Rabu, 10 Mei 2023

Prof Dr Nasaruddin Umar, Penulis Pemecah Rekor MURI



Sosoknya sudah sangat dikenal di negeri kita, beliau adalah Prof. Nazarudin Umar Imam besar masjid Istiqlal Jakarta. Selain seorang ulama yang berpengaruh, rupanya beliau adalah seorang penulis yang sangat produktif. Bukti sahihnya, hingga kini sudah ada 42 judul buku buah karya beliau yang telah diterbitkan.

Pada awalnya ketika memulai menulis di media cetak, beliau mengisahkan sering mendapat penolakan dari koran atau majalah. Dan itu adalah pengalaman yang lazim dialami oleh setiap penulis. Tapi karena keuletan dan kemauan yang kuat, penolakan tidak menyurutkan tekad justru semakin memotivasi untuk terus menulis.

Lain dahulu, lain sekarang. Bila dulu sering ditolak kini justru banyak media cetak maupun media online berharap bisa memuat buah pena beliau. Produktivitas menulis Prof. Nazarudin Umar sungguh luar biasa. Dalam sehari beliau mampu menulis sampai depalan halaman. Tulisan beliau setiap hari bisa kita jumpai di Rakyat Merdeka, Republika dan Tempo.

Selain produktivitas menulis yang tinggi, Prof. Nazarudin Umar juga sangat konsisten dalam menekuni aktivitas menulis. Tidak salah bila MURI menganugerahkan Prof. Nazarudin Umar sebagai penulis terproduktif di Indonesia. Karena dalam periode lima tahun terakhir beliau telah menulis 6000 artikel. Pantas saja jika Prof. Nazarudin Umar punya kebiasaan tidur hanya tiga jam dalam sehari.

Ada nasihat Prof.Nazarudin Umar untuk para penulis yang mesti diperhatikan. Penulis itu harus banyak membaca dan mengambil refetensi dari buku-buku terbitan luar. Karena menurut beliau, buku berbahasa Indonesia sudah sering “dikunyah” oleh pembaca kita. Dengan mengambil literatur dari luar, penulis akan mampu melahirkan karya yang lebih segar beda dengan penulis yang lain.

 

 

 

 

Senin, 08 Mei 2023

Muhasabah Pasca Ramadan

 

Pasca Ramadan (Bulan Syawal) menjadi momentum bagi umat muslim untuk muhasabah kemudian berusaha memperbaiki diri. Kita baru saja melewati bagian penting dari tahapan-tahapan penyucian diri untuk menjadi pribadi muslim yang kaffah.

Islam kaffah bisa dimaknai sebagai Islam komprehensifAgama Islam dipahami, dihayati, dan diamalkan secara menyeluruh. Ajaran Islam mempunyai dan memperlihatkan wawasan yang luas yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan (hablum minallah) yang dilaksanakan melalui ritual ibadah khusus berupa shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya.

Istilah Islam kaffah atau berislam secara kaffah berasal dari Surat Al-Baqarah ayat 208 sebagai berikut ini: Artinya: “Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam keseluruhan. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (Surat Al-Baqarah ayat 208).

Islam adalah agama yang universal, yang mengatur urusan kehidupan diniawi di semua aspek dan bidang. Islam yang Kaffah adalah implementasi ajaran Islam yang benar. Islam yang menjalankan segala aturan yang sudah termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits yang syari’atnya jelas ditujukan kepada umat Nabi Muhammad.

Kita sebagai umat Islam harus terlibat aktif dalam berbagai urusan masyarakat dan bahkan pembangunan nasional secara umum. Pada hakikatnya tidak ada pemisahan antara urusan dunia dengan akhirat. Sesuatu yang nampaknya urusan duniawi tapi bila diniatkan sebagai ibadah maka akan bernilai di sisi Allah.

Dunia adalah ladang akhirat. Apa yang diperoleh kelak di akhirat bergantung dengan apa yang dia kerjakan semasa hidup di dunia. Marilah kita menebar kebaikan sebagai bukti kita mengamalkan Islam kafah. Karena kesalehan bukan dinilai sekadar dari bagusnya ibadah maghdoh (ritual) seseorang, namun juga dinilai dari seberapa besar dia memberi manfaat bagi masyarakat.

