Sabtu, 17 September 2022

Shut Down Internet…



Siapa sih sebenarnya pemilik internet?. Sebuah pertanyaan sederhana tapi tentu sulit dijawab. Karena sebenarnya tidak ada satu negara pun yang  bisa mengklaim memiliki internet. Atau individu, entah itu kelompok atau perorangan yang bisa menguasai penuh jaringan internet di dunia.

Satu yang pasti, pengendali internet adalah perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan ini merupakan pusat Internet Service Provider (ISP). Artinya, siapapun yang ingin terhubung ke internet pada akhirnya harus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Beberapa perusahaan-perusahaan pusat ISP antara lain: Verizon, AT&T, IBM.

Dari sekian perusahaan, tidak ada satupun pemilik kuasa “pengendali” internet yang dimiliki oleh bangsa kita. Artinya, bisa diibaratkan kita hanya orang yang menyewa atau mengontrak kepada pihak lain. Bisa saja suatu saat secara tiba-tiba mereka memutuskan kerja sama dengan kita. Tentu ini hanya dugaan orang awam seperti saya.

Ratusan juta pengguna internet di Indonesia hanya konsumen semata. Google, Facebook, Twitter, WhatsApp maupun Youtube adalah milik asing. Bukan hanya bidang ekonomi, di bidang internet dan media sosial ternyata kita tidak memiliki kedaulatan. 

Coba kita bandingkan dengan China. Mereka punya Baidu mesin pencari seperti Google. China juga punya WeChat sebagai pengganti Facebook, Sina Weibo Twitternya China, Tencent QQ yang mirip WhatsApp dan Tencent Video semacam Youtube.

Tunggu saja masanya, mereka yang memiliki kendali penuh jaringan internet dunia akan menggunakan kekuatannya untuk memaksa menuruti apa yang mereka mau. Atau mereka akan shut down internet, dan bayangkan apa yang akan terjadi bila itu benar-benar dilakukan.

 

Jumat, 16 September 2022

BJORKA, SIAPA DIA...


Sosok "Bjorka" seolah menjadi penjahat yang diburu seantero negeri. Klaimnya yang mampu menghack data pribadi mendapat tanggapan serius dari aparat kepolisian. Dengan perangkat yang dimiliki polisi saat ini sedang mengejar si hacker misterius Bjorka.

Bila dilihat dari sepak terjangnya, Bjorka bisa dibilang sangat berani. Dia menargetkan figur-figur penting dan pejabat tinggi untuk dikuliti data pribadinya. Tentu sejauh ini memang masih data pribadi yang diumbar, tapi bisa saja yang dilakukan Bjorka saat ini memang masih main-main. Di saat orang menganggap remeh dia, tidak mustahil dia akan mengeluarkan rahasia besar yang belum diketahui masyarakat.

Aparat kepolisian tentu tidak akan ceroboh membiarkan hacker bebas melakukan aksinya. Segala lini pasti sudah terpantau dan bergerak mencari Si Bjorka. Meski banyak juga yang memiliki keyakinan bahwa tidak semudah itu dia akan ditangkap. Segala sesuatunya pasti sudah disiapkan dengan matang sebelum hacker Bjorka melakukan aksinya.

Peretasan data pribadi masyarakat memang bisa menimbulkan permasalahan. Terlebih bagi pejabat korup Bjorka bisa menjadi ancaman yang serius. Bagaimana bila kejahatan dan tindak pidana yang selama ini tidak terekspos mendadak terbuka terang-benderang di media sosial, tentu ini sangat ditakuti oleh mereka.

Saat ini Bjorka sedang “menikmati” aksi yang dilakukannya. Dan ini akan menjadi ujian “kesaktiannya”. Bila memang dia seorang hacker yang hebat, tak akan ada orang yang bisa menyentuhnya. Tapi bila dia hanya sosok pencari sensasi yang amatir pasti akan segera tertangkap.

 

 

 

Kamis, 15 September 2022

Proses yang Melelahkan

 


Siapa bilang tidak lelah, jelas lelah dan terkadang membosankan. Menulis setiap hari itu membutuhkan tenaga dan pikiran. Memang yang kita tulis hanya artikel singkat lima paragraf yang temanya ringan-ringan saja, tapi bagaimana bila itu harus dilakukan setiap hari. Pasti akan ada masanya lelah dan bosan.

