Kamis, 05 November 2020

"ILMU TUA"



Lama kami berbincang-bincang malam itu. Sahabat yang sudah saya anggap sebagai guru, panutan, pembimbing ruhaniah atau orang yang saya “tuakan”. Rumahnya yang agak jauh dari keramaian membuat saya nyaman bila berkunjung ke sana. Malam itu, beliau berbicara tentang “ilmu tua”. Memang selama ini sudah sering mendengar istilah itu. Namun secara pasti saya sendiri juga tidak tahu apa maksudnya. Dalam bayangan saya, ilmu tua adalah ilmu hakikat. Ilmu yang menjadi laku para sufi. Sebagaimana ungkapan, “Syariat adalah pohon, tarekat dalah rantingnya, makrifatnya adalah daunnya, hakikat adalah buahnya. Alquran menghimpun semuanya dengan dalil dan isyarat, baik lewat tafsir maupun takwil.”

Mengutip dari kitab Sirr al-Asrar karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan tentang macam-macam ilmu. Menurut beliau, semua ilmu dapat dikelompokkan menjadi empat bagian. Pertama, ilmu lahiriyah, yaitu ilmu syariat yang berupa perintah, larangan, dan segala bentuk hukum. Kedua, ilmu syariat batin atau yang disebut juga ilmu tarekat. Ketiga, yaitu ilmu tarekat batin atau yang disebut juga ilmu makrifat. Sedangkan yang terakhir adalah inti ilmu batin atau yang disebut juga ilmu hakikat.

Mungkin itulah maksud teman saya tadi. Ilmu yang tertinggi adalah hakikat, intinya ilmu. Menurut beliau, pada masanya seseorang harus mencari guru sejati. Guru yang mengenalkan ilmu hakikat, bukan ilmu syariat semata. Guru yang mampu membimbing batin muridnya sehingga laku hidupnya benar-benar lurus sesuai kehendak Allah. Sepertinya belum sampai kemampuan pikiran menyentuh ranah itu, masih terlalu jauh.

Mempelajari ilmu hakikat, ilmu billah bagi sebagian masyarakat, dianggap sesuatu yang di luar kebiasaan karena dianggap ‘membahayakan’ tatanan syariat. Hal demikian sengaja dibangun di tengah-tengah masyarakat demi melindungi mereka agar tidak tersesat karena terlalu dalam masuk ke wilayah ilmu yang sifatnya batin. Ilmu hakikat memang rawan penyimpangan-penyimpangan. Banyak cerita yang sudah kita dengar, ilmu hakikat bisa mengakibatkan aqidah seseorang “bubrah”. Sebut saja dalam kisah Walisongo ada sosok Syekh Siti Jenar dengan ajaran “Manunggaling kawulo Gusti”.

Nasihat para Ulama Salaf, hakikat harus diawali dengan syariat yang benar. Hakikat yang meninggalkan syariat adalah kebatilan. Namun syariat semata tanpa mengenal hakikat menjadika ibadah seseorang belum sempurna. Dua-duanya adalah hal penting yang tak terpisahkan. Kalau kita menggambarkan dengan amalan ibadah shalat misalanya, shalat harus dilakukan dengan khusyu’, meskipun khusyu’ bukan salah satu rukun dan syarat sahnya shalat. Shalat yang lalai dari mengingat Allah akan menjadi amalan yang tidak sempurna. Namun, hanya mengingat Allah tanpa mengerjakan shalat adalah sebuah kejahilan yang nyata.

Rabu, 04 November 2020

(TIDAK) BOSAN MENULIS



Menulis tidak boleh bosan, karena menulis adalah sebuah kemuliaan. Waktu yang kita gunakan menulis adalah waktu yang bernilai kebaikan. Sampai hari ini saya masih terus berupaya untuk menulis. Bukan karena sudah bisa menulis dengan bagus, namun karena mencoba belajar terus konsisten menulis setiap hari. Napak tilas dan meniru jejak para penulis hebat yang ternyata mereka tidak pernah berhenti menulis. Mereka tidak pernah pensiun menulis. Menulis seolah telah menjadi nafas bagi mereka. 