 

Jumat, 05 Mei 2023

Menjaga Tradisi

 



Tradisi atau adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat kita sangat banyak jumlahnya, terlebih kita sebagai masyarakat Jawa. Beberapa tradisi kini telah berasimilasi dengan syariat agama sehingga keduanya sudah menyatu dan sulit untuk dipisahkan.

Kita ambil contoh tradisi megengan dan kupatan. Megengan atau kupatan jelas tidak bersumber dari syariat agama. Namun keduanya sebenarnya tetap mengandung ajaran agama yakni anjuran bersedekah.

Demikian pula tahlilan yang sering mendapat serangan dari kelompok tertentu sebagai amalan bid’ah. Konten (inti) tahlilan tidak sedikitpun menyimpang dari ajaran agama (syariat). Semua tahu bila tahlilan isinya adalah membaca Al-Quran, zikir dan juga sedekah makanan.

Alangkah kakunya bila ada yang menganggap semua tradisi yang tidak bersumber dari agama adalah bid’ah. Padahal banyak tradisi dalam masyarakat kita yang menjadikan cara beragama kita lebih humanis.

Agama Islam datang sebagai rahmat bagi semesta alam. Dengan megengan, kupatan maupun tahlilan hikmahnya kita bisa menjaga sillaturrahim dengan masyarakat. Jadi tidak ada yang salah selama tradisi tersebut membawa kemaslahatan. Dan bahkan, kita harus menjaga dan mewariskannya pada generasi yang akan datang.

 

Senin, 01 Mei 2023

Melawan Rasa Takut

 



Mengutip apa yang disampaikan Prof.Ngainun Naim; “Menulis adalah aktualisasi dari dari syukur. Tidak semua orang memiliki kemauan dan kemampuan menulis. Banyak yang mau tetapi belum mampu. Banyak yang mampu tetapi tidak mau. Mereka yang mau dan mampu menulis, lalu menulis, sepanjang ada niat ibadah, itu adalah aktualisasi dari rasa syukur”.

Apa yang diuraikan Prof.Naim hampir sama dengan apa yang disampaikan Prof.Abad Badruzaman pada sesi Ngaji Literasi beberapa waktu yang lalu. Kebanyakan penulis menghadapi rasa ketakutan yang sebenarnya itu adalah angan-angan semu dirinya sendiri.

Tidak mau menulis karena takut karena dikritik, takut apa yang dia tulis tidak mendapat apresiasi dari para pembaca, ataupun ketakutan lain yang serupa. Semua ketakutan tersebut akan semakin membesar manakala dipelihara terus-menerus. Hanya satu cara melawan ketakutan menulis, yaitu segera memulai menulis.

Tak ada orang yang memiliki sifat kesempurnaan, begitu pula dengan karya-karya yang dia tulis. Akan selalu ada sisi kurang, dan justru karena itulah kita selalu berproses untuk memperbaikinya. Aktivitas menulis selalu memberi tantangan kepada kita untuk senantiasa belajar dalam banyak hal.

Jadi, jangan tunggu hilang ketakutan dalam diri kita. Abaikan dengan mencoba menulis apa saja. Apa yang kita tulis tak akan pernah pernah sia-sia. Dari ratusan kalimat, pasti akan ada beberapa kata yang penuh makna. Selamat mencoba...

 

Sabtu, 29 April 2023

Hari Raya “Kupatan”

 



Memasuki tanggal 7 Syawal, banyak kita jumpai masyarakat yang mengadakan kegiatan kupatan. Tradisi kupatan merupakan budaya yang sudah turun-temurun sejak zaman dahulu. Ada sebagian sejarawan yang meyakini bila kupatan sudah ada sejak masa penyebaran (dakwah) Islam periode pertama di Jawa atau masa Walisongo.

Secara etimologi kupatan sebenarnya sarat makna. Ada yang mengartikan kupatan berasal dari Bahasa Arab yaitu kaffatan yang artinya sempurna. Ini dihubungkan dengan pelaksanaan ibadah puasa Ramadan yang disambung dengan puasa sunah Syawal selama enam hari.

Sempurna, karena sesuai sabda Rasulullah; Barang siapa yang menjalankan puasa Ramadan kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa selama setahun penuh.

