Minggu, 14 November 2021

SENI MEMIMPIN



Setiap orang adalah pemimpin. Dari unit yang terkecil sampai yang tertinggi mesti ada yang memimpin. Sebuah keluarga dipimpin oleh kepala keluarganya, lingkungan kita juga memiliki ketua RT maupun RW. Andaikan seseorang tidak menjadi pemimpin bagi orang lain, tetap saja ia menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Semakin tinggi level kepemimpinan maka semakin besar pula tanggung jawabnya. Kata mendiang Nelson Mandela, seorang pemimpin seperti gembala. Dia tetap berada di belakang kawanan, membiarkan yang paling lincah ke depan, dimana yang lain mengikuti, tapi mereka tidak menyadari bahwa selama ini mereka sedang dibimbing dari belakang. 

Pemimpin harus memberi kebebasan orang yang dipimpin untuk berkreasi dan berkarya. Menjadi pemimpin tidak harus membatasi gerak dan langkah bawahannya. Tugas pemimpin justru menumbuhkan potensi dan kemauan orang-orang yang dipimpinnya. Semakin banyak kreativitas maka akan semakin bagus.

Puncak kesuksesan seorang pemimpin ketika ia telah menjadi jalan dan penyebab suksesnya orang lain. Sebaliknya bila pemimpin tidak mampu membantu berkembangnya prestasi bawahannya, maka ia belum bisa dikatakan pemimpin yang hebat. Karena para pemimpin hebat tidak hanya bisa memerintah orang lain. Namun, menginspirasi pengikutnya untuk bertindak, serta ingin membantu dan bekerja bersamanya.

Dalam falsafah Jawa seorang pemimpin dicirikan sebagai sosok yang bisa “ngemong”. Seorang pemimpin tidak harus orang yang seba bisa mengetahui banyak hal. Namun yang terpenting ia mampu menyatukan berbagai karakter menjadi kesatuan yang harmonis sehingga tujuan besar bersama dapat tercapai dengan efektif.

 

 

Sabtu, 13 November 2021

KOMPETISI DAN SPORTIVITAS


Hari ini seleksi PORSENI Jatim 2022 tingkat Madrasah Ibtidaiyah kecamatan Kalidawir dilaksanakan di beberapa lokasi perlombaan. Dari tiga belas cabang olah raga dan seni hanya satu yang belum bisa dilaksanakan yakni cabang lari sprint. Hai ini diakibatkan karena lapangan yang sedianya digunakan sebagai venue tidak layak dipakai karena licin dan berlumpur. Maklum saja pada hari Jumat kemarin Kalidawir mengalami banjir yang
cukup besar.

PORSENI adalah bagian dari pendidikan karakter sportif dan kerja keras bagi para siswa. Anak harus diajarkan sikap adil (jujur) terhadap lawan, sikap bersedia mengakui keunggulan lawan atau kekalahan sendiri. Ketika memiliki jiwa sportif dia tidak akan sombong ketika menjadi pemenang, dan tidak akan menjadi pecundang ketika dikalahkan.

Kompetisi mengajarkan kerja keras dan kekuatan tekad. Hanya mereka yang memiliki kegigihan dan persiapan matang yang akan tampil sebagai pemenang. Tidak akan pernah ada dalam sejarah kehidupan juara lahir tanpa pengorbanan besar. Di balik prestasi pasti ada rasa sakit dan beratnya berlatih, melawan lelah serta kemauan yang kuat.

Kehidupan ini adalah panggung besar sebuah kompetisi. Dalam segala bidang kita selalu berlomba dan bersaing menjadi yang terbaik. Mereka yang berada di puncak piramida pasti yang telah lolos kerasnya seleksi alam. Inilah pentingnya mengenalkan berkompetisi sejak dini kepada anak didik kita. Mereka akan terbiasa dengan sistem yang pasti akan dijalaninya ketika sudah dewasa.

Kalah dan menang akan tetap silih berganti. Kekalahan dan kemenangan harus menjadi pelajaran penting bagi anak didik kita. Ketika menang mereka harus bisa menghargai lawan, dan pada saat kalah artinya semangat berlatih harus lebih ditingkatkan. Karena kekalahan bukan akhir segalanya. Buktinya banyak yang meraih prestasi yang gemilang karena dia belajar dari sebuah kekalahan.

 

 

 

Jumat, 12 November 2021

BESARKAN HATINYA



Mendidik anak tidak dibenarkan dengan kasar, karena yang akan tertanam dalam jiwanya adalah jiwa pendendam. Mendidik anak mesti dengan kasih sayang. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain mendengar pujian positif dari seorang guru, di mana hal ini selalu menjadi ekspetasi dari setiap peserta didik. Pendidik yang baik tentu akan belajar menjaga perasaan muridnya serta menghargai dalam bentuk pujian.

Tak beda dengan anak kecil, orang dewasa pun sebenarnya juga membutuhkan pujian. Ini sangat manusiawi, meski pujian yang dimaksudkan sebenarnya lebih tepat dikatakan sebuah penghargaan (apresiasi). Bentuknya kadang hanya perhatian yang sederhana namun dengan ketulusan hati.

Seperti yang kami alami bersama di grup “Ma'arif Menulis”, baru saya sadari selama ini kami selalu dilatih dengan pola yang penuh respek untuk membesarkan hati. Proses belajar menulis yang gampang-gampang sulit memang membutuhkan kesabaran. Dan kita beruntung memiliki pembimbing (Prof. Naim) yang sabar. Beliau selalu berkomentar baik setiap ada yang mengunggah tulisan. Mantap, Jos, bermanfaat dan kata-kata serupa yang membesarkan hati. Meski sebenarnya yang menulis juga tahu karyanya belum bagus.

Seorang pembimbing yang tidak pernah menjatuhkan semangat. Potensi yang ada tidak dimatikan namun justru dimotivasi dan dikembangkan. Bayangkan seandainya beliau berkomentar, “ini kurang bagus, tidak ilmiah dan kurang bermutu”. Hasilnya, pasti tidak akan ada lagi yang berani menulis. Pendidik terbaik memang bukan dia yang banyak bicaranya, tapi dia yang memberi teladan yang nyata.

Menengok modal pengetahuan menulis kami yang pas-pasan dengan sedikit nekad dan keberanian, pasti beliau tak akan tega mengkritik. Berani menulis saja itu sudah luar biasa. Karena dibaliknya pasti ada usaha yang sungguh-sungguh. Inilah yang selalu dihargai mentor kita. Adapun isi tulisan wajar saja masih kacau, karena semua akan tertata seiring jam menulis yang panjang.

 

Memilih yang Terbaik Hari Ini

  Terkadang dalam hidup ini kita tidak mendapat kesempatan kedua. Maka dari itu, bila ada pilihan untuk membuat keputusan, selalu ingat be...