Jumat, 02 Mei 2025

Sakinah, Ketenangan Sejati

 



Hakikatnya yang dicari manusia dalam kehidupan dunia ini adalah ketenangan, kedamaian dan ketentraman. Harta paling diburu di dunia ini bukanlah emas, intan permata, atau tumpukan uang, tapi sakinah.

Uang dan segala rupa harta benda hanyalah sarana mendapatkan ketenangan dan kedamaian hati. Lihatlah apa yang dilakukan oleh mereka yang telah bergelimang harta. Mereka naik gunung tertinggi dunia, berkeliling dunia dengan kapal pesiar yang mewah dan menghamburkan uangnya hanya demi mendapatkan ketenangan hati.

Tidak cukup sampai disitu, mereka harus melupakan semua masalah hidup dengan mengkonsumsi segala jenis minuman keras bermerk yang mahal. Ketika kaki seakan tidak menginjak bumi lagi, baru mereka bisa tertawa lepas. Hidup katanya ringan tanpa beban lagi.

Lalu apa mereka mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan?, sepertinya tidak. Yang mereka peroleh hanya ketenangan semu. Ya, mereka bersenang-senang tapi hatinya gersang. Itu bukan kebahagiaan, bukan ketenangan, kedamaian dan ketentraman sejati karena sifatnya hanya sementara. Kita tahu itu sebenarnya bukan bahagia, tapi gila.

Ketenangan sejati hanya dimiliki oleh orang-orang mukmin. Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana (Surat al-Fath ayat 4)

 

 

Rabu, 30 April 2025

Menenun Kata, Menggubah Cerita

 



Menurut JK Rowling, cara menjadi penulis itu sederhana; "Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri",. Sederhana dan mudah sepertinya, tetapi ternyata kenyataan tidak segampang yang dikatakan itu. Setidaknya itu pengalaman saya praktik menulis selama ini.

Menulis pengalaman sendiri seharusnya memang mudah, karena kita tinggal bercerita sesuatu yang nyata dan dialami sendiri. Menggambarkan peristiwa dengan kata-kata dan menjelaskan sebuah pengalaman. Tapi, lagi-lagi harus kita akui semua itu tetaplah bukan pekerjaan yang mudah.

Orang akan lebih mudah bercerita daripada menulis. Ketika bercerita, seolah bahan mendongeng yang disampaikan tidak pernah ada habisnya. Coba, andai saja kebiasaan kita bercerita bila ditulis akan menjadi buku yang berjilid-jilid.

Alasan yang mungkin mendasari mengapa tidak mudah menulis pengalaman adalah kurang percaya diri. Sering kita malu dengan apa yang kita tulis sendiri. Malu setelah membabacanya, mungkin dirasa bahasanya tidak bagus. Malu, ternyata pengalaman yang diceritakan ternyata bukan pengalaman yang luar biasa, hanya hal-hal sepele yang mungkin tidak penting sama sekali diketahui oleh pembaca.

Sudahlah, tak perlu malu lagi. Seharusnya rasa malu untuk memulai menulis dibuang jauh-jauh. Memiliki rasa malu itu bagus tapi harus diletakkan pada proporsi yang sebenarnya. Menulis saja meski kita menganggap tulisan kita biasa saja, belum bagus.

Kita mulai dengan menulis apa saja. Menenun kata demi kata sehingga menjadi gubahan cerita. Biarlah proses panjang yang menjawab nanti, apakah manfaat dari semua goresan pena kita. Tapi saya yakin, semua karya kita berguna pada waktunya.

Jumat, 25 April 2025

Amal yang Dicintai

 



Kini kita tengah berada di Jum’at terakhir bulan Syawal tahun 1446 Hijriyah. Ramadan telah berlalu meninggalkan kita, tanpa adanya kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa lagi, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya.

Hanya sebuah doa dan harapan yang selalu kita sampaikan kepada Allah, semoga amal ibadah kita diterima di sisi-Nya dan kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa lagi dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.

