Minggu, 07 November 2021

MANCHESTER ITU BIRU



Kehidupan itu berputar bagai kuda pedati. Ada kalanya posisi di atas, dan pasti ada waktunya berada di bawah. Memang tidak ada yang abadi, semua akan mengalami perubahan tak terkecuali prestasi sebuah klub sepak bola.

 

Sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu bila menyebut nama Manchester, maka yang teringat pasti Manchester United. Tapi kini “merk” Manchester United sudah mulai tergantikan dengan Manchester City, tetangga berisik mereka. Bila dulu Manchester identik dengan warna merah, kini Manchester menjadi “Biru”.

 

Masa kejayaan United seakan menjadi cerita lalu. Kini panggung juara menjadi milik city yang dulu hanya sebuah klub medioker. Klub yang hanya dipandang sebelah mata oleh United. Saat ini, status medioker justru melekat pada United karena posisinya selalu di belakang City pada papan klasemen EPL.

 

Derby terbaru pada Sabtu malam kemarin, ketika bermain di Old Trafford Man City berhasil menundukkan sang tetangga dengan skor 2-0. The Citizens unggul terlebih dahulu berkat gol bunuh diri Eric Bailly. Tim tamu kemudian memperbesar kedudukan melalui Bernardo Silva. Lagi-lagi ini membuktikan City saat ini memang lebih kuat. Ukurannya bukan cuma skor pertandingan, tapi dari sisi statistik City tetap lebih dominan.

 

Apa yang salah dengan United. Komposisi pemain begitu mewah, namun prestasi klub (gelar) begitu susah diraih. Penggemar United tentu sangat gusar dengan kondisi klub kesayangannya hari ini. Klub kebanggaan mereka tidak berdaya menyaingi kedigdayaan sang tetangga. United boleh saja kalah oleh klub lain, tapi tidak boleh kalah dari City. Karena kalah dari City sama halnya dengan merubah citra warna kota yang merah menjadi biru.

 

 

 

Sabtu, 06 November 2021

WAKTUMU UMURMU



Menjadi tua itu pasti, tidak perlu cemas karena semua juga akan mengalaminya. Jika kita selalu berusaha untuk tidak menjadi tua, maka akan selalu merasa tidak bahagia karena bagaimanapun juga, itu tetap terjadi. Sudah pasti tak ada pernah ada yang bisa melawan usia.

Sebenarnya yang mesti kita khawatirkan bukan masalah bertambahnya usia. Namun apakah bertambah pula kedewasaan kita. Karena faktanya terkadang usia tidak bisa menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Usia sudah tidak muda, namun kelakuan layaknya seperti anak muda. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Bertambah usia tidak berarti bertambah dewasa.

Selayaknya ketika bertambah usia semakin bertambah bijaksana. Semakin panjang waktu yang telah dilalui semakin banyak yang dipelajari dan diperbaiki. Jika kita tidak pernah belajar dari kesalahan, maknanya perjalanan hidup kita hanya menghabiskan waktu untuk bertambah menjadi tua.

Hakikatnya hidup bukan tentang panjang pendeknya usia, tapi seberapa besar kita bermanfaat untuk banyak orang. Karena sebaik-baik orang adalah yang mampu memberi kemanfaatan bagi orang lain. Seiring berkurangnya waktu kita, seyogianya kita terus berkembang, memperluas pandangan, tetap belajar dan menjaga pikiran tetap aktif dan terbuka.

Fisik boleh saja mulai pudar pesonanya, tapi akhlak semakin menarik. Tenaga mungkin sudah banyak berkurang tapi kebijaksanaan semakin tinggi. Usia tua ibaratnya waktu senja. Siapa bilang matahari hanya nampak indah ketika terbit. Ketika menjelang terbenam matahari juga sangat elok dan menentramkan.


Jumat, 05 November 2021

SEMANGAT JIWA MUDA



Wajahnya tampan, kulitnya bersih, tinggi dan murah senyum. Di usianya yang belia, baru tujuh belas-an tahun, bisa dikatakan sangat rajin shalat berjamaah. Hampir setiap isya’ ia datang pertama kali di masjid, azan sampai iqomat dan dia juga menjadi orang yang terakhir pulang dari masjid setelah menutup semua pintu dan mematikan lampunya.

Saat ini sangat sulit mencari sosok pemuda yang hatinya dekat dengan masjid. Umumnya anak-anak usia belasan tahun lebih mudah kita jumpai di warung-warung kopi berwifi gratis. Nongkrong di pinggir jalan atau ngebut di jalanan dengan suara motor berisiknya. Padahal kita membutuhkan banyak anak muda yang memiliki kepedulian dengan agamanya.

Islam mulai berkembang karena peran orang-orang yang masih muda. Nabi memulai mengemban risalah kenabian ketika usianya mencapai empat puluh tahun. Usia empat puluh tahun tidak bisa dikatakan usia yang sudah tua. Masih pantas bila digolongkan ke usia muda. Sahabat-sahabat Nabi banyak dari golongan pemuda. Umar Bin Khatab, seorang tokoh muda, Hamazah, Usman dan sahabat yang lainnya kebanyakan masih di usia yang muda.

Kita masih ingat dalam sejarah, Usamah Bin Zaid diangkat oleh Rasulullah menjadi panglima perang pasukan Islam ketika usianya baru tujuh belas tahun. Tak mungkin ia diangkat menjadi pemimpin bila tidak memiliki  kecakapan. Dan ini bukti usia muda bukan menjadi halangan untuk menjadi seorang pemimpin.

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia”. Begitu optimis ungkapan Bung Karno. Pemudalah yang akan banyak membuat perubahan. Di saat tenaga masih kuat, pikiran masih jernih, darah muda bergelora, seakan-akan semua pekerjaan berat dan rumit akan mudah terselesaikan.

 

Memilih yang Terbaik Hari Ini

  Terkadang dalam hidup ini kita tidak mendapat kesempatan kedua. Maka dari itu, bila ada pilihan untuk membuat keputusan, selalu ingat be...