Minggu, 26 Juni 2022

Memaknai Zuhud #2



Orang kaya tidak pasti pecinta dunia. Abu Bakar, Usman BinAffan dan Abdurrahman Bin Auf adalah model orang yang banyak harta tapi tidak terikat hatinya dengan duniawi. Sementara orang miskin tidak pasti zuhud. Bisa saja dia menjadi miskin tetapi bukan pilihannya. Sebenarnya hasratnya besar terhadap harta, tapi rupanya “nasib” membawa dia pada hidup serba kekurangan.

Harta dititipkan oleh Allah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Ada orang yang sebenarnya tidak menginginkannya, tapi justru mendapat amanat harta. Banyak pula yang sangat mendambakan harta tetapi Allah tidak memberinya kepercayaan.

Banyak yang diuji dengan kemiskinan tapi mereka tetap memiliki iman yang kokoh. Sebaliknya, ujian berupa amanat harta yang banyak terkadang membuat seseorang lupa segalanya. Ia menjadi pecinta harta, lupa dengan Dia pemilik harta sebenarnya. Harta seakan menjadi faktor tunggal meraih kebahagiaan di dunia ini.

Memang benar, banyak hal menjadi mudah ketika seseorang berharta. Tapi harta bukan segalanya. Nyatanya mereka yang berharta belum tentu menemukan kebahagiaan yang diimpikannya. Tak mampu hartanya membeli kebahagiaan.

Kata orang, kasur indah bisa dibeli oleh mereka yang berharta. Tapi tidur nyenyak selamanya tak akan bisa dibeli. Begitu pula rumah mewah bisa dimiliki oleh mereka yang berharta banyak, tapi ketenangan hidup tak akan bisa dinilai oleh harta seberapa pun banyaknya.

 

Sabtu, 25 Juni 2022

Memaknai Zuhud



Gus Mus (KH.Mustofa Bisri), suatu saat pernah dawuh. Saat ini mengajak umat Islam untuk zuhud adalah suatu hal yang sangat sulit. Hidup di akhir zaman layaknya yang kita alami saat ini, dipenuhi dengan syahwat duniawi yang menggebu-gebu. Kebanyakan orang mencintai dunia melebihi dari yang lainnya. Lalu bagaimana menawarkan zuhud di tengah umat yang orientasinya mengejar dunia.

Pengertian zuhud adalah upaya manusia mengalihkan perhatiannya jauh dari dunia. Orang yang bersikap zuhud adalah mereka yang hanya fokus pada kepentingan akhirat atau surgawinya. Meski menurut beberapa pendapat juga menyebutkan, zuhud bukan berarti melupakan dunia. Karena kita hidup di dunia yang tidak mungkin lepas dari segala urusan duniawi.

Zuhud sebenarnya tidak selamanya dimaknai dengan meninggalkan perkara duniawi. Mengamalkan zuhud tidak selalu ditampilkan dengan hidup miskin dan membenci harta benda. Karena dalam praktiknya, banyak ulama salaf teladan umat yang hidup dengan banyak harta. Hartanya tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan berlimpah untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.

Bedanya, bila orang kaya yang cinta dunia akan selalu menumpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. Ia akan selalu merasa kurang dan akan terus berusaha mengumpulkan lebih banyak lagi. Sementara orang zuhud tidak mencintai kekayaan yang dimilikinya, ia menyimpan semua hartanya pada tempat penyimpanannya. Dia tidak meletakkan harta dalam “hatinya”, sehingga sewaktu hartanya habis karena dinafkahkan di jalan Allah, ia tidak merasa kehilangan.

Harta dunia sering menjadi sumber malapetaka bila berada di tangan para pecinta dunia. Namun, kekayaan dunia sekadar menjadi sarana yang menyampaikan para Zahid ke ridha Allah. Segala kekayaan duniawi tidak akan mampu memalingkan cintanya pada ilahi. Karena dia sudah yakin, tujuan hidupnya bukan mencari kemegahan negeri fana.

 

Jumat, 24 Juni 2022

Stamina Menulis



Lelah atau kehilangan stamina menulis. Ini yang mungkin sedang saya rasakan. Menulis terasa semakin berat untuk dikerjakan, padahal akhir-akhir ini banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan. Tapi sering kali setiap membuka laptop hendak menulis, semua terasa kosong dan bimbang harus memulai dari mana. Ia, semua terasa kembali seperti saat memulai dulu. Menulis seakan menjadi pekerjaan sulit diselesaikan.

Sepertinya stamina menulis saya harus diinjeksi motivasi. Seperti tanaman yang layu yang membutuhkan siraman air. Daunnya tidak lagi hijau subur, kini sudah semburat warna kuning. Batang juga seding menyusut dan kering. Begitulah gambaran semangat dalam diri, lesu kehilangan gairah.

Tahun ini sebenarnya ada target untuk merilis satu judul buku lagi. Draf buku sebenarnya sudah ada dan tinggal mengembangkan menjadi sebuah karya yang utuh. Tapi setiap kali hendak menyunting tulisan yang berserak-serak terasa malas akut tersangkut dalam pikiran. Menggoda untuk segera meninggalkan file-file yang sudah lama tersimpan. Maunya segera berbaring santai sembari membuka ponsel dan berselancar di dunia maya yang menjanjikan hiburan yang meriah.