Sifat manusia memang cepat bosan dengan aktivitas yang dilakukan terus-menerus, termasuk menulis setiap hari. Sudah ratusan judul yang tersimpan di blogger, namun saya selalu merasa belum cukup dengan semua itu. Saya sadar betul bahwa apa yang saya kerjakan adalah bagian dari proses mendidik diri sendiri untuk terampil menulis.

Tidak semua apa yang saya tulis saya bagikan ke grup menulis. Sering sekali artikel hanya menjadi dokumen yang tidak pernah terbaca meski sekali saja. Tentu yang membaca hanya saya sendiri. Tapi saya tidak pernah menganggap apa yang saya kerjakan sia-sia. Karena hanya orang dungu saja yang menganggap berlatih itu tidak ada faedahnya.

Mereka yang dikatakan profesional saja tetap membiasakan diri berlatih. Lalu bagaimana kita yang belum mencapai level hebat mau berhenti latihan. Tidak ada ceritanya hasil mengkhianati proses. Semakin teratur mengulang dan melatih diri, maka akan semakin terampil dan terbiasa.

Apa salahnya lelah karena menulis. Pasti iyu lebih baik daripada lelah karena bosan berdiam diri tidak melakukan apa-apa. Hidup ini harus terus bergerak. Sekali berhenti maka kita tidak akan berarti lagi.

 

Rabu, 14 September 2022

Barokah Membaca dan Menulis

 



Coba hitung waktu yang kita sia-siakan. Dalam sehari semalam atau dua puluh empat jam, apakah semuanya kita isi dengan aktivitas yang bermanfaat. Pasti jawabannya tidak. Ada waktu-waktu yang kita gunakan dengan melakukan kegiatan yang tidak ada nilainya. Nonton Youtube hingga berjam-jam, atau mungkin ngobrol tak tentu arah dengan teman sambil menikmati kopi.

Bila kita jujur dengan diri sendiri, seharusnya kita merasa rugi dan malu. Mengapa waktu atau kesempatan yang berharga dalam hidup ini harus habis percuma. Dan bila waktu-waktu terbuang tadi diakumulasikan jumlahnya bisa membuat kita terkejut. Waktu yang seharusnya penuh dengan kegiatan bermanfaat harus habis tanpa ada berkahnya.

Nasihat para bijak berperi, gunakanlah waktu sebaik mungkin. Salah satu kegiatan yang bermanfaat adalah menulis. Menulislah hingga engkau merasa lelah, dan istiratlah dengan membaca buku. Menulis kemudian membaca, atau membaca kemudian menulis.

Nanti akan ada jejak yang ditinggalkan oleh penulis. Barokah menulis dan membaca yang pasti akan meningkatkan kecerdasan dan kebijaksanaan. Mereka, orang-orang besar selalu membiasakan diri dengan membaca dan menulis. Lalu apa tidak bangga bila kita bisa mengikut jejak mereka dengan selalu menulis dan membaca.

Kalau tidak kita mulai hari ini, kapan lagi waktu yang tepat. Menunda hanya akan semakin menjauhkan mimpi dan harapan kita. Lebih baik memulai dengan segala keterbatasan, daripada menunggu mencari waktu terbaik yang akan menjelang. Waktu mungkin akan terus berjalan, tapi siapa yang menjamin kita masih punya kesempatan.

Selasa, 13 September 2022

Kepemimpinan Nabi, Kepemimpinan Ideal



Menjadi pemimpin itu membutuhkan proses. Tidak mungkin seorang pemimpin bisa menjalankan tugasnya dengan baik bila dia didaulat secara mendadak, tiba-tiba menjadi pemimpin. Dan sebagai muslim kita harus selalu menjadikan Nabi sebagai contoh termasuk bagaimana cara Nabi memimpin umat.

Memang Nabi selalu dibimbing wahyu dan selalu mendapat petunjuk Allah. Namun ada sisi kehidupan Nabi yang menggambarkan kepada kita semua bahwa beliau menjalani hidup layaknya manusia biasa. Ada fase-fase di mana itu merupakan bagian dari pendidikan menjadi seorang pemimpin sebelum beliau diangkat sebagai seorang Nabi dan Rasul.

