Minggu, 04 September 2022

Singa Tua Yang Terluka

 



Semua ada waktu dan masanya. Setiap zaman memiliki orang-orang besar yang akan dikenang oleh manusia dan terukir abadi dalam sejarah. Tak terkecuali dalam panggung sepak bola. Akan muncul bintang lapangan hijau yang dianggap sebagai legenda. Dulu orang mengenal Pele, kemudian eranya Maradona, Zidan hingga Ronaldinho.

Saat ini masih bisa dikatakan zamannya Ronaldo dan Messi. Meski usia mereka sudah melewati usia keemasan seorang pemain, sepak terjang mereka masih berada di level yang tinggi. Cuma karena faktor usia tersebut, kini keduanya sudah terlihat menurun. Tidak terbantahkan lagi, saat ini mereka sedang berada diujung karier sebagai megabintang sepak bola dunia.

Nama-nama baru kini muncul sebagai primadona lapangan hijau. Sebut saja Mbappe, Erling Haaland, Mane maupun Salah yang kini lebih bersinar terang. Faktor usia yang masih muda menjadikan mereka lebih segar, konsisten dan kerap tampil memukau. Sudah menjadi hukum alam, yang tua akan berlalu dan tempatnya diisi oleh figur baru yang menjanjikan.

Seperti rumor yang kencang pada bursa pemain kemarin, Ronaldo menginginkan hengkang dari MU karena hanya berlaga di Liga Eropa. Dia mengharapkan tetap bisa bermain di kompetisi tertinggi eropa liga champion. Namun tak satupun klub elit eropa yang mau menerima kedatangan Ronaldo. Ini diperkirakan karena faktor usia dan gaji Ronaldo yang sangat tinggi.

Kini Ronaldo “terpaksa” bermain di Manchester United, karena jendela transfer pemain sudah tertutup pada akhir Agustus kemarin. Ironisnya, dalam beberapa pertandingan awal liga Inggris Ronaldo hanya bermain sebagai pemain pengganti. Akankah ini menjadi petanda sang bintang benar-benar tak lagi diperhitungkan. Ibarat singa tua yang kini perannya mulai terganti oleh singa muda yang lebih kuat dan tangkas. Dan singa tua kini terluka dan mulai tersisih dari singgasananya.

 

 

Sabtu, 03 September 2022

Samar-samar Gerakan Literasi

 



Percaya atau tidak bila budaya literasi kita memang benar-benar rendah?. Seorang pegiat literasi nasional dalam sebuah kesempatan menyampaikan sebuah bukti bahwa kita memang sedang berada di zona yang kritis. Katanya, di Jepang orang-orang biasa membaca saat berada di transportasi umum kereta api. Sedangkan di Indonesia, anak-anak muda berpacaran ketika berada di perpustakaan.

Kalau boleh jujur, sebenarnya kita hampir pesimis gerakan literasi di negeri kita bisa sukses. Tidak harus sama dengan negara-negara yang maju literasinya, untuk bisa membudayakan membaca rasanya bagai menegakkan benang yang basah. Membaca buku saat ini sudah tidak “populer” di kalangan dunia pendidikan. Apalagi di kalangan masyarakat umum.

Tetapi, gerakan memajukan literasi tidak boleh berhenti di tengah jalan. Semua hanya proses, biarkan semua berjalan dan tugas kita hanya mendorong tanpa pernah putus asa. Akan ada momentumnya entah kapan itu akan terjadi, budaya literasi di negeri tercinta kita akan meningkat dan bergairah kembali.

Biar samar-samar yang penting tetap bergerak dan maju. Selangkah pun tidak apa asal jangan berhenti lebih-lebih mundur lagi. Setiap gerakan akan membawa perubahan. Yang kecil jangan pernah dipandang sebelah mata, karena bila serpihan-serpihan dan potongan itu menyatu akan menjadi entitas yang besar dan memiliki energi luar biasa.

