Jumat, 10 Desember 2021

PANDEMI TELAH BERAKHIR?

 



Sudah beberapa bulan berita tentang pandemi virus Corona tidak terdengar lagi. Media masa baik televisi maupun portal online sudah jarang memberitakan khabar pandemi. Aneh memang, seakan Covid hilang begitu saja. Dan yang lebih mengherankan situasi ini bukan hanya di negeri kita, secara global pandemi memang sudah tidak menjadi berita besar lagi.

Kita lihat saja di masyarakat sekitar kita. Protokol kesehatan sudah tidak lagi dijalankan dengan ketat. Andaipun diterapkan, biasanya hanya di forum-forum resmi. Ini hanya formalitas untuk menghindari teguran dari aparat dan tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19. Banyak yang memakai masker hanya karena sungkan dengan mereka yang masih disiplin menerapkan aturan.

Ada yang mengatakan fenomena ini terjadi karena program vaksin telah berjalan dengan baik di berbagai negara. Telah terbentuk “Herd Immunity” yang mengakibatkan tidak ada lagi penularan virus. Kalaupun ada penularan di masyarakat jumlahnya sangat kecil. Mungkin saja teori ini benar, mengingat program vaksin berjalan dengan masif dan menyeluruh.

Bagi kalangan yang masih percaya dengan teori konspirasi tentu memiliki pandangan yang berbeda. Pandemi seakan bisa dikendalikan oleh mereka yang memiliki “kekuatan” jaringan global. Pandemi hanyalah “tool” yang bisa digunakan sesuai kebutuhan mereka. Ketika apa yang menjadi terget mereka telah terpenuhi, maka pandemi dengan suka-suka mereka hentikan.

Seandainya pandemi memang benar-benar telah hilang tentu ini berita gembira bagi kita semua. Telah lama kita hidup dalam “teror” yang mencekam. Saatnya kembali menata langkah untuk bangkit dan memasuki era baru. Banyak hal yang harus kita benahi, karena banyak tatanan yang telah dirusak oleh pandemi.

Kamis, 09 Desember 2021

KRITIK, SARANA MEMPERBAIKI DIRI



Orang yang sering mengkritikmu sebenarnya kemungkinannya ada dua, dia menyukaimu atau memang sentimen terhadapmu. Kritik, saran dan teguran tidak selalu diartikan dengan rasa tidak suka. Sangat mungkin terjadi orang yang sering mengkritik kita sebenarnya justru memiliki perhatian. Dia tidak rela kita berbuat kesalahan, makanya dia akan segera meluruskan dengan caranya.

Memang terkadang bahasa kritik bisa tajam dan menyakitkan. Kritik dengan cara ini pasti sering membuat kita merasa tidak nyaman. Padahal kritik itu bagus untuk dijadikan sarana memeperbaiki diri. Dari sudut pandang ini, kritik sebenarnya dalam banyak hal bertujuan baik. Hanya membutuhkan kebesaran hati untuk menerimanya.

Kita membuat sebuah ilustrasi. Seseorang yang diingatkan dengan keras oleh orang karena ada sesuatu yang membahayakannya pasti ia senang karena ada yang mau mengingatkan. Akan aneh bila dia tersinggung dengan cara orang mengingatkan dia dan mengabaikan tujuan utamanya.

Harus disadari, tidak mungkin kita selalu benar dan tepat dalam mengambil langkah. Bila tidak ada orang yang mau mengkritik atau memberi saran bila kita keliru, tentu kesalahan kita akan terus berulang. Maknya tidak berlebihan bila kita harus banyak berterimakasih kepada orang yang sudi memberi saran dan kritiknya.

Kritik itu pahit tapi akibatnya bisa manis. Sebaliknya pujian itu manis tapi sering berakibat pahit pada akhirnya. Orang yang sering dikritik akan intropeksi dan banyak berbenah, tapi orang yang dipuji acapkali terlena dan merasa sudah tidak memiliki kekurangan.

 

 

Rabu, 08 Desember 2021

TERUS BERLATIH



Sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti akan jatuh juga. Memang sepertinya peribahasa ini benar adanya. Sehebat apapun orang, semahir bagaimanapun seseorang pasti pernah gagal dalam melakukan pekerjaannya.

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang seratus persen (sempurna) dalam  bidangnya. Sekali atau dua kali ia juga pasti mengalami kegagalan. Namun bagi mereka yang telah terlatih maka akan sedikit melakukan kesalahan. Beda dengan orang yang kurang berlatih, tentu ia akan sering melakukan kesalahan.

Berlatih membuat orang mampu tampil dalam performa terbaiknya. Para profesional sekalipun tidak akan meninggalkan kebiasaan melatih diri. Bukannya mereka belum menyatu dalam bidang yang digelutinya, tapi mereka masih membutuhkan pembiasaan.

Seorang musisi, atlet, atupun orator membutuhkan persiapan sebelum membuat penampilan. Tanpa persiapan yang cukup aksi mereka bisa saja kurang memuaskan. Persiapan dengan berlatih rutin menjadikan semua berjalan sesuai yang diharapkan.

Apabila mereka yang sudah di level tertinggi saja masih melakukan latihan, bagaimana dengan para pemula?. Sudah pasti harus lebih keras melatih diri. Tanpa kemauan yang besar potensi dalam diri akan sangat sulit untuk berkembang.

 

Selasa, 07 Desember 2021

MAHAMERU YANG MENGEJUTKAN

 



Sabtu, 4 Desember 2021 Gunung Semeru (Mahameru) meletus yang mengakibatkan puluhan orang meninggal dan dinyatakan hilang, ribuan warga mengungsi. Erupsi Gunung Semeru juga membuat ribuan unit rumah, fasilitas pendidikan, dan jembatan rusak. Gunung Semeru yang terletak di Lumajang Jawa Timur memang termasuk salah satu gunung api aktif di Indonesia.

