Jumat, 03 Februari 2023

Menulis dan Membaca Sendiri

 



Aktivitas menulis di grup atau komunitas menulis semakin hari kian menurun intensitasnya. Ini sebenarnya wajar terjadi dan sudah bisa diprediksi sebelumnya. Dalam sebuah grup menulis, kini hanya tinggal beberapa penulis yang masih aktif dan setia membuat karya meski semakin sepi juga yang membaca.

Tidak aneh bila aktivitas menulis sedikit penggemarnya. Tidak banyak orang yang menjadikan menulis sebagai minat yang menyenangkan. Umumnya orang akan menganggap menulis itu pekerjaan sulit dan sedikit membosankan.

Grup menulis yang dibentuk karena dilandasi niat ingin mengembangkan literasi kini seperti telah kehilangan gairahnya. Tinggal hitungan jari anggota yang masih memiliki sisa semangat untuk terus menulis. Ya, seharusnya tetap menulis meski apa yang ditulis tidak lagi banyak yang membaca.

Penulis itu mestinya juga seorang pembaca. Kalau tulisan yang dibuat kini tidak ada lagi yang membaca, setidaknya dia sendiri yang akan membacanya. Sebuah proses belajar sudah pasti penuh dengan hambatan. Dan hanya mereka yang sabar dan mampu bertahan yang akan sampai pada tujuan yang diidamkan.

Tidak ada yang salah dengan selalu membaca tulisan sendiri. Dengan cara itu kita akan semakin mengerti sisi kurang yang harus diperbaiki. Jadi, tidak masalah bila kita menulis dan harus membaca sendiri. Tetap semangat menulis…

 

Kamis, 02 Februari 2023

Jaga Lisan, Selamat Badan



Salah satu tanda kualitas keimanan seorang muslim adalah mampu menjaga lisannya dari perkataan yang menimbulkan dosa. Lisannya tidak sembarangan bertutur-kata, karena terpeleset lisan sering menimbulkan dampak yang lebih buruk daripada terpeleset kaki.

Bahkan Rasulullah pernah bersabda; "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)" (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Saat ini sudah menjadi sebuah kelaziman orang berinteraksi dengan individu lain menggunakan media sosial, apakah itu Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp maupun yang lainnya. Apa yang ditulis dalam platform media sosial tersebut sebenarnya hukumnya sama dengan apa yang dikatakan melalui lisan.

Bila yang disampaikan baik, tentu akan mendapatkan balasan yang baik (pahala) dari Allah. Namun bila media sosial isinya hanya keburukan seperti; ghibah yang menyebabkan pertengkaran, membuka rahasia orang lain, banyak komentar yang akan menimbulkan permusuhan antarkelompok dan golongan, menyebar berita bohong (hoaks) bahkan fitnah, senda gurau dengan memperolok-olok orang lain maka itu semua adalah bagian dari keburukan lisan.

Jangan pernah menganggap remeh dengan dosa lisan. Karena Allah memberi peringatan keras tentang lisan yang tidak terjaga. Lisan yang pekerjaannya menebar keburukan dan selalu mencela orang lain.

Dalam Surat Al-Hujurat ayat 12, Allah berfirman; Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Karena media sosial adalah kepanjangan dari lisan seseorang, maka setiap akibat darinya sama dengan apa yang lisan katakan. Bahkan dengan kemampuan jangkauan yang begitu luas dampak buruknya tentu lebih besar dari perkataan lisan secara langsung. Tentu kita tidak ingin celaka hanya karena tidak bisa mengendalikan lisan. Sudah banyak contoh dalam kehidupan ini, orang tergelincir karena tidak mampu mengekang lisannya. Dan ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (HR. al-Bukhari).

Yang lebih utama adalah selalu meneliti keburukan diri sendiri daripada selalu mencari keburukan dan kesalahan orang lain. Karena bila kita jujur akan selalu ada kekurangan dan keburukan kita. Dengan introspeksi akan selalu ada usaha untuk membenahi kekurangan dan tidak tertarik meneliti kesalahan orang lain.

Allah telah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 11: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik”.

Memang lidah atau lisan kita hanya kecil, namun bisa menimbulkan bahaya yang sangat besar. Seperti falsafah para leluhur kita zaman dahulu; “Ajining diri saka lathi, Ajining raga saka busana”,  kehormatan diri atau harga diri bergantung dari tutur kata. Sikap luhur terbentuk karena pribadi yang selalu berhati-hati dalam berkata. Lidahnya di belakang hati, artinya berpikir dahulu baru berkata-kata.