Masih beruntung kita yang masih menyadari dan berusaha untuk terus berbuat. Tidak hanya meratapi nasib sementara tidak mampu bertindak apa-apa. Optimis saja, akan tumbuh tanaman baru dari sekian banyak biji yang disemai dan disiram. Begitu pula buah dari ketekunan di dunia literasi.

Jumat, 02 September 2022

Mitsaq al-Madinah



Ketika Rasulullah hijrah dan tiba di Madinah, di sana sudah terdapat penduduk yang heterogen atau bermacam-macam. Penduduk Madinah terdiri dari kaum Muslim Ansor, orang-orang Yahudi dan kaum yang menganut paganisme (musyrikin). Tetangga yang paling dekat dengan orang-orang Muslim di Madinah adalah orang-orang Yahudi. Sekalipun memendam kebencian dan permusuhan namun mereka tidak berani menampakkannya.

Setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berhasil memancangkan sendi-sendi masyarakat Islam yang baru, dengan menciptakan kesatuan aqidah, politik dan sistem kehidupan di antara orang-orang Muslim, maka beliau merasa perlu mengatur hubungan dengan golongan selain Muslim.

Beliau berkeinginan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Cita-cita tersebut yang kemudian mendorong Nabi Muhammad untuk menyusun sebuah dokumen yang disebut sebagai Mitsaq al-Madinah, dari sinilah kemudian dikenal nama Piagam Madinah. Piagam tersebut juga menjadi dasar hukum bagi kehidupan bermasyarakat di Madinah, untuk itu Piagam Madinah juga terkadang disebut sebagai Konstitusi Madinah.

Rasulullah tidak pernah memaksa orang-orang Yahudi dan kaum Musrik Madinah untuk menerima atau masuk Islam. Bahkan Nabi tidak keberatan hidup berdampingan dengan mereka serta bermuamalah seperti jual beli dengan orang Yahudi dan orang musrik.

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqoroh 256)

Piagam Madinah disusun bukan hanya dari pemikiran Nabi Muhammad saja, tetapi meliputi gagasan-gagasan dari semua tokoh yang ada dalam masyarakat Madinah. Dan di antara butir-butir perjanjian Piagam Madinah adalah; mereka harus bahu-membahu dalam menghadapi musuh, saling nasihat-menasihati dan tidak boleh berbuat jahat serta perjanjian antara mereka tidak boleh dilanggar.

Rasulullah tampil sebagai pemimpin kota Madinah, dan tidak terbatas hanya untuk kaum muslim namun meliputi segenap masyarakat Madinah seluruhnya. Ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin melindungi hak-hak penduduk non muslim di Madinah. Dan mereka juga diberi kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan mereka

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiya ayat 107).

Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam semesta. Piagam Madinah menjadi landasan hukum masyarakat kota Madinah dan menyatukan keberagaman yang ada. Para sejarawan menyebut Piagam Madinah yang dibuat Nabi pada tahun pertama hijriyah atau tahun 622 Masehi itu sebagai konstitusi demokratis modern pertama di dunia.

Sejarah mencatat dengan sangat jelas, dakwah Islam dikembangkan Rasulullah beserta sahabat-sahabat beliau dengan jalan damai dan bukan dengan kekerasan. Dan peperangan yang terjadi semata-mata karena membela diri dari ancaman musuh yang hendak menghancurkan Islam.

Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu, (Al-Haj 39).

 

 

 

Kamis, 01 September 2022

City Oh City…



Manchester City mengawali Liga Inggris dengan menawan. Dari empat pertandingan yang telah mereka jalani City berhasil meraih 15 poin dan sejauh ini telah membuat 19 gol. Memang, City masih berada di bawah Arsenal yang meraih poin sempurna, tapi produktivitas gol City lebih baik.

Tentu yang menjadi pusat perhatian adalah Erling Haaland. Haaland sukses menceploskan sembilan gol dalam lima pertandingan pertamanya di Premier League. Berdasarkan data Opta, Haaland mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Mick Quinn dan Sergio Aguero, yakni delapan gol dalam lima partai pertama merumput di Premier League.

