Selasa, 19 Juli 2022

Beri Erik Kesempatan

 



Erik ten Hag adalah sosok pelatih baru Manchester United. Kiprahnya yang menawan dan mampu membawa Ajak Amsterdam tampil luar biasa di liga champion telah membawa karirnya hingga ke Old Trafford. Ia menjadi tumpuhan harapan kebangkitan MU, setelah berkali-kali ganti nahkoda tapi tetap saja belum mampu mendulang prestasi.

Kurang apa dengan Erik ten Hag. Karirnya sangat cemerlang dan terkenal memiliki strategi sepak bola menyerang. Tapi bukan berarti dia pasti nyetel dengan pemain-pemain MU. Sangat mungkin di tahun pertamanya ia tidak mampu memberi gelar apa-apa, tapi itu menjadi hal yang lazim bagi seorang pelatih baru.

Jurgen Klopp pada tahun pertama melatih Liverpool juga belum mampu mempersembahkan gelar juara. Tapi karena dia mendapat kepercayaan dan kesempatan, saat ini tim asuhannya menjadi salah satu tim terbaik eropa.

Bila diberi kesempatan Erik ten Hag juga bisa sukses seperti Klopp. Tapi bila manajemen MU kurang sabar, nasibnya juga akan sama seperti Mourinho, Solkjaer, maupun Ragnick. Siapa yang mampu mengubah tim menjadi bagus dalam tempo yang singkat. Bahkan Ferguson dulu juga membutuhkan waktu untuk menyulap MU menjadi tim besar yang disegani.

Sama halnya pemilik klub, suporter MU juga harus memberi kesempatan Erik ten Hag. Dukungan penuh akan membuat dia mampu bekerja dengan baik. Tapi bila sekali atau dua kali kalah langsung dituntut mundur, bagaiaman jadinya. Sudah pasti pelatih akan bekerja dalam tekanan dan tidak mampu menjalankan pola latihan yang telah disusun. Yang penting menang, meski permainan indah ciri MU harus dikorbankan.

Senin, 18 Juli 2022

Takut Menulis

 



Menulis sebenarnya hampis sama dengan berbicara. Sama-sama mengungkapkan kata. Menulis dan berbicara tentunya juga akan memberi pengaruh terhadap orang yang membaca atau mendengar. Kata-kata yang baik akan menjadikan orang yang mendengar merasa nyaman dan tertari. Begitu pula tulisan yang baik akan berdampak baik bagi orang yang membacanya.

Karena memiliki dampak yang sama, saya selalu berhati-hati dalam menulis. Takut apabila tulisan yang saya buat menimbulkan dampak yang kurang baik bagi pembaca. Mungkin karena alasan itulah saya menghindari tema yang sensitif.

Saya lebih suka menulis tema yang ringan-ringan saja. Sebisa mungkin saya memilih kata-kata yang tidak akan menimbulkan perasaan kurang enak bagi orang yang membaca. Terlebih membicarakan keburukan orang, pasti akan saya hindari. Karena saya menyadari tidak ada seorang pun yang suka keburukannya diumbar dan disebarluaskan.

Jujur saya tidak menyukai medsos karena saya terlalu risih membaca komentar netizen yang semuanya hampir tidak lagi menimbang rasa. Kata-kata yang menusuk perasaan bahkan merendahkan martabat orang sudah menjadi hal yang biasa. Ini yang tidak akan mungkin saya lakukan.

Kata-kata yang buruk sebenarnya akan kembali kepada orang yang mengeluarkannya. Artinya kualitas orang bisa dilihat dari bagaimana ia berkata-kata atau tulisannya. Semakin buruk dan kasar maka semakin rendah kepribadiannya. Sebaliknya, semakin santun maka semakin tinggi pula akhlaqnya.