Menggembala Kambing

Tidak satupun Nabi yang masa kecilnya tidak menggembala kambing. Semua Nabi mengalami angon kambing di saat masa belianya. Ini bentuk melatih kesabaran. Kambing memiliki karakter yang tidak menurut. Seorang gembala dituntut mampu mengendalikan kambing yang jumlahnya ratusan.  Di sinilah letak pendidikan karakter seorang pemimpin.

Berdagang bersama Abu Thalib ke Syam

Memang sudah menjadi kebiasaan orang Quraisy suka berdagang. Ketika Nabi masih berusia sekitar 12 tahun beliau diajak oleh pamannya Abu Thalib pergi berdagang ke Syam. Dalam perjalanan dagang inilah akhirnya mereka bertemu dengan pendeta Bahira yang akhirnya menyarankan Nabi dibawa pulang kembali ke kota Makkah.

Ikut Perang Fijir

Ketika usia Nabi baru 15 tahun terjadilah perang Fijir. Yakni perang antara suku Quraisy bersama Kinanah berhadapan dengan pihak Qais Ailan. Muhammad kecil tidak berdiam diri ketika menyaksikan paman-pamannya menghunus senjata melawan musuh. Beliau ikut mengambil peran dalam perang Fijir dengan membantu mengumpulkan anak panah untuk paman-paman beliau guna dilemparkan kembali ke musuh.

Membawa Dagangan Khodijah Binti Khuwailid

Pada usia 25 tahun Nabi Muhammad mendapat kepercayaan membawa barang dagangan milik Khodijah Binti Khuwailid. Dalam misi dagang kali ini beliau ditemani oleh seorang pembantu bernama Maisaroh. Perjalanan dagang sukses besar yang membuat Khodijah Binti Khuwailid akhirnya melamar beliau. Hal-hal di atas tersebut yang merupakan penempaan yang dialami Muhammad sebelum beliau diangkat untuk menerima nubuwah.

 

 

Senin, 12 September 2022

“Aji Mumpung”




Setiap mendengar lirik lagu “Ojo dibanding-bandingke” (jangan dibanding-bandingkan), semua orang pasti teringat dengan penyanyi cilik yang masih kelas enam Sekolah Dasar, Farel. Namanya memang viral sejak tampil di istana negara pada saat perayaan Hari Ulang Tahun RI yang ke-77 kemarin.

Kesempatan mentas di istana dan disaksikan langsung oleh Presiden membawa “keberuntungan” bagi Farel. Mungkin ini yang orang bilang “Aji Mumpung”, memanfaatkan kesempatan/peluang yang ada. Job manggungnya naik drastis dan tentu tarifnya semakin melambung. Berdasarkan sumber yang terpercaya, sekali tampil penyanyi cilik tersebut mendapat bayaran sampai puluhan juta. Tentu itu bukan nominal yang kecil untuk ukuran bocah seusia dia.

Banyak orang menganggap fenomena Farel sebagai sebuah berkah atau kesempatan yang jarang didapatkan. “Hanya” dengan kemampuan menyanyi semua kini menjadi berubah. Dia menjadi sosok “selebriti dadakan” yang dikenal banyak orang, disanjung dan pastinya banyak uang. Ketenaran penyanyi memang sering tidak sebanding dengan pencipta lagu yang dinyayikannya. Banyak yang tidak tahu siapa orang di balik tenarnya lagunya Farel.

Sudah lazim di negeri kita, mudah viral namun mudah pula dilupakan. Sampai kapan Farel akan meraup keuntungan dari lagu yang didendangkannya. Apakah masyarakat tidak menjadi bosan mendengar lagu yang itu-itu terus dalam waktu yang lama. Lalu bagaimana pula dengan sekolahnya, belajarnya, kehidupan sosialnya. Apa yang didapatnya hari ini hanya sementara saja. Ini seharusnya menjadi perhatian bagi orang-orang yang sayang dengan Farel.

Potensi dan bakat yang ada pada anak memang penting dikembangkan. Tetapi selayaknya pendidikan tetap menjadi prioritas utama. Bekal ilmu tentu lebih penting dari sekadar materi yang berlimpah. “Barang siapa menginginkan kebahagian dunia, maka tuntutlah ilmu dan barang siapa yang ingin kebahagian akhirat, tuntulah ilmu dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, tuntutlah ilmu pengetahuan”.

 

 

Minggu, 11 September 2022

Islamofobia

 



Tanggal 11 September akan selalu dikenang dunia. Kita akan selalu diingatkan dengan peristiwa pada 11 September 2001 di New York City Amerika Serikat. Sebuah serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target. Para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York City; kedua menara runtuh dalam kurun waktu dua jam.