Bulan Syawal seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan amal ibadah kita, atau setidaknya mempertahankan ibadah di Bulan suci Ramadan kemarin. Walau dalam kenyataannya Syawal lebih sering menjadi bulan penurunan ibadah kita, juga penurunan kualitas diri. Di antara tandanya yang sangat jelas adalah perayaan idulfitri seakan-akan menjadi suasana kebebasan setelah selama sebulan penuh dikekang dan harus menahan diri.

Syawal adalah ujian istiqomah kita. Istiqomah maknanya adalah sikap teguh dan terus-menerus dalam melakukan kebaikan, menjalankan perintah Allah SWT, dan menjauhi larangan-Nya. Bentuk sikap istiqamah ini dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda;

“Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menjadi alasan, kita harus terus-menerus memperbaiki ibadah khususnya puasa. Karena puasa seharusnya mampu mengantarkan seseorang meraih derajat taqwa, atau paling tidak mendekatinya.

Bulan Syawal menjadi ukuran sampai di mana kita bisa istiqomah, bukankah ketika Ramadan kita ringan melaksanakan qiyamul lail sholat tarawih, tilawah Al-Qur’an setiap hari, bangun tengah malam untuk tahajjud dan makan sahur, bersedekah memberi makan orang yang puasa, dan sudah seharusnya amalan-amalan tersebut mampu kita pertahankan di bulan Syawal ini, atau setidaknya tidak diabaikan semuanya.

Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat ditempa selama bulan Ramadan. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah.

Allah memerintahkan kepada kita untuk istiqomah. Bila pada bulan Ramadan kemarin kita ringan dan mudah melaksanakan ibadah, jangan sampai sesudah Ramadan kita enggan melaksanakan ibadah. Dalam surat al-Ahqaf ayat 13 Allah juga berfirman;

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”

Tanda istiqomah adalah ibadah yang semakin bagus. Apabila dia tergelincir dalam dosa segera dia meminta ampunan Allah SWT. Orang-orang istiqomah tidak memiliki kekawatitan dan sedih hati tentang kehidupannya karena sudah tawakkal dengan yang Allah karuniakan kepadanya.



 

Selasa, 22 April 2025

Rumah, Menulis, dan Buku

 



Rasanya seperti baru sadar dari kesambet. Ya, pagi ini ada yang benar-benar beda dalam perasaan saya. Ada semangat untuk berbuat lebih baik dari hari–hari kemarin. Saatnya mencoba seefektif mungkin menggunakan waktu yang diberikan oleh Allah, agar hidup ini benar-benar penuh manfaat.

Saya menyadari selama ini masih banyak membuang waktu. Tentu saya dan juga Anda berharap menjadi manusia yang beruntung. Adapun salah satu ciri orang yang beruntung adalah mereka yang menghindari perbuatan sia-sia. "Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna." (al-Mukminun ayat 3).

Meski tidak mudah mengurangi interaksi dengan ponsel, namun saya harus mencobanya. Dan salah satu kegiatan yang bisa mencegah dari scroll ponsel sambil duduk santai adalah menulis. Harapannya bisa aktif menulis seperti dulu lagi. Beberapa tahun yang lalu hampir setiap hari bisa menulis, tapi akhir-akhir ini mungkin seminggu hanya bisa sekali mengisi blog.

Kembali dengan motivasi baru. Setelah sekian belas bulan draf buku ke-7 yang tersimpan rapi di folder laptop, hari ini dibongkar-bongkar kembali. Kalau sedang tidak ke mana-mana sebisanya rumah menjadi tempat menulis yang nyaman. Biar pelan yang penting tetap berjalan. Karena hanya demikian itu, angan-angan untuk kembali menerbitkan buku bisa terwujud.

Sepertinya tidak perlu menunggu nasihat dari motivator untuk bisa berubah. Karena motivasi yang tumbuh dari diri kita sendiri akan menjadi energi yang lebih kuat. Kalau besok semangat itu turun lagi, yang kita butuhkan hanyalah menenun semangat kembali. Yakin bisa, kita pasti bisa.