Target menyelesaikan buku bisa tidak terpenuhi bila semangat menulis belum menyala kembali. Grafik menulis saat ini sedang menurun dan segera harus dinaikkan kembali. Saatnya kini bangkit dari bujukan lalai. 

Nafsu memang selamanya menjanjikan kesenangan. Bila dituruti memang tidak akan pernah ada ujungnya. Semuanya tetap kembali pada diri kita sendiri. Bila mampu mengatur waktu dengan baik, semua akan berjalan pada landasan yang benar. Ada waktunya untuk melakukan hal-hal yang penting, meski juga sesekali kita perlu menikmati intermezo.

 

 

Kamis, 23 Juni 2022

Olah Raga dan Kesegaran Jiwa



Siapa bilang olah raga itu membutuhkan biaya yang mahal. Nyatanya, banyak jenis olah raga yang bisa kita pilih dan biayanya sangat murah. Sejak dulu saya suka olah raga lari pagi atau joging. Selain murah joging di pagi hari juga mudah dilakukan, tanpa banyak persiapan dan praktis.

Lari tidak membutuhkan biaya yang mahal karena hanya membutuhkan kostum dan sepatu olah raga. Trek joging juga tidak harus menyewa karena semua sudah ada tinggal pakai, jalan umum. Lari juga tidak merepotkan kita, karena bisa dikerjakan sendirian tanpa harus mencari tandem. Berbeda dengan olah raga yang lain, lari memang banyak kemudahannya.

Semua orang tahu, kesehatan itu penting. Tapi anehnya banyak yang enggan menjaga kesehatan tubuhnya dengan rutin berolahraga. Badan kita adalah karunia Allah yang mesti kita rawat dan jaga dengan baik. Lalu, kalau untuk melakukan aktivitas gerak tubuh masih malas?. Dengan cara apa menjaga kesehatan tubuh.

Olah raga adalah bagian dari ikhtiar dan syukur kita. Ikhtiar agar selalu memiliki badan yang sehat sehinga mampu mengerjakan amal ibadah dengan baik. Syukur karena dengan olah raga fungsi kaki, tangan dan seluruh tubuh akan menjadi lebih sempurna. Merawat kaki tentu dengan memakai berjalan sesuai porsinya, demikian pula anggota tubuh yang lainnya.

Selain menyehatkan badan olah raga juga menyegarkan jiwa. Pikiran menjadi kembali jernih dan tenang. Rasa penat dalam tubuh hilang menjadi perasaan yang nyaman. Inilah manfaat olah raga yang sayang bila kita abaikan. Olah raga juga memiliki fungsi rekreasi dan melepaskan kesuntukan hati. Pastikan, anda rutin berolahraga dan buktikan manfaatnya…

 

 

Rabu, 22 Juni 2022

Berkhidmat Pada Masyarakat



Diriwayatkan dahulu ada beberapa sahabat Nabi yang ingin meningkatkan ibadah dengan cara yang “ekstrem”. Masing-masing dari mereka bertekad ada yang ingin puasa terus menerus, ada yang ingin ibadah di sepanjang malam setiap hari, ada juga ada yang ingin tidak menikah sama sekali.

Di lain hari, mereka bertemu dengan Rasulullah yang mana beliau sudah mengetahui tekad sahabat tersebut. Rasulullah bersabda: “kalian mau beribadah seperti itu? Demi Allah! Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa, namun ada hari di mana aku berpuasa dan ada hari yang aku tidak berpuasa, aku shalat dan aku juga memiliki waktu tidur, dan aku juga menikahi perempuan, siapa yang tidak senang dengan sunnahku, maka dia bukan golonganku.”

Sebaik-baik teladan adalah pribadi Rasulullah. Sedangkan beliau mencontohkan, bagaimana beribadah namun tidak meninggalkan umatnya. Beliau berada di tengah masyarakat dan melakukan aktivitas layaknya orang pada umumnya. Rasulullah memberi keteladanan terhadap masalah keduniaan pada para pengikutnya, seperti pergi ke pasar, berumah tangga, dan bergaul dengan masyarakat.

Keinginan beberapa sahabat yang ingin mengkhususkan hidupnya hanya beribadah dan mengabaikan urusan duniawi ternyata tidak mendapat restu dari Rasulullah. Beribadah dengan cara meninggalkan kehidupan sosialnya sama halnya dengan orang yang egois. Seolah-olah ia ingin mencari selamat sendiri dan mengabaikan kewajibannya terhadap saudara seiman yang lain.

Konsep menjadi manusia terbaik, diukur dari seberapa besar perannya memberi kemanfaatan bagi kehidupan orang lain. Maknanya kita tidak meninggalkan masyarakat demi mengejar capaian ibadah yang bersifat pribadi. Apakah bisa dikatakan orang baik, yang salatnya khusyu’ tapi tidak peduli dengan tetangga yang membutuhkan bantuannya. Tentu yang sempurna ialah mereka yang memenuhi kewajiban pribadinya, dan di sisi yang lain ia juga berkhidmah pada masyarakat.

 

Waktu Boleh Berlalu, Ingatan Tetap Tinggal

  Kemarin, saat sedang menunggu giliran di sebuah bengkel, datang seseorang dan duduk di sebelah saya. Saya tidak terlalu memperhatikannya...