Ada pula yang mengartikan kupatan atau kupat maknanya “Aku lepat” (saya bersalah). Kupat atau ketupat adalah simbol permintaan maaf kepada sesama saudara seiman. Memberi ketupat maknanya meminta maaf dengan hati yang tulus.

Puasa Ramadan merupakan perintah Allah. Apabila seorang muslim taat menjalaninya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Untuk selanjutnya, menjalin hubungan baik sesama muslim dengan saling meminta maaf agar dosanya kepada sesama juga diampuni oleh Allah.

Hari Raya ketupat hanya ada di negeri kita dan sebagian negeri rumpun Melayu. Ini semakin memperkaya budaya bangsa kita dan menjadikan perayaan lebaran semakin semarak. Secara syariat, kupatan juga selaras dengan ajaran agama Islam, yaitu sedekah. Untuk itu, mari kita jaga tradisi luhur peninggalan leluhur kita ini.

 

Selasa, 25 April 2023

Lebaran Politik

 



Sudah menjadi budaya masyarakat kita selalu merayakan Idulfitri dengan meriah. Terlebih tahun ini(1444 Hijriyah) kita bisa merayakan Idulfitri dengan leluasa setelah dua tahun kemarin berlangsung dengan kewajiban mematuhi protokol kesehatan dan pemberlakuan pembatasan aktivitas masyarakat secara umum.

Salah satu tradisi dalam masyarakat kita ketika merayakan Idulfitri adalah saling berkunjung atau silatutrrahim dengan sanak keluarga/kerabat, teman atau orang-orang yang memiliki relasi dengan kita. Ini yang menjadikan Idulfitri di negeri kita berbeda dengan negeri yang lain.

Tahun ini, kalau kita cermati nuansa Idulfitri terasa lebih semarak. Ini tentu ada hubungannya dengan agenda besar bangsa kita di tahun depan (2024) yakni pemilu. Kurang dari satu tahun, kita (rakyat) punya hajat memilih langsung anggota legislatif  dari tingkat kabupaten hingga pusat, anggota DPD hingga Presiden dan Wakil Presiden.

Tidak mau kehilangan momen lebaran, para elit politik di negeri kita berlomba mengeluarkan berbagai strategi politik tingkat tinggi partainya. Silaturrahim menjadi ajang lobi politik meracik koalisi dan mencari dukungan sana-sini. Bahkan sehari menjelang Idulfitri kemarin, salah satu partai melaunching capres yang akan dimajukan di tahun 2024 mendatang.

Semua tentu memaklumi, karena di tahun politik apapun bisa digunakan sebagai sarana mencari simpati. Mendadak banyak elit/pemimpin merakyat dan dekat dengan masyarakat. Tapi masyarakat hari sudah lebih melek politik. Mereka tentu bisa menilai, mana yang bekerja dengan tulus, dan mana yang sekadar mengumbar janji tanpa bukti.

 

Kamis, 20 April 2023

Tradisi di Bulan Ramadan



Mungkin hanya ada di negeriku tercinta Indonesia, kedatangan bulan Ramadan disambut dengan berbagai tradisi. Tradisi-tradisi ini bisa ditemui di hampir semua penjuru nusantara. Dan tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun tersebut masih lestari sampai sekarang. Lazimnya masyarakat kita akan menggelar pelbagai acara-acara dalam menyambut bulan puasa dengan sangat meriah.

Walaupun caranya berbeda-beda, tradisi dalam menyambut bulan Ramadan di Indonesia ini memiliki semangat yang sama yakni bahagia karena bulan suci Ramadan tiba. Dan di akhir Ramadan masyarakat kita juga memiliki tradisi yang mencirikan kekhususan umat Islam Indonesia. Bahkan budaya tersebut tidak pernah dijumpai di negeri Islam sekalipun. Ada kupatan, halal bihalal, sillaturrahim saling berkunjung maupun sungkeman ke orang tua. Semua itu adalah kekayaan budaya bangsa kita yang memang masyarakatnya heterogen.

Puasa Ramadan sendiri sudah menyatu dengan adat-istiadat masyarakat kita. Rasanya ada yang tidak lengkap bila masuk bulan Ramadan tidak ada acara megengan dan nyekar (ziarah kubur). Keduanya memang tidak pernah ditinggalkan saat menjelang Ramadan. Begitu pula perayaan Idulfitri pun pasti tidak akan terasa meriah bila tidak saling mengunjungi (sillaturrahim). Dan itu sudah kita rasakan saat perayaan Idulfitri di masa pandemi kemarin.