Seseorang yang perkataannya baik, menepati janji, memiliki unggah-ungguh dan menghargai orang lain akan memiliki kehormatan dalam pandangan orang. Sebaliknya tutur kata yang jelek dan kasar akan menjadikan orang kurang mendapat respek. Demikian pula kehormatan badan kita terletak dari pakaian yang dikenakan. Penampilan yang baik adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Tampilan fisik yang bersih dan rapi secara umum adalah gambaran kepribadian yang baik.

 


 

 

 

 

Senin, 30 Januari 2023

CR7, Olahragawan Termahal Dunia

 



Di luar dugaan, megabintang sepak bola asal Portugal Cristiano Ronaldo akhirnya resmi berlabuh ke klub kaya peserta Liga Arab Saudi, Al Nassr. Bergabungnya CR7 (julukan Ronaldo) menjadi kejutan besar bagi para penggemar setianya.

Level permainan CR7 sebenarnya masih sangat layak untuk bermain di eropa. Meski usianya sudah tidak muda lagi, tapi Ronaldo membuktikan masih bisa bersaing dengan bintang-bintang sepak bola benua biru.

Tak bisa dipungkiri lagi, alasan kepindahan CR7 hanya karena alasan uang. Ronaldo mendapat gaji yang fantastis di klub barunya saat ini. Menurut sebuah sumber, CR7 akan menerima gaji mendekati angka 200 juta euro atau sekitar Rp 3,3 triliun per tahun.

Belum pernah ada pemain sepak bola manapun yang menerima gaji sebesar Ronaldo. Pendapatan Ronaldo di Al Nassr bila dirata-rata adalah 9,6 miliar per hari. Tak berlebihan bila CR7 kini diumpamakan sebagai mesin pencetak uang dan menjadi olahragawan termahal di dunia.

Pilihan Ronaldo ke Liga Arab Saudi dan bergabung dengan klub Al Nassr memang menguntungkan secara finansial, tetapi dari dari sisi karier pemain profesional jelas menurun. Alasannya liga sepak bola asia kualitasnya jauh lebih rendah dari eropa.

Disinyalir, kontrak Ronaldo Al Nassr durasinya kurang dari tiga tahun. Artinya tidak banyak lagi waktu yang tersisa bagi CR7 untuk merumput di lapangan hijau. Bisa jadi Al Nassr akan menjadi klub terakhirnya. Selanjutnya CR7 akan pensiun dan sukses mengumpulkan pundi-pundi uang yang berlimpah. Ini akan menjadi akhir manis CR7 di dunia sepak bola…

Jumat, 27 Januari 2023

Meratapi Kegagalan




Terkadang, kesuksesan itu sudah sangat dekat dengan kita. Seakan tinggal selangkah lagi semua menjadi nyata. Tapi karena sebuah peristiwa atau kesalahan bisa menghancurkan semuanya.

Kegagalan sebenarnya adalah bagian dari kesuksesan itu sendiri. Lihatlah, dalam bidang apapun orang pasti mengalami kegagalan sebelum ia mencapai kesuksesannya. Seperti sebuah ungkapan yang sangat populer di telinga kita; “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”.

Kunci kesuksesan selalu bersama dengan mereka yang punya semangat dan ulet dalam berusaha. Karena itu, tidak perlu kita meratapi sebuah kegagalan. Adakalanya kesuksesan itu letaknya jauh di ujung jalan sana, setelah puluhan kegagalan yang harus dilewati.

Kita bisa mengambil contoh kisah kegagalan dan kesuksesan pada Perdana Menteri Malasyia saat ini. Sebelum menduduki kursi Perdana Menteri, ada kisah panjang perjuangan yang tanpa lelah. Hampir 25 tahun lamanya Dato Anwar Ibrahim jatuh bangun meniti karir politiknya sebagai oposisi. Dan pengapnya ruang penjara ternyata tidak membuat ia mundur dari jalan yang dipilihnya.

Dan masih banyak teladan kesuksesan dalam kehidupan ini. Tinggal mana yang akan kita pilih. Satu kali gagal dan berhenti, atau berkali-kali gagal tapi tetap optimis dan berusaha seperti jalan orang-orang yang telah sukses. Tidak dikatakan gagal bila ia bisa mengambil sebuah pelajaran. Hanya dikatakan kegagalan bila seseorang berhenti untuk menjalani proses.

 

Minggu, 22 Januari 2023

Tidak Harus Hebat, yang Penting Bermanfaat

 



Ada yang berpendapat, bahwa orang-orang yang memiliki jiwa sosial tinggi yang diwujudkan dengan sering membantu orang lain, mereka disebut memiliki kesalehan sosial. Biasanya insting menolongnya kuat sehingga ia selalu peduli dengan kesusahan orang. Sementara orang-orang yang hanya sibuk dengan ibadah pribadinya seperti salat-salat sunah, puasa, zikir maupun membaca Al-Quran disebut memiliki kesalehan pribadi.

Khoirunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Mereka yang asyik menyendiri dengan ibadahnya dalam ruang-ruang khusus dan menjauh dari pergaulan manusia bukanlah hamba terbaik. Karena bisa saja ia melakukan itu karena lari dari tanggung jawab membimbing umat.

Kesalehan tentunya tidak bisa dipisahkan antara ibadah yang khusus dengan "ibadah sosial". Kesalehan hamba ukurannya adalah baik hubungannya dengan Allah dan baik pula hubungannya dengan manusia sekitarnya. Ketika ia telah mampu menjaga hubungan baiknya dengan Allah, di sisi lain ia juga harus menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Tidak hanya sibuk mengurusi keselamatan diri sendiri, sementara banyak orang membutuhkan dia.

Sementara yang selalu berkhidmat kepada orang, seharusnya juga menjaga hubungan dengan Tuhannya. Menolong orang adalah perintah Allah, tapi ibadah salat, puasa, mengkaji Al-Quran juga perintah-Nya yang pantang diabaikan. Kesalehan hamba mencakup dua hal sekaligus, hablumminallah dan hablumminannas. Tidak akan sampai pada kesempurnaan bila hanya baik sebagian sementara buruk pada bagian lainnya.

Memang tidak mudah menjadi sebaik-baik manusia. Ketika kita hidup di tengah masyarakat, sudah pasti kita akan bersinggungan dengan segala permasalahan dunia yang rumit. Mengarungi hidup di masa akhir zaman seperti sekarang ini, teramat sulit menjaga diri dari perbuatan dosa. Namun lari dari dari kehidupan dan menyepi dari gaduhnya masyarakat juga bukan pilihan yang terbaik. Karena sudah pasti hidupnya tidak memberi manfaat bagi sesama.

*****

“Ojo Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa” (jangan merasa bisa tetapi bisa merasa) menjadi peringatan agar kita jauh dari kesombongan dan kebohongan. Sebuah nasihat yang mengajarkan untuk selalu rendah hati. Umumnya banyak orang melakukan segala sesuatu hanya mengandalkan ego secara berlebihan karena merasa diri lebih baik dari orang lain.

Merasa diri memiliki kelebihan dari orang lain cenderung akan menganggap orang lain lebih rendah. Dan ini bila dibiarkan akan menjadi benih kesombongan yang akan semakin membesar. Dan bila sudah membesar akan sulit untuk dihilangkan.

Menyadari sejak awal embrio “rumangsa bisa” dalam diri akan menghindarkan kita terjerumus dalam jurang kesombongan. Apalah yang kita miliki, apa pula kelebihan yang bisa dibanggakan. Semua hanya ilusi dan bayang-bayang semu belaka. Karena pada hakikatnya tidak ada kemampuan yang bisa dibanggakan, tidak ada orang yang benar-benar hebat di muka bumi ini.

Semua yang dikatakan milik kita adalah anugerah dan karunia-Nya. Bila kita bisa berbuat baik semata karena mendapat pertolongan Allah, lalu mengapa harus bangga dan besar kepala. Harusnya selalu menjadi pribadi yang “bisa rumangsa”.

 

Selasa, 17 Januari 2023

Bersyukur, dan Temukan Keindahannya

 



Seandainya ditanyakan kepada deretan orang-orang yang terkaya di dunia. Apakah mereka sudah merasa puas dan cukup apa yang telah dimilikinya, pasti jawabannya belum. Buktinya semakin kaya maka semakin banyak keinginannya. Semakin bertumpuk hartanya maka semakin cinta dengan dunia.

Kekayaan dunia yang melimpah sebenarnya tidak akan pernah membuat orang puas. Sudah tabiat manusia selalu ingin lebih. Seandainya dia sudah memiliki satu, maka ia menginginkan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Memang benar, tidak kenyang perut manusia dari harta benda hingga mulutnya tersumpal oleh tanah.

Kecintaan terhadap harta benda yang berlebihan sebenarnya merusak. Ini seperti yang disabdakan Rasulullah. Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.”

Harta yang banyak tak akan pernah membuat hati manusia puas bila ia tidak pernah bersyukur. Jadi yang penting bukan banyaknya tapi kemauannya untuk bersyukur. Bila bersyukur, yang sedikitpun akan terasa cukup dan memuaskan hatinya.

Orang kaya yang sejati adalah mereka yang sedikit keinginannya. Hidupnya sudah merasa serba cukup. Nikmat dari Allah selalu ia syukuri, sehingga ia lupa meminta nikmat yang lainnya. Semakin bersyukur, maka akan semakin lapang hatinya. Dalam syukur ada kedamaian dan keindahan hidup.

