Dialah
Irfan Hafiz penulis dari Sri Lanka yang kini sudah pergi
untuk selamanya. Anak yang semula riang itu diperkirakan dokter
tidak akan melampaui usia 13 tahun. Ia mengidap Distrofi Otot Duchenne (DMD),
ganggguan bawaan kelemahan otot. Tapi karena tekadnya ia mampu menulis meski
hanya dengan satu jarinya. Ya, perlahan seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan
lagi hingga tinggal sati jari yang masih berfungsi.
Sebelum wafat di usia 37 tahun Irfan sempat
menulis tiga buah buku, "Silent Strugle", "Moments of
Merriment" dan "Strugle of Though" yang luar biasa
isinya dan karena caranya ia menulis. Kisahnya menginspirasi jutaan orang di
dunia. Kegigihannya dalam menulis menjadi pemantik semangat berkarya bagi para
penulis.
Penulis
akan datang dan pergi. Namun apa yang ditulis akan menjadi kekayaan ilmu,
sastra dan budaya. Mari terus menulis sebagai bentuk syukur kita. Siapa bilang
menulis itu sulit. Bukankah menulis adalah pelajaran dasar kita semua. Yang
benar, menulis itu mudah tapi membiasakan menulis itu sulit. Dan, yang sulit
adalah menumbuhkan kemauan dan memulainya. Pengalamanmu, kisahmu dan khazanah
pengetahuanmu memiliki hak untuk kau sampaikan.
Sembilan tahun terakhir menderita cerebral palsy
(gangguan fungsi otak dan jaringan saraf) tidak menghalangi Josh Barry menulis
dengan hidungnya. Putu Agus Setiawan, ia tetap berkarya meski lahir dengan
kondisi yang tidak sama dengan orang normal lainnya. Agus
menderita muscular dystrophy. Sakit yang membuat beberapa bagian tubuh
Agus susah digerakkan. Namun demikian, penyandang disabilitas asal Bali ini
telah menerbitkan lima judul buku. Agus mengetik naskah buku-bukunya hanya
menggunakan satu jari.
Lalu
apa kekurangan kita?. Tubuh kita lengkap dan sehat, pikiran kita juga jernih
tapi kita kalah produktif dengan orang-orang yang dianggap “lemah” tadi. Di
saat tubuh dalam kondisi rapuh mereka masih mampu memberi sinar semangat bagi
orang lain. Di saat tubuhnya tanpa daya, mereka tetap membawa kecerahan bagi
sesama. Di kala fisik memiliki keterbatasan mereka masih mampu menebar kebaikan
dan pesan indah kedamaian.
Banyak yang merasa tidak bisa menulis, padahal
sebenarnya mereka mampu menulis. Yang terjadi sebenarnya adalah belum memulai
menulis. Ada saja belasan alasan yang membuat enggan menulis, padahal menulis
hanya membutuhkan alat tulis dan memulai dengan satu kata saja. Banyak yang
memiliki kekurangan tetapi mereka bisa menulis. Untuk bisa menulis mereka harus
berjuang karena semua tidak pernah mudah dilakukan.
Mereka yang hidup dalam keterbatasan ternyata
mampu memberikan terang bagi orang lain. Mereka melintas batas jauh melampaui
kemampuan diri sendiri. Lalu mengapa kita yang diberikan kesempurnaan belum
bisa meniru jejak langkahnya. Kita mesti merenung dengan kejernihan hati. Apa
kontribusi kita dalam kehidupan ini. Benarkah kita sudah banyak memberi
kemanfaatan bagi orang lain. Atau seluruh hidup kita hanya urusan kesenangan
dan menurutkan keinginan pribadi.