bukan saja urusan duniawi, namun urusan ibadah juga memerlukan biaya. Yang sering dicontohkan tentu ibadah haji. Ibadah satu ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Karena kebanyakan umat Islam belum mampu menunaikannya.

Tapi bukankah rezeki itu urusan Allah. Termasuk harta yang merupakan titipan-Nya juga diberikan sesuai dengan kadar yang telah ditetapkannya. Ibarat kita mencari air dengan wadah dan ukuran berbeda-beda, tentunya yang didapat sesuai ukuran wadah yang dibawa. Pun seandainya dipaksakan mengisi melebihi kapasitas yang dipunyai, tentu akan tumpah juga. Begitulah rahasia rezeki.

Tidak salah orang yang memiliki harta berlimpah bila ia menggunakan di jalan ketaatan kepada Allah. Celakanya, banyak yang dititipi harta merasa ia yang memiliki sepenuhnya. Dia lupa tidak pernah ada yang abadi. Cepat atau lambat hartanya juga akan diambil kembali, suka atau tidak suka. Kalau pun tidak dtinggalkan oleh hartanya, pasti dia yang akan meninggalkan semua hartanya, tidak peduli sebanyak apa yang ia simpan dan dijaga dengan baik.

Sebenarnya kemuliaan hamba bukan karena banyaknya harta yang ada di sampingnya. Banyak orang mulia, sementara dia hidup dalam suasana serba kekurangan. Sebaliknya, banyak orang berharta namun hina dalam pandangan manusia dan rendah di mata Allah karena rakus dan sifat kikirnya.

Yang lebih memprihatinkan. Ketika manusia hidup dalam kekurangan, kemiskinan dan serba sulit, ditambah lagi dia melupakan Allah. Hidupnya hanya diisi mengejar harta duniawi dengan menghalalkan segala cara, dengan hasil yang tak seberapa. Keadaannya yang begitu susah tidak menjadikan dia dekat dengan Allah, justru semakin menjauh. Terus, apalagi yang akan diharapkan, hidup di dunia menderita, di akhirat semakin sengsara.

 

Rabu, 30 Juni 2021

PERNAK PERNIK EURO #4



William Shakespeare pernah mengungkapkan: "What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet." (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi).

Nama yang melekat pada seseorang bukanlah sekadar tanda yang membedakan antara satu personal dengan personal yang lainnya. Di balik nama ada arti yang luhur. Kebanggaan dan kebahagiaan orang tuanya, atau bahkan ciri khas bangsa tertentu.

Bila kita cermati, ada yang unik dalam “pagelaran” Euro 20 kali ini. Ada beberapa negara yang menjadi pesertanya memiliki ciri yang khas yaitu nama yang memiliki banyak kesamaan. Misalnya Kroasia, nama skuad timnya banyak yang berakhiran huruf “ic”. Sebut saja, Dominik Livaković, Lovre Kalinić, Borna Barišić, Mateo Kovačić dan Luka Modrić. Beda lagi dengan negeri “Beruang Merah” Rusia. Nama-nama pemain bolanya banyak yang berakhiran huruf “v”. Dimulai dari Dmitri Barinov, Denis Cheryshev, Daler Kuzyaev, Magomed Ozdoev, Rifat Zhemaletdinov dan Yuri Zhirkov.

Masih ada Denmark dengan nama yang banyak berakhiran dengan huruf “en”. Kita mulai dari Cristian Eriksen, Andreas Christensen, Joachim Andersen, Mathias Jorgensen dan Nicolai Boilesen. Dan yang terakhir adalah kontestan dari grup D Republik Ceko. Banyak pemainnya yang yang memiliki nama berakhiran huruf “k”. Di antaranya, Antonín Barák,  Jakub Pešek, Michal Sadílek, Petr Ševčík dan Tomáš Souček.

Di negeri kita pun memiliki keragaman nama yang melambangkan dari mana asal seseorang. Kita dengan mudah akan tahu bila orang Batak Sumatera Utara, karena mereka biasa menggunakan nama marga, seperti Siregar, Nasution, Simanjutak maupun Batubara. Lain lagi nama orang Jawa zaman dahulu yang banyak berakhiran huruf “o”. Namun kini seiring perkembangan zaman, banyak nama yang tidak lagi menggambarkan ciri khas kedaerahan. Nama cenderung menjadi panjang dan lebih rumit. Tapi, apalah arti sebuah nama…..

 

 

 

 

Selasa, 29 Juni 2021

PERNAK PERNIK EURO #3



 

Tragis. Prancis secara mengejutkan kalah dari Swiss pada babak 16 Besar Euro 2020. Pada duel Selasa dini hari tadi di Arena Nationala itu, Prancis kalah pada babak adu penalti usai bermain imbang 3-3 pada waktu normal dan tambahan waktu. Swiss menang setelah Mbappe gagal melaksanakan tugasnya sebagai penendang kelima. Rupanya Euro 2020 bukan panggung terbaik untuk Kylian Mbappe. Sebab, dia tidak mampu tampil mengesankan sepanjang turnamen.

Swiss memulai pertandingan dengan permainan yang efektif dan sempat unggul lebih dulu berkat aksi Haris Seferovic pada menit ke-15. Karim Benzema sempat melambungkan asa Prancis untuk lolos ke perempat final Euro 2020. “King Karim” mencetak brace (dua gol) yang membuat Prancis unggul 2-1. Giliran Pogba mencetak gol dengan tendangan jarak jauh yang indah pada menit ke-75.

Prancis serasa di atas angin dan seakan tinggal menunggu pesta kemenangan setelah mencetak tiga gol di babak kedua, dan membuat Swiss tertinggal 1-3. Namun jelang babak kedua usai, Swiss berhasil mengejutkan Perancis. Diawali oleh gol Haris Seferovic di menit 81 berhasil memperkecil kedudukan menjadi 3-2. Petaka benar-benar menimpa Perancis. Ketika pertandingan memasuki menit 90, Swiss berhasil menyamakan kedudukan dan membuat pertandingan berlanjut ke masa extra time. Mario Gavranovic membuat tembakan indah dengan kaki kanan dari bagian tengah kotak 16 ke sudut kiri bawah. Assist oleh Granit Xhaka dengan bola terobosan. Pemenang baru bisa ditentukan dalam drama adu penalti.

Ini adalah kejutan Euro 2020 untuk kesekian kalinya. Setelah juara Eropa 2016 (Portugal) gugur, kini juara dunia 2018 menyusul pulang kandang. Turnamen yang fantastis, nama besar tidak menjamin mampu mulus melangkah ke babak selanjutnya. Di sisi lain, harapan semakin meninggi merasuki tim-tim “kecil” peserta yang lain. Tim yang secara tradisional bukan kekuatan bola, kini banyak menerkam raksasa Eropa yang sudah memiliki nama besar.

Menangis dan tertawa akan selalu beriringan dalam permainan bola. Portugal dan Perancis kini meratapi kegagalan mereka yang menyakitkan. Namun Belgia dan Swiss tersenyum dan semakin percaya diri menatap panggung berikutnya. Ayo, siapa lagi yang akan mengangis dan tertawa??.....

 

Memilih yang Terbaik Hari Ini

  Terkadang dalam hidup ini kita tidak mendapat kesempatan kedua. Maka dari itu, bila ada pilihan untuk membuat keputusan, selalu ingat be...