Sabtu, 29 Januari 2022

“Orang Sukses” di Mata Bob Sadino



“Secepatnya beraksi tanpa perlu sertifikasi, orang pintar belajar keras untuk mendapatkan ijazah dan secepat mungkin melamar pekerjaan. Orang bodoh berjuang keras secepatnya mendapatkan uang, agar bisa membayar pelamar kerja.” Begitu pesan mendiang pengusaha nyentrik Bob Sadino. Sebuah nasihat yang mungkin sedikit beda dengan kebanyakan orang. Tentu idealnya orang memulai sukses dari jenjang pendidikan kemudian ke bidang pekerjaan berikutnya.

Bagi Bob Sadino kepandaian bukan garansi untuk mencapai puncak kesuksesan. Dan dia membuktikan, bahwa banyak perusahaan besar yang dimiliki oleh pengusaha sukses yang sebenarnya latar pendidikannya tidak terlalu tinggi. Bahkan kita tahu para miliarder top dunia kebanyakan “gagal” di pendidikan formalnya. Kita tidak mengatakan mereka bodoh, tapi mereka memiliki potensi yang justru tidak berkembang kalau hanya belajar di sekolah.

Gagasan orang-orang besar yang sukses jauh melampaui program pendidikan yang diterapkan di lembaga-lembaga formal. Secara pelajaran mereka seperti tertinggal dari teman-teman di sekolah. Faktanya, mereka memiliki ketertarikan yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh guru mereka.

Orang bodoh seperti apa yang disebut Bob Sadino, bukanlah orang bodoh seperti apa yang dalam bayangan banyak orang. Lebih tepatnya adalah mereka yang berpikirnya praktis tidak terlalu rumit. Mereka tipe orang yang sekali berpikir tapi bekerja seribu kali. Berbeda dengan orang yang pandai memikirkan segala hal, tapi sedikit melakukan tindakan.

Orang yang banyak kerja secara peluang akan lebih sukses daripada mereka yang terlalu banyak membuat rencana. Orang yang banyak berpikir sering tidak berbuat apa-apa. Dia terlalu takut dengan apa yang dia pikirkan. Sedangkan “Orang Bodoh” tidak banyak membuat perencanaan tapi banyak melakukan tindakan yang nyata.

 

Jumat, 28 Januari 2022

“KHOIRUNNAS”



Ada yang berpendapat, bahwa orang-orang yang memiliki jiwa sosial tinggi yang diwujudkan dengan sering membantu orang lain, mereka disebut memiliki kesalehan sosial. Biasanya insting menolongnya kuat sehingga ia selalu peduli dengan kesusahan orang. Sementara orang-orang yang hanya sibuk dengan ibadah pribadinya seperti shalat-shalat sunah, puasa, dzikir maupun membaca Al-Quran disebut memiliki kesalehan pribadi.

Khoirunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Mereka yang asyik menyendiri dengan ibadahnya dalam ruang-ruang khusus dan menjauh dari pergaulan manusia bukanlah hamba terbaik. Karena bisa saja ia melakukan itu karena lari dari tanggung jawab membimbing umat.

Kesalehan tentunya tidak bisa dipisahkan antara ibadah yang khusus dengan "ibadah" sosial. Kesalehan seorang hamba ukurannya adalah baik hubungannya dengan Allah dan baik pula hubungannya dengan manusia sekitarnya. Ketika ia telah mampu menjaga hubungan baiknya dengan Allah, di sisi lain ia juga harus menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Tidak hanya sibuk mengurusi keselamatan diri sendiri, sementara banyak orang membutuhkan pertolongannya diabaikan.

Sementara orang-orang yang selalu berkhidmat kepada orang, seharusnya juga menjaga hubungan dengan Tuhannya. Menolong orang adalah perintah Allah, tapi ibadah shalat, puasa, membaca Al-Quran juga perintah-Nya yang pantang diabaikan. Kesalehan hamba mencakup dua hal sekaligus, hablumminallah dan hablumminannas. Tidak akan sampai pada kesempurnaan bila hanya baik sebagian sementara buruk pada bagian lainnya.

Memang tidak mudah menjadi sebaik-baik manusia. Ketika kita hidup di tengah masyarakat, sudah pasti kita akan bersinggungan dengan segala permasalahan dunia yang rumit. Mengarungi hidup di masa akhir zaman seperti sekarang ini, teramat sulit menjaga diri dari perbuatan dosa. Namun lari dari dari kehidupan dan menyepi dari gaduhnya masyarakat juga bukan pilihan yang terbaik. Karena sudah pasti hidupnya tidak memberi manfaat bagi sesama.

 

Kamis, 27 Januari 2022

SUGIH TANPO BONDO #2

 



Nglurug tanpo bolo maknanya menyerbu tanpa pasukan. Ada tiga hal yang selalu didambakan banyak orang; harta, wanita dan tahta. Sejak manusia era pertama tinggal di jagat ini, yang sering menjadi sumber konflik adalah ketiga hal tersebut. Sejarah panjang pertikaian manusia tak jauh-jauh dari rebutan harta benda, wanita dan kekuasaan.

Bagi mereka yang menguasai harta, wanita dan tahta kerap digambarkan sebagai penguasa dunia sejati. Padahal, manusia sejati tidak bergantung pada apapun selain Dia yang Mahakuasa. Ketergantungan pada harta, wanita dan pengikut yang setia justru menunjukkan dia bukan siapa-siapa.

Menang tanpo ngasorake artinya menang tanpa merendahkan. Mengalahkan tapi tetap menghargai lawan. Dia tampil menjadi pemenang tanpa harus menjadikan lawannya hina. Mengalahkan tidak harus menghancurkan lawan. Pemenang yang hakiki bukan dia yang selalu mengharap pujian, karena baginya pujian dan cacian tidak ada lagi bedanya.  