Bagaimana tidak ketar-ketir para pesaing City. Mereka tampil lebih ganas dari musim lalu, setidaknya hingga pertandingan kelima liga Inggris. Sementara pesaing terdekat City musim lalu Liverpool seakan belum menemukan pola permainan terbaik mereka. Mereka harus rela tertinggal tujuh poin dari Manchester di saat Liga berjalan kurang dari satu bulan.

Tampaknya mimpi City meraih tropi Liga Champion Eropa untuk pertama kalinya akan bisa terwujud di musim ini. Skuad mereka benar-benar lengkap saat ini. Pada tahun-tahun sebelumnya mereka dinilai tidak memiliki striker haus gol sehingga tidak bisa bersaing di level eropa, tapi kali ini sosok Erling Haaland pantas disebut sebagai predator dan mesin gol.

Guardiola pernah meraih gelar liga champion ketika melatih Barcelona karena mereka pada waktu itu memiliki Lionel Messi. Situasi yang hampir sama, saat ini dia memiliki figur Erling Haaland yang kemampuannya tidak jauh dari Messi. Akankah sejarah akan terulang, Guardiola meraih tropi Si Kuping Besar? Kita tunggu saja…

 

 

Rabu, 31 Agustus 2022

Tahan Jarimu

 



Peribahasa diam itu emas, di zaman seperti ini sangat relevan. Di mana mulut orang semakin tajam dan tak terkendali. Apa saja dikomentari dan dicaci. Bahasa anak sekarang, banyak orang hobinya nyinyir. Meski nyinyirnya hanya di dunia maya (media sosial), tetap saja itu adalah perbuatan yang tercela.

Lidah memang terlihat diam, tapi jari susah dikendalikan. Kebiasaan netizen yang menebar kata-kata kebencian, menghina, ghibah dan bahkan adu domba, terkadang membuat kita susah menahan jari untuk berkomentar karena apa yang disampaikan sudah sangat keterlaluan. Tapi tahan, Jangan berdebat dengan pembenci, penjelasan yang paling bijak dari kita adalah diam tersenyum dan membiarkan dia merasa paling benar.

Jadi tak perlu berteriak-teriak di ruang medsos jika hanya ingin didengar. Kata orang bijak cara terbaik untuk didengar adalah dengan bicara seperlunya. Karena semakin banyak bicara semakin tidak jelas mana perkataan yang penting. Semua telah bercampuraduk dan menjadi bias.

Tapi tidak perlu kebencian dilawan dengan kebencian yang serupa. Lagi pula yang merasakan sakit adalah mereka yang hatinya penuh kebencian. Orang yang dibenci tidak akan merasakan kesedihan yang mendalam, berbeda dengan orang yang membenci dia akan kehilangan banyak kebahagiaan.

Selamatnya seseorang karena lisannya. Hari ini, selamatnya orang karena jarinya. Karena jari yang latah, bisa saja membawa kerugian yang besar. Jadi, tahan jari kita agar tidak celaka.

 

Selasa, 30 Agustus 2022

Salah Menilai

 



Hidup tak bisa dinilai dari apa yang kita lihat dengan mata saja. Karena banyak hal yang tidak mampu dilihat oleh mata kita. Mata sering kali tertipu, karena yang bisa dilihat hanya sisi-sisi yang wujud, materi. Mata tidak bisa menerawang apa yang tersimpan dalam hati, yang tersembunyi dalam niat dan suasana kebatinan seseorang.

Apa pasti orang yang banyak hartanya merasakan kebahagiaan, belum tentu. Apakah orang yang terlihat alim dan dermawan pasti mulia di sisi Allah, jawabannya tidak pasti juga. Terkadang yang rendah dalam pandangan manusia dan tampak biasa saja, justru menjadi hamba mulia di sisi-Nya. Semua mungkin terjadi karena Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati manusia.