Setiap hari tetap berusaha terus menggali ide tulisan, membaca, melakukan eksplorasi, hingga mengupload ke Blogger. Meski saat ini sahabat yang minat menulis di grup semakin sedikit, entah mungkin sudah mulai bosan dengan belajar menulis, atau sekadar istirahat saja. Mencoba tidak terpengaruh dengan kondisi dan situasi belajar menulis hari ini. Ya, semua harus diusahakan dan membutuhkan kejernihan pikiran dan batin. Setiap orang akan menemukan ketenangan dan kejernihan pikirannya dengan jalan yang berbeda-beda. Pastinya masih berharap grup menulis kembali semarak seperti dahulu lagi.

Semua tentang usaha dan mencoba. Untuk menulis setipa hari nyatanya memerlukan kemauan dan keseriusan. Juga perlu nekad dan modal “ngeyel”. Satu artikel setiap hari sama halnya memberi tantangan kemampuan berpikir setiap waktu. Sering sekali membuka laptop dalam kondisi tidak memiliki ide untuk menulis apa. Namun kenyataanya setelah kurang dari satu jam semua bisa selesai. Menulis saja satu kata dua kata, satu kalimat dan kalimat berikutnya. Satu kalimat yang berhasil ditulis akan melahirkan kalimat lain dan begitu seterusnya.

Masih belum bisa mengukur apa tulisan sudah sedikit menjadi bagus. Jika ukurannya adalah kepuasan, sering kali belum puas dengan tulisan sendiri. Ada yang berpendapat, menulis bagus itu ukurannya sangat subyektif, bergantung siapa yang membacanya. Karya tulis mungkin bisa diumpamakan seperti lukisan. Ada sebagian orang yang menganggap bagus, sementara yang lain menilai biasa saja. Bahkan lukisan abstrak yang menurut kebanyakan orang tidak menarik, nyatanya sebagian yang lain sangat tertarik dengan polanya.

Bila ada sedikit pengalaman yang bisa dibagi, poin paling penting dari terus menulis adalah menumbuhkan rasa percaya diri. Percaya pada diri sendiri kalau kita pasti bisa menulis dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Atau setidaknya berguna bagi diri sendiri. Selalu percaya kalau kita bisa, dan lanjut berkarya tanpa perlu peduli terhadap orang-orang yang memandang sebelah mata yang bisanya hanya melihat kekurangan pada kita.

 

 

Selasa, 03 November 2020

PSYCHOWRITING ALA KANG MUHSIN KALIDA



Dalam sesi “Jagongan Literasi Seri 2” kemarin malam, tema yang dibahas adalah Psychowriting. Tema yang sebenarnya baru kali ini saya dengar. Tema yang membuat saya penasaran. Dan karena terdorong rasa penasaran itulah akhirnya saya mampu mengikuti Zoom dari awal sampai acara selesai.

Narasumber adalah Dr.Muhsin Kalida Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta didampingi Dr.Ngainun Naim. Sebenarnya sudah agak lama mendengar nama beliau (Dr.Muhsin Kalida), namun baru kemarin malam berkesempatan ngangsu kawruh sama beliau. Walau sama-sama berasal dari Kecamatan Kalidawir, namun baru satu kali bertemu langsung dengan beliau. itupun bukan pertemuan secara personal, pertemuan yang terjadi karena kebetulan semata. Pada bulan Agustus kemarin, ayahanda beliau (di Desa Betak Kalidawir) wafat. Pada saat takziyah itulah kami sempat bertemu beliau.

Psychowriting, menurut simpulan yang saya pahami dari pemaparan beliau adalah kemampuan membangkitkan menulis seseorang yang tadinya tidak memiliki kemauan atau keberanian menulis. Pada dasarnya semua orang memiliki potensi menjadi penulis. Potensi inilah yang dibangkitkan dengan cara-cara yang ringan dan sederhana. Metode yang diawali dengan kegiatan bermain, obrolan santai namun pada akhirnya diajak untuk menulis dengan tema yang digemari.

