Selasa, 12 April 2022

EFEK PUASA BAGI TUBUH



Sebagai umat Muslim kita sangat yakin bahwa ibadah puasa memiliki hikmah yang banyak. Di antara hikmah puasa adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan penurunan berat badan.

Tentu saja tidak dibenarkan seseorang puasa karena terdorong ingin sehat atau sekadar diet. Puasa adalah kewajiban yang musti dikerjakan dengan ikhlas semata mengharap ridha Allah. Sedangkan hikmah puasa adalah bonus yang pasti didapatkan oleh mereka yang mengerjakan puasa dengan benar sesuai yang disyariatkan.

Ketika sepertiga Ramadan telah dilalui, ada efek tubuh yang saya asakan. Badan terasa ringan dan segar. Berbeda ketika awal Ramadan, menjalani puasa memasuki hari ke sebelas terasa tidak berat lagi. Mungkin karena tubuh sudah terbiasa dengan pola puasa dan makan (berbuka dan sahur) dengan tertib.

Satu fakta yang saya alami sendiri, ternyata tubuh lebih nyaman dengan makan yang tidak terlalu banyak. Ketika di luar Ramadan saya bisa makan sampai tiga kali sehari dengan porsi besar, namun di bulan Ramadan selalu terbiasa dengan makan dua kali saja. Itupun di saat makan sahur porsinya sangat sedikit, sekadar memenuhi sunah ibadah puasa.

Memang nyata banyak hikmah yang terkadung dari perintah menjalankan ibadah puasa. Secara psikis dan fisik orang yang menjalankan ibadah puasa akan lebih baik dari yang tidak menjalankannya. Yang menjadi permasalahan, kita sering kesulitan mempertahankan pola makan yang baik setelah Ramadan berlalu.

 

 

 

Senin, 11 April 2022

DEMONTRASI DAN DEMOKRASI



Demontrasi atau pernyataan protes yang dikemukakan secara massal (unjuk rasa) adalah bagian dari demokrasi yang keberadaannya dilindungi oleh undang-undang. Menyampaikan pendapat secara individual maupun dengan berkelompok adalah hak yang dijamin oleh negara. Namun yang menjadi keprihatinan kita, seringnya aksi unjuk rasa berakhir dengan ricuh.

Seperti kejadian unjuk rasa di Jakarta yang terjadi pada Senin kemarin. Aksi heroik mahasiswa tercoreng dengan terjadinya tindakan penganiayaan terhadap seorang pegiat media sosial. Memang jejak digital pegiat medsos tadi banyak kontroversinya, namun penganiayaan yang menimpanya jelas menjadi peristiwa yang patut disesalkan.

Mahasiswa selama ini menjadi elemen dari masyarakat yang kritis. Kiprahnya sering mewakili suara rakyat yang lemah dan tidak mampu mengeluarkan pendapatnya. Mahasiswa serupa menjadi kaum cendekia yang tentunya sudah memiliki wawasan di atas rata-rata masyarakat kita. Dan sebagai kaum independen, kita tentunya bisa menaruh harapan mereka menyuarakan suara rakyat.

Terlepas besarnya peran mahasiswa dalam iklim demokrasi, kita juga mengkhawatirkan ekses unjuk rasa yang sering mereka lakukan. Sering terjadi demontrasi yang melibatkan massa berubah menjadi tindakan yang mengancam ketertiban dan keamanan. Tak dapat dihindari, kumpulan orang banyak akan mudah tersulut emosinya bila diprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Semua pasti ada pilihan terbaiknya. Mahasiswa tetap dapat menyuarakan suara kegelisahannya tanpa harus melanggar hukum. Tentunya ada cara untuk menyampaikan pendapat dengan tertib dan damai. Sementara aparat keamanan juga tidak perlu juga represif dengan demontrasi mahasiswa. Karena unjuk rasa adalah sebuah keniscayaan dalam sistem demokrasi.

 

 

Minggu, 10 April 2022

SAATNYA KREATIF



Masih menunggu harga minyak goreng turun di kisaran yang normal dan terjangkau?. Sepertinya akan sia-sia saja. Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sempat ditetapkan pemerintah ternyata harus dicabut atas permintaan pengusaha. Maknanya yang mengatur harga sekarang bukan lagi pemerintah. Pemerintah sampai saat ini nyatanya tidak mampu mengintervensi harga minyak goreng yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

Terus bila situasinya seperti ini, apa yang harus dilakukan masyarakat. Mengumpat, marah, demo atau diam saja. Dalam situasi sulit seharusnya kita mampu mencari solusi alternatif. Masyarakat tidak harus bergantung pada minyak goreng buatan pabrik. Zaman dahulu masyarakat kita biasa menggunakan minyak kelapa, mengapa sekarang tidak mencoba lagi. Atau, bisa juga mengolah makanan dengan teknik yang lain (tidak dogoreng). Bukankah semakin sedikit menggunakan minyak, makanan akan menjadi lebih menyehatkan.

Bila ada gerakan massa beralih ke minyak kelapa, pasti produsen minyak goreng terpaksa akan menurunkan harganya. Permintaan yang turun drastis akan merubah harga, itu hukum ekonomi yang pasti. Jadi, biarkan saja mereka (produsen) menaikkan harga karena kita juga tidak akan ambil pusing.

Sebagai rakyat kecil kita sudah terbiasa mendapat perlakuan yang kurang adil. Mengapa harga telur sangat murah sedangkan pakannya mahal, mengapa saat petani panen harga juga turun padahal ketika musim tanam mereka kesulitan dengan pupuk, dan berbagai permasalahan ekonomi lainnya.

Tapi kita sudah “lulus” dengan ujian-ujian sulit itu selama ini. Nyatanya kita tetap mampu bertahan dalam kondisi yang sulit. Masyarakat kita adalah orang-orang yang kreatif ketika menghadapi kesulitan. Tidak akan banyak mengeluh karena selama ini juga percuma saja, karena semua seolah sudah didesain, sistem ekonomi yang merugikan orang kecil dan menguntungkan mereka yang memiliki kapital besar.

 

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...