Riwayat panjang erupsi Gunung Semeru terekam dalam catatan sejarah. Namun demikian banyak kalangan yang terkejut dengan erupsi kali ini. Setelah sekian lama “diam” tiba-tiba Semeru mengejutkan. Tentu erupsi kali mengejutkan karena dampak letusannya yang begitu besar.

Letusan gunung berapi merupakan bencana alam yang tidak dapat kita cegah. Tak ada teknologi yang canggih sekalipun bisa menghalangi erupsi gunung berapi. Yang mungkin dilakukan masih sebatas menciptakan peralatan yang dapat memberi peringatan dini akan terjadinya letusan gunung berapi.

Sejarah panjang erupsi Semeru semestinya menjadikan masyarakat bisa memahami “kebiasaan” dari gunung tertinggi di pulau Jawa ini. Masyarakat sekitar gunung berapi dan para ahli vulkanologi semestinya bisa mempelajari sampai sejauh mana jarak aman untuk membangun pemukiman. Karena bagaimanapun juga amat berhaya bila tinggal dalam radius letusan gunung berapi.

Tidak selamanya erupsi berdampak buruk bagi alam. Lava yang mengalir dan semburan awan panas dengan abu vulkaniknya tentu memberi perubahan pada ekosistem di sekitarnya. Dampak gunung meletus diyakini memiliki sisi positif yakni akan menciptakan ekosistem baru. Tanah yang gersang akan kembali menjadi subur. Hutan yang rusak akibat letusan akan segera digantikan dengan pepohonan baru dengan membawa ekosistem baru juga.

 


Senin, 06 Desember 2021

JAGA DIRI

 


Ketika sedikit, ia menjadi teman yang sangat bermanfaat, dan ketika besar sering menghancurkan. Seperti utulah sifat air, menjadi pemuas dahaga orang-orang yang kehausan, terkadang menyirami tumbuhan yang kekeringan, menyegarkan badan kita yang letih setelah bekerja. Tapi jangan lupa air juga bisa menjadi musuh besar manusia. Banjir bandang yang terkadang menenggelamkan, tsunami yang menghancurkan dan arus sungai yang menghanyutkan.

Jadilah manusia laksana mata air yang sejuk menyegarkan. Kehadirannya membawa kedamaian, ketiadaannya akan banyak yang merasa kehilangan. Jangan menjadi manusia yang selalu menebar rasa ketakutan seperti tsunami dan banjir bandang. Kehadirannya tidak pernah diharapkan, ketiadaannya menjadi kebahagiaan banyak orang.

"Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (Shahih Bukhari). Makanya, muslim diajarkan untuk menjaga hubungan baik dengan Allah dan manusia dengan menjaga lisan dan tangannya.

Muslim yang baik harus menjaga lisannya untuk tidak melukai hati sesamanya, berbohong dan berkata kasar yang melanggar syariat dan menyuruh perbuatan dosa. Bukan cuma lisannya saja, tapi tangannya, telinganya, kakinya bahkan hatinya dilarang digunakan untuk berbuat dosa. 

Memang tidak mungkin selamanya kita mampu menjaga diri dan hati dari maksiat. Kita hanyalah manusia biasa yang condong melakukan kesalahan. Tapi kita juga bukan golongan makhluk yang selalu berbuat dosa. Di saat tergelincir dari jalan yang lurus, segera kita berusaha kembali menuju jalan-Nya.

 

 

Minggu, 05 Desember 2021

MENULIS, SEBUAH ANUGERAH




Menulis adalah cara terindah menuangkan pikiran-pikiran untuk mendialogkan beragam bentuk keagungan Tuhan kepda khalayak. Karena sejatinya kemauan untuk menulis saja itu sudah bentuk kasih sayang Tuhan. Tanpa kasih sayang-Nya tidak mungkin tergerak untuk menulis. Oleh karena itu, pada dasarnya menulis adalah bagian dari wujud hidayah dan kasih sayang terhadap hamba-Nya. (Dikutip dari Melangitkan Doa, Syarah Renungan Transformatif Rektor UIN SATU Tulungagung).

Penulis mungkin tidak selalu mendapatkan “reward” dari apa yang ditulisnya. Tidak pula mendapat imbalan dari setiap kata yang ditulisnya. Tapi yang pasti, dalam aktivitas menulis ada harapan mendapat keberkahan dalam hidup. Berkah karena ilmunya bermanfaat, berkah karena setiap waktu yang dia abdikan dalam menulis membawa kebaikan, meskipun hanya kebaikan kecil.

Menulis bagian dari kesadaran diri pentingnya menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Setiap detik, menit, jam dan hari yang berlalu tentunya harus dipertanggungjawabkan. Hasan Al-Bashri pernah mengatakan; Setiap kali satu hari hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu. Pada hakikatnya, waktu bagi manusia adalah umurnya sendiri. Apabila waktu berlalu, maka usianya pun semakin berkurang.

Menulis bagai tabungan kebaikan. Ada impian kelak semua yang telah ditulis menjadi  sesuatu yang menjadi alasan kita untuk bahagia. Atau bahkan di saat kita tidak lagi tinggal di dunia fana ini, akan ada kebaikan yang tetap mengalir.

Sebagaimana orang kaya akan banyak menafkan hartanya untuk simpanan amalnya, orang berilmu pun akan mengamalkan ilmunya. Dan penulis akan menggerakkan penanya untuk meninggalkan jejak dan pesan kebaikan.

 

 

 

  

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...