Senin, 21 April 2025

Menanti Terang Setelah Gelap

 



Refleksi peringatan Hari Kartini.

Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan judul buku yang isinya adalah kumpulan surat yang ditulis oleh R.A Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht, sedangkan penerjemahannya dari versi bahasa Belanda ke bahasa Melayu pertama kali dilakukan pada 1922. (Wikipedia)

Sekian dasawarsa tahun setelah era R.A Kartini, kini istilah gelap kembali menjadi perbincangan masyarakat kita. Beberapa waktu yang lalu viral tagar Indonesia Gelap. Gerakan 'Indonesia Gelap' ini merupakan bentuk kritik mereka kepada Pemerintahan yang membuat efisiensi anggaran tanpa mempertimbangkan kebijakan dan kepentingan masyarakat umum.

Di era demokrasi seperti saat ini, kritik akan selalu muncul. Siapa pun yang memimpin negeri ini sudah pasti harus siap dikritik, didemo bahkan dihujat. Akan selalu ada kelompok yang pemikirannya berseberangan dengan pemerintah, itu sebuah keniscayaan. Jadi tidak mungkin suara-suara sumbang itu dibungkam.

Apa benar Indonesia sedang gelap?. Tentu jawabannya akan sesuai persepsi masing-masing individu. Namun secara umum kita harus mengakui bila masih banyak sisi gelap di negeri kita. Lihat saja kasus-kasus korupsi yang terkuak, nilainya sungguh di luar nalar akal sehat kita. Bila yang terungkap begitu banyak, bagaimana dengan yang lolos dan tidak diproses.

Sebagai rakyat biasa saya cuma bisa berharap. Terang segera terbit mengikis pekatnya gelap. Keadilan bisa tegak dan meruntuhkan semua kezaliman dan kejahatan orang-orang yang  tidak memiliki nurani. Mereka tega korupsi demi memeperkaya diri di tengah kesulitan masyarakat. Semoga terang akan segera menjelang…#

 


Sabtu, 19 April 2025

Kembali ke Setelan Awal

 



Memang benar apa yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. Banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan rasa haus dan lapar semata. Mereka berpuasa tetapi tidak mendapat balasan pahala apa lagi mencapai derajat takwa.

Saat ini (bulan Syawal) adalah waktu yang tepat untuk refleksi terhadap diri sendiri (muhasabah), apakah puasa kita termasuk yang disabdakan Nabi tadi. Harus ada penilaian yang jujur, agar kita tidak terjebak dengan kebiasaan kembali ke setelan awal. Ya, sebenarnya banyak yang menjalani ibadah di Ramadan tapi tidak menjadikan takwanya meningkat.

Ada indikator yang bisa dijadikan ukuran apakah puasa kita bisa menambah kualitas takwa. Bila di bulan Syawal banyak yang pola ibadahnya kembali seperti sebelum Ramadan kemarin; jarang melakukan salat sunah, malas bersillaturrahmi, enggan bersedekah berarti tidak ada atsar puasa Ramadan yang dikerjakan kemarin.

Syawal menjadi ujian istiqamah yang sebenarnya. Bila pada bulan Ramadan ibadah kita meningkat, dan setelah Ramadan menurun kembali itu artinya belum konsisten. Seperti anak sekolah yang naik kelas kemudian harus turun lagi begitu seterusnya. Ia tidak akan mencapai derajat yang tinggi karena harus bolak-balik turun lagi.

Menjalani puasa hanya sebagai rutinitas yang dijalani karena sekadar mengikuti umumnya orang. Orang berpuasa dia berpuasa, orang bergembira saat lebaran ia pun bergembira. Ibadah hanya menjadi ritual kepantasan dan kalaziman dalam bermasyarakat. Bukan mencari Rida Allah.

 

 

 

 

Jumat, 11 April 2025

Jumat Kedua di Bulan Syawal

 



Saat ini kita tengah berada di Jumat kedua bulan Syawal tahun 1446 Hijriyah. Terasa belum lama Ramadan meninggalkan kita tanpa adanya kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa lagi, diberi kesempatan menggapai keutamaan-keutamaannya dan memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya.