Salah satu teknik Psychowriting yang beliau jelaskan ketika di kelas, pertama anak diajak dialog santai. Kemudian beliau menyuruh anak menulis kata benda yang dilihatnya sejak bangun tidur sampai ke sekolah. Tujuannya adalah mengukur seberapa besar memori yang dimiliki anak, semakin besar kemampuan mengingat semakin  potensial menjadi penulis yang baik. Setelah menulis kata-kata benda, anak diminta memilih tiga kata benda yang paling dekat di hati. Tentu ini mudah saja, memilih tiga dari ratusan kata benda yang sudah ditulis. Selanjutnya memilih satu benda yang paling dekat di hati dari tiga kata benda yang dipilih. Langkah terakhir, anak diajak menulis dengan tema benda yanng telah dipilih. Menulis dengan tema yang disukai tentu lebih mudah daripada menulis sesuatu yang belum dikenal sama sekali.

Sebagai pegiat dunia literasi Kang Muhsin Kalida patut mendapat apresiasi yang tinggi. Sumbangsihnya dalam dunia literasi diakui banyak kalangan, bahkan bukan hanya di Indonesia. Namun sampai ke negeri seberang Malasyia. Beberapa karyanya menjadi referensi di beberapa perpustakaan Malasyia. Satu hal unik yang menarik dari beliau, ketika bercerita berhenti di jalan tol karena harus segera menulis ide. Wah, sampai sebegitunya beliau memiliki passion dalam menulis. Menurut beliau, ide harus segera ditulis, karena ketika ide datang tidak segera ditulis dalam lima atau sepuluh menuit ide tersebut akan menguap, hilang tanpa bekas lagi.

 

Senin, 02 November 2020

KRITIK UNTUK GENERASI MILENIAL

 



Seorang Ketua Umum partai politik di Indonesia beberapa waktu yang lalu melempar kritik ke generasi milenial. Beliau mempertanyakan apa sumbangsih generasi milenial kepada negara. Meskipun saya bukan simpatisan partai politiknya, tetapi sepertinya saya agak sependapat dengan kritik ini.  Mungkin ada benarnya juga kritik ini, meski juga tetap banyak yang kontra dengan kritik yang disampaikan tadi.

Definisi milenial atau sering disebut generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X. Mereka lahir pada kisaran 1980 hingga 2000-an. Atau bisa saja kita sebut generasi muda, ya karena mereka adalah orang-orang yang hari ini usianya masih di bawah 4o tahun. Kita sadari, apa yang dihadapi generasi sekarang beda dengan generasi terdahulu. Generasi sekarang menghadapi zaman yang rumit, zaman digital yang penuh dengan hiruk pikuknya.

Sebenarnya bukan cuma generasi muda saja. Korban dunia digital adalah masyarakat secara umum. Hampir semua orang telah menggunakan piranti digital dalam komunikasi smartphone berbasis android. Kemajuan teknologi ternyata secara umum tdak menjadikan generasi muda kita lebih giat belajar namun justru menjadikan mereka lalai dan menjadi korban kemajuan itu sendiri. Mudahnya mengakses informasi tidak menjadikan pelajar kita kreatif, justru budaya copy paste dalam dunia pendidikan makin marak. Belum lagi dunia kriminal semakin menjadi-jadi. Penipuan dengan modus yang beragam sering kita saksikan dalam berita kriminal setiap harinya.

Ternyata teknologi yang semakin maju tidak menjadikan manusia lebih manusiawi. Manusia modern semakin kehilangan sisi-sisi humanisnya. Khususnya pada kemajuan teknologi informasi justru banyak melahirkan generasi penghujat, penghina, dan pengecut. Mereka lantang dan gagah di dunia maya namun tidak memiliki keberanian di dunia nyata. Mereka pandai mengkritik, namun sebenarnya tidak banyak yang mampu berbuat apa-apa. Banyak anak muda yang hidupnya terbelenggu dalam cengkeraman gadget. Sehingga ia menjadi manusia egois yang yang tidak peduli dengan orang lain dan lingkunganya.

Namun masih ada juga generasi milenial yang kaya prestasi. Banyak lahir interpreneur muda yang memberi sumbangsih bagi kemajuan bangsa. Masih ada harapan di tengah-tengah arus kemajuan zaman yang telah banyak meruntuhkan sendi-sendi kearifan budaya bangsa kita. Dan selayaknya kita harus tetap optimis.

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...