Jumat, 17 September 2021

MASIH ADA WAKTU



Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi tentang menghargai apa yang kita miliki. Selalu mengejar apa yang diinginkan kadang melupakan apa yang telah dimiliki. Belum tentu apa yang selalu dikejar akan lebih bernilai dari apa yang telah ada dalam genggaman.

Kehidupan ini adalah sebuah kesempatan untuk berbuat. Waktu yang diberikan harus digunakan sebaik-baiknya. Karena sekali kita terlena, pasti menyesal akibatnya. Orang bilang kesempatan tidak akan datang kedua kali. Dan memang benar, karena waktu tidak akan pernah berputar ke belakang.

Seperti apa yang disabdakan Rasulullah. “Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima hal; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kecukupanmu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa hidupmu sebelum masa kematianmu."

Satu demi satu kesempatan itu akan hilang. Usia muda akan segera berlalu. Tubuh yang kuat dan tegap akan segera menua tanpa mampu kita mencegahnya. Kesehatan, harta benda dan waktu luang juga punya masanya. Dan bahkan kehidupan juga pasti akan berakhir pula.

Betapa mulia dan berharganya waktu. Selagi kesempatan itu masih ada, segeralah berbuat dan berkarya. Karena kita sadar dan paham pentingnya memanfaatkan waktu. Mereka yang tak ingin mengabaikan sebuah kesempatan akan memakai waktunya digunakan dan dihabiskan sebagai persiapan untuk menjalani perjalanan abadi.

 

Kamis, 16 September 2021

MERASA MEMILIKI



Apa yang menjadi milik kita seutuhnya?. Harta kekayaan, ilmu, jabatan atau kekuasaan?. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang mutlak menjadi milik kita. Apakah itu harta benda, jabatan maupun segala yang melekat dalam diri kita. Bahkan tubuh yang selalu kita rawat pun bukan milik kita sepenuhnya. Karena bukan kita sendiri yang bisa menguasai dan kemampuan mengaturnya.

Apakah ada orang bisa mengendalikan tubuhnya. Menguasai sepenuhnya segala sistem kerjanya hingga urat-urat dan selnya yang begitu lembut. Mampu mengatur syaraf-syarafnya sendiri?. Oh, pasti tak akan ada seorang pun yang mampu meski dia seorang pakar kesehatan.

Bagi orang berilmu, apakah merasa semua ilmu yang dia kuasai adalah buah dari usahanya sendiri. Sekali lagi tidak. Tak ada satu pun yang kita anggap milik kita itu benar-benar menjadi milik kita. Karena semuanya hakikatnya hanya amanah yang dititipkan sementara kepada kita. Dan yang Mahakuasa sewaktu-waktu akan mengambilnya kembali tanpa harus menunggu persetujuan kita.

Ternyata kita selama ini hanya merasa memiliki saja. Bangga dengan segala atribut yang disandang, dan sering lupa diri. Bahkan nikmat bisa beribadah pun tak layak kita anggap sebagai milik kita. Karena hidayah datangnya juga dari Allah, dan Dia-lah yang membolak-balikkan hati hamba-Nya. Semua dari Allah, dan pada akhirnya kelak kepadanya kita dikembalikan.

 

Rabu, 15 September 2021

MANUSIA YANG SEMAKIN INDIVIDUALIS



Jati diri manusia yang sejatinya adalah makhluk individu dan sosial. Namun “mendadak” kita menjadi makhluk yang lebih “individu” daripada “sosial”. Padahal seharusnya ada keseimbangan antar unsur sosial maupun individu. Seperti potret masyarakat kita dahulu terutama di pedesaan memiliki nilai sosial yang tinggi dalam masyarakat.

Budaya dalam masyarakat mengharuskan kita selalu memberi ruang bagi orang lain untuk selalu berbagi. Suatu hal yang wajar dilakukan zaman dahulu tidak mungkin lagi dikerjakan hari ini.  Hal sederhana saja misalnya saja menonton tv bersama. Masyarakat kita dulu biasa menonton tv di rumah tetangga. Kini tidak akan lagi ada orang yang melakukan itu. Selain karena masing-masing keluarga sudah memiliki tv masing-masing, mendatangi rumah tetangga dengan maksud hanya menonton itu tidak lazim.

Kehidupan sekarang akan terasa lebih individual begitu seseorang memegang ponselnya. Dia seolah berada di dunia yang berbeda meski duduk dekat dengan orang banyak di sekelilingnya. Dia tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya, dan hanya terfokus pada gadgetnya.

Terlebih di masa pandemi hubungan antar individu semakin dibatasi. Kontak fisik dan kumpul dalam area yang sama semakin jarang dan ini semakin membuat orang jauh dari dunia sosialnya. Orang shalat di masjid pun harus menjaga jarak. Kini jarang kita melihat masyarakat kumpul-kumpul dengan tetangga semata untuk basa-basi ala kadarnya.

Dan yang membuat kita khawatir, semua perilaku yang individual tadi kini seakan sudah menjadi etika masyarakat yang sudah pantas. Dan seandainya benar, kita akan melihat manusia tidak lagi sebagai makhluk yang sempurna, yang memiliki unsur sosial dan individu. Akan memudar nilai tolong-menolong, kepekaan dan empati. Pada akhirnya banyak manusia hidup hanya memikirkan dan mementingkan urusannya sendiri.

 

 


Memilih yang Terbaik Hari Ini

  Terkadang dalam hidup ini kita tidak mendapat kesempatan kedua. Maka dari itu, bila ada pilihan untuk membuat keputusan, selalu ingat be...