Hanya sebuah doa dan harapan yang selalu kita sampaikan kepada Allah, semoga amal ibadah kita sepanjang Ramadan kemarin diterima di sisi-Nya dan kita masih diberi usia panjang untuk berjumpa lagi dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.

Bulan Syawal seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan amal ibadah kita, atau setidaknya mempertahankan ibadah atau amalan-amalan di bulan suci Ramadan kemarin. Walau dalam kenyataannya, Syawal lebih sering menjadi bulan penurunan ibadah kaum muslimin secara umum, juga penurunan kualitas diri.

Di antara tandanya yang sangat jelas adalah perayaan Idulfitri yang seakan-akan menjadi suasana kebebasan setelah selama sebulan penuh kita menahan diri. Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jamaah salat lima waktu.

Fakta itu sesungguhnya juga menunjukkan kepada kita, bahwa puasa kita yang demikian itu masih harus diperbaiki terus-menerus. Ibadah puasa belum mampu mengantarkan seseorang meraih derajat takwa, atau mendekatinya. Kita juga bisa menggunakan hadis Nabi sebagai kaidah yang seharusnya kita perhatikan sebaik-baiknya: “Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia.”

Ramadan seolah menjadi tradisi tahunan yang kehadirannya dirayakan namun di sisi lain banyak yang melupakan kemuliaannya. Sehingga ketika Ramadan telah berlalu tidak ada yang membekas. Amal ibadahnya akan kembali seperti saat sebelum Ramadan. Ibarat kata, seperti anak yang naik kelas kemudian turun kembali. Ramadan tiba, ibadah meningkat lagi, dan ketika Ramadan selesai maka menurun kembali, begitu terus berulang-ulang.

Bulan Syawal menjadi ukuran sampai di mana kita bisa istikamah. Bukankah ketika Ramadan kita ringan melaksanakan salat tarawih di masjid ataupun musala, tilawah Al-Qur’an kita yang setiap hari, bangun tengah malam dan tegak berdiri untuk Tahajud, bersedekah memberi makan orang yang puasa. Dan sudah seharusnya amalan-amalan tersebut mampu kita pertahankan di bulan Syawal ini.

Maka istikamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud: 112)

Minggu, 06 April 2025

Panas Setahun Dihapus Hujan Sehari

 



Tradisi saling meminta maaf saat Idulfitri di masyarakat kita hingga kini masih tetap terjaga. Meski kita tahu sebenarnya meminta maaf tidak harus menunggu perayaan Idulfitri, namun sebagian besar masyarakat kita menganggap Idulfitri sebagai waktu yang tepat untuk saling meminta maaf.

Dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat sudah pasti kita sering berbuat kesalahan. Sangat manusiawi, bila kita bergaul, bermasyarakat sering berbuat salah pada orang lain. Bukankah sifat dasar kita adalah sering salah dan lupa.

Jangan kita menjadi manusia yang mudah melupakan kebaikan orang dan justru selalu mengingat kesalahannya. Seperti peribahasa “Panas setahun dihapus hujan sehari” yang artinya kebaikan banyak dapat terhapus oleh keburukan yang sedikit. 

Bila anak kita saat ujian mendapat nilai 97, pasti kita akan memberi apresiasi yang tinggi. Orang tuanya akan menganggap wajar bila dia masih memiliki kesalahan, karena itu terlalu kecil bila dibanding dengan nilai yang benar. Mungkin itulah ilustrasi yang bisa menggambarkan tentang kesalahan orang.

Sangat lazim bila saudara atau teman kita pernah berbuat salah pada kita sekali atau dua kali. Sementara kebaikannya kepada kita sudah tak terbilang lagi. Janganlah kesalahan yang sekali atau dua kali menutup kebaikan yang besar. Seperti orang lain yang tidak mungkin selamanya benar, kita juga manusia yang pasti kan tergelincir berbuat salah pada orang lain.

