Minggu, 25 September 2022

Tamu dari Negeri “Antah Berantah”

 



Dalam ajang FIFA Matchday pada hari Sabtu kemarin, Indonesia sukses menaklukkan tamunya Curacao dengan skor 3:2. Laga persahabatan yang digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api tersebut terbilang sepi penonton. Salah satu penyebabnya mungkin karena lawan yang dihadapi timnas kurang terkenal.

Mendengar namanya saja mungkin kita baru sekali ini. Bahkan seandainya mereka tidak diundang ke Indonesia, mungkin kita tidak akan pernah tahu bila ada negara bernama Curacao. Mereka semacam negeri Antah Berantah yang nun jauh di sana sehingga luput dari perhatian.

Negara Curacao terletak di sebuah pulau di Laut Karibia dan sebelah utara garis pantai Venezuela, Amerika Selatan. Curacao adalah negara bagian yang termasuk di dalam Kerajaan Belanda. Menurut sebuah sumber resmi, Curacao dihuni oleh 149.800 orang. Bandingkan dengan penduduk Indonesia. Jumlah mereka sebanding dengan jumlah penduduk di sebuah kecamatan. Bahasa yang digunakan di Curacao secara umum adalah bahasa Belanda dan Inggris.

Laga tomnas Indonesia melawan Curacao sebenarnya berjalan menarik. Curacao membuka keunggulan di menit ke-7. Sepakan jarak jauh Michael Maria membentur tiang gawang, tetapi bola muntah langsung disambar Rangelo Janga dan sukses menjebol gawang Indonesia. Indonesia berhasil keluar dari tekanan dan balas menyerang. Hasilnya, Marc Klok sukses menyamakan kedudukan di menit ke-18.

Gol tersebut menambah semangat bertanding Indonesia. Buktinya timnas berbalik unggul pada menit ke-23. Throw-in yang dilepaskan Pratama Arhan ke kotak penalti Curacao disambut Fachruddin Aryanto dengan sundulan yang bersarang di sudut kanan gawang. Namun keunggulan itu tak bertahan lama. Menit ke-25, Curacao melihat celah di pertahanan Indonesia kemudian melancarkan serangan balik, hasilnya Juninho Bacuna berhasil mebuat gol kedua bagi Curacao.

Pada menit ke-55 Indonesia berhasil mencetak gol ketiga melalui Dimas Drajad. Ini menjadi gol terakhir dalam laga tersebut. Kedua tim akan memainkan pertandingan lagi pada hari Selasa. Bila melihat hasil pertandingan pertama, Indonesia pantas diunggulkan meski yang dihadapi secara peringkat FIFA jauh lebih baik.

 


Sabtu, 24 September 2022

Pemimpin Masa Depan

 



Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Seorang pemimpin harus memiliki kualifikasi yang disyaratkan. Pemimpin semestinya memiliki kecakapan dan kemampuan di atas rata-rata orang yang dipimpinnya. Jelas ini diperlukan karena pemimpin pasti mengahadapi situasi yang berbeda dengan orang pada umumnya.

Sejarah panjang manusia tak lepas dari kisah para pemimpin yang tumbuh dan berganti. Mereka dikenang karena keberhasilannya. Seorang pemimpin besar akan menulis kebesaran sejarahnya. Dia mampu membuat perubahan besar, merubah wajah dunia.

Sampai hari ini kita tetap dan akan selalu memiliki pemimpin. Dari tingkat yang paling bawah sampai ke tingkat pemimpin negara, silih berganti akan terus ada. Yang berbeda adalah cara kita memilih pemimpin dan syarat utama menjadi pemimpin.

Sadar apa tidak bila untuk menjadi pemimpin hari ini syarat utamanya adalah memiliki banyak uang. Sepandai apapun calon pemimpin bila tidak didukung dengan dana yang memadai hampir pasti ia akan gagal terpilih. Inilah ironi pemimpin masa depan kita.

Bila proses menjadi pemimpin harus selalu mengeluarkan uang besar, akibatnya sangat buruk. Mereka yang terpilih dipastikan motivasi utamanya adalah mengembalikan modal besar yang telah dikeluarkannya. Janji-janji yang disampaikan sebelum terpilih hanya formalitas belaka. Bahkan sumpah jabatan yang diucapkan di bawah kitab suci hanya sedalam tenggorokan belaka, jauh dari hati nuraninya.

 

Jumat, 23 September 2022

Manusia Setengah "Malaikat"

 



Lagi-lagi, ada berita mengejutkan. KPK menetapkan oknum Hakim Agung pada Mahkamah Agung (MA), sebagai tersangka terkait suap pengurusan perkara di MA. Hakim tersebut menjadi tersangka usai KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT). Ketua KPK menyebut kegiatan OTT itu bemula dari adanya laporan masyarakat. Dalam pengaduan itu disebutkan bahwa adanya informasi penyerahan sejumlah uang kepada hakim atau perwakilannya terkait penanganan perkara di MA.