Kisah nyata yang terjadi di daerah kami membuka kesadaran dan membuat kami banyak merenung. Seorang ibu yang pekerjaannya hanya menjadi buruh cuci ternyata meninggal keadaan yang husnul khotimah. Allah menunjukkan kekuasaan-Nya pada orang-orang di sekitar beliau. Jenazahnya utuh dan harum meski telah dimakamkan. Rencana Allah begitu indah. Ada saja cara Allah menunjukkan kuasa-Nya sehingga makam ibu tukang cuci tadi harus digali dan dipindah ke tempat lain.

Sementara peristiwa lain yang serupa namun tidak sama juga terjadi dan menjadi pelajaran berharga. Seorang yang dikenal baik dan rajin beribadah justru matinya dalam keadaan yang mengenaskan. Rupanya, meski dikenal baik dan taat beribadah dia orang yang bekerja di tempat riba. Allah hendak membuka hati kita, jangan menilai hanya dari kulitnya saja.

Biarkan Allah saja yang menilai kadar keimanan dan kebaikan hamba-Nya. Sesama hamba yang dititahkan kita hanya bisa melihat sedikit saja, yakni yang kasat oleh mata. Padahal nilai seseorang tidak bisa diukur dari apa yang sering lkita amati.

 

Senin, 29 Agustus 2022

Kiamat Toko Buku

 



Apakah Anda masih rajin menulis?. Lalu, apa kira-kira obsesi Anda dalam menulis?. Mau menjadi penulis buku yang terkenal yang mampu menghasilkan pundi-pundi uang. Atau penulis yang bukunya best seller dan diangkat dalam film. Atau mungkin, mimpi-mimpi tinggi yang lain.

Tidak apa-apa, silakan dilanjut untuk menulis. Khabar baiknya, menulis adalah aktivitas yang bermanfaat hari ini maupun hari-hari yang akan datang. Khabar kurang baiknya, banyak toko buku yang sudah gulung tikar. Satu persatu toko-toko buku yang besar menutup gerainya karena penjualan yang terus menurun.

Kini semakin langka orang yang mau membaca buku. Digitalisasi dalam berbagai aspek telah menjadikan masyarakat mudah menemukan berita dan teks dengan cepat dan murah. Banyak yang menganggap tak perlu lagi orang membeli buku. Toh, semua yang ingin dibaca bisa diakses hanya dari ponsel pribadi.

Kira-kira bagaimana nasib penulis. Apakah yakin tetap ingin menulis sementara masa depan buku sudah di ambang kiamat. Apa yang diharap dari dunia penerbitan yang sedang bertahan untuk sekadar hidup.

Hanya mereka yang masih memiliki idealis yang akan bertahan untuk tetap menulis. Tidak peduli apakah bukunya akan laku di pasar, atau justru tidak diminati oleh orang. Mereka akan tetap menulis karena menulis adalah bagian dari denyut kehidupannya. Sementara mereka yang mengharap mendapat materi dari karya tulisnya, sudah pasti akan segera berhenti menulis.

 

 

Minggu, 28 Agustus 2022

Naturalisai dan Masa Depan Sepak Bola Indonesia

 



Program naturalisasi pemain asing menjadi pemain timnas Indonesia masih saja terus dilakukan. Pelatih timnas saat ini Shin Tae Yong ternyata sejalan dengan pemikiran jalan pintas meraih prestasi salah satunya dengan jalur naturalisasi. Bukannya mengembangkan potensi yang sebenarnya amat berlimpah di dalam negeri.

Program naturalisasi sebenarnya bukan hal yang baru. Sudah banyak nama-nama asing yang akhirnya berkiprah di timnas Indonesia. Tapi bila kita jujur, tidak banyak yang mampu tampil memenuhi ekspektasi penggemar sepak bola Indonesia. Mungkin yang akan diingat hanya Cristian Gonzales yang tampil bagus pada piala AFF tahun 2010.