Trimah mawi pasrah bermakna menerima juga pasrah. Dalam hidup ini pasti banyak yang kita harapkan. Sejak kecil kita sudah memiliki keinginan-keinginan yang diharapkan dapat tercapai atau terwujud. Tapi keterbatasan kita sebagai manusia biasa menjadikan semua serba tidak pasti. Apa yang diusahakan dengan segenap kemampuan belum tentu membawa keberhasilan. Pada titik itulah kita belajar untuk menerima dan pasrah.

Maksud dan makna yang terkandung dalam tembang “Sugih tanpo bondo” tentu hanya penciptanya (Sosrokartono) yang tahu. Kita hanya bisa menebak dan mencoba menalar arti apa yang ada di balik syairnya. Mungkin saja apa yang coba kita urai jauh dari interpretasi yang sesungguhnya. Tapi tentu ini wajar dan boleh-boleh saja. Karena ini bukanlah sebuah tafsir ayat-ayat Al-Quran yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Namun tembang (syair) ini akan tetap menjadi kekayaan (warisan) budaya yang memiliki keluhuran nilai.

 

 

 


Rabu, 26 Januari 2022

SUGIH TANPO BONDO…

 





Sugih tanpo bondo

Digdoyo tanpo aji

Nglurug tanpo bolo 

Menang tanpo ngasorake

Trimah mawi pasrah

………….

Lirik tembang di atas mungkin sudah sering kita dengarkan. Syair sederhana namun sarat dengan makna keluhuran budi. Sebuah karya Sosrokartono, pelajar pertama dari bangsa Hindia di Negeri Kompeni yang tinggal lama di eropa hingga pulang ke tanah air demi mengabdikan hidupnya untuk sesama anak negeri.

Namanya memang kalah populer dengan adiknya (RA. Kartini), tapi kiprah perjuangannya sebenarnya tidak jauh berbeda. Sama-sama memiliki peran besar bagi cikal-bakal lahirnya kemerdekaan bangsa kita. Sejak pulang ke tanah air dan menginjakkan kaki pertama di bumi pertiwi, tokoh-tokoh muda pergerakan dan anak-anak emas pada zamannya, menjadikannya guru politik dan spiritual, salah satunya Bung Karno.

Sugih tanpo bondo, artinya kaya tanpa harta. Harta yang berupa material yang dimiliki hakikatnya mudah rusak. Ada kekayaan yang lebih tinggi dari semua yang bersifat “bendawi”  yakni kekayaan yang bersifat ruhani. Ketinggian akhlaq, kasih sayang terhadap sesama dan ringan tangan dalam meringankan kesulitan orang lain akan lebih tinggi nilainya dari bermacam harta benda.

Digdoyo tanpo aji maknanya tak terkalahkan tanpa kesaktian. Kekuatan manusia bisa berupa memiki badan yang kuat. Atau sering juga orang disebut kuat karena dia memiliki kekuasaan. Dengan kekuasaannya dia bisa melakukan tindakan yang "memaksa" kepada orang lain. Tapi menundukkan secara fisik sebenarnya hal yang biasa. Ada yang lebih tinggi dari itu, yaitu kemampuan menundukkan hati orang lain. Tak perlu kekuatan fisik, karena bila hati orang sudah dikuasai ia akan menurut dengan segala apa yang kita katakan.

 

Bersambung…..

 

 

Selasa, 25 Januari 2022

“MUSIM SEMI” MENULIS




Bagai biji yang tumbuh setelah hujan pertama tiba. Semarak dan perlahan menghijau. Seperti itu gambaran semangat menulis teman-teman di grup "Ma'arif Menulis" saat ini.

Seakan bergairah kembali setelah sekian lama spirit menulis redup. Pengukuhan gelar Profesor Pak Naim membawa berkah secara langsung pada teman-teman di komunitas menulis. Barokna haulahu, berkah yang menyebar dan membangkitkan energi berkarya kembali.

Pemantiknya adalah undangan menulis (membuat) karya antologi sebagai apresiasi pengukuhan beliau (Prof.Naim) yang disambut dengan penuh antusias. Tentu banyak yang tidak ingin ketinggalan ambil bagian dalam momen penuh sejarah ini. Pastinya kami semua juga ikut merasa bangga dan bahagia dengan apa yang dicapai oleh Prof.Naim saat ini.

Kami tahu, banyak teman yang memiliki potensi menulis. Masalahnya hanya terletak pada konsistensi. Memang tidak mudah menjaga “irama” aktivitas menulis tetap konstan. Banyak hal yang menjadi alasan mengapa kita belum mampu menulis secara berkesinambungan. Yang lazim menjadi alasan mengapa banyak penulis tidak bisa rutin menggubah idenya adalah karena banyaknya aktivitas harian (sibuk).

Hari ini, aktivitas menulis di grup kembali menemukan momentumnya. Banyak yang tergerak kembali untuk berkreasi. Berserak-serak karya diunggah lagi di blog. Ide yang sempat serasa beku kini mencair kembali. Ini tentu menyenangkan. Sebagaimana dulu grup ini pernah produktif, ada harapan saat-saat itu bisa terulang.

Tapi, lagi-lagi semangat menulis akan diuji. Apakah motivasi menulis kali ini akan sebesar harapan yang dibangun. Atau jangan-jangan gairah menulis itu hanya sepintas lalu. Kemudian akan "hibernasi" kembali dalam jangka yang panjang. Biarkan waktu yang akan membuktikannya…

 

 

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...