Sebenarnya tidak sekali ini saja kita mendapat khabar tentang penegak hukum yang tertangkap tangan. Di negeri ini sudah berulang-kali aparat penegak hukumnya justru melanggar hukum. Tanggapan masyarakat juga bermacam-macam dengan peristiwa ini. Ada yang mengatan, wajar saja mereka juga manusia biasa yang masih silau dengan barang mewah, uang banyak atau fasilitas istimewa.

Sementara bagi kita yang masih punya harapan tegaknya hukum, berita ini semakin mengecilkan impian kita akan terwujudnya keadilan. Bagaimana kita bisa mencari keadilan, sementara mereka yang memiliki wewenang dan kuasa curang dan tidak amanah. Mereka menjualbelikan keadilan demi menumpuk kekayaan pribadi.

Memang tidak semua penegak hukum bisa dibeli. Tapi berapa banyak yang tersisa. Bila seorang hakim yang digelari sebagai “Hakim Agung” ternyata masih bisa disuap, lalu bagaimana yang lain. Di mana letak sakralnya kata Agung bila perbuatannya benar-benar tercela. Sungguh, itu peristiwa yang meruntuhkan harapan para pencari keadilan.

Seharusnya hakim yang menegakkan hukum tidak lagi bisa dibeli dengan materi. Mereka adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka harus menjadi manusia “setengah” malaikat yang martabatnya tinggi. Tidak tergiur lagi dengan segala glamor duniawi. Yang menjadi masalah, ke mana bisa menemukan orang-orang yang seperti itu….?

Kamis, 22 September 2022

NASIB BUKU

 


 

Terpuruknya minat membaca dan nasib buku Tanah Air diakui pengamat pendidikan. Menurut mereka, baik buku kertas maupun digital sama-sama sepi pembacanya. Katanya, nasib buku itu dari dulu sampai sekarang apes. Dalam arti, buku baik di masa pandemi ataupun tidak, tidak dibaca. Buku-buku sudah tidak dilirik banyak orang, hanya sedikit yang minat membaca buku.

Memang kini buku sudah banyak yang sudah beralih ke digital, namun tetap saja sepi pembaca. Buku-buku yang sudah berevolusi menjadi e-book, tidak banyak juga yang membaca, paling kebanyakan hanya mengunduh dan menyimpannya. Tidak tahu, apakah nanti sempat membaca atau hanya menjadi koleksi semata.

Menumbuhkan budaya literasi di lingkungan pendidikan juga semakin sulit dirasa. Coba saja buat pertanyaan sederhana kepada anak-anak didik kita. Apa yang akan dipilihnya bila kita sodorkan dua benda, buku dan ponsel. Pasti mereka akan lebih memilih ponsel, dan itu memang sebuah keniscayaan.

Nasib buku ke depan sepertinya memang kian gelap. Level berliterasi kita memang masih relatif rendah. Tentu tolok ukurnya adalah negara lain. Tidak perlu kita membandingkan dengan Amerika, Jepang, Korea Selatan atau negara-negara eropa. Dibandingkan dengan negara tetangga kita Singapura dan Malasyia kita sudah tertinggal jauh.

Dalam rentang sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang bisa jadi buku akan menjadi barang yang langka dan sedang menuju kepunahan. Memang ini terkesan skeptis, tapi gejalanya sudah sangat terang saat ini. Lihat saja sudah berapa banyak toko buku yang menutup gerainya. Hitung saja masih berapa yang tersisa di kota Anda. Dan hanya sedikit orang yang bersedih dengan nasib buku hari ini.

 


Rabu, 21 September 2022

JANGAN SOMBONG



Mengapa Iblis dikeluarkan dari surga oleh Allah. Karena dia sombong. Merasa dirinya lebih baik dari Adam. Iblis diciptakan dari api sedangkan Adam dicipta dari tanah. Karena asal mula inilah Iblis merasa dirinya lebih mulia dari Adam sehingga menolak bersujud kepada Adam.

Dosa tertua makhluk di semesta alam ini karena kesombongan, bukan dosa maksiat yang lainnya. Maknanya sombong itu lebih berbahaya dari dosa-dosa besar yang lainnya. Barang siapa dalam hatinya ada kesobongan, maka dia tidak bisa masuk ke surga. Jangankan hendak masuk, yang sudah ada di dalamnya (Iblis) saja bisa keluar karena sombong.