Memang naturalisasi tak hanya dilakukan Indonesia. Negara-negara tetangga kita juga melakukannya. Sebut saja Malasyia, Filipina, Singapura bahkan Thailand juga ikut-ikutan. Tidak terbatas negara di asia tenggara, negara asia lainnya juga punya kebiasaan menaturalisasi pemain asing menjadi pemain nasional mereka.

Naturasisasi bisa saja berdampak positif, tapi kita juga khawatir bila terlalu banyak melakukannya justru tidak akan efektif. Potensi anak-anak Indonesia yang luar biasa bisa saja tersingkir oleh legiun asing yang diimpor. Sisi baiknya, dari sisi profesional pemain asing cenderung lebih disiplin. Ini yang diharap bisa menular kepada pemain-pemain lokal.

Buat apa naturalisasi bila pemain yang diinginkan kualitasnya hanya beda-beda tipis dengan pemain lokal. Akan lebih baik memilih ratusan juta pemuda kita yang berbakat main sepak bola. Sudah pasti anak-anak Indonesia asli akan lebih merah putih. Mereka memiliki nasionalisme dan kecintaan terhadap negerinya melebihi pemain asing.

 

Sabtu, 27 Agustus 2022

Kesempatan Kedua

 



Kata orang kesempatan itu tidak datang untuk kedua kali. Mumpung ada kesempatan seharusnya bisa digunakan dengan sebaik-baiknya. Hidup di dunia ini juga sekali, tak akan ada kesempatan lagi memperbaiki diri apabila hidup telah barakhir. Jadi, selagi masih ada kesempatan waktunya kita mengisi dengan tabungan kebaikan.

Tapi bagi Pak Budi (bukan nama sebenarnya) kesempatan ternyata datang untuk kedua kalinya. Pada bulan Ramadhan kemarin beliau terkena serangan stroke yang sangat berat. Parahnya, menurut diagnosa dokter ada pembuluh darah di otak yang telah pecah. Berminggu-minggu harus pulang pergi melakukan perawatan kesehatan di Rumah Sakit. Tak cukup itu, beliau harus melakukan terapi kesehatan alternatif guna mempercepat pemulihannya.

Dengan usaha gigih dan semangat yang kuat untuk sembuh ternyata membuahkan hasil yang manis. Pada pelaksanaan shalat Iduladha kemarin beliau sudah bisa melaksanakan shalat berjamaah di masjid meski masih menggunakan kursi. Rupanya Allah masih memberi kesempatan kedua bagi Pak Budi.

Mungkin banyak kerabat dan sahabat beliau, termasuk saya tidak mengira beliau bisa pulih dengan cepat. Padahal sakit yang diderita beliau sudah sangat berat. Jangankan untuk berjalan, sekadar menggerakkan tangan dan berbicara saja sudah sulit. Kini meski masih pelan, tetapi beliau sudah bisa berjalan sendiri tanpa alat  bantu dan mampu berkomunikasi dengan baik.

Dengan kondisi yang terus membaik Pak Budi juga semakin sering saya lihat shalat fardhu di masjid. Namun akhir-akhir ini saya jarang melihat beliau berjamaah. Rupanya beliau sudah mulai kembali beraktivitas di tempat kerja. Perlahan, semua kegiatan yang beliau tinggalkan selama sakit kini dapat dikerjakan kembali. Semua orang memang diberi kesempatan, namun tidak semuanya punya kesempatan kedua seperti Pak Budi.

Jumat, 26 Agustus 2022

Fenomena Pesulap Merah

 



Dunia netizen sedang riuh-rendah. Perseteruan antara Pesulap Merah dengan paranormal dari Blitar menjadi perhatian dan viral. Pro dan kontra bermunculan mengiringi maraknya berita tentang ilmu sulap dan penipuan dalam pengobatan. Seperti apa yang dikatakan oleh pesulap merah, hampir semua dukun melalakukan penipuan dalam praktik pengobatan yang dilakukannya.