 

Sabtu, 29 Maret 2025

Lebaran: Momentum Kebersamaan Keluarga dan Tradisi Sosial yang Harmoni

 



 

Hari raya Idulfitri tahun 1446 Hijriyah tinggal beberapa hari lagi. Momen Idulfitri selalu mengingatkan memori puluhan tahun silam. Ya, ketika kami masih anak-anak kecil yang polos. Dalam setahun sekali, momen Idulfitri atau lebaran selalu kami nantikan. Banyak hal istimewa yang hanya ada pada saat perayaan lebaran. Lebaran banyak kue yang enak, baju kami baru semua, dan yang paling menyenangkan kami banyak mendapat uang sangu.

Memang hanya sebatas itu kami memaknai datangnya hari raya Idulfitri. Semua serba yang menyenangkan. Dan kini, semua kenangan indah tempo kecil dahulu tidak pernah saya rasakan lagi. Apa yang kami rasakan ketika masih anak kecil memang sudah berbeda dengan saat ini. Masa kecil adalah dunia bermain, jadi semua yang dialaminya hanya tentang kegembiraan dan permainan semata.

Ada yang tidak pernah berubah ketika Idulfitri tiba. Dari dulu perayaan lebaran selalu menjadi momentum keluarga untuk berkumpul. Sanak famili yang merantau jauh dari kampung halaman sering menunggu Idulfitri tiba untuk berkunjung melepas kerinduan. Ini yang menjadikan mudik saat lebaran menjadi agenda nasional yang meriah.

Rasanya ada yang kurang lengkap saat merayakan lebaran ada anggota keluarga yang tidak bisa kumpul di rumah. Lebaran menjadi momentum berkumpul dengan keluarga. Ada suasana keharuan, keakraban dan kenyamanan bisa shalat Idulfitri beserta seluruh keluarga, makan bersama-sama kemudian saling bersilaturrahim.

Idulfitri memang memang menjadi hari besar umat Islam seluruhnya, namun perayaan lebaran memang hanya ada di negeri kita tercinta. Ini adalah berkah. Sebuah tradisi keagamaan dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun sebagai ciri khas masyarakat nusantara. Seperti yang kita ketahui, berbagai tradisi unik dan sarat makna muncul untuk menandai dan menambah meriahnya lebaran di berbagai penjuru daerah di Indonesia.

Gaung lebaran juga begitu semarak di dunia maya. Berbagai platform media sosial menjadi sarana menautkan hati dan menyambung tali persaudaraan. Bahkan, lebaran kini tidak hanya dirayakan kaum muslimin saja. Tidak sedikit umat beragama lain ikut serta merayakan. Ungkapan “Mohon maaf lahir dan batin” seolah menjadi kata kunci pada waktu bersua dengan saudara, teman, kenalan dan tetangga jauh maupun yang dekat.

Meski perayaan lebaran tiap-tiap daerah berbeda namun sebenarnya ada kesamaan yang mendasar. Lebaran pada intinya menjadi ajang silaturrahmi dan menjalin ukhuwah sesama kaum muslimin. Budaya saling meminta maaf juga sudah menjadi kelaziman setiap kali umat Islam Indonesia merayakan Idulfitri. Ada tradisi yang sudah sangat familiar di masyarakat kita ketika lebaran yaitu; halal bihalal, hari raya ketupat dan mudik.

Halal bihalal. Kemeriahan Idulfitri di negeri kita sudah menjadi budaya. Halal bihalal yang sebenarnya secara etimologi berasal dari Bahasa Arab namun tidak dikenal dalam ‘mufrodat’ dan tidak dipakai dalam struktur bahasa baku orang Arab. Dalam istilah yang sederhana mungkin bisa dikatakan halal bihalal adalah bahasa Arab yang hanya dipakai di Indonesia.

