Rabu, 06 Januari 2021

REFLEKSI LAGI



Bagai sebuah peribahasa, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak”. Umumnya orang mudah menilai kelemahan orang lain, namun cenderung menutup mata dengan kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Akan sangat mudah meneliti, kemudian mengkritik orang. Padahal diri sendiri banyak hal yang harus diperbaiki.

Sebenarnya ini adalah kritik untuk diri sendiri. Atau apalah, evaluasi, refleksi, yang penting dimaksudkan untuk memperbaiki diri. Orang bilang, jadilah manusia yang bisa merasa, bukan merasa bisa. Bisa merasa tentu dia mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, nasihat orang, dan peka terhadap sekelilingnya. Sedangkan merasa bisa cenderung akan menjadi manusia takabur.

Menulis harus terus berjalan, tetapi membaca juga jangan ditinggalkan. Ternyata melakukan dua hal secara simultan rutin sehari-hari tidaklah mudah. Ketika asyik sedang membaca, kadang tidak sempat untuk menulis. Sebaliknya bila sedang berusaha menulis, kegiatan membaca juga sering ditinggalkan.

Semakin lama koleksi buku bertambah, tetapi minat membaca begitu-begitu saja, stagnan tidak ada peningkatan. Beberapa buku baru bahkan belum “tersentuh” dan masih berjajar di rak. Maunya sebenarnya bisa seperti orang-orang yang disiplin membaca dan menulis. Tapi rupanya semua itu tidaklah mudah.

Semakin bertambah usia seharusnya semakin bijaksana. Bijaksana dalam mengatur waktu, tertib dengan komitmen yang telah dibuat sendiri, atau disiplin dengan skedul harian yang telah disusun. Lagi-lagi semua sering keluar dari track yang seharusnya dilalui. Entahlah, semua belum bisa ajeg, masih angin-anginan. Tergantung ke mana arah angin, seringnya yang terjadi semangat runtuh karena “masuk angin”.

 

 

 

 

Selasa, 05 Januari 2021

OH, SMARTPHONE



Karena kecanggihan fiturnya generasi telephon genggam yang memiliki kemampuan tinggi seperti dan fungsi menyerupai komputer sering disebut smartphone atau Handphone pintar. Mungkin bila tidak memiliki kelebihan fungsinya akan kita sebut seperti generasi sebelumnya HP, begitu saja. Bagaimana tidak dikatakan pintar, kemunculan smartphone mampu menggantikan banyak hal yang sudah ada selama ini. Satu alat tapi mampu berperan banyak fungsi atau multifungsi. Dengan smartphone kita tidak perlu membawa kamera ke mana-mana, kalender, arloji, koran atau majalah dan masih banyak yang lain. Dan karena dari ukurannya yang kecil dan fleksibel dan juga dapat digunakan untuk mengolah dan menyimpan data.

 

Menggunakan smartphone saat ini adalah sebuah keharusan, karena memang sudah zamannya. Kemampuan smartphone menyampaikan informasi dengan cepat dan didukung dengan aplikasi-aplikasi penting lainnya mutlak sangat diperlukan. Dengan smartphone kita bisa mengirim file penting yang dulu hanya bisa melalui email atau harus diantar langsung melalui kurir. Tapi sepenting apapun peran smartphone tidak seharusnya menjadikan kita memiliki ketergantungan.

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa smartphone adalah teknologi yang digemari oleh masyarakat umum. Dari usia muda sampai yang tua, bahkan anak-anak kecil pun tidak ketinggalan. Selain multifungsi harga smartphone juga cukup terjangkau sehingga hampir seluruh kalangan masyarakat saat ini suah terbiasa menggunakannya. Fungsi primer smartphone sebagai alat komunikasi kini lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan dan permainan.

 

Karena begitu vital peran smartphone saat ini, kita menjadi memiliki ketergantungan. Smartphone mejadi alat yang selalu dekat di manapun kita berada. Ketika bepergian smartphone selalu menjadi daftar awal yang akan dibawa. Bahkan ketika pertama kali bangun dari tidur, smartphone adalah benda yang pertama kali kita cari. Begitu dekatnya dalam hidup kita, sehingga sadar atau tidak ada sisi negatif smartphone yang pasti kita alami.

 

Sisi negatif penggunaan smartphone yang berlebihan akan tampak pada kepekaan seseorang dengan lingkungan sekitarnya. Seorang “mania” pengguna smartphone lebih tertarik berinteraksi dengan gadgetnya daripada bertegur sapa dengan orang di sekelilingnya. Seperti apa yang dikatakan banyak orang, kecanggihan smartphone menjadikan yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi dekat. Ke depan, kelak akan banyak manusia yang individualis bila saat ini masyarakat tidak proporsional dalam menggunakan smartphone.

 

 

Senin, 04 Januari 2021

INDAHNYA PERBEDAAN



Bagaimana bila bunga di taman warnanya semua sama?. Tentu tidak akan indah lagi, hilang pesonanya. Karena indahnya taman bunga karena warna-warninya yang menyejukkan mata. Sebagaimana indahnya lukisan pelangi di langit yang terdiri dari beberapa warna. Begitulah gambaran kehidupan dunia ini, akan selalu ada banyak perbedaan. Namun karena perbedaan itulah kehidupan dunia ini bisa berjalan dengan indah.

Karena ada orang-orang yang berilmu (ulama), maka yang bodoh ada yang mendidiknya. Karena ada yang menjadi dokter orang sakit ada yang mengobati. Karena ada orang kaya berlimpah harta yang dermawan si miskin papa ada yang menolongnya. Ada yang dilebihkan dari yang lain supaya saling menutup kekurangannya. Filosofinya bagai sebuah bangunan (rumah). Semua unsur kontruksinya sangat penting. Tidak bisa dikatakan bahwa yang paling penting dari sebuah rumah adalah dindingnya. Karena dinding tanpa pondasi yang kokoh akan mudah runtuh. Pondasi dan dinding yang kuat percuma saja bila tidak memiliki atap, pasti belum sempurna.

Perbedaan itu sudah menjadi kehendak Allah. Secara fisik saja manusia sudah memiliki perbedaan antara ras satu dengan yang lainnya. Secara adat dan budaya akan lebih banyak lagi perbedaannya. Bahkan secara tabiat, sesama saudara kandung yang lahir dari ibu yang sama pun banyak yang memiliki ketidaksamaan.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat 13)

Mensyukuri perbedaan adalah dengan menghargai perbedaan itu sendiri. Perbedaan dalam budaya adalah khazanah kehidupan manusia. Selanjutnya jangan pernah merasa bahwa kelompok tertentu lebih baik dari kelompok lain. Karena hakikatnya, kemuliaan manusia bukan terletak pada fisiknya, bukan pula pada materi harta benda, namun kemuliaan hamba terletak pada hatinya, ketaqwaan.

 

 

 

 

Minggu, 03 Januari 2021

ILMU KEHIDUPAN



Karena cintalah dunia dipelihara, karena cinta setiap makhluk terus mempertahankan diri sendiri-sendiri, dan karena cinta mata yang utuh menjadi bagian-bagiannya. Dia yang menyebut cinta demi masyarakat manusia tidak salah, karena efek aneh dan kesan ajaib yang ia hasilkan di kalangan manusia. Begitu kata Kahlil Gibran, seorang seniman Lebanon-Amerika, penyair dan penulis. Lahir di kota Bsharri, Lebanon, ia bermigrasi dengan keluarganya ke Amerika Serikat di mana ia belajar seni dan memulai karir sastra.

Cinta merubah wajah dunia. Karena cinta adalah rasa yang universal. Semua orang memiliki rasa cinta dalam dirinya. Sekeras apapun karakter seseorang, namun tetap masih ada sisi lembut dalam hatinya yaitu kasih sayang, cinta. Cinta terhadap sesama menjadikan kehidupan ini penuh kedamaian. Karena cinta manusia terhadap semesta alam, manusia akan menjaganya, merawat dan tidak akan merusak kelestariannya. Puncaknya, cinta kita kepada Dzat Yang Mahakuasa akan membimbing kita menjadi manusia yang selalu menebar kebaikan dan kasih sayang.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajarkan kepada hamba-Nya tentang cinta. Setiap kita melakukan sesuatu selalu menyebut Asma-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan di antara asma-asma-Nya cinta dan kasih sayanglah yang selalu ditampilkan, dan bukan asma lain. Sesekali kita amati ayat-ayat-Nya di semesta alam ini. Dengan kasih sayang yang diturunkan untuk mahkluk-Nya, menjadikan hewan buas menyusui anak-anaknya atau binatang liar menjaga, melindungi kawanannya.

Rasa cinta adalah unsur dasar perdamaian dunia ini. Tidak perlu ada perang bila kasih sayang diutamakan. Dan ajaran agama kita adalah agama yang disampaikan dengan penuh cinta. Ajaran membawa rahmat untuk sekalian alam. Betapa luar bisanya, jangankan manusia, makhluk lain, hewan dan tumbuhan pun harus diperlakukan dengan baik.

Sejauh mana cinta dan kasih sayang kita mampu memberi kebahagiaan bagi orang lain. Itulah ukuran kesalihan seseorang. Orang baik bukan dinilai dari rajin shalatnya, pusanya atau ibadah khusus yang lain. Namun ukurannya adalah mampu memberi kemanfaatan bagi orang sekitarnya. Dan semua itu akan tercapai bila dalam hatinya telah dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang terhadap yang lain.

 

Sabtu, 02 Januari 2021

KILAS BALIK BELAJAR MENULIS



Tahun 2020 yang telah berlau membawa beribu kenangan yang tak akan terlupakan. Tahun yang identik dengan cerita pilu pandemi dan banyak kisah sedih yang menghari biru. Namun tahun 2020 juga awal mula kami memulai belajar menulis. Tahun terbentuknya grup “Ma’arif Menulis” yang anggotanya dari berbagai kalangan, bukan hanya guru tapi juga ada dosen, mahasiswa, pengawas pendidikan, pengurus Ma’arif dan unsur lainnya.

Bila harus kilas balik tahun (2020) yang kemarin, saya mesti jujur mengakui bahwa tahun 2020 adalah titik awal memulai menekuni dunia literasi. Berlatih dan terus belajar menulis. Beruntung, dalam grup kami banyak yang memiliki kemampuan menulis yang sudah bagus, sehingga sedikit banyak itu memudahkan proses belajar. Seperti apa yang sering saya dengar, kemampuan menulis yang baik tidak mungkin diperoleh dengan cara yang instan. Ada rangkaian proses panjang yang harus dilalui. Dan saya sadar serta memahami semua itu memang benar.

Sampai saat ini terus mencoba setia mengikuti proses belajar. Terus berusaha produktif menulis meski terkadang tulisan tampil ala kadarnya. Seperti kata sahabat kami Pak Nurhadi yang baru publish artikelnya sesaat yang lalu, “Melukis Mimpi di Halaman 2021”. Apa yang telah dilakukan tahun kemarin harus terus dilanjutkan di tahun ini. Karena semua belum selesai dan janganlah berhenti dengan alasan apapun. Sekali layar terkembang, pantang surut biduk ke pantai.

Semangat menulis yang saya rasakan masih sama seperti yang kemarin. Tidak jauh berbeda ketika awal mencintai dunia menulis. Kalaupun ada masanya turun, biasanya akan segera tumbuh lagi. Seperti semaraknya benih yang tumbuh terkena siraman hujan pertama kali. Atau mirip dengan perasaan remaja yang berbung-bunga ketika mulai mengenal cinta. Begitulah saya menggambarkan aktivitas belajar menulis sejauh ini.

Nekat saja prinsipnya, kata Prof Naim. Menulis membutuhkan ritme yang terus mengalir seperti mata air. Bila kita menulis terlalu banyak berpikir, yang terjadi adalah macet di tengah jalan. Sering di saat kita ingin menampilkan tulisan dengan sempurna, justru yang terjadi adalah, tulisan tidak akan pernah selesai. Yang penting terus menulis dengan percaya diri dan membuat senang, melegakan perasaan dan menjadikan setiap hari terasa semakin bermakna.

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...