Praktik pedukunan yang mempertontonkan “kesaktian” memang masih banyak dan laku di masyarakat. Meski sebenarnya kesaktian yang diperlihatkan sebenarnya trik dan kebohongan. Umumnya orang mudah terbujuk oleh mereka yang dianggap hebat atau linuwih. Bahkan tak jarang masyarakat menganggap orang-orang seperti itu sebagai wali.

Sebagai masyarakat biasa pasti kita mendukung langkah pesulap merah yang akan membuka praktik-praktik penipuan dalam metode pengobatan. Tentu trik sulap yang digunakan dalam terapi pengobatan sangat merugikan masyarakat. Mereka sudah kesusahan tertimpa musibah menyandang sakit, ternyata harus ditipu dan mengeluarkan banyak uang untuk pengobatan yang ujung-ujungnya penipuan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan trik sulap. Boleh saja orang menguasai berbagai macam trik sulap. Tapi apabila digunakan untuk menipu tentu itu yang dilarang. Sulat harusnya ada di panggung pertunjukan. Sulat sekadar hiburan dan permainan, buka alat yang digunakan mengelabuhi orang.

Langkah Marcel (Pesulap Merah) bisa dikatakan cukup berani. Sudah pasti apa yang dilakukannya akan mendapat banyak perlawanan. Sudah pasti banyak praktisi paranormal yang selama ini mengeruk keuntungan dari praktik pengobatan palsu yang dilakukannya. Tentu mereka akan melakukan apapun untuk tetap bisa melangsungkan aksinya.

 

 

 

Kamis, 25 Agustus 2022

Mudah Lupa

 



Masyarakat kita sebenarnya mudah lupa. Apa yang hari ini terjadi, sebulan dua bulan atau satu tahun pasti sudah lupa. Lupa yang saya maksudkan buka lupa dengan peristiwa yang terjadi, tapi sudah tidak peduli lagi. Hari viral, tunggu saja tidak sampai tiga bulan orang sudah melupakannya.

Dulu ada sosok yang terkenal yang kesandung video asusila. Semua orang menghujat dan mencaci-maki. Tak ada satu stasiun televisi pun yang mau menampilkan wajahnya lagi. Seakan-akan dia sudah habis. Apa yang terjadi kemudian, dia kembali menjadi idola masyarakat lagi. Ternyata hanya butuh setahun atau dua tahun untuk bisa lahir kembali dan diterima masyarakat. Aneh memang.

Begitu juga kasus koruptor yang ditangkap dan diadili. Pada awalnya semua orang akan membenci, memaki-maki, menghujat dan menghina. Tapi setelah sang koruptor keluar dari penjara, seakan orang sudah lupa dengan apa yang dilakukan dulu. Seolah-olah tindak korupsinya sudah tertebus dengan penjara yang banyak potongannya. Dia akan kembali menjadi sosok yang bersih yang siap kembali menjadi pejabat publik.

Memang baik memaafkan orang yang bersalah. Tapi tidak berarti kita memberi kesempatan mereka kembali untuk berbuat yang serupa. Memulihkan kepercayaan kepada orang-orang yang telah berbuat kesalahan fatal sebenarnya banyak risikonya. Orang akan menilai bila berbuat kesalahan besar itu tidak masalah. Toh, pasti masyarakat akan bisa menerima kembali nanti.

Di negara-negara yang menjunjung moralitas tinggi tidak mengenal budaya lupa seperti masyarakat kita. Sebut saja Jepang. Di sana orang akan rela mengundurkan diri bila merasa berbuat kesalahan yang merugikan publik. Dan mereka selamanya tak akan pernah kembali menjadi pejabat. Karena masyarakat mereka menunjung tinggi moralitas.

Refleksi HARDIKNAS: Konsistensi Pesantren dan Dinamika Pendidikan Formal

  Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di Indonesia, terdapat dua model pendidikan yang terus ...