Menurut sebuah literatur asal mula halal bihalal ada sejak awal-awal kemerdekaan Indonesia. Bung Karno menghendaki adanya sillaturahim yang melibatkan banyak orang (massal). Setelah berdiskusi dengan KH.Wahab Hasbullah akhirnya disepakati konsep halal bihalal yang pada awalnya hanya dilakukan oleh Presiden Soekarno dengan mengundang tokoh-tokoh elit politik dengan tujuan menyatukan bangsa. Hal ini yang kemudian ditiru dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Ketupat. Idulfitri juga identik dengan hari raya ketupat. Ketupat menurut sebagian sumber sudah ada sejak sebelum Islam masuk ke Indonesia. Menurut sebagian catatan sejarah ketupat dijadikan sebagai bagian perayaan Idulfitri dimulai sejak pemerintahan kerajaan Islam di Demak. Ketupat adalah makanan yang dibuat dari janur dan diisi dengan beras memiliki makna filosofis.

Konon, kata ketupat yang dalam Bahasa Jawa disebut Kupat berasal dari kata aku lepat (saya salah), artinya ketupat sebagai simbol saling memaafkan anatara saudara dengan saudara yang lain, orang tua ke anak-anaknya, guru ke murid-muridnya.

Sebagian ada yang mengatakan ‘Kupat’ berasal dari Bahasa Arab kaffatan yang artinya sempurna. Setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa kita disunahkan puasa pada hari kedua bulan Syawal sampai hari ke-tujuh (selama enam hari), setelah itu pada hari ke-tujuh malam kedelapan Syawal membuat selamatan kecil dengan membuat ketupat (bodo kupat), ini mungkin yang dimaksud sempurna dalam ibadah puasa. Sebagaimana dalam hadits disebutkan “Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian ia ikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, ia akan mendapat pahala seperti puasa setahun penuh”.

Hari Raya ketupat hanya ada di negeri kita dan sebagian negeri rumpun Melayu. Ini semakin memperkaya budaya bangsa kita dan menjadikan perayaan lebaran semakin semarak. Secara syariat, kupatan juga selaras dengan ajaran agama Islam, yaitu sedekah. Untuk itu, sangat penting menjaga tradisi mulia peninggalan leluhur kita ini.

Mudik. Hari raya sudah pasti akan menjadi hari spesial bagi umat Islam khususnya di Indonesia. Akan kurang sempurna bila tidak dirayakan dengan keluarga. Ini yang menjadi alasan mengapa harus mudik ke tanah kelahiran. Dalam makna lain mudik adalah bentuk kecintaan anak ke orang tua dan saudaranya yang masih tinggal di kampung halaman. Hakikat mudik adalah menyambung tali silaturrahim.

Puasa merupakan bentuk ibadah vertikal (hablum minallah) sedangkan mudik adalah bentuk hubungan sesama manusia (hablum minannas), tentu tidak akan sempurna ibadah puasa kita bila hubungan kita dengan keluarga tidak dijalin dengan baik. Puasa yang dilakukan dengan landasan iman dan semata karena Allah dijanjikan mendapatkan ampunan dari Allah sehingga bersih semua dosa-dosanya laksana bayi yang baru lahir.

Tinggal dosa kepada sesama manusia yang harus kita bersihkan dengan permohonan maaf, dan mudik merupakan salah satu bentuk budaya masyarakat kita yang bertujuan merayakan Idulfitri dan sarana permohonan maaf sungkem ke orang tua dan seluruh kerabat.

Inilah sebagian tradisi sosial masyarakat ketika merayakan lebaran yang sudah menjadi ciri khas masyarakat kita. Akan menjadi suatu yang tidak lazim apabila merayakan Idulfitri tidak melaksanakan tradisi yang sudah turun menurun ini. Tidak ada yang salah dengan tradisi sosial kita bila ditinjau dari syariah. Justru semua tradisi tersebut menjadikan perayaan Idulfitri lebih bermakna dan nampak harmoni.