 

Minggu, 17 Juli 2022

Salah Nama



Nasib olah raga sepak bola di Indonesia kurang mentereng prestasinya. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Jangankan untuk level dunia, untuk berbicara banyak di tingkat regional ASEAN saja kita kesulitan. Sebenarnya apa yang menyebabkan sepak bola kita tidak bisa maju?. Tentu faktor permasalahannya sangat banyak, akan ada daftar panjang dari A sampai Z yang mesti diuraikan dan dicarikan solusinya.

Salah satu yang menyebabkan sepak bola kita tidak bisa maju karena kita salah menyebut nama. Bagaimana bisa, tentu ini hanya terawangan para ahli gotak gatuk matuk. Mayoritas para sejarawan berpendapat bila sepak bola berasal dari Inggris. Di sana olah raga sepak bola disebut "Football". Berasal dari dua kata foot berarti kaki dan ball artinya bola. Anehnya ketika sampai di Indonesia menjadi sepak bola bukan “bola kaki” .

Bila kita menggunakan istilah sepak bola dari kata asli football semestinya memang kurang tepat. Sepak bola dalam istilah bahasa Inggris adalah “Kickball”. Istilah ini lebih dekat dengan kick boxer, olah raga tarung tinju yang sekaligus memperbolehkan menggunakan kaki untuk menyerang lawan. Jangan-jangan sering terjadi rusuh di lapangan gara-gara cara main bola seperti main kick boxer.

Kita memang sudah biasa menyebut istilah dengan tidak tepat. Seperti air bening yang kita sebut dengan air putih. Goalkeeper kalau Indonesia menjadi penjaga gawang. Padahal bila diartikan goalkeeper itu penjaga gol. Goalkeeper adalah pemain yang tugasnya menjaga jangan sampai terjadi gol. Bukan hanya gawang yang dijaga.

Yang lebih rumit, sepak bola dalam Bahasa Jawa disebut “Bal-balan”. Kita akan kesulitan mengartikan istilah yang satu ini. Apa maksud dari kata bal-balan. Asumsi kita, mungkin maksudnya “bola-bolaan” atau main bola. Tapi bisa juga diartikan “banting-bantingan”. Jadi, urusan memberi istilah atau sebutan sesuatu ternyata tidak bisa kita sederhanakan, harus sesuai makna yang dimaksudkan.

 

 

Sabtu, 16 Juli 2022

Rugi Untung, Indonesia Keluar Dari AFF



Kekecewaan penggemar timnas Indonesia akibat tersingkir dari Piala AFF U-19 rupanya cukup mendalam. Buntutnya tuntutan untuk keluar dari AFF menggema di jagat maya. Netizen menuntut PSSI mundur dari Federasi Sepak bola Asia Tenggara (AFF), dan  memilih pindah ke Federasi Sepakbola Asia Timur (EAFF).

Regulasi FIFA memang tidak melarang sebuah negara berpindah “induk” federasi. Misalnya saja Turki. Meski sebagian besar wilayahnya berada di asia, tapi mereka bergabung ke federasi sepak bola eropa UEFA. Begitu pula Australia yang bergabung ke AFC (asia).

Lalu, apakah tuntutan “pindah rumah” dari penggemar timnas akan menjadi kenyataan?. Sepertinya itu sulit terjadi. Secara geografis tentunya bergabung ke EAFF akan merugikan Indonesia. Mobilitas timnas kita akan semakin memakan biaya yang besar karena harus terbang ke ujung timur asia bila mengikuti agenda kompetisi regional.

Belum lagi di EAFF bercokol tim-tim atas asia seperti Jepang dan Korea Selatan, tentu kita akan sulit mengimbangi mereka. Bila bersaing dengan Vietnam dan Thailand saja kita sering kewalahan, bagaiman nasib kita bila berjibaku dengan tim elit asia.

Sebenarnya ide bergabung dengan EAFF memang ada untungnya juga. Tapi kita harus bersabar dahulu untuk mewujudkannya. Tunggu sampai kita merajai asia tenggara, baru kita bergabung ke asia timur. Kita bergabung sebagai pemenang yang ingin mencari tantangan dan lawan yang lebih kuat. Namun bila memaksakan diri bergabung saat ini, kesannya kita adalah pecundang yang putus asa.