Sombong adalah penyakit yang bisa menjangkiti siapapun. Tidak terbatas hanya orang awam saja, mereka yang memiliki ilmu tinggi juga bisa terjerumus dalam kesombongan. Dan yang sering terjadi, orang sombong tidak merasa bila dirinya sombong. Sakit tapi tidak sadar bila dirinya sedang sakit.

Lalu mengapa mannusia bisa sombong. Karena bangga dengan ilmunya, hartanya atau kedudukan tinggi yang didapatkan. Semua status yang melekat dalam diri seseorang sebenarnya hanya sementara saja. Dikatakan kaya karena memiliki harta, padahal itu tidak abadi. Hari ini kaya besok bisa menjadi miskin tiada berharta.

Ada yang sombong karena merasa berilmu tinggi, aneh juga. Seberapa tinggi ilmunya sehingga merasa menjadi hebat. Iblis juga makhluk yang tinggi ilmunya. Bahkan dia tadinya dekat dengan Allah. Lalu bagaimana nasib manusia sombong yang mungkin ilmunya masih kalah tinggi dengan Iblis. Bisa jadi akan sama sengsaranya.

 

 

Selasa, 20 September 2022

Sejarah Panjang Sang Ratu

 



Ratu Elizabeth telah dimakamkan pada hari Senin (19/9/2022), upacaranya digelar di London. Inggris telah mengundang kepala negara atau perwakilan di tingkat duta besar dari negara mana pun yang memiliki hubungan diplomatik penuh. Puluhan atau bahkan ratusan pemimpin dunia hadir memberi penghormatan terakhir pada ratu yang telah dinobatkan sejak tahun 1952 tersebut. Menurut sebuah media, pemakaman sang ratu menghabiskan dana 130 M lebih.

Masa pemerintahannya selama 70 tahun merupakan masa pemerintahan terlama dalam sejarah Monarki Britania Raya serta pemimpin monarki kedua di dunia dengan masa kekuasaan terlama, melampaui masa pemerintahan nenek buyutnya, Ratu Victoria, yang memerintah selama 63 tahun. Dia merupan pemimpin monarki Britania Raya paling berpengaruh dalam 150 Tahun terakhir.

Meski pemerintahannya hanya simbol semata, namun warga Inggris menaruh perhatian  yang besar dan penghormatan yang tinggi terhadap ratunya. Di sistem pemerintahan yang modern, kerajaan inggris hanya sekadar warisan kebudayaan zaman dahulu yang terus dipertahankan. Mereka saat ini menggunakan sitem pemerintahan demokrasi dengan kekuasaan eksekutif dipegang oleh perdana menteri.

Sepanjang apapun usia manusia, tetap saja akan berakhir dan tutup usia. Bisa kita bayangkan, 70 tahun menjadi ratu dengan segala pelayanan mewahnya. Kurang apa nikmat yang diperoleh. Mungkin hanya satu yang belum didapat, keabadian. Ya, dunia ini memang fana, kebhagiaan yang ada di dalamnya juga fana semata.

Ketika kehidupan ini sudah berakhir, apa yang bisa kita harapkan lagi. Selain bekal iman dan amal kebaikan. Segala nikmat duniawi yang dikecap di alam semesta ini tak akan lagi ada artinya. Kematian adalah nasihat, terlebih kematian orang yang memiliki pengaruh besar di dunia seperti sang Ratu Inggris, Elizabet II.



Senin, 19 September 2022

Drama di Panggung GBT

 



Pertandingan sepak bola antara timnas Indonesia melawan Vietnam pada babak penyisihan Piala Asia U-20 2023 yang digelar tadi malam di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya berjalan dengan intensitas yang tinggi.

Indonesia dipastikan menjadi juara Grup F Kualifikasi Piala Asia U-20 2023 setelah menang dengan skor tipis 3:2. Indonesia meraih poin sempurna, timnas pasukan Shin Tae-yong mengantongi sembilan poin dari tiga laga. Dari tiga pertandingan yang dijalani semua berhasil dimenangkan.

Terakhir, timnas U-20 Indonesia memenangi laga melawan Vietnam dengan cara yang terbilang dramatis. Setelah bermain imbang 0:0 pada babak pertama Indonesia membuka keunggulan pada menit 60' melalui tendangan canon yang dicetak Marselino Ferdinan. Sebuah gol cantik yang membuat stadion GBT bergemuruh.

Hanya berselang lima menit, Vietnam berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1:1 setelah serangan mereka salah diantisipasi oleh pemain Indonesia Muhammad Ferarri. Di saat kedudukan sama kuat, silih-berganti kedua tim melakukan serangan berbahaya. Pada menit 78' Dinh Xuan Tien (pemain Vietnam) berhasil mengelabuhi barisan pertahanan timnas dan membuat skor berbalik unggul. Vietnam memimpin 2:1 di saat waktu normal hanya tersisa 12 menit saja.