Menurut laporan tim investigasi 911, sekitar 3.000 jiwa tewas dalam serangan ini, menjadikannya sebagai serangan teroris dengan jumlah korban terbanyak sepanjang sejarah. Dan sejak saat itu dunia barat semakin intens dan menuding Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan.

Ketakutan terhadap Islam sejak saat itu semakin menjadi. Islamofobia berkembang dan dipropagandakan di barat, sebuah fobia atau suatu ketakutan, kebencian atau prasangka terhadap Islam atau Muslim secara umum. Tuduhan yang sebenarnya tidak mendasar, karena Islam adalah agama rahmatan lil’alamin.

Islam sesungguhnya sangat dirugikan dari terjadinya serangan 9/11. Seandainya benar pelaku teror tersebut merupakan orang Islam, tidak adil bila menimpakan kesalahannya pada umat Islam secara umum. Islam sebagai agama tidak pernah mengajarkan tindakan teror, dan juga tidak membenarkan perbuatan teror.

Setelah sebelas tahun peristiwa 9/11 berlalu, kini ada perubahan besar tentang cara Barat memandang Islam. Banyak yang karena penasaran kemudian belajar tentang Islam. Dampaknya, ada kenaikan yang signifikan pada orang-orang barat yang menerima Islam. Setiap peristiwa memang akan selalu membawa hikmah.

Sabtu, 10 September 2022

Dunia Tanpa Buku

 



Bagaimana nasib buku ke depannya. Kita bayangkan saja, apakah masih ada toko yang menjual buku dalam dua puluh atau tiga puluh tahun yang akan datang?. Bukan hal yang mustahil, nanti tidak ada lagi toko buku, kalaupun ada jumlahnya mungkin sudah sangat sedikit.

Arus digitaslisai saat ini sudah semakin kuat. Buku tak luput terkena imbasnya. Saat ini sudah menjadi hal biasa buku-buku dirilis menggunakan versi digital e-book. Bagi penerbit, menerbitkan buku barangkali sudah tidak menguntungkan lagi. Minat baca masyarakat yang rendah menjadikan buku barang yang tidak banyak dicari.

Hobi membaca tetap saja disalurkan tanpa harus membeli buku. Selain e-book dengan mudah orang bisa mendapatkan bahan bacaan atau artikel dari situs berita internet. Namun membaca buku versi kertas tetap lebih banyak sisi positifnya.

Buku memiliki keakuratan informasi yang lebih valid dari pada situs internet, karena proses di mana seseorang akan dengan mudah menyebarkan berita melalui internet tanpa ada proses penyaringan terhadap kualitas informasi yang disebar, sedangkan pada buku informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat luas akan terlebih dahulu melalui proses penyuntingan sehingga kualitas informasi yang ada di dalamnya akan lebih valid sehingga memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dunia tanpa buku dan tanpa perpustakaan akan terasa ganjil. Yang pasti buku akan tetap ada di tengah masyarakat yang tata kelola hidupnya serba digital. Meski buku sudah ditinggalkan oleh kebanyakan orang, para pecinta buku akan tetap setia menjaga dan melestarikan buku.

 

Jumat, 09 September 2022

Tak Lebih Ringan, Tak Lebih Berat Pula

 



Tak lebih ringan dan tidak pula lebih berat. Semua orang akan pasti akan merasakan beban dalam hidupnya. Sudah menjadi kodrat kehidupan, bahagia dan kesedihan akan silih-berganti menghampiri kita. Kesedihan biasanya muncul akibat dari menerima keadaan seperti kegagalan, kecewa, kehilangan, maupun harapan yang belum tergapai.

Tidak ada yang melarang untuk bersedih. Bersedih boleh saja, bahkan kata pakar kejiwaan itu akan memiliki dampak baik bagi tubuh karena dengan meluapkan emosi yang terpendam akan dapat membersihkan toksin. Akan tetapi, kesedihan juga bisa berdampak buruk jika dirasakan terlalu berlarut-larut.

Yang menjadikan lebih berat sebenarnya bukan karena bentuk musibahnya, namun sikap seseorang dalam menghadapi musibah. Terkadang kita salah menilai, bukan kuat atau kurang kuat, melainkan cara pandang seseorang menyikapi setiap musibah yang dia terima.

