Membaca adalah
perwujudan perilaku belajar. Siapa yang membaca maka ia akan mendapatkan
berbagai informasi. Obyek yang dibaca tentu sesuai dengan zamannya. Bila dahulu
sebatas membaca buku, kini banyak yang bisa kita berupa dokumen digital. Tapi
intinya, membaca tetap salah satu jalan memeperoleh berbagai informasi dan
pengetahuan.
Membaca adalah
perwujudan insan terpelajar. Setiap kemampuan membaca tentu didapat dari proses
panjang belajar. Sanggup atau punya kemampuan membaca bukan bawaan lahir
manusia. Kebiasaan membaca merupakan salah satu ciri bila dia seorang
terpelajar. Dan memang faktanya, orang yang bisa membaca tidak serta menjadi
gemar membaca.
Bila kita kaitkan
dengan agama, membaca merupakan perintah pertama dalam kitab suci kita. Iqro’:
bacalah. Memang tidak setiap perintah dalam Quran menjadi wajib hukumnya.
Tapi tentunya setiap perintah mengandung hikmah besar di baliknya. Sudah pasti,
membaca memiliki manfaat yang besar bagi umat Islam, dari dahulu hingga zaman
sekarang ini.
Sejarah telah
mencatat dengan tinta emas, Islam pernah mengalami masa kejayaan di bidang ilmu
pengetahuan. Pada rentang tahun antara 650 –1250 M,
terutama puncak Dinasti Abbasiyah dan Umayyah Andalusia. Di saat Barat belum
mengenal berbagai macam pengetahuan, para ilmuwan kita telah memiliki
karya-karya besar di bidang sains, filsafat, dan peradaban.
Kalau saat ini umat
Islam dianggap tertinggal sangat mungkin faktornya utamanya karena kita sudah
meninggalkan kebiasaan membaca. Memang kesannya sederhana, tapi bila kita kaji
semua ada korelasinya. Di saat para peneliti barat sibuk dengan membaca, belajar
dan terus meneliti kita umat Islam justru terlena. Dan hasilnya, pelan tapi
pasti kejayaan di bidang ilmu pengetahuan bergeser ke barat. Mari kita
renungkan,…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar