Rabu, 09 Maret 2022

HABIS INVASI, TERBITLAH SANKSI



Sejumlah negara-negara di dunia telah menjatuhkan sanksi kepada Rusia atas tindakannya melakukan invasi ke Ukraina. Seperti kita ketahui invasi Rusia ke Ukraina sudah berlangsung sejak Kamis 24 Februari 2022 yang hingga kini masih berlanjut. Seperti “anak nakal” yang tidak mau mendengar nasihat orang tua dan gurunya, kini ia mulai dijauhi oleh teman-temannya.

Sanksi-sanksi tersebut seperti larangan investasi hingga pembekuan aset terhadap para pemimpin Rusia dan oligarki, serta penolakan akses ke bandara dan wilayah udara. Uni Eropa juga telah melarang semua perusahaan yang berbasis di wilayahnya untuk berdagang atau berinteraksi dengan Rusia di sektor teknologi.

Sanksi yang diberikan dunia bukan hanya sektor ekonomi saja, bahkan sepak bola Rusia tak luput dari sanksi. Timnas sepak bola Rusia yang dijadwalkan bermain dalam babak playoff kualifikasi pada Maret resmi dicoret dari kualifikasi Piala Dunia 2022 setelah diskors dan dilarang untuk mengikuti seluruh kompetisi internasional di bawah FIFA dan UEFA.

Timnas Rusia rencananya akan bertanding melawan Polandia pada babak semifinal playoff kualifikasi Piala Dunia pada 24 Maret, dan bila menang akan menghadapi Swedia atau Republik Ceko pada 29 Maret guna memperebutkan satu tempat putaran final di Qatar akhir tahun ini. Namun, tiga calon lawan Timnas Rusia memboikot pertandingan itu. Tak hanya itu, bahkan badan sepak bola Eropa UEFA mengakhiri kemitraannya dengan raksasa energi Rusia Gazprom, sponsor Liga Champion Eropa.

Semua tentu sudah diperhitungkan oleh Presiden Putin, apa dampak dari invasi yang dilakukan Rusia. Nyatanya Rusia tetap bergeming meski harus melawan dunia. Sanksi yang diberikan kepada Rusia sebenarnya menimbulkan sebuah pertanyaan. Bagaimana dengan Israel yang bertahun-tahun menginvasi Palestina?. Mengapa Amerika dan sekutunya hanya diam tidak berani berbuat apa-apa.

 

 

Selasa, 08 Maret 2022

MUSIM SAKIT



Dalam satu bulan terakhir ini, banyak kita jumpai orang sakit. Memang kebanyakan sakit ringan saja, seperti demam, flu maupun batuk dan pilek. Seperti juga yang kami alami, serumah juga terserang demam dan flu yang disusul dengan batuk. Begitu pula tetangga-tetangga kami, hampir semua “mengeluh” sakit yang serupa.

Rupanya tidak hanya orang-orang di lingkungan kami, di berbagai tempat (wilayah) kondisinya juga sama. Seperti sedang musim, tapi bukan musim durian yang ditunggu melainkan musim sakit.

Sebenarnya banyak yang berpikir apakah ini yang dinamakan Covid versi Omicron. Katanya varian omicron mudah menyebar meski sebenarnya tidak begitu berbahaya. Gejalanya dikatakan ringan dan mungkin hanya seperti flu biasa. Tentu dugaan ini belum tentu benar, karena tidak ada mau repot-repot tes PCR atau swab ketika sedang sakit.

Sakit dan sehat adalah dua hal yang berpasangan. Sejak dari peradaban kuno hingga kini memasuki dunia modern sakit akan tetap ada. Bahkan kini sakit lebih banyak jenisnya meski dunia kedokteran sudah dikatakan sangat canggih. Rumah sakit semakin besar dibangun, sementara pasien juga semakin bertambah banyak.

Aneh memang. Seharusnya semakin maju kemampuan orang mengobati, maka akan semakin sedikit orang yang sakit. Rumah sakit semakin sedikit karena tak banyak lagi orang pergi untuk berobat. Kenyataannya semakin banyak dokter dan obat, semakin banyak pula jenis penyakit. Wallahu a’lam…..

 

 

 

Senin, 07 Maret 2022

KUDETA GAGAL “IMAM DADAKAN”



Ketika muazin mengumandangkan iqomat, kami bergegas membuat shaf hendak melaksanakan shalat berjama’ah. Saya sedikit kaget melihat sosok asing yang berdiri di mihrab (imaman) menghadap jama’ah. Dengan penampilan rambut serta jenggot agak panjang dan pastinya itu bukan imam tetap shalat rawatib di masjid kami. Kalau dari pakaian dan sarung yang dikenakan sebenarnya bisa dikatakan rapi.

Sepertinya dia maju memang sengaja ingin menjadi imam, padahal tak satu jama’ah pun yang mengenalnya. Benar saja, ketika imam yang sebenarnya sudah mendekati mihrab, ia tetap berdiri dan berupaya mengatur shaf jama’ah. Ini tentu tidak bisa didiamkan, spontan saya maju dan “memaksa” orang aneh ini untuk mundur. Tanpa perlawanan dia mundur tepat di belakang imam dan mengikuti shalat jama’ah hingga selesai.

Rupanya, kami baru sadar “imam dadakan” yang hendak mengkudeta di masjid kami adalah orang yang menderita sakit jiwa. Apa jadinya seandainya kemarin malam kami diam saja dan membiarkan orang sakit jiwa memimpin shalat. Kejadian kemarin malam di masjid kami itu menggambarkan betapa nikmatnya memiliki jiwa yang sehat. Sebuah insiden kecil yang menyadarkan nurani untuk selalu bersyukur dan terus bersyukur karena dianugerahi kesehatan badani lebih-lebih kesehatan ruhani (jiwa).

Kesehatan menjadi salah satu nikmat besar yang harus kita syukuri. Kesehatan yang sempurna tentu yang meliputi kesehatan badani dan ruhani. Seperti kata tetangga kami, yang penting kita masih “seger waras”. Seger dimaksudkan memiliki  kesehatan tubuh. Sedangkan waras dimkanai memiliki kesehatan jiwa. Belum lengkap kalau jiwa sehat sementara tubuh menderita sakit. Atau tubuh sehat, tapi jiwanya didera sakit, ini berat juga.

Harapan semua orang pastinya ingin selalu diberi kesehatan badan dan jiwanya. Seandainya suatu hari menderita sakit dan disuruh memilih, orang tentu lebih memilih sakit tubuhnya daripada sakit jiwanya. Ketika tubuh sedang sakit tapi jiwanya sehat, mungkin tidak menjadi masalah besar. Tapi sebaliknya bila jiwa sakit, tubuh yang sehat sering menjadi tidak berarti lagi.

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...