 

Tentang Penulis

Penulis adalah Kepala Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda Pakisaji Kecamatan Kalidawir Tulungagung. Aktivis masjid, pemerhati pendidikan, dan peminat dunia literasi yang aktif menulis di Blog: https://penulisspemulaa.blogspot.com

 

 

Selasa, 25 Maret 2025

Puasa dan Syiar Islam

 



Puasa Ramadan 1446 Hijriyah sudah hampir selesai. Bagi yang istiqamah menjalankan puasa sejak hari pertama tentu ada rasa gembira sekaligus sedih. Gembira karena telah diberi kekuatan menjalankan ibadah sampai tuntas, namun juga ada rasa sedih karena bulan yang penuh rahmat kini akan undur diri.

Bagi mereka yang belum menjalankan puasa karena tidak ada uzur sebenarnya juga gembira karena akan merayakan lebaran. Tentu masih beruntung orang yang bisa menunaikan ibadah puasa, karena kebahagiaan orang yang berpuasa ada dua, kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Menurut survey SRMC pada bulan Oktober 2024, umat Islam di Indonesia yang rutin menjalankan ibadah puasa sebanyak 62.9%. Responden yang menjawab cukup sering sebanyak 29,4%, jarang 6,8%, sangat jarang 0,1%. Sedangkan yang mengaku tidak pernah berpuasa di bulan Ramadan jumalahnya 0,3%. Itu artinya, meski masih ada umat Islam yang tidak pernah berpuasa, jumlah yang berpuasa masih sangat banyak.

Tidak pernah ada paksaan dalam beribadah. Mayoritas umat Islam Indonesia yang menjalankan puasa Ramadan dengan rutin tentu berangkat dari niatnya sendiri bukan karena dipaksa. Meski sebenarnya orang-orang yang berpuasa masih harus diklasifikasikan lagi.

Banyak orang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan haus, karena mereka berpuasa secara lahiriah saja. Sementara orang-orang yang berpuasa dan menjaga hatinya sekuat mungkin agar tetap bersih tentunya jumlahnya kalah banyak dibanding dengan mereka yang masih awam. Tapi meski demikian puasa orang awan menjadikan syiar Ramadan di negeri kita semakin nampak.

Bulan Ramadan memang penuh rahmat. Rahmat bagi yang berpuasa, rahmat bagi yang masih jarang berpuasa dan rahmat bagi yang belum bisa menjalankan ibadah puasa. Karena kemuliaan Ramadan menjadikan Umat Islam di Nusantara seluruhnya diliputi rasa bahagia meski dengan dimensi yang berbeda-beda.

 

 

 

Selasa, 18 Maret 2025

Waktu, Kekayaan yang Tidak Ternilai

 



Puasa Ramadan tahun 1446 Hijriyah telah melewati periode pertengahannya. Hari ini kita telah memasuki puasa ke-18. Ada komentar yang sering kali kita dengar setiap kali orang berbincang tentang puasa, “Tidak terasa ya, puasa sudah dapat banyak, sebentar lagi Idulfitri.”

Ya, sadar atau tidak ternyata waktu itu berjalan cepat. Seperti baru kemarin kita menunggu hasil sidang isbat, ternyata hari ini sudah lewat dua pekan lebih. Rasanya seperti belum terlalu lama, ternyata usia kita sudah 40 tahun lebih, 50 tahun atau bahkan sudah lebih dari 60 tahun. Lagi-lagi tak terasa katanya.

"Berubahlah ketika kamu masih punya waktu karena mungkin akan tiba saat di mana kamu ingin berubah, waktu tak lagi kau punya." Sebuah ungkapan yang menggambarkan pentingnya memanfaatkan waktu. Apa yang lebih berharga selain masih “memiliki” waktu. Memiliki waktu artinya memiliki kehidupan dan kesempatan.

Umumnya orang menganggap masa tua merupakan masa yang menakutkan. Karena itu, banyak orang yang telah memiliki segalanya, yakni dunia dan semua kemewahannya, tapi ia rela menukar apa yang dimiliki seluruhnya dengan waktu mudanya. Dan itu betul-betul keinginan yang absurd.

Mari kita renungkan dengan mendalam surat al-Munafiqun ayat 10 berikut ini. "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...