Seperti air bening dalam gelas. Setiap orang pasti mampu mengangkat atau memindahkannya. Tapi bagaimana bila seseorang tetap memegang gelas tersebut hingga berjam-jam lamanya. Pasti tangannya akan pegal, gemetar dan merasakan beban yang berat. Dia akan mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk menahan gelas di  tangannya tidak terjatuh.

Begitu perumpamaan orang yang berlarut-larut dalam kesedihannya. Pikirannya selalu tertuju pada masalah yang sedang dihadapi. Sehingga urusannya serasa menjadi berlipat-lipat akutnya.

Sementara ada orang yang tidak mau terhanyut dalam kesedihan. Ia hanya sepintas saja memikirkan permasalahan dan keruwetan hidupnya. Ia akan meletakkan beban yang dibawanya, karena dia sadar betul beratnya hidup membawa masalah. Jadi, sekadarnya saja ia memikirkan hal yang sulit. Karena dia akan melihat sisi-sisi baiknya saja.

 

Kamis, 08 September 2022

Antara Harus Bergerak dan Berhenti

 



Hidup ini paduan antara gerak dan diam atau berhenti. Banyak yang mengatakan hidup itu seperti orang naik sepeda, kalau berhenti mengayuh maka akan terjatuh. Memang benar, tapi jika berhenti mengayuhnya hanya sesaat sudah pasti sepeda akan tetap berjalan.

Gerak itu hidup, tetapi berhenti sesaat adalah bagian dari merencakan gerakan yang lebih kuat. Istirahatlah sejenak ketika semua terasa lelah. Bila pinggang sudah pegal, kepala pening dan mata sayu saatnya Anda berhenti. Tidak perlu memaksakan diri untuk terus melakukan sesuatu, karena yang diperlukan adalah menikmati istirahat.

Istirahatnya badan bila lelah yang terbaik adalah tidur dengan nyenyak. Sementara istirahatnya pikiran adalah dengan menenangkan diri. Mungkin bagi sebagian orang ke pantai adalah solusi terbaik untuk memulihkan pikiran yang suntuk. Sementara bagi yang lain, menikmati kopi hangat yang kental sudah cukup mengembalikan pikiran yang segar.

Lain orang memang lain kebiasaannya. Asal jangan banyak diam dan lupa bergerak. Banyak mencari hiburan sementara hidup tidak menghasilkan apa-apa selain hanya menuruti kesenangan. Hiburan itu penting tapi sifatnya hanya selingan saja, bukan yang utama.

Setelah diam secukupnya, waktunya merancang untuk gerakan yang lebih kuat. Energi sudah kembali dan pikiran semakin segar, tantangan di depan siap untuk ditaklukkan. Begitulah ritme hidup ini, bergerak berhenti dan bergerak kembali.

 

 

Rabu, 07 September 2022

Artikel Ke-800

 



Sampai juga di angka yang ke-800. Ngeblog terasa semakin menarik, karena ibarat menabung tulisan. Sedikit tapi dilakukan setiap hari lama-kelamaan kini sudah terkumpul artikel yang banyak.

Senang saja beraktivitas menulis setiap hari. Kalau sebagian orang menganggap menulis itu membosankan, tentu tidak bagi saya. Sejak awal mula ngeblog, saya tidak merasa menulis menjadi beban atau sesuatu yang mengganggu.

Tetap saja menulis bisa dilakukan di tengah-tengah aktivitas harian yang terkadang juga sedikit sibuk. Wajar bila sehari atau dua hari tidak menulis, yang terpenting ada komitmen untuk menebus waktu yang telah ditinggalkan.

Dulu, tidak pernah terpikirkan akan mampu menulis sebanyak ini. Meski hanya artikel pendek lima paragraf, membuatnya juga terkadang membutuhkan usaha yang keras. Terlebih bila setiap hari harus menulis artikel satu judul.

Banyak sekali artikel saya di blog yang tidak dibaca. Tetapi saya tidak pernah sedikitpun merisaukan hal itu. Tidak penting apakah yang kita kerjakan akan mendapat apresiasi dari orang. Yang terpenting apakah yang kita lakukan membawa faedah. Dan saya sangat meyakini apa yang saya kerjakan ada manfaatnya, setidaknya bagi diri saya sendiri.

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...