 

Jumat, 15 Juli 2022

Tidak Rendah Karena Tawadhu



Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersifat sombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk surga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad).

Jangan meremehkan bibit sombong yang ada dalam hati, karena tidak bisa masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan. Jangankan hendak masuk surga, yang sudah tinggal lama di surga (Iblis) pun harus terusir karena sombong. “Orang yang meninggal dunia, dan ketika ia meninggal itu di dalam hatinya masih ada sebesar biji sawi dari sombong, maka tidaklah halal baginya surga, tidak mencium baunya dan tidak pula melihatnya”. (HR. Ahmad).

Orang tidak menjadi mulia karena dipuja-puja, tidak pula menjadi hina karena direndahkan. Kemuliaan seseorang tidak bergantung pada penilaian sesamanya. Karena hakikat kemuliaan terletak pada kadar ketaqwaannya.

Orang yang mulia tidak pernah merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Dia tetap merasa banyak kekurangan sehingga hatinya selamat dari kesombongan. Inilah sifat tawadhu, ketundukan dan rendah hati. Memiliki sifat tawadhu berarti merasa diri kita orang biasa, sekalipun memiliki banyak kelebihan.

Tapi tidak pula tawadhu hanya sekadar di lisan, padahal tinggi hati. Ini bagian dari kesombongan yang dibungkus dengan ketawadhuan. Seakan ia merendahkan dirinya, tapi maksud sebenarnya agar orang semakin menghormatinya. Karena maksud di baliknya adalah membangun citra dirinya seakan pribadi yang tawadhu.

Sifat tawadhu tidak menjadikan seseorang rendah dalam pandangan manusia. Justru karena tawadhu menjadikan seseorang terangkat derajatnya. Sebaliknya sifat sombong tidak menjadikan seseorang semakin tinggi kewibawaannya, tetapi semakin merendahkan kepribadiannya dalam pandangan orang di sekitarnya.

 

Kamis, 14 Juli 2022

Menghargai Diri Sendiri



Terkadang, kita merasa kecewa dengan diri sendiri. Merasa diri tidak mampu berbuat yang lebih baik dari yang diharap dan diangankan. Sebenarnya ini hal yang wajar terjadi pada setiap orang. Sering, kita menggunakan ukuran orang lain dan mencoba menerapkan pada diri sendiri.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa yang dilakukan orang mudah, kadang sulit kita kerjakan. Sebaliknya, apa yang kita kerjakan dengan mudah, menurut orang lain itu adalah hal yang sulit. Tidak perlu harus menjadi “orang lain” untuk dianggap sebagai orang sukses. Cukuplah menjadi diri sendiri dengan segala keterbatasan kita. Karena kita tidak akan dituntut melebihi apa yang kita mampu.

Menghargai diri sendiri itu mutlak diperlukan. Ketika segala upaya telah dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hasil apapun harus diterima. Jangan mengukur baju dengan ukuran orang lain, pasti tidak akan presisi. Jangan memaksa diri tampil sempurna seperti orang lain, karena potensi kita memang berbeda-beda.

Menghargai diri sendiri mungkin lebih tepatnnya diartikan dengan menyukuri segala yang telah diberikan oleh Allah. Bila kita memiliki satu keranjang, tidak perlu iri dengan orang yang memiliki satu gudang. Semua sudah ditakar oleh yang Maha pencipta. Tak guna merasa bersedih karena merasa lemah dan tidak banyak memberi arti dalam kehidupan ini.

Tidak perlu menunggu besar untuk berbuat kebaikan. Kebaikan tidak diukur dari besar dan kecilnya, tapi dari kemurnian niat dan keikhlasannya. Karena, biarpun hanya seebutir biji, dalam pandangan seekor semut tentu besar.

 

Rabu, 13 Juli 2022

"Kutukan" Sepak Bola Gajah?