*****

Ketika kecil saya teringat pernah mendapat cerita tentang seorang penggali batu. Alkisah, seorang penggali batu setiap hari mencari batu di kaki gunung dengan peralatan yang sederhana. Pekerjaan menggali batu bukan pekerjaan yang mudah, tapi karena memang sudah tidak ada pilihan lain tetap saja ia kerjakan.

Suatu hari ketika cuaca panas terik dia sedang menggali dan memecah batu-batu gunung yang keras. Karena panasnya matahari begitu menyengat, dalam hati dia mengeluh. Tidak enak rasanya jadi penggali batu, setiap hari kepanasan hingga kulit legam laksana terbakar. Andai saja aku bukan manusia, dulu Tuhan menciptakan aku sebagai matahari, alangkah senangnya. Matahari ciptaan Tuhan yang hebat, besar, panas dan tidak akan terkalahkan oleh ciptaan yang lain.

Tak berselang lama mendadak cuaca redup. Matahari tertutup oleh mendung tebal hingga sinarnya tak lagi sampai ke bumi. Si penggali batu menatap ke langit seraya bergumam. Tuhan, ternyata matahari bukan makhluk-Mu yang terkuat. Lebih hebat kumpulan mendung tebal yang berarak itu. Seandainya engkau menciptakan aku sebagai mendung Tuhan, tentu akau lebih senang.

Lagi-lagi cuaca berubah terang. Kumpulan mendung hitam tersapu angin yang bertiup kencang. Si penggali batu pun terkesima. Oh, rupanya angin lebih kuat dari mendung yang tebal. Sekali berhembus, lipatan mendung yang menutup matahari kini telah sirna. Tuhan… seandainya aku adalah angin, maka aku akan menjadi ciptaan-Mu yang terkuat.

Seakan Tuhan sedang menggiring rasio si Penggali batu. Tiupan angin yang kencang yang menerpa gunung berbalik. Sekuat apapun angin yang bertiup tentu tak akan mampu menggeser gunung walau sejengkal. Kini penggali batu berubah pikiran lagi. Ia membayangkan menjadi gunung. Alangkah kuatnya gunung, karena ia tidak akan goyah walaupun diterpa angin besar.

Nalarnya terus berputar. Kali ini dia sadar, bahwa gunung bukan ciptaan terkuat. Buktinya selama ini dia bekerja mencari batu gunung. Setiap hari gunung yang dianggap kokoh dikikis oleh gancu dan palu besar yang dia bawa. Digali dan diambil batunya tanpa sedikitpun bisa melawan. Oh Tuhan, rupanya makhluk terkuat yang telah Engkau ciptakan adalah manusia. Aku tak sepantasnya mengeluh, karena serendah-rendahnya aku tetaplah lebih mulia dari ciptaan yang lain.

 

Rabu, 11 Januari 2023

Hargai, Jangan Timpakan Kesalahan Pada Mereka



Langkah timnas Indonesia di pentas Piala AFF harus terhenti di babak semifinal. Hasil ini tentu mengecewakan banyak pihak, terutama suporter setia merah putih. Setelah bermain imbang 0:0 di Jakarta, Indoneia harus mengakui keunggulan Vietnam setelah kita kalah 0:2 di kandang mereka.

Pelatih dan seluruh tim official tidak bisa disalahkan. Para pemain juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk meraih hasil yang terbaik. Hargai, jangan timpakan kesalahan pada mereka. Tidak ada yang menginginkan kekalahan, tapi kalah dan menang adalah bagian dari sebuah pertandingan yang mesti bisa diterima.

Kalau ada yang menyalahkan para pemain, silahkan mencoba turun ke lapangan dan mencoba melawan mereka. Apa benar kaki dan kepala para pengkritik sehebat mulutnya. Kalaupun tidak demikian adanya, tutup mulut dan jangan banyak bicara.

Semua punya harapan yang sama, timnas kebanggaan kita meraih gelar juara. Namun kita juga menyadari semua ada waktunya. Juara tidak bisa diraih dengan jalan pintas. Vietnam dan Thailand sudah melalui jalan panjang pembinaan sepak bola yang berkesinambungan. Dan hari ini mereka ada di level yang berbeda dengan kita.

Tak perlu meratapi kekalahan. Berbenah adalah solusi dari sebuah kegagalan. Jika masih saja kita mencari pihak yang pantas disalahkan, selamanya prestasi timnas kita hanya begini-begini saja.

 

 

Piala Dunia 2026 dan Hilangnya Netralitas Sepak Bola

Sepak bola selama ini dikenal sebagai olahraga yang mampu menyatukan berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan politik, agama, maupun ideo...