Di saat wajah-wajah suporter mulai tampak cemas, Muhammad Ferarri berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2:2 pada menit ke-81'. Tandukannya melaju deras ke gawang Vietnam tanpa mampu dihadang. Puncaknya pada menit ke-84' Rabbani Tasnim berhasil mencetak gol sehingga kedudukan akhir 3:2.

Kemenangan atas Vietnam dinilai sangat penting. Selain mengantarkan Indonesia lolos pada piala asia U-20 tahun depan, ini juga membuktikan kita mampu bersaing dan mengalahkan Vietnam. Piala Asia U-20 2023 akan digelar di Uzbekistan pada 1 hingga 18 Maret 2023 Turnamen ini akan diikuti 16 tim, termasuk Uzbekistan sebagai tuan rumah yang lolos otomatis.

 

Minggu, 18 September 2022

Suka Mencela

 



Mungkin sudah zamannya, orang mudah mencela dan suka menggunjing. Memang ini bukan sesuatu yang baru, sejak dulu orang juga ada yang memiliki kebiasaan mencela. Tapi hari ini mencela menjadi perilaku yang seakan sudah umum dan menggunakan sarana yang bisa menjangkau ke tempat yang luas tiada berbatas, yakni media sosial.

Aib saudara sendiri yang harusnya ditutup justru diumbar di ruang umum. Dan semakin banyak yang tahu, maka semakin puas si pencela tersebut. Tidak berlebihan bila kita menyebut orang seperti ini jiwanya tidak waras.

Orang-orang di desa dulu biasa berkunjung ke rumah tetangga. Kemudian lazimnya berbincang-bincang mengenai apa saja yang mereka alami. Dan sudah biasa sedikit banyak “rasan-rasan” (ghibah) tentang tetangganya yang lain. Yang mereka lakukan memang mencela, tapi lingkupnya hanya terbatas, tapi kini orang meng-ghibah dan diketahui oleh jutaan yang lainnya.

Beruntung mereka yang mampu menahan diri dari mencela. Mereka lebih sibuk menilai kekurangan dan kesalahan sendiri disbanding meneliti kesalahan orang lain kemudian mencelanya. Dia sadar, bila orang lain tiada sempurna maka dirinya pun jauh dari kesempurnaan.

Sebaiknya, orang yang mendapat hinaan atau cacian sebaiknya tidak melakukan balasan mencela orang yang menghina dirinya itu. Karena, saat ada orang yang menghina kita justru kita akan mendapatkan pahala. Untuk itu, kita tidak harus bersedih apabila ada seseorang yang dengan sengaja menghina dan merendahkan kita. Karena, sebenarnya orang tersebut sedang memberikan hadiah kepada kita.

Sabtu, 17 September 2022

Shut Down Internet…



Siapa sih sebenarnya pemilik internet?. Sebuah pertanyaan sederhana tapi tentu sulit dijawab. Karena sebenarnya tidak ada satu negara pun yang  bisa mengklaim memiliki internet. Atau individu, entah itu kelompok atau perorangan yang bisa menguasai penuh jaringan internet di dunia.

Satu yang pasti, pengendali internet adalah perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan ini merupakan pusat Internet Service Provider (ISP). Artinya, siapapun yang ingin terhubung ke internet pada akhirnya harus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Beberapa perusahaan-perusahaan pusat ISP antara lain: Verizon, AT&T, IBM.

Dari sekian perusahaan, tidak ada satupun pemilik kuasa “pengendali” internet yang dimiliki oleh bangsa kita. Artinya, bisa diibaratkan kita hanya orang yang menyewa atau mengontrak kepada pihak lain. Bisa saja suatu saat secara tiba-tiba mereka memutuskan kerja sama dengan kita. Tentu ini hanya dugaan orang awam seperti saya.

Ratusan juta pengguna internet di Indonesia hanya konsumen semata. Google, Facebook, Twitter, WhatsApp maupun Youtube adalah milik asing. Bukan hanya bidang ekonomi, di bidang internet dan media sosial ternyata kita tidak memiliki kedaulatan. 

Coba kita bandingkan dengan China. Mereka punya Baidu mesin pencari seperti Google. China juga punya WeChat sebagai pengganti Facebook, Sina Weibo Twitternya China, Tencent QQ yang mirip WhatsApp dan Tencent Video semacam Youtube.

Tunggu saja masanya, mereka yang memiliki kendali penuh jaringan internet dunia akan menggunakan kekuatannya untuk memaksa menuruti apa yang mereka mau. Atau mereka akan shut down internet, dan bayangkan apa yang akan terjadi bila itu benar-benar dilakukan.

 

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...