 



Nasib Vietnam dan Thailand ternyata tidah jauh beda dengan Indonesia. Keduanya gugur pada semifinal Piala AFF U-19. Ini sebuah kejutan. Vietnam dan Thailand sebenarnya lebih diunggulkan untuk maju ke babak final, tapi rupanya keberuntungan tidak berpihak kepada mereka.

Siapa yang menyangka Laos bisa menumbangkan Thailand. Mereka (Laos) membuat sejarah penting. Bagaikan “mission imposible” bisa menumbangkan Thailand, tapi mereka telah melakukannya dengan luar biasa dan dengan skor yang meyakinkan 2:0. Vietnam sendiri juga dibuat tidak berkutik saat bersua Malasyia, merela takluk dengan skor telak 3:0.

Hasil partai semifinal ini seakan menjadi penghibur luka bagi pecinta timnas Indonesia. Publik pecinta timnas Garuda tentu sangat kecewa ketika Thailand dan Vietnam memilih bermain aman ketika pertandingan terakhir penyisihan grup kemarin. Karena pertandingan itu menjadi penyebab tersingkirnya Indonesia. Walau secara regulasi itu bisa dibenarkan, tetapi jelas menciderai falsafah olah raga fair play.

Hasil semifinal yang diluar dugaan. Kedua tim unggulan tereliminasi oleh tim yang dipandang sebelah mata. Kini Thailand dan Vietnam merasakan sakit yang sama, kandas di saat selangkah lagi mencapai babak final. Tak heran bila masyarakat kita menghubungkan kegagalan mereka sebagai "kutukan" akibat memainkan sepak bola gajah. Tentu itu sekadar mencari pelampiasan kekecewaan semata.

Yang patut menjadi pelajaran bagi kita sebenarnya adalah sportivitas dan permainan yang adil. Kita harus mengakui kelebihan dan menghormati lawan ketika dikalahkan. Tapi di sisi lain, tidak dibenarkan pula menggunakan cara yang curang untuk mengalahkan lawan.

Selasa, 12 Juli 2022

“Kembang-Kempis” Semangat Menulis

 



Pada akhirnya waktu akan menguji sebuah komitmen menulis. Semangat menulis yang pada awalnya menyala, kini lambat laun meredup. Sebenarnya tidak ada yang salah. Itu adalah hal yang lazim dan lumrah terjadi.

Semua ada tren dan masanya. Dulu orang ramai berburu batu akik. Serba-serbi, yang tua dan muda semua mengoleksi berbagai jenis batu. Harga batu pun menanjak tajam mengikuti permintaan. Tak berselang lama, tren batu akik menurun dan terus menurun drastis. Kini batu akik hanya dikoleksi oleh mereka yang benar-benar pecinta batu sejati.

Pada saat awal pandemi kemarin, tren baru muncul. Banyak orang mendadak menjadi pecinta tanaman dan ikan hias. Berbagai jenis tanaman hias laku keras di pasaran. Bahkan tanaman-tanaman liar pun mendadak diminati. Begitu pula ikan hias. Tapi kini semua berakhir. Tanaman dan ikan hias tiba-tiba tidak diburu oleh pecintanya.

Jangan-jangan nasib dunia menulis juga demikian pula. Ada saatnya aktivitas menulis menjadi tren dan digemari, tapi selanjutnya ditinggalkan kembali. Gerakan membaca dan menulis hanya selingan diantara padatnya kegiatan utama, bukan sesuatu yang diutamakan.

Seleksi alam akan terus berlangsung. Apakah kecintaan membaca dan menulis sekadar tren atau memang sudah menjadi pasion. Bila hanya mengikuti tren, percayalah itu akan segera berakhir. Tapi bila memang ada kecintaan yang mendalam, ia akan tetap lestrai dan terjaga hingka masa yang panjang.

 

Memilih yang Terbaik Hari Ini

  Terkadang dalam hidup ini kita tidak mendapat kesempatan kedua. Maka dari itu, bila ada pilihan untuk membuat keputusan, selalu ingat be...