Tidak ada bedanya kaifiat puasa Ramadan di negeri kita dengan umat Islam di tempat lain. Yang membedakan adalah bagaimana cara kita menjalaninya. Yang sedikit berbeda ialah, dengan cara apa kita merayakannya. Dan selama tradisi yang telah berumur tua tersebut tidak bertentangan syariat, biarkan saja tidak perlu kita repot-repot menentangnya.        

 

Rabu, 19 April 2023

Di Fase Akhir Ramadan



Ramadan telah berada di fase akhirnya. Sebentar lagi, Ramadan meninggalkan kita. Dan kita tidak pernah tahu dengan pasti, apakah Ramadan di tahun yang akan datang masih punya kesempatan menggapai kemuliannya.

Di saat Ramadan memasuki penghujung harinya, banyak orang yang gembira. Senang karena telah lulus menjalankan perintah puasa sebulan penuh, dan selanjutnya memasuki idulfitri dan berharap menjadi bagian dari janji Allah, (golongan) orang-orang yang kembali disucikan.

Kelompok yang kedua adalah mereka yang bersedih karena harus berpisah dengan bulan suci Ramadan. Berkah Ramadan benar-benar meliputi jiwa dan raga mereka. Tak sepenggal waktu pun yang dibiarkan berlalu dengan sia-sia. Mereka senantiasa khusyuk dalam ibadah, menyucikan hati dan mendekatkan diri pada ilahi.

Bila harus jujur, kita mungkin masih dalam kategori kelompok yang pertama. Tidak merasa sedih ketika Ramadan akan berakhir. Tapi setidaknya kita tidak termasuk kelompok yang ketiga. Yakni, orang-orang (Islam) yang belum terpanggil untuk menunaikan ibadah puasa. Meskipun demikian, mereka yang tidak puasa juga merayakan idulfitri dengan penuh sukacita.

Semoga Allah masih memberi kesempatan kita bersua dengan Ramadan di tahun-tahun yang akan datang. Dan yang terpenting puasa kita akan semakin meningkat kualitasnya. Kita benar-benar mampu menjadikan puasa sebagai sarana untuk meningkatkan ketakwaan. Bukan hanya sekadar rutinitas tahunan yang begitu-begitu saja dijalankan.

 

Selasa, 18 April 2023

Duka (musibah) di Awal Ramadan 1444 Hijriyah


  


Ramadan tahun 1444 Hijriyah ini akan selalu kami kenang, karena terselip peristiwa sedih di keluarga kami. Pada hari keenam puasa, ayah tercinta meninggalkan kami untuk selamanya. Ini menjadi Ramadan terakhir dengan ayah kami. Semua orang tentunya pasti pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang disayangi. Meski kita sadar betul dengan kepastian maut, tetap saja semua terasa berat dan menjadi duka yang mendalam.

Kalau sudah tiada, semua baru terasa. Ramadan yang selama ini menjadi momen berkumpulnya seluruh keluarga, kini terasa berbeda. Ada yang hilang dari pandangan kami. Senyum Bapak yang cerah bahagia, di saat melihat anak-anak dan cucunya berkumpul menikmati hidangan buka puasa bersama.

Semua sudah menjadi kehendak dan di bawah kuasa-Nya. Di bulan yang mulia, beliau kembali ke menghadap kepada sang Pemilik kehidupan. Baru saya mengerti apa makna pesan Bapak kami beberapa hari sebelumnya, beliau minta diantar pulang. Dan saya telah memenuhi permintaannya yang terakhir. Mengantar beliau hingga membaringkannya di liang lahat serta menghadapkan wajahnya ke kiblat. Dan malam itu, saya orang terakhir yang meninggalkan pusara beliau. Ya Rabb, ampunilah beliau dan berikan tempat yang mulia di sana.

Ramadan ya Ramadan… Sepanjang tahun kami menunggu kedatanganmu. Sekuat mungkin kami berusaha menggapai keberkahan bulan suci Ramadan. Ya Allah, izinkan kami berjumpa Ramadan di tahun yang akan datang. Dan bimbing kami agar menjadi hamba-hamba